Final Draft of Us
Final Draft of Us

Kedai kopi itu ramai dihuni pemuda dengan topik berbeda di setiap mejanya. Suasana yang hangat bertolak belakang dengan cuaca di luar kedai ini yang sedang menampilkan tumpahan titik air dengan ritme yang cepat. Harum paduan mesin kopi tradisional dengan dentingan sendok dan besi saat pekerja kedai membalikkan roti yang sedang dibakarnya. Roti bakar yang juga kini dinikmati oleh sekumpulan orang di sudut meja sana.
Sadewa menumpukkan siku pada tangannya kala perempuan dengan rambut diikat poni kuda tersebut menjelaskan bagaimana penulis salah satu buku membawakan sebuah isu rumit dalam fiksi sederhana. Sadewa tidak pernah membayangkan bahwa mendengarkan perempuan berkuncir kuda itu akan menjadi hal yang dia nantikan di setiap pertemuan lingkar koordinasi bagi aktivis mahasiswa seperti mereka.
Sebenarnya pertemuan malam ini tidak sepenuhnya rencana jauh-jauh hari yang biasa mereka buat, tetapi ketika Jages dan Anta sama-sama ingin mencoba menu baru di kedai ini membuat mereka berdua mengajak satu grup berisi 6 mahasiswa yang terlibat dalam satu kegiatan bersama, melakukan orasi kala negara ini sedang tidak baik-baik saja. Pertemuan mereka sebelum malam ini sudah terjadi hampir dua bulan yang lalu, ketika salah satu aksi demo mempertemukan mereka dalam satu ruang yang sama — jeruji besi.
Jika dilihat dari dekat, orang-orang akan mengira enam orang ini hanya menghabiskan waktunya untuk mengobrol hal yang tidak ada hasilnya, namun sayangnya tidak.
Mari kita lihat lebih dekat, dimulai dari Jages yang dari bangun tidurnya dia habiskan waktunya untuk menyelesaikan proyek dosen dalam membuat pemetaan tata kota menggunakan alat berbasis IoT hingga waktu menunjukkan pukul tiga sore. Kemudian Kale, mahasiswa jurusan seni yang tidak tidur demi mengerjakan pahatan patung untuk karyanya yang tenggatnya tersisa lima hari lagi. Selanjutnya Sadewa, menghabiskan waktu paginya berkutat pada bahasa syntax untuk program yang sedang dia jalankan. Tidak hanya itu, Nalu pukul enam sore tadi baru saja menyelesaikan praktikum lapangnya dengan tugas mengukur kemiringan pantai. Lalu dua perempuan yang terjebak dalam lingkaran laki-laki itu yaitu Perda dan Anta. Perda, mahasiswi yang siang tadi baru saja menyelesaikan tiga harinya di kapal untuk mencoba alat echosounder di Laut Jawa sedangkan Anta yang bangun paginya berkutat dengan ruang terbuka hijau dan segala teknologi pertaniannya.
Siapa yang akan mengira, enam mahasiswa yang hampir tidak pernah tidur ini selalu diketemukan dalam setiap aksi yang terjadi di kota ini, entah aksi damai maupun atau aksi tuntutan. Enam orang tersebut mempunyai mimpi besar, bahkan sangat besar tetapi lingkungan mereka tidak benar-benar mendukung mereka sepenuhnya. Bagi mereka ber-enam, negara yang mereka injak ini layak untuk dicintai tapi tidak pada mereka yang berada di balik layar untuk mengelola bangsa ini. Mereka baru sadar jika mereka familiar dengan diri masing-masing ketika lingkaran obrolan yang tidak sengaja terbuat ketika mereka didudukan di satu ruangan yang sama — ruangan di balik jeruji besi.
Jika ditanya, apa mereka takut dengan dunia setelah merasakan dinginnya dinding jeruji besi, sayangnya tidak. Berita mereka ditangkap dan diadili sebagai aktivis yang melanggar peraturan tidak pernah menjadi bahan gosip bagi mahasiswa satu universitas. Bagi mereka yang tidak mengikuti kegiatan aksi atau demo, mengenali aktivis-aktivis yang pernah diam di balik jeruji besi tidak pernah sampai di telinga mereka. Maka dari itu, disinilah mereka, merilekskan tubuh setelah sekelebat bayangan mimpi mengejar mereka.
Sadewa masih betah mendengarkan ketika Kale dengan semangatnya menimpali Perda yang baru saja selesai menyeritakan salah satu novel yang dibacanya. Sadewa baru sadar, terlepas dari bagaimana dia fokus dengan bahasa syntax yang hari-hari dia makan dan membuat kajian isu, Perda selalu bisa membawa forum kecil ini hanyut pada sesuatu yang baru. Perda bukan perempuan yang akan berbicara banyak tanpa makna, dia bicara sesuai dengan apa yang dia tau dan tanpa Sadewa sadari, dirinya selalu menantikannya.
Ketika Sadewa ingin beranjak dari kursinya, tiba-tiba ada tangan yang menarik bajunya dengan pelan. “Mau kemana?” Tanya Perda pelan.
“Toilet bentar sama mau pesen makan, titip ga?” Sadewa butuh asupan kalori setelah menghabiskan robustanya tanpa gula itu. Melihat Perda yang menggelengkan kepalanya membuat Sadewa melanjutkan langkahnya yang tadi sempat tertunda.
Perda melihat semua temannya bingung, “Kenapa?” Tanya Perda pada empat pasang mata yang masih menatapnya heran.
“Lu deket sama Sadewa dari kapan?” Kale mengawalinya dengan raut heran.
“Deket gimana dah? I just asking Kal” Perda menjawabnya dengan santai.
“Rada sus lu yah Da” Ucap Anta memincing heran.
Perda yang ditatap sedemikian rupa hanya memutarkan bola matanya “Kalau gue emang deket, sesuatu yang dilarang kah?” Pertanyaan berani dia lontarkan tiba-tiba.
Nalu yang semula diam berakhir angkat bicara “Ga ada yang larang Da, tapi lu tau Sadewa ga akan pernah mau dalam fase hubungan kalau dia masih mau jadi aktivis kan”
“Terus kalau Sadewa bakal aksi seumur hidupnya, dia juga ga bakal punya pasangan seumur hidupnya? Nal, idealis istimewa, tapi makanan kita realita” Perda dengan senyum getirnya berusaha menjawab Nalu.
“Terus kenapa lu ada disini sebagai aktivis kalau lu bilang idealis istimewa Da?” Jages yang semula mengamati, akhirnya berbicara dengan suaranya yang sedikit menekan.
Anta yang melihat teman perempuannya diserang hanya tersenyum tipis. Seorang Perda, perempuan mandiri yang kakinya selalu berdiri di tengah-tengah orasi tidak pernah gentar untuk menyerukan pendapatnya. “Gue mencoba kemewahan yang ga semua orang punya, kemewahan yang bisa ngelindungin gue dari jahatnya realita, nyatanya gue ga bisa menghilangkan realita bukan?” Perda dengan santainya membalas Jages yang terlihat naik tensi.
Semuanya terdiam ketika melihat Sadewa kembali dengan membawa pesanan miliknya. Sadewa yang baru saja duduk, sedikit terkejut melihat suasana percakapan kali ini terasa panas. “Kalian aman?” Tanyanya sederhana pada lima orang yang sibuk masing-masing dengan layar handphonenya.
“Sedikit ribut tadi” Jawab Nalu singkat.
Sadewa mengernyitkan dahinya “Ribut apaan?”
“Perda bilang idealisme istimewa dikala kita setiap hari makan realita” Kale menjelaskan poin utama debat singkat mereka tadi.
“Kenyataan yang kita makan tiap hari gitu kan?” Anta dengan senyum tipisnya menimpali.
“Menurut gue itu benar, tapi balik lagi idealisme istimewa ketika lu adalah dalang dari ketidak-adilan seseorang, jadi menurut lu sendiri Da, idealisme masih istimewa?” Sadewa dengan raut seriusnya menanyakan langsung pada Perda.
“Sayangnya masih” Jawab enteng Perda.
Jages menggelengkan kepalanya kemudian berucap “Dan lu afirmasi Sadewa atas ketidak-adilan?”
Lagi dan lagi Perda menjawabnya dengan lugas “Sangat mengafirmasi, dengan alasan sampe sekarang gue masih belum bisa berlaku adil ke diri gue sendiri dan berujung gue merasa idealisme adalah hal yang istimewa” Tanpa riak berarti dia menjawabnya.
Kale yang sejatinya adalah pemantik ulung sebuah forum mulai kembali melontarkan pertanyaan “Bukannya ketika punya title ketua, sesimple koordinasi ke diri sendiri harus udah lulus yah?” Pertanyaan yang dibawakan dengan nada bercanda itu sejatinya tetap memiliki makna didalamnya.
“Ketua bukan robot yang harus sempurna, selagi apa yang dibawakan sesuai dengan visi misi yang udah pernah dia janjiin, kenapa permasalahan individual harus jadi halangan” Senyum Perda dengan ringan menjawab Kale yang mulai memantik forum kecil mereka.
“Tapi gimana kalau kasusnya, lu punya mimpi tentang akademik nih tapi lu sebagai ketua, lu harus mengabdi kepada organisasi, apa yang akan teman-teman ketum disini lakukan?” Kale yang memang dilahirkan menjadi pemantik ulung dan pembawa suasana berakhir melontarkan topik panasnya kembali.
Siapa yang akan mengira, polisi hanya mengincar ketua dari masing-masing lembaga yang biasa terlibat aktif dalam aksi. Pimpinan yang sering bersentuhan dengan forum mahasiswa, otak-otak dibalik bagaimana perpindahan dan gerakan aksi yang sering dilakukan mahasiswa adalah incaran mata-mata kepolisian. Mau bagaimana pun agenda untuk meminimalisir, mahasiswa tidak bisa menebak apa respon yang diberikan oleh orang-orang yang mereka sebut dalam tuntutan. Enam orang yang masih terlibat obrolan tersebut adalah perwakilan pimpinan setiap lembaga jika aksi akan dan sedang dilaksanakan. Akankah aksi dilaksanakan secara damai atau memberontak, nyatanya keputusan itu datang dari diskusi mereka ber-enam kala itu, dan berujung aksi damai berubah menjadi aksi ricuh yang memantik aksi di kota-kota lain.
“Menurut gue, ga ada yang namanya mengabdi ke organisasi, dasar organisasi mana yang bisa menstabilkan hidup lu? Ga ada.” Jawab Jages lugas.
Anta kemudian menimpali “Kalau yang gue tangkep, gimana lu bisa stabil di akademik ketika nama organisasi ngegantung di setiap langkah yang lu ambil, gitu Kal maksud lu?”
“Seratus Ta, tapi tadi yang Jages bilang juga ga salah. Menurut gue juga, organisasi sekarang dasarnya belum kuat bahkan ga ada, yang mana ketika lu bilang mengabdi lu yang kalah” Kale mengafirmasinya.
“Gue sendiri memandang akademik dan organisasi sesuatu yang beda, lu bisa ngejar mereka di waktu yang sama. Tinggal gimana diri lu buat koordinir hal itu, makanya kenapa skill kepemimpinan itu perlu banget, karena ketika lu bisa mimpin diri lu, ya lu bisa dapat banyak hal yang lu mau” Perda kembali menyauti topik mereka.
“Gue afirmasi buat Perda. Kayanya kalau masalah ini, gue yakin kita berenam disini sadar, pandangan pembagian organisasi sama akademik bukan hal yang perlu dimasalahin” Nalu mengafirmasinya dengan mengendikkan bahu.
Sadewa yang tadinya menyimak, akhirnya angkat bicara juga “Oke Nal kalau lu bilang gitu, gimana kalau perasaan lu ga bisa sejalan dengan mimpi yang lu punya?”
“Perasaan gimana yang dimaksud? Bukannya ketika itu mimpi lu, maka itu juga perasaan lu”
Anta kembali mencoba memahaminya kembali “Mungkin perasaan di luar diri sendiri, lu yang biasanya bagi waktu buat mimpi lu terus tiba-tiba dateng orang yang mau ga mau lu harus nyari waktu buat ketemu orang itu juga, iya kan?”
“Hooh gitu. Gue rasa mau pemimpin seadil mungkin sama orang lain, dia tetep ga bisa berlaku adil ke dirinya kalau masalah jatuh hati sama orang” Sadewa kembali menimpali.
“Jadi yang lu maksud disini, orang yang jatuh hati ga akan bisa ngeraih mimpinya di saat bersamaan Dew?” Tanya Nalu memastikan.
“How you can say that fucking opinion Dew” Suara pelan Perda menanggapi pernyataan Sadewa.
Sadewa yang paham atmosfer perempuan disampingnya berubah tiba-tiba hanya bisa tersenyum tipis. Sadewa mendengar Perda mengatakan dengan pelan jika opininya bahwa mimpi tidak bisa berjalan beriringan dengan jatuh cinta adalah opini buruk bagi Perda sendiri. “Bukan menurut gue Nal, kenyataan yang gue rasain emang gitu” Sadewa mengendikkan bahunya santai sambil masih tersenyum tipis.
“Ga gitu dong Dew. Lu boleh bilang itu terjadi di lu, tapi opini yang lu bawain seakan-akan hal itu emang ga boleh terjadi sama semua orang” Ucap Perda mendebat manusia disampingnya kini.
“Opini hanya opini Da. Mereka datang dari pandangan dan pengalaman, kalau lu judge opini gue yang tadi berarti lu ga mempersilahkan gue untuk berbicara dengan pandangan gue. Same as all people you mention in your speech” Sadewa menatap tepat di mata milik sang puan sambil tersenyum tipis.
Suasana mereka tidak pernah dalam suasana yang selalu konsisten hangat, ada kalanya Sadewa menjadi tokoh antagonis dengan opini tidak biasanya dan Perda yang merasa Sadewa jarang melontarkan opini yang bersifat objektif. Selain Sadewa dan Perda, mereka ber-empat hanya bisa saling tersenyum paham. Nalu dan Kale hanya sadar jika mereka berdua menyukai perdebatan kala pertemuan ini terjadi, tapi Jages dan Anta yang diluar lebih banyak menghabiskan waktu berdua sendiri paham jika Sadewa hanya akan berkata liar di depan Perda, semata-mata untuk melihat perempuan itu aktif menyangkalnya.
“Lu terlalu jauh Dew, karena gue merasa opini lu buruk terus gue disamain sama orang yang gue maki-maki di orasi. Terus gimana lu liat orang-orang yang bisa jadi diri mereka masing-masing bahkan ketika mereka udah di dalam pernikahan?” Perda kembali melontarkan pertanyaan membalas.
Nalu mencoba untuk bersuara “Ga salah juga Da. Menurut gue kembali ke personal masing-masing, kalau emang lu bisa ya udah jatuh cinta dan gapai mimpi lu. Kalau engga ya udah pilih salah satu mana yang mau dikorbanin”
“Aduh setuju banget sama Mas Nalu. Kondisional ga harus menyamakan pendapat ga si temen temen ketum yang lucu? Hehehe” Cengiran khas Kale dia tunjukkan.
“Terus gimana kalau gue pengin menyamakan pendapat sama orang yang gue suka Kal, dilarang juga?” Sadewa kembali mendebat.
“Menyamakan pendapat sama orang yang lu suka belum tentu bikin dia nyukain lu balik Dew” Jawaban pelan Perda memberikan tawa pelan bagi mereka semua, terkecuali Sadewa yang hanya tersenyum tipis.
“Bahkan orang nikah, asalnya dari dua orang yang punya pandangan yang beda kali Dew” Ucap Anta menimpali sambil masih tertawa tipis.
Perda yang masih ikut tertawa tiba-tiba dikejutkan dengan adanya notifikasi telfon dari handphone miliknya. Tertera ‘mommy’ pada bagian kontak yang membuatnya beranjak dari kursi menuju pintu keluar ruangan. Mereka ber-lima yang paham jika Perda menerima telfon kembali membully Sadewa yang malam ini kembali terlihat sengaja mendebat Perda.
Hanya 5 menit Perda menerima telfon dan kembali ke teman-temannya “Guys, gue perlu balik sekarang. Ibu gue dapet kabar, rumah gue lagi diawasin orang, takutnya ada yang ilang” Perda berucap tenang pada teman-temannya. Berkebalikan Perda yang pamit dengan tenang, mereka ber-lima menatap Perda dengan raut khawatir. Sadewa tiba-tiba langsung membereskan barang-barangnya dan memakai jaketnya “Ayo gue ikutin lu dari belakang, ambil barang lu. Nginep di basecamp aja” Kata-kata yang terdengar tidak bisa dibantah itu keluar dari Sadewa.
Namun sayangnya, Sadewa menghadapi Perda yang tidak pernah mau ditolong ketika merasa dirinya memang tidak membutuhkan pertolongan. Tangan Perda terulur ke pundak Sadewa dan menekannya kembali duduk “Lu duduk aja, selesain kopi lu. Gue cuman bentar ambil laptop gue terus gue ke rumah nyokap gue, so gue bakal aman. Mata lu cape, kendaraan ga bikin lu baik-baik aja” Nada suara yang lebih memintanya dengan pasti membuat Sadewa hanya diam menatap perempuan di matanya.
Perda untuk kali ini sadar. Ada yang berbeda dari Sadewa berbicara dengannya melalui tatapan laki-laki itu. Perda melihat kekalutan besar disana, pandangan khawatir yang Sadewa perlihatkan sama persis ketika anak-anak organisasinya harus terluka ketika aksi-aksi sebelumnya. Perda menepuk dua kali pundak Sadewa dan berucap “I’ll be fine, Dew”.
Tanpa berlama lagi, Perda pamit dengan Nalu, Jages, Kale dan Anta dan meninggalkan warung kopi itu. “Langsung aja, minta pendampingan. Sesuai tugas yah” Jages kembali membuka suara.
Mereka tidak akan mengira, menjadi target orang-orang suruhan karena mereka yang dirasa terlalu melawan pemerintah akhirnya berujung di titik ini. Sadewa yang perlahan mengalihkan pandangannya dari deru motor milik Perda ketika melihat perempuan itu pergi. Sadewa tau khawatirnya saat ini tidak baik-baik saja. Dia merasa banyak pikiran yang mengintainya, namun sama seperti sebelumnya saat menjadi ketua. Kekhawatiran itu harus dia redam dan memikirkan hal logic apa yang bisa dia lakukan untuk membantu perempuan itu.
“LBH udah acc bakal ada pendampingan sementara ke rumahnya Perda” Celetuk tiba-tiba Nalu setelah menaruh handphonenya.
“Okei tengs Nal. Ini gue juga minta anak-anak gue lebih hati-hati buat konsolidasi lusa” Jawab Kale mengafirmasi.
Sadewa yang masih sibuk dengan handphonenya mengundang Jages untuk bertanya “Apa yang bakal lu lakuin Dew?”
“Do it my wrong things. Nyari dalang parcok mana yang ngincer Perda” Jawab Sadewa sambil mendongakkan kepalanya.
Sadewa dengan nama belakangnya akan selalu bisa menyelesaikan masalah hukuman. Terlahir dengan nama belakang yang sudah akrab dunia kejaksaan membuatnya mempunyai akses mudah ke petinggi di atas sana. Nyatanya dirinya tetap turun — aksi, bersuara memaki orang-orang yang berteman dekat dengan kakeknya. Bukan karena hidupnya tidak enak atau tidak mudah, kenyataan sebaliknya mimpinya tidak pernah terjadi jika selalu menjilat kedua orangtuanya. Bukan tanpa alasan dia mendebat Perda mengenai bagaimana mimpi dan perasaan tidak bisa berjalan bersamaan, karena pendapat itu berasal dari mimpi Sadewa yang tidak bisa berjalan beriringan dengan perasaan orang tuanya.
Tidak lama dari perginya Perda, aktivis-aktivis yang sedang dalam semester akhir ini berujung kembali ke kos masing-masing kembali berkutat dengan tujuan utama mereka dan mempersiapkan mental untuk aksi selanjutnya. Tidak termasuk Sadewa yang mampir ke basecamp mereka, salah satu warung kopi yang hanya dibuka di setiap weekend oleh mereka.
Dulunya warung kopi itu adalah ruko kecil yang sengaja orang tua Nalu sewakan untuk tempat Nalu mengerjakan proyek-proyek desainnya. Hingga suatu hari ketika forum konsol mereka selalu dimasuki oleh pihak asing yang sengaja mengadu domba, membuat mereka ber-enam mencari tempat mana yang tidak ada satu pun mendengarnya dan Nalu menyarankan tempat itu. Karena tidak mau tempat ini disadari oleh mereka yang berusaha menyusup masuk, mereka ber-enam iseng membuka warung kopi yang sialnya selalu rame di waktu weekend.
Sadewa melangkahkan kakinya masuk, setelah memarkirkan motor maticnya tepat di depan pintu masuk. Melewati ruangan lantai satu yang gelap, dia melangkahnya kakinya santai menuju lantai dua. Terlihat pojok ruangan yang diisi oleh sofa usang dengan rak buku yang cukup tinggi hasil Sadewa membawanya dari rumahnya. Tidak lupa terlihat televisi ukuran sedang oleh-oleh dari kos Anta yang katanya tidak digunakan olehnya. Buku-buku yang tersusun rapi di rak sana bahkan masih menumpuk di pojok kanan kirinya adalah bukti bahwa mereka ber-enam memang kutu buku level maksimal. Mereka ber-enam tidak pernah kehabisan buku untuk didonasikan ke basecamp ini.
Sadewa mendudukkan dirinya di sofa dan menghela nafas lelah. Sejujurnya saat ini dia masih khawatir dengan keadaan Perda ditambah dengan program yang dia buat dari seminggu lalu tidak pernah sempurna, selalu error di beberapa syntax yang dia buat. Tangannya terulur mengambil salah satu buku fiksi hasil rekomendasi Perda yang masih belum dia usai baca. Saat fokusnya dia curahkan dalam buku, tiba-tiba suara langkah kaki di tangga membuat Sadewa menolehkan kepalanya menuju tangga.
Terlihat Perda dengan jaket hitam kulitnya menenteng kantong plastik dan satu gelas americano di tangannya, berjalan tersenyum tipis melihat Sadewa duduk membaca buku dengan kacamata kotak berwarna abu-abu tua miliknya.
“Kok sendirian?” Tanya Perda sambil mendudukkan dirinya di sebelah Sadewa yang kembali melanjutkan membacanya.
“Mereka harus berangkat pagi besok” Jawab Sadewa sambil tetap fokus pada bacaannya.
“Lu ga berangkat pagi besok?” Tanya Perda lagi.
Sadewa menolehkan kepalanya “Berangkat”
“Terus kenapa disini?”
“Gue masih bisa berangkat pagi even sendirian disini” Sadewa masih menatapnya yang sedang membuka bungkus nasi goreng.
Perda yang mendengarnya hanya mengangguk-angguk sambil bersiap memakan nasi goreng miliknya. Mereka berdua kembali fokus dengan kegiatan masing-masing. Sadewa yang membaca dengan hening dan Perda yang memakan makannya tanpa distraksi apapun. Kecuali, dentingan sendok yang tidak hanya masuk ke mulutnya tetapi masuk juga ke mulut laki-laki yang sedang membaca disebelahnya.
Sampai nasi goreng itu habis, mereka berdua benar-benar tidak memiliki obrolan apapun. Perda melihat sekilas laki-laki disebelahnya fokus membaca kemudian memutuskan duduk menyenderkan kepalanya di sofa dan melihat langit-langit. “Everything is fine?” Tanya Sadewa setelah sekilas melihat Perda yang diam.
“Of course not. Tapi solusi udah lagi dicoba” Jawab singkat Perda.
“Termasuk diri lu sendiri, are u fine?” Kini fokus Sadewa bukan buku di tangannya tetapi perempuan yang masih betah menatap langit-langit ruangan.
“Gue lagi nyoba buat nenangin diri, itu termasuk solusi yang lagi gue coba kan?” Lirik tipis Perda pada laki-laki disampingnya.
Sadewa memiringkan badannya ke samping tepat menghadap penuh pada perempuan di sampingnya ini. Tangannya terulur mengusap dahi Perda yang sedikit mengkerut disana. Kemudian telapak tangannya dia lanjutkan untuk mengusap beberapa kali surai hitam milik Perda. Perda merasakannya dan memejamkan matanya, tidak menolak — karena ini memang yang dia butuhkan. “Kalau gue minta lu stay sama gue sampe kita stabil sebagai manusia, gue egois ga Dew?” Tanya perempuan itu pelan.
“Gue selalu stay sama lu Da” Jawab Sadewa pelan.
“Stay sebagai apa yang lu maksud disini?” Jawab Perda cepat.
“Friends? I think” Sadewa menurunkan tangannya dari surai hitam perempuan itu dan Perda langsung membuka matanya.
“Jadi perasaan lu beneran ga bisa berjalan sama mimpi lu itu yah?” Tatapan Perda layangkan tepat di mata laki-laki bersurai hitam persis seperti miliknya.
“Belum tentu, seberapa besar perasaan yang gue punya sampe gue harus ngejar mereka di saat yang bersamaan” Jawab Sadewa tanpa mau membalas tatapan Perda.
Perda yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. Tidak salah apa yang dikatakan Sadewa, perempuan itu pun ragu dengan perasaan yang dimilikinya untuk laki-laki itu hingga berani untuk mengejarnya bersamaan dengan mimpinya. Perda bangun dari duduknya “Gue balik yah. Malem ini dan malem sebelumnya keep as memories, lets meet just for dream Dew” Ucap perempuan itu tersenyum sendu sambil mengusak surai hitam laki-laki dihadapannya. Perda melangkahkan kakinya menuju tangga dan hilang di telan dinding ruko.
Sadewa terdiam sejenak, tidak ada tangisan, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Dia sedang merasakan kehilangan yang rasanya terlalu asing, sesak tetapi tidak cukup untuk membuatnya merasa terhimpit.
…
September 2031
Malam ini konsolidasi terbuka salah satu univ yang paling ditunggu dilaksanakan. Tuntutan berupa penurunan presiden yang dinilai naik karena mengangkangi hukum yang sudah dibuat. Banyak mahasiswa yang hadir malam ini, hampir memenuhi pendopo terbuka yang ada di pusat mahasiswa itu. Satu per satu pendapat dilontarkan, tajuk-tajuk propaganda digaungkan, tempat-tempat mereka untuk bisa menyerukan aspirasi mulai didiskusikan.
Termasuk Nalu dan Kale yang sengaja datang sebagai warga sipil yang sudah lulus dari 5 tahun lalu. Sadewa juga ada disana, sendirian mengamati Nalu dan Kale yang berbincang aktif dengan mahasiswa-mahasiswa yang kini melanjutkan api perlawanan. Mata Sadewa juga mengamati perempuan dengan topi abu-abu tua khasnya yang tidak pernah diganti semenjak perempuan itu masih aktif orasi di jalan. Sadewa melangkahkan kakinya menuju perempuan itu yang terlihat tidak mencolok tenggelam bersama barisan mahasiswi-mahasiswi yang datang malam ini juga dan mengawasi jalannya konsolidasi malam ini.
Sadewa berdiri di sampingnya tanpa berbicara apapun. Hingga perempuan itu menolehkan kepalanya dan kejap kecil timbul dimatanya, tetapi hal itu tidak mengalihkan fokusnya dari forum konsolidasi malam ini.
“Everything is good?” De javu. Sadewa pernah menanyakan hal itu pada perempuan disampingnya, dan kali ini perempuan itu membalikkan kalimatnya.
“All done, but one stuck” Jawab Sadewa pelan.
“Dont playing victim, Dew”
“Gue ga pernah merasa perasaan gue sama dia selesai, so gue bilang itu stuck” Sadewa masih menatap mata itu dengan sendu, berusaha mencari tau apa yang perempuan disampingnya rasakan.
“Selesai? Bukannya lu ga pernah mulai” Jawab perempuan itu santai.
Sadewa hanya terdiam tanpa menjawab. Sadewa sadar, bukan perasaan yang dia kejar bersama orang yang dia jatuh hatikan. Namun, waktu yang tidak mungkin diulang dua kali untuk perasaan yang masih sama, idealisme dirinya masih terbawa bahkan hingga dunia percintaan. Sadewa memutuskan untuk mundur perlahan, termasuk mundur dari perasaan dari perempuan disampingnya. Hingga sebuah tangan menahan dirinya untuk pindah.
“Gue udah bisa jadi mimpi yang lu kejar belum?” Ucap Perda sambil membuka topi abu-abunya. Senyuman tipis terpampang di wajahnya yang jauh lebih dewasa. Perempuan itu Perda, perempuan yang sama yang pernah memintanya untuk stay bersama saat masih mengejar mimpinya.
Sadewa tersenyum membalas perempuan itu dan tubuhnya sudah kembali berdiri di samping perempuan itu. Tangannya melingkari pinggang ramping Perda dan membisikkan sesuatu di telinga perempuan itu “Bukan lu mimpinya, tapi mimpi gue, kita selalu berdua sampe umur yang dikasih sama Tuhan. Habis ini mau pemberkatan dimana?” Senyum kecilnya Sadewa sunggingkan untuk Perda yang fokus dengan konsolidasi di depannya.
“Depan istana negara?” Jawab Perda dengan nada tengilnya.
“Boleh, tapi bawa banner aksi yah” Sadewa membalasnya dengan sama tengilnya.
Kedua orang dewasa yang tidak pernah mengira akan di posisi ini. Sadewa berhasil menduduki Manager Pemrograman di tahun kelimanya bekerja dan Perda yang berhasil menduduki jabatan sebagai Kepala Divisi Pengawasan bidang Kelautan.
Mimpi, perlawanan, dan perasaan semuanya sudah Sadewa dan Perda taklukkan. Semuanya memang tidak berjalan bersamaan, tetapi semuanya tercapai di waktu yang benar. Apapun apa yang sedang kamu rasakan saat ini, anggap sebagai hal yang memang sudah harus kamu lalui untuk bisa berada di mimpi yang memang sudah kamu cita-citakan dari lama.
메타데이터
- post_id
- 726354aa7a0a
- slug
- final-draft-of-us-726354aa7a0a
- url
- https://medium.com/@skiesuniverse/final-draft-of-us-726354aa7a0a
- canonical_url
- https://medium.com/@skiesuniverse/final-draft-of-us-726354aa7a0a
- author_url
- https://medium.com/@skiesuniverse
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01