← Back to list

Sebuah Pidato untuk Republik yang Masih Rapuh

Pidato Presiden Ir. Soekarno

Volkslectuur · 2026-07-07 04:28 · 0 claps · 15.8 min read
#sukarno #pidato #speech
Open on Medium ↗

Sebuah Pidato untuk Republik yang Masih Rapuh

Pidato Presiden Ir. Soekarno

Paduka Tuan Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Pusat!

Seluruh rakyat Indonesia di seluruh daerah Indonesia dan yang merantau di luar negeri, laki-laki dan perempuan!

Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas ucapan-ucapan yang telah diucapkan oleh Paduka Tuan Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Pusat. Saya terharu sekali bahwa kita pada hari ini dapat merayakan hari ulang tahun Republik kita yang pertama. Saya ingat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan mengucapkan syukur Alhamdulillah, sebab usia Republik kita yang satu tahun itu tidak lain dan tidak bukan ialah berkat dan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa.

Alangkah hebatnya tahun yang telah lalu itu! Tiga ratus enam puluh lima hari kita bekerja membanting tulang, berjuang mati-matian, menderita, menghadapi gunung-gunung kesulitan, serta mengatasi gunung-gunung kesulitan itu sedapat mungkin. Tiga ratus enam puluh lima hari kita berjuang dan bekerja secara laki-laki, secara heroik.

Tatkala pada tanggal 17 Agustus tahun yang lalu kita memproklamasikan kemerdekaan kita dengan kata-kata yang sederhana, belum dapat kita bayangkan benar-benar apa yang akan kita hadapi. Kita hanyalah mengetahui bahwa proklamasi itu merupakan pekik “berhenti” kepada penjajahan yang telah berlangsung selama 350 tahun. Kita mengajukan proklamasi itu kepada dunia sebagai hak asli kita, hak bangsa kita, hak kemanusiaan kita, hak hidup kita, dengan cara yang setegas-tegasnya.

Kita majukan proklamasi itu pula sebagai seruan yang sejelas-jelasnya, selangsung-langsungnya kepada rakyat dan bangsa kita sendiri untuk menentukan nasibnya sendiri dengan tindakan dan perbuatan sendiri. Dan proklamasi itu menderu di udara sebagai arus listrik yang menggetarkan jiwa bangsa kita. Seluruh rakyat kita, seluruh bangsa kita, menyambut proklamasi itu sebagai penebusan janji pusaka yang lama, sebagai aba-aba yang menggelegar untuk memulai kehidupan yang baru. Apakah yang kita miliki pada waktu itu? Pada waktu itu yang ada pada kita hanyalah kehendak, kemauan, dan jiwa yang menyala-nyala dengan semangat kemerdekaan. Kekuasaan masih berada di tangan bala tentara Jepang yang jumlahnya berpuluh-puluh ribu orang dengan persenjataan yang lengkap. Bala tentara Sekutu pun segera akan mendarat, menambah kekuatan bersenjata asing yang berada di negeri kita. Dunia belum mengenal bangsa kita serta belum mengenal kehendak kita akan kemerdekaan. Rakyat kita badannya lemah, seakan-akan remuk redam oleh penderitaan yang dialaminya selama pendudukan Jepang. Di seluruh negeri kita yang tampak hanyalah kesukaran, kekurangan, dan kemelaratan.

Dalam keadaan yang demikian itulah kita memulai perjuangan kebangsaan kita yang sekarang ini kita nyatakan kepada seluruh dunia: “Kita Republik! Kita merdeka!” Gelap dunia di sekeliling kita, tetapi di dalam batin kita terang benderang. Menyala-nyala api kemerdekaan dan api kebangsaan. Dengan kehendak yang membulat menjadi satu, ketetapan hati yang menggumpal menjadi satu, tekad yang membaja, kaya maupun miskin menjadi satu, seluruh bangsa kita — tua, muda, laki-laki, perempuan, terpelajar maupun buta huruf — bangkit, bergerak, dan berjuang untuk membenarkan serta mewujudkan Proklamasi 17 Agustus itu. Bala tentara Jepang yang telah kehilangan semangatnya dapat kita desak dan enyahkan dari pemerintahan. Dalam beberapa minggu saja, seluruh pemerintahan di Pulau Jawa dan Sumatra telah berada di tangan kita. Dengan demikian, proklamasi kita bukan lagi sekadar janji dan tuntutan, bukan lagi sekadar seruan di awang-awang. Kemerdekaan kita menjadi suatu kenyataan. Negara Republik Indonesia menjadi suatu realitas bagi dunia dan kemanusiaan. Dengan demikian, kita sebagai bangsa telah turut bertindak dan menentukan sejarah kemanusiaan serta nasib kemanusiaan.

Dengan demikian, tanggung jawab kita kepada seluruh dunia pun bertambah pula. Alangkah hebatnya kesulitan-kesulitan yang kita hadapi! Kesulitan-kesulitan itu tidak berkurang, bahkan bertambah sesudah kita merebut kekuasaan dari tangan Jepang. Sekutu telah mendaratkan beribu-ribu serdadu bersenjata, di antaranya serdadu Belanda. Bersama-sama dengan itu datang pula wakil kekuasaan Belanda yang mengaku dirinya sebagai Pemerintah Hindia Belanda. Di pulau-pulau di luar Jawa dan Sumatra, yang belum diduduki balatentara Belanda, mereka dapat meluaskan kedudukan serta kekuasaannya melalui organisasi yang dinamakan NICA. Lawan kita dapat menguasai laut dengan kapal-kapal perang serta kapal terbang, merintangi perhubungan antara kita dengan saudara-saudara di seberang, mengasingkan kita dari saudara-saudara di seberang itu, meskipun di dalam batin kita tidak dapat diasingkan dan tidak akan pernah dapat diasingkan. Lawan kita pun memblokade kita terhadap dunia luar, mencoba melumpuhkan kita melalui blokade tersebut. Kesulitan-kesulitan mulai timbul di dalam negeri sebagai akibat pertempuran dengan Jepang yang berhasil memanfaatkan beberapa kaki tangannya dari bangsa kita sendiri dan orang Indo, sehingga timbul suasana kebencian yang membentang di antara beberapa golongan bangsa kita sendiri.

Dan lawan dari pihak Belanda bukanlah lawan, kalau ia tidak mempergunakan kemungkinan ini. Sebagian kecil dari bangsa kita dapat dihasut untuk mengadakan tindakan-tindakan ganas yang bersifat provokasi terhadap barisan kita. Tembak-menembak terjadi, bunuh-membunuh pun berlangsung. Akibatnya, tidak dapat dihindarkan bahwa antara tentara Sekutu dengan rakyat kita timbul persengketaan. Orang-orang tawanan bangsa Belanda yang pada mulanya diterima kembali di dalam masyarakat kita dengan penuh rasa perikemanusiaan, akhirnya ikut terseret ke dalam gelombang kebencian dan permusuhan yang timbul akibat pertempuran antara NICA dan rakyat kita. Dalam keadaan demikian, orang-orang itu, yang berada di tengah rakyat yang marah, terpaksa kita lindungi dari kemarahan rakyat.

Berpuluh-puluh ribu orang Indo dan APWI yang harus diselamatkan dari amarah rakyat dikumpulkan oleh para pemimpin kita yang merasa bertanggung jawab di tempat-tempat perlindungan. Dengan sedih hati, beribu-ribu orang yang selama bertahun-tahun kehilangan kemerdekaannya pada zaman Jepang belum dapat dikembalikan kepada masyarakat. Beribu-ribu orang yang baru sebentar merasakan kemerdekaan pada zaman Republik harus kembali berada di tempat-tempat perlindungan. Sudah barang tentu, hal-hal ini semakin menambah kesulitan kita terhadap bala tentara Sekutu yang menurut keterangannya mendarat di Indonesia untuk menawan orang Jepang dan membebaskan orang-orang yang dahulu ditawan Jepang. Seolah-olah kitalah yang menghalangi pekerjaan tentara Sekutu. Padahal, sejak semula kita telah mengatakan, menyatakan, dan membuktikan bahwa kita bersedia membantu dengan segala kekuatan kita agar bala tentara Sekutu dapat menyelesaikan kewajibannya di negeri kita ini. Akan tetapi, pihak Sekutu sendirilah yang menyulitkan kita untuk benar-benar memberikan bantuan itu kepadanya. Meskipun kita tidak meminta agar mereka pada waktu itu juga mengakui Republik ataupun Pemerintahan kita — sesuatu yang memang tidak mungkin dilakukan oleh tentara yang hanya menjadi alat negaranya — namun kita menganggap sangat mungkin, dan apabila dikabulkan niscaya akan memudahkan penyelesaian segala persoalan, yaitu agar di antara tentara Sekutu yang mendarat jangan terdapat bala tentara Belanda. Tuntutan kita ini bukan semata-mata untuk menunjukkan rasa curiga terhadap bangsa Belanda, bukan pula untuk menyatakan permusuhan kita kepada pihak Belanda. Kepada pihak Belanda kita berkata:

“Percayalah bahwa kami sebenarnya tidak ada menghendaki permusuhan dan pertentangan dengan Tuan. Percayalah bahwa kami sebenarnya mengharapkan penyelesaian persoalan-persoalan kami dengan Tuan secara damai.”

Apakah yang lebih baik daripada damai? Tetapi kita mengerti bahwa apabila tentara Belanda dimasukkan ke dalam daerah Republik, kemungkinan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan secara damai tentu akan dibahayakan oleh gerakan-gerakan militer. Hal ini nyata terjadi di Kota Jakarta dan Kota Bandung, tempat bala tentara Belanda segera bertindak sangat agresif dan provokatif. Bahkan mereka bergandengan tangan dengan bala tentara Jepang, mengadakan semacam teror terhadap pihak kita. Peristiwa-peristiwa di Jakarta itulah, dan kemudian di berbagai tempat lainnya, yang meluapkan perasaan bangsa kita hingga menjadi gelombang kebencian terhadap keganasan yang diperlihatkan oleh tentara Belanda kepada pihak kita.

Intilah yang terutama mendorong kita untuk mendesak pihak Sekutu agar jangan mendaratkan tentara Belanda, karena hal itu jelas akan mengacaukan suasana umum, tidak saja bagi usaha Sekutu di negeri kita ini, tetapi juga bagi penyelesaian persoalan Indonesia–Belanda sendiri. Sayang, pihak Inggris rupanya tidak dapat menolak tuntutan Belanda untuk turut memasukkan tentaranya.

Tentara Sekutu, yang sebagian besar terdiri atas bangsa yang kita anggap sebagai saudara, yaitu bangsa India, akhirnya turut terlibat dalam suasana pergesekan, permusuhan, dan pertempuran yang disebabkan oleh keadaan tersebut. Pertempuran di Surabaya pun terjadi sebagai akibat dari suasana itu.

Pada saat itulah terbukti kepada dunia bahwa kita hendak mempertahankan kehormatan kita dengan segala tenaga yang ada pada kita. Beratus-ratus ribu rakyat kita menjadi korban; beratus-ratus orang gugur, beribu-ribu orang terluka, dan beribu-ribu rumah serta harta benda hancur lebur. Kota Surabaya yang berpenduduk hampir satu juta jiwa menjadi sunyi senyap, diliputi api dan ditimpa kerusakan. Akan tetapi, bangsa kita menerima semua itu sebagai tebusan kehormatan bangsa yang harus dibayar, yang memang mesti dibayar.

Kemudian Magelang, kemudian Ambarawa, kemudian Semarang, kemudian Bandung, kemudian Medan, kemudian Padang. Di mana pihak Sekutu memasukkan tentara Belanda, di sanalah keadaan berubah menjadi neraka. Di sana pula pihak Sekutu tidak dapat menjalankan kewajibannya dengan sempurna sebagaimana yang dibebankan di atas pundaknya. Pertempuran-pertempuran ini benar-benar mengguncangkan kehidupan bangsa kita. Terpaksa kita pun, terhadap bala tentara Sekutu, menyatakan rasa curiga kita. Terpaksa kita membatasi kebebasan mereka bergerak di dalam wilayah Republik, meskipun mereka belum mengakui kita sebagai sebuah negara.

Bertambahlah banyak dan rumit persoalan kita dengan Belanda, bertambah pula persoalan kita dengan Sekutu. Hal ini sangat kita sesalkan. Akan tetapi, akhirnya kita diperlakukan sebagai pemerintahan de facto. Dengan demikian, beberapa persoalan dapat diurus sebagai persetujuan antara dua pihak yang sederajat. Dengan demikian pula, beberapa hal dapat diselesaikan tanpa pertumpahan darah. Sungguh, kita tidak dapat menyerahkan kekuasaan atau daerah kepada pihak Sekutu begitu saja, karena hal itu hanya akan menimbulkan pertempuran dan, sebagai akibatnya, kekacauan di berbagai daerah!.

Di tengah-tengah nyalanya api, di tengah-tengah menggelegarnya meriam, di tengah-tengah hebatnya kekacauan, kita harus menjalankan, melengkapi, dan menyempurnakan pemerintahan kita. Mula-mula kita mendirikan tentara kebangsaan. Kemudian kita memperbaiki pemerintahan sipil yang mengalami kerusakan akibat revolusi. Selanjutnya kita berikhtiar mengatasi kekacauan, mengurus, dan menyusun kembali kehidupan rakyat kecil, baik dalam bidang keamanan maupun kemakmuran. Perusahaan-perusahaan umum diperhatikan, diurus, dan dilengkapi. Jawatan Kereta Api, Jawatan Listrik, Jawatan Pengairan, Jawatan Kehutanan, Jawatan Kesehatan, semuanya harus diurus di tengah kesulitan yang sangat besar. Rancangan untuk menyelenggarakan kemakmuran rakyat, atau setidak-tidaknya meringankan penderitaan rakyat, pun mulai dipikirkan. Kekacauan yang ditinggalkan Jepang di bidang ekonomi bukanlah perkara kecil. Kekacauan warisan Jepang di bidang keuangan pun tidak ada habisnya. Berjuta-juta uang Jepang masih beredar di wilayah Republik, dan peredaran uang itu menghambat segala usaha untuk membersihkan perekonomian. Oleh karena itu, persoalan pertama yang harus dihadapi ialah mengadakan penertiban mata uang, sesuatu yang sejak awal berdirinya Republik telah dipahami oleh pemerintah kita. Akan tetapi, dalam usaha mengadakan penertiban mata uang itu pun kita menghadapi kesulitan yang luar biasa. Bukan saja kesulitan teknis dan material untuk segera mengeluarkan uang Republik sendiri, tetapi juga kesulitan karena perlengkapan alat-alat kekuasaan, seperti polisi umum dan polisi ekonomi, masih belum memadai untuk memenuhi kebutuhan yang timbul akibat usaha penertiban ekonomi tersebut. Kesulitan keuangan masyarakat maupun keuangan pemerintah sanggatlah berat. Selama keadaan keuangan ini belum dapat disehatkan, selama itu pula belum dapat diusahakan perbaikan kemakmuran negeri, dan korupsi pun belum dapat diberantas secara sempurna.

Maka, dalam keadaan demikian, alat-alat penghasilan yang seharusnya dapat membantu meringankan beban pemerintahan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan, di sana-sini timbul semacam anarcho-syndicalisme yang sebenarnya bukan anarcho-syndicalisme yang bersifat prinsipiil. Kaum buruh bertindak seolah-olah merekalah yang berhak secara langsung atas perusahaan dan hasil perusahaan, mula-mula karena tidak ada lagi yang membayar gaji mereka. Mereka harus makan agar dapat bekerja, dan mereka bekerja untuk dapat makan. Kemudian keadaan ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk bertindak sebagai tukang catut. Hasil perusahaan yang seharusnya menjadi milik negara justru dicatut oleh orang-orang yang mengangkat dirinya sendiri menjadi pengurus perusahaan.Demikian pula dengan isi gudang-gudang negara. Orang-orang yang tidak bertanggung jawab mencatut isi gudang-gudang tersebut, sehingga merugikan sekaligus mengkhianati negara. Usaha untuk memusatkan pimpinan seluruh perusahaan yang berada di bawah pengawasan negara terus diikhtiarkan, terus dijalankan, dan setapak demi setapak mulai membuahkan hasil. Akan tetapi, hasil itu belum sebagaimana yang diharapkan karena alat-alat kekuasaan belum mencukupi dan pengertian yang sehat di kalangan kaum buruh belum tersebar secara merata. Usaha untuk menghemat segala alat dan barang yang datang dari luar negeri pun terus diikhtiarkan, tetapi juga menemui kesulitan yang serupa. Terutama sekali, penghematan alat-alat lalu lintas memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh.

Demikianlah gambaran lautan kesulitan dan gunung-gunung kesulitan yang kita lalui pada tahun yang lampau di bidang ekonomi dan pemerintahan.

Di bidang politik pun tidak kurang persoalannya. Benar, revolusi kita ini telah membangkitkan begitu banyak tenaga-tenaga yang konstruktif. Benar, revolusi kita ini telah membangunkan, dengan cara yang mengagumkan, tenaga-tenaga yang positif, yang berguna, yang menyusun, dan yang membangun. Akan tetapi, di samping itu, sebagai akibat dari kekacauan umum, lahir pula tenaga-tenaga yang merusak, yang destruktif, yang membahayakan perjuangan rakyat kita dan membahayakan negara. Pemerintah tiada henti-hentinya berikhtiar mengasuh tenaga yang dapat dipakai. Tiada henti-hentinya pemerintah mengajak, “Marilah menyusun, marilah membangun!” Akan tetapi, di samping usaha mengasuh dan mengajak itu, pemerintah juga berusaha menghindarkan segala bahaya yang mungkin timbul dari pikiran dan jiwa para pengacau.Dengan pengertian yang sedalam-dalamnya serta keyakinan yang sekuat-kuatnya akan arti persatuan bangsa, pemerintah selalu berusaha mempersatukan, selalu menghindarkan perselisihan, dan selalu menunjuk kepada ajaran sejarah: “Bersatu kita teguh, bercerai kita jatuh.” Akan tetapi, pada saat yang sama pemerintah juga harus memperkuat kedudukannya sebagai pemerintah, memperkuat kedudukannya sebagai stable government, serta memperkuat kedudukannya sebagai pucuk pimpinan negara yang ditaati oleh seluruh rakyatnya. Hanya dengan kedudukan yang kuatlah pemerintah dapat melaksanakan kewajibannya yang sangat besar sebagai pucuk pimpinan negara. Pemerintah bukanlah pengurus partai, bukan pula pengurus golongan, melainkan pengurus negara, pemegang kekuasaan negara, yang harus mengetahui serta mampu bersikap dan bertindak sebagai kekuasaan negara.

Kurangnya pengertian di antara beberapa golongan menyulitkan kedudukan pemerintah dalam menjalankan tugas tersebut. Hal itu membahayakan keselamatan perjuangan kita dan membahayakan keselamatan negara kita. Oleh sebab itu, tenaga-tenaga perusak dan pengacau politik kini terpaksa ditetapkan oleh pemerintah sebagai bahaya bagi negara dan perjuangan, sehingga harus diberantas. Mereka telah merugikan negara dan perjuangan kita, baik ke luar maupun ke dalam. Pemerintah terpaksa bersikap tegas. Terhadap orang-orang yang bersangkutan dengan peristiwa Solo dan Yogyakarta yang baru-baru ini terjadi akan dituntut hukuman yang setimpal. Terhadap segala kemungkinan yang serupa, sikap pemerintah akan tetap sama. Setiap pengacau dan setiap perusak akan berhadapan langsung dengan kekuasaan pemerintah, dan pemerintah tidak akan ragu mengambil tindakan yang sepantasnya terhadap mereka.

Dalam politik luar negeri, pemerintah menjalankan haluan yang tetap. Dengan teguh kita mengemudikan kapal Negara Republik Indonesia di antara kapal-kapal negara lain agar memperoleh pengakuan serta kedudukan yang sederajat. Perundingan yang kita lakukan dengan pihak Belanda hanyalah satu bagian dari usaha kita untuk memperoleh kedudukan yang kita maksudkan itu. Apabila perundingan tersebut mencapai persetujuan, maka hal itu harus dipandang sebagai hasil sementara dalam usaha kita mencapai dan mendirikan sebuah negara merdeka yang meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda.

Dan apabila tidak tercapai persetujuan? Apabila tidak tercapai persetujuan, maka dengan segala tenaga yang ada pada kita, kita akan melanjutkan perjuangan di lapangan yang lain. Dan apabila pihak Belanda menggunakan kekerasan? Apabila pihak Belanda mencoba memaksa kita dengan kekerasan untuk menerima penjajahannya kembali, maka kita akan mempertahankan kemerdekaan itu mati-matian, dengan seluruh kekuatan yang kita miliki, dengan segala alat yang ada pada kita, baik material maupun spiritual, baik lahir maupun batin. Lebih baik hancur lebur, lebih baik tenggelam sebagai bangsa, lebih baik binasa dan hilang musnah daripada dijajah kembali!

Terhadap negeri-negeri lain, terutama negeri-negeri tetangga kita, kita menyelenggarakan hubungan persahabatan. Segala persoalan yang timbul dapat kita selesaikan dengan baik dalam suasana persahabatan. Pemerintah kita semakin lama semakin banyak diperlakukan oleh negeri-negeri tersebut sebagai pemerintah bangsa Indonesia yang berada dalam lingkungan Republik. Demikian pula oleh bala tentara Sekutu yang telah kita bantu mengeluarkan tawanan Jepang serta sebagian besar anggota APWI. Hanya saja, kita tetap merasa bahwa penghargaan atas bantuan kita itu belumlah cukup. Kita masih terus diganggu oleh bagian dari bala tentara Sekutu yang berupa tentara Belanda. Kita mengalami pengeboman terhadap Kapal Kangean oleh pihak Belanda, padahal kapal tersebut mengangkut perempuan, anak-anak kecil, bahkan bayi. Kita juga mengalami penembakan terhadap Banyuwangi, pelabuhan beras yang akibat penembakan itu mengalami kerusakan gudang-gudang, tenggelamnya beberapa kapal pengangkut, serta porak-porandanya persediaan gabah. Akibatnya, usaha kita untuk memenuhi panggilan perikemanusiaan dalam membantu bangsa India yang sedang dilanda bahaya kelaparan menjadi benar-benar terhambat.

Oleh karena gerak-gerik tentara Belanda itulah, yang rupanya tidak dapat dikendalikan oleh panglima Sekutu, dengan sangat menyesal usaha kita untuk mengeluarkan kaum APWI yang baru-baru ini dilakukan menjadi terhalang dan tertunda, padahal sama sekali tidak dihentikan. Mudah-mudahan halangan ini segera dapat dihilangkan sehingga pengangkutan APWI itu dapat segera kita lanjutkan.

Sementara itu, pihak Belanda terus mendesak, dan terhadap desakan Belanda tersebut pimpinan tentara Sekutu tampaknya tidak terlalu kuat. Akibatnya, di tempat-tempat yang secara lahiriah berada di bawah pengawasan Sekutu, bangsa kita terdesak, terjepit, dan terancam. Hal ini tidak saja terjadi di kota-kota yang secara terang-terangan telah diserahkan kepada Belanda, tetapi juga di Jakarta, tempat pengadilan kita dicoba untuk dihapuskan serta rakyat kita hendak diserahkan kepada pengadilan yang berdasarkan hukum Belanda. Akan tetapi, pemerintah kita pun tidak tinggal diam. Pemerintah tidak pernah lalai mempertahankan kedudukan bangsa kita dengan jalan apa pun yang memungkinkan.

Hasil usaha politik luar negeri yang paling memuaskan ialah perjanjian beras yang kita adakan dengan Pemerintah India.

Tidak saja kita memperoleh persahabatan, memperoleh persaudaraan, serta memperoleh ikatan kasih dengan bangsa India yang kelak akan menjadi sebuah negara besar di dunia, tetapi kita juga memperoleh bukti nyata dari salah satu negeri besar bahwa kita telah memiliki kedudukan yang terpandang di dunia. Kita telah memperoleh kepercayaan sebagai sebuah negara, telah dipandang dan diperlakukan sebagai suatu bangsa yang dewasa.

Alangkah baiknya apabila bangsa dan negara lain yang juga bersahabat dengan kita segera mengikuti langkah India ini. Dunia akan menyaksikan bahwa kita bukan bangsa yang serakah. Dunia akan menyaksikan bahwa kita adalah bangsa yang suka memberi. Setiap bangsa mempunyai “corak” sendiri, mempunyai “warna jiwa” sendiri, mempunyai “central theme” sendiri, mempunyai “raison d’être” sendiri. Ada bangsa yang coraknya ialah gemar kepada kemegahan politik. Ada bangsa yang coraknya ialah militer. Ada pula bangsa yang coraknya ialah kebudayaan. Tetapi, bukalah kitab sejarah kita dan lihatlah bagaimana corak bangsa kita. Kita tidak pernah — sekali lagi, tidak pernah — dalam sejarah kita yang beribu-ribu tahun itu menjajah bangsa lain. Sebaliknya, kita selalu membagikan kekayaan-kekayaan kita kepada bangsa lain. Tidakkah negeri kita dahulu sebagian dinamakan Jawa Dwipa karena kita selalu memberikan gandum kita kepada bangsa lain? Sebagian lagi dinamakan Suwarna Dwipa karena kita selalu membagikan emas kita kepada bangsa-bangsa lain. Sungguh, saya bersedia meminjam lentera Diogenes untuk mencari seseorang yang dapat membuktikan bahwa corak bangsa Indonesia adalah lain daripada itu. Dan corak itu tetap, tidak berubah. Siapa yang mengatakan bahwa corak itu telah berubah, bahwa kita tidak lagi seperti dahulu, sama saja dengan mengatakan bahwa air dapat mengalir ke atas. Dapatkah air Bengawan Solo kembali mengalir ke sumbernya di Gunung Sewu? Ataukah air Sungai Gangga kembali mengalir ke sumbernya di lereng Pegunungan Himalaya? Tidak. Kita tidak berubah. Kekayaan kita yang dapat dipergunakan oleh dunia, akan selalu kita sediakan untuk dunia. — termasuk untuk Negeri Belanda – , untuk dipertukarkan dengan keperluan-keperluan bangsa kita sendiri. Sedangkan kita, dalam keadaan yang terancam seperti sekarang ini, membuktikan bahwa kita dapat dan bersedia mengerjakan segala usaha perdamaian yang diperlukan oleh kemanusiaan. Apalagi nanti apabila kita telah memperoleh kesempatan untuk hidup dalam damai, tanpa diancam atau diserang dari luar!.

Alhamdulillah, hal ini sebenarnya telah diketahui oleh banyak orang. Pada umumnya di dunia terdapat banyak sahabat kita, banyak orang yang membenarkan perjuangan kita, bukan saja karena dipandang adil, tetapi juga karena mereka yakin bahwa apa yang kita kehendaki itu sesungguhnya adalah yang paling baik bagi pergaulan bangsa-bangsa di dunia. Maka, salah satu usaha politik luar negeri kita ialah menyebarkan keyakinan itu kepada bangsa-bangsa di dunia, dengan bukti-bukti nyata tentang kemampuan kita sebagai bangsa, sebagai pemerintah, dan sebagai negara.

Gambaran yang saya berikan di atas melukiskan dengan nyata bahwa meskipun kesulitan-kesulitan pada tahun yang lalu sangat besar, sangat hebat, bahkan kadang-kadang tampak seperti lautan rintangan yang tiada bertepi, kita tetap dapat melaluinya dengan selamat berkat bantuan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kita masih hidup. Banyak kesulitan telah kita kalahkan. Apa yang telah kita capai memang belum seperti yang kita harapkan, tetapi bukti-bukti telah cukup menunjukkan bahwa kita maju di segala lapangan. Kedudukan pemerintah semakin kuat, baik ke luar maupun ke dalam.Segala hal yang masih harus diperbaiki akan terus diperbaiki dan disempurnakan. Susunan pemerintahan akan disempurnakan. Susunan tentara akan disempurnakan. Pengangkutan beras ke India beserta segala akibatnya, termasuk pembagian barang-barang yang akan diterima dari India, akan terus diselenggarakan sebaik-baiknya. Kekuatan pertahanan kita di segala bidang akan terus diperkuat di bawah pimpinan Dewan Pertahanan Negara dan Dewan Militer.

Betapa pun banyaknya kesulitan yang masih menghadang di depan kita, terutama apabila pihak Belanda berniat mengadakan gerakan militer di negeri kita ini, insyaallah kita akan terus maju. Yang paling berat telah kita lalui. Kepada tentara kini diletakkan kewajiban yang sangat berat, yaitu menjaga agar setiap percobaan pihak Belanda untuk mengalahkan kita dengan kekuatan senjata mengalami kegagalan. Kita tidak mau dijajah lagi. Seluruh rakyat pun harus tetap bertekad menolak setiap serangan dan pemaksaan dari pihak lawan dengan segala tenaga dan segala alat yang dimilikinya.

Kita mencintai damai, tetapi kita juga mencintai kemerdekaan. Kita memelihara perdamaian sejauh-jauhnya, tetapi kita semua akan bertahan habis-habisan terhadap setiap pemaksaan terhadap Republik kita dan bangsa kita!.

Apakah Republik Indonesia harus dihancurkan? Kalau Republik Indonesia dihancurkan, maka perdamaian akan hancur; kesejahteraan dunia akan hancur; ekonomi dunia akan hancur; demokrasi akan hancur; keadilan akan hancur; moral akan hancur; dan sebagai gantinya akan datang kekacauan yang tiada henti. Kita mendirikan Republik karena kita mencintai demokrasi, kesejahteraan dunia, dan persaudaraan antarbangsa. Kita mendirikan Republik demi kebaikan kita sendiri dan demi kebaikan dunia. Kita mengetahui bahwa persoalan Indonesia menarik perhatian seluruh dunia, dan bahwa persoalan Indonesia itu barangkali bahkan lebih penting daripada beberapa persoalan lain yang harus dipecahkan oleh para pemimpin yang bertanggung jawab atas politik luar negeri negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kita sendiri ingin secepat-cepatnya ikut serta dalam usaha menciptakan perdamaian dunia dan dalam usaha rekonstruksi ekonomi dunia. Oleh karena itulah, kita berseru kepada semua bangsa di dunia yang mencintai perdamaian, kepada semua bangsa yang mencintai demokrasi, serta kepada semua bangsa yang bertanggung jawab atas perdamaian dan kesejahteraan dunia, agar membantu supaya Republik Indonesia segera diakui.

Sekali lagi, kita mencintai damai, tetapi kita juga mencintai kemerdekaan. Kita memelihara perdamaian sejauh-jauhnya, tetapi apabila kita diperkosa oleh pihak Belanda, kita akan melawan! Melawan tanpa gentar, sebab Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Kuasa adalah jenderal kita!

Paduka Tuan Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Pusat!

Rakyat Indonesia di seluruh Kepulauan Indonesia!

Pada hari ulang tahun Proklamasi kita ini, saya menundukkan kepala untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Seru Sekalian Alam. Saya menundukkan kepala pula untuk menyatakan hormat kepada para pahlawan Indonesia yang telah gugur dan kepada semua korban yang telah berjuang di atas medan kehormatan demi membela kehormatan bangsa. Saya juga menyampaikan terima kasih bangsa dan pemerintah kepada semua orang dan semua golongan, baik di dalam maupun di luar negeri, yang telah memberikan bantuan dalam bentuk apa pun kepada perjuangan kita.

Setahun kita telah merdeka!

Marilah kita terus berjalan. Marilah kita berbesar hati. Dalam sejarah dunia, sering kali orang mendirikan sebuah republik melalui revolusi, tetapi banyak di antaranya yang gagal. Ada yang berumur hanya beberapa bulan, ada pula yang hanya beberapa minggu. Tetapi Republik Indonesia telah berdiri selama satu tahun. Inilah perbedaannya. Kalau kita dapat berdiri satu tahun, kita dapat pula berdiri dua tahun. Kalau kita dapat berdiri dua tahun, kita dapat pula berdiri tiga tahun, tiga puluh tahun, tiga ratus tahun, dan seterusnya sampai akhir zaman. Asal kita memenuhi semua syarat untuk terus berdiri. Asal jiwa kita tetap jiwa merdeka yang lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai. Asal semangat bekerja kita tidak mengenal lelah. Asal kerelaan berkorban kita tetap hidup dan bersinar. Asal kejujuran kita tidak menyimpang sedikit pun. Asal kesadaran bernegara benar-benar bersemayam di dalam dada kita. Asal kerja sama dengan bangsa-bangsa lain kita pelihara sebaik-baiknya. Asal kemauan untuk maju tetap menyala di dalam kalbu kita. Dan yang terutama, asal persatuan nasional — ya, sekali lagi, persatuan nasional — tetap kita jaga. Maka Republik tidak akan tenggelam, melainkan akan tetap kekal dan abadi.

Kepada Tuhan saya mohonkan taufik dan hidayah!.

Dan kita harus terus sabar, tidak boleh bosan, ulet menjalankan perjuangan, serta tahan menderita. Kita harus jantan! Jangan putus asa, jangan kurang tabah, jangan kurang rajin. Ingat! Memproklamasikan negara adalah mudah, tetapi menyusun negara, mempertahankan negara, dan memiliki negara untuk selama-lamanya itulah yang sukar. Hanya rakyat yang memenuhi syarat-syarat itulah — rakyat yang ulet, rakyat yang tidak mudah bosan, rakyat yang tabah, rakyat yang jantan — yang dapat memiliki negara yang kekal dan abadi. Siapa ingin memiliki mutiara harus ulet menahan napas dan berani terjun menyelami samudra yang sedalam-dalamnya. Marilah kita menjadi rakyat yang gemblengan! Jangan lembek! Segenap jiwa saya, segenap roh saya, memohon kepada Tuhan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang menjaga persaudaraan dunia dan kesejahteraan dunia; menjadi bangsa yang kuat, yang ototnya kawat dan tulangnya besi, yang di dalam tubuhnya bersarang jiwa yang terbuat dari zat yang sama dengan zatnya guntur!

Marilah kita terus berjalan!

Ke arah pengakuan Republik Indonesia!

Ke arah kekalnya Republik Indonesia sampai akhir zaman!

Hidup Ketuhanan Yang Maha Esa!

Hidup nasionalisme Indonesia!

Hidup persaudaraan dunia!

Hidup demokrasi!

Hidup kesejahteraan sosial!

Sumber: Pidato diambil dari buku Koempoelan Pidato Berkenaan Dengan Satoe Tahoen Merdeka terbitan Balai Pustaka. Artikel ini telah diketik ulang dengan beberapa penyesuaian ejaan.

Scan asli buku: https://drive.google.com/drive/folders/1jLXBAwic61L7Ac0fubKpp_XIaLM6V-xE


메타데이터
post_id
7249bf8db5a9
slug
sebuah-pidato-untuk-republik-yang-masih-rapuh-7249bf8db5a9
url
https://medium.com/@volkslectuur/sebuah-pidato-untuk-republik-yang-masih-rapuh-7249bf8db5a9
canonical_url
https://medium.com/@volkslectuur/sebuah-pidato-untuk-republik-yang-masih-rapuh-7249bf8db5a9
author_url
https://medium.com/@volkslectuur
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13