← Back to list

Melampaui Kapitalisme Pariwisata: Peran Subkultur dalam Membangun Pariwisata Regeneratif

#47: Kaum marjirnal yang berdaya

Yusuf Hermawan in Cerita Uang & Perekonomian · 2026-07-06 04:47 · 50 claps · 2.3 min read
#pariwisata #indonesia #subkultur #cuan #culture
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media

Melampaui Kapitalisme Pariwisata: Peran Subkultur dalam Membangun Pariwisata Regeneratif

Sumber: Youtube Suaradotcom

Sumber: Youtube Suaradotcom

Ketika membicarakan pariwisata regeneratif, perhatian publik kadang tertuju pada hotel ramah lingkungan, sertifikasi hijau, atau kebijakan pemerintah mengenai pembangunan berkelanjutan. Namun praktik regeneratif yang sesungguhnya terkadang lahir dari kelompok-kelompok masyarakat arus bawah yang bekerja jauh dari sorotan media. Mereka mungkin tidak menggunakan istilah regenerative tourism tetapi tindakannya justru mencerminkan prinsip-prinsip regenerasi yaitu pemulihan terhadap ekosistem, penguatan solidaritas sosial, dan menciptakan ruang hidup yang lebih adil.

Masyarakat subkultur mulai dari komunitas punk, pesepeda, pegiat seni jalanan, kolektif lingkungan, komunitas selancar independen, hingga kelompok pecinta alam dianggap sebagai kelompok marginal. Namun dari perspektif critical tourism studies, kelompok ini merupakan aktor penting yang mampu menawarkan alternatif terhadap model pariwisata yang terlalu berorientasi pada investasi, komersialisasi, dan pertumbuhan ekonomi semata.

Pariwisata regeneratif bukan sekadar mengurangi dampak negatif aktivitas wisata melainkan mengembalikan kehidupan sosial dan ekologis suatu destinasi wisata menjadi lebih baik dibandingkan sebelum aktivitas wisata berlangsung. Pada konteks ini, masyarakat arus bawah memiliki modal yang tidak dimiliki oleh institusi formal yaitu kedekatan emosional dengan ruang, solidaritas komunitas, kreativitas kolektif, dan kemampuan bergerak secara sukarela tanpa kepentingan ekonomi jangka pendek.

Contoh nyata dapat ditemukan pada komunitas selancar di Indonesia yang secara rutin melakukan aksi *beach clean up* sebelum atau sesudah berselancar. Kegiatan tersebut tidak hanya membersihkan sampah plastik tetapi juga mengedukasi wisatawan mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Bahkan beberapa komunitas mengembangkan program adopsi pantai, pemantauan kualitas air, hingga konservasi karang bersama masyarakat lokal.

Contoh lain datang dari komunitas punk lingkungan (eco punk) di berbagai negara. Alih-alih sekadar mengidentifikasi diri melalui musik dan gaya berpakaian, sebagian kelompok punk justru aktif melakukan rehabilitasi ruang publik, urban gardening, daur ulang limbah, hingga kampanye anti-konsumerisme. Nilai Do It Yourself (DIY) yang dianut mendorong lahirnya festival, ruang kreatif, atau kegiatan wisata alternatif dengan jejak karbon rendah dan partisipasi masyarakat yang tinggi.

Pada konteks Indonesia, komunitas pecinta alam juga menunjukkan praktik regeneratif melalui penanaman mangrove, restorasi jalur pendakian, pembangunan fasilitas sederhana berbasis swadaya, serta edukasi kepada wisatawan mengenai etika berkunjung (leave no trace). Aktivitas tersebut dilakukan secara sukarela tanpa menunggu proyek pemerintah maupun bantuan donor.

Komunitas seni jalanan pun memberikan kontribusi yang tidak kalah penting. Di sejumlah kota, mural bertema lingkungan berhasil mengubah kawasan kumuh menjadi ruang publik yang lebih hidup sekaligus menjadi daya tarik wisata berbasis budaya. Ketika dikelola bersama masyarakat setempat, ruang-ruang tersebut tidak hanya menghasilkan kunjungan wisatawan tetapi juga memperkuat identitas lokal dan rasa memiliki terhadap lingkungan.

Sayangnya, kontribusi masyarakat arus bawah masih jarang diakui dalam kebijakan pariwisata. Mereka sering diposisikan hanya sebagai pelengkap program pemerintah atau bahkan dianggap mengganggu citra destinasi. Paradigma seperti ini perlu diubah. Regenerasi tidak lahir hanya melalui investasi besar dan proyek infrastruktur. Proses tersebut tumbuh dari relasi sosial yang sehat, partisipasi warga, dan kepedulian kolektif terhadap ruang hidup.

Oleh sebab itu, masa depan pariwisata regeneratif seharusnya tidak hanya berbicara mengenai teknologi hijau atau standar keberlanjutan internasional. Poin yang lebih penting adalah memberikan ruang bagi masyarakat subkultur dan komunitas arus bawah untuk menjadi produsen perubahan dan bukan sekadar objek pembangunan. Mereka telah membuktikan bahwa regenerasi tidak selalu dimulai dari ruang rapat atau konferensi internasional. Hal itu justru lahir dari tangan-tangan sukarelawan yang membersihkan pantai, menanam mangrove, mengecat tembok kota, atau menjaga hutan tanpa berharap imbalan. Barangkali, disanalah letak wajah paling autentik dari pariwisata regeneratif yang sebenarnya berada.


메타데이터
post_id
727e160af080
slug
melampaui-kapitalisme-pariwisata-peran-subkultur-dalam-membangun-pariwisata-regeneratif-727e160af080
url
https://medium.com/cerita-uang-perekonomian/melampaui-kapitalisme-pariwisata-peran-subkultur-dalam-membangun-pariwisata-regeneratif-727e160af080
canonical_url
https://medium.com/cerita-uang-perekonomian/melampaui-kapitalisme-pariwisata-peran-subkultur-dalam-membangun-pariwisata-regeneratif-727e160af080
author_url
https://medium.com/@yusufherm
status
ok
fetched_at
2026-07-08 21:56:07