Jejak Sufisme Dalam Film-film Abbas Kiarostami dan Beban Kontrasnya yang Tak Terhindarkan
Sebuah Mini Esai Tentang Abbas Kiarostami, Sufisme dan Beban Kontrasnya
Jejak Sufisme Dalam Film-film Abbas Kiarostami dan Beban Kontrasnya yang Tak Terhindarkan
Kiarostami bukanlah sekadar sutradara film. Ia adalah pembaca puisi yang mencernanya sampai cukup dalam, lalu memuntahkannya kembali menjadi gambar bergerak. Ia juga seorang fotografer lanskap dan penyair yang menerbitkan beberapa kumpulan puisi semasa hidupnya. Pengaruh Jalaluddin Rumi, Hafidz Asy-Syirazi, Umar Khayyam, Sohrab Sepehri, dan Forough Farrokhzad bukan sekadar referensi intelektual melainkan bagaimana ia memandang realitas yang fana ini.
Sama halnya dengan tradisi para penyair sufi, mereka mengungkapkan alam bukan sekadar literal melainkan metafora atas mistisme dan spiritualitas mereka. Kiarostami mewarisi cara menafsirkan ini secara menyeluruh. Sebagai fotografer, ia menghabiskan bertahun-tahun memotret pohon-pohon gundul di musim dingin, jalan-jalan berliku yang membelah bukit, dan langit yang berubah warna di atas desa-desa Iran. Dan potret lanskap yang sama itulah yang mengalir ke dalam film-filmnya sebagai logika visual yang sangat spesifik melalui pendekatan realitas seperti dokumenter yang menempatkan manusia sebagai bagian kecil dari semesta yang jauh lebih besar.
Salah satu ciri paling khas Kiarostami adalah penggunaan long shot yang menempatkan manusia sebagai titik kecil di tengah lanskap yang luas. Dalam The Wind Will Carry Us (1999), berulang kali kita melihat mobil sang protagonis yang menjadi sebuah objek putih kecil merayap di antara jalur-jalur ladang gandum yang membentang. Dalam Taste of Cherry (1997), wajah Badii nyaris tenggelam di balik kaca depan mobilnya sementara bukit-bukit kering Teheran memenuhi seluruh bingkai.
Ini bukan pilihan estetis semata. Ini adalah pernyataan teologis yang diwariskan langsung dari tradisi sufistik. Dalam sufisme, konsep fana—penghapusan diri, peleburan ego ke dalam Yang Lebih Besar—adalah tahap tertinggi perjalanan spiritual. Long shot Kiarostami adalah kefanaan itu sendiri bahwa manusia terlihat kecil untuk dikembalikan ke proporsi yang sesungguhnya. Di hadapan hamparan ladang, di bawah langit yang sama, kita semua hanya titik yang tak bisa apa-apa.
Dalam The Wind Will Carry Us, angin yang disebutkan di judul itu hampir tidak pernah terlihat dan seperti dalam puisi Sohrab Sepehri yang diterjemahkan oleh Karim Emima yang berjudul Water's Footfall "I hear the sound of the breathing of the garden. And the sound of darkness, when it drops from a leaf." bahwa sang protagonis, jurnalis kota yang datang menunggu seorang nenek tua sekarat agar bisa meliput ritual perkabungan, terus-menerus dihadapkan pada kesenjangan antara urgensinya dan kesabaran alam di sekelilingnya. Ia berlari ke bukit untuk mendapat sinyal telepon dan angin bertiup terasa tak peduli yang mempunyai ritme sendiri.
Jika Sepehri hadir secara simbolik, maka Umar Khayyam hadir dalam bentuk pertanyaan. Taste of Cherry hampir seluruhnya dibangun dari satu pertanyaan tunggal: apakah seorang pria berhak mengakhiri hidupnya sendiri? Khayyam, penyair-filsuf yang menulis tentang kefanaan dan ketidakpastian akhirat, adalah roh yang melayang di atas perbukitan kering Teheran itu.
Tapi Kiarostami tidak mengambil posisi Khayyam mentah-mentah. Dalam Rubaiyatnya no. 24 yang diterjemahkan oleh Edward Fitzgerald berbunyi "Ah, make the most of what we yet may spend, Before we too into the Dust descend; Dust into Dust, and under Dust to lie, Sans Wine, sans Song, sans Singer, and—sans End!" yang dapat diartikan bahwa Khayyam menganjurkan menikmati anggur karena hari esok yang tak pasti menjadikan sebuah hedonisme spiritual yang elegan. Kiarostami sebaliknya menghadirkan Bagheri, seorang taksidermis tua, dengan meyakinkan sang protagonis pada memori sensorik yaitu, rasa buah ceri di pagi hari setelah semalam hujan, tekstur tanah yang basah di antara jari-jari, cahaya pertama yang menerobos sebelum dunia sepenuhnya riuh. Ini adalah sufisme yang paling sederhana bahwa kehadiran yang ilahi bukan di langit, melainkan di lidah, di telapak tangan, di mata yang selalu dekat dengan dirinya.
Namun, di antara semua penyair yang memengaruhi Kiarostami, Hafidz mungkin adalah yang paling terasa dalam sensibilitasnya dalam menyimpulkan dan membiarkan sesuatu tetap terbuka lebar yang bisa dibaca dengan lebih dari satu cara sekaligus.
Hafidz adalah penyair ambiguitas yang agung. Ketika ia menulis tentang anggur, pembacanya tidak pernah bisa memastikan apakah itu anggur sungguhan atau metafora untuk ekstase spiritual. Ketika ia menulis tentang kekasih, apakah itu manusia atau Tuhan? Hafidz tidak pernah memberi tahu bagian dari dualisme makna tersebut yang membuat Kiarostami menyukainya.
Hal ini juga dilakukan oleh Kiarostami dalam Close-Up (1990), kita tidak pernah sepenuhnya tahu di mana batas antara dokumenter dan fiksi, antara Hossain Sabzian yang "asli" dan Sabzian yang sedang bermain peran sebagai dirinya sendiri. Begitu pun dalam film lainnya termasuk Taste of Cherry, adegan penutup yang tiba-tiba berubah menjadi footage video berwarna mengoyak semua yang kita bangun sebagai "kenyataan" selama satu setengah jam sebelumnya. Kiarostami tidak menjelaskan. Ia meninggalkan ambiguitas itu—seperti Hafidz meninggalkan pertanyaan soal anggurnya—sebagai ruang yang harus diisi oleh penonton sendiri.
Di sinilah tulisan ini harus berhenti sejenak dan mengakui bahwa saya tak boleh melewatkannya. Forough Farrokhzad adalah penyair Iran yang paling berani menulis tentang keinginan perempuan, tentang tubuh perempuan sebagai subjek yang berdikari. Kiarostami sangat mengaguminya dan secara terbuka mengakui pengaruhnya. Namun setelah ia wafat pada 2016, sejumlah kesaksian tentang dinamika kekuasaan yang abusif dalam hubungan dengan kerabat kerjanya dalam film Ten (2002).
Ironi ini pedih dan tidak bisa dilewati begitu saja. Seorang seniman yang mengaku mewarisi suara Farrokhzad—penyair yang membebaskan tubuh perempuan dari tatapan yang mengobjektifikasinya—ternyata diduga menggunakan kekuasaannya atas tubuh dan karier perempuan yang bekerja dengannya. Ini bukan paradoks yang bisa diselesaikan dengan cara apapun.
Di luar Farrokhzad menulis puisinya yang berjudul The Wind Will Carry Us yang diambil langsung oleh Kiarostami ada pula puisinya yang menyoal dosa sebagai pengakuan yang jujur, serta keberanian seorang perempuan mengklaim hasrat dan tubuhnya sendiri di tengah masyarakat yang tidak memberinya ruang untuk itu. Ketika Kiarostami mengambil estetika keberanian ini tanpa mengambil etikanya—kesetaraan, persetujuan, penghormatan pada kehendak orang lain—menjadi sesuatu yang fundamental kemudian retak dalam warisan itu. Tidak semua yang diwarisi dari para penyair itu ia bawa pulang ke dalam hidupnya sendiri.
Para penyair sufi yang dipahami Kiarostami mengajarkan bahwa pencarian sejati membutuhkan kerendahan hati yang total. Kiarostami dengan jelas mewarisi setengah-setengah kebijaksanaan ini ke dalam filmnya.
Kini, ketika dihadapkan kembali dengan film-film Abbas Kiarostami rasanya sudah tak menjadi katalis lagi bagi saya. Entah bagaimana caranya berdiri di hadapan karya yang indah dan manusia yang tidak sepenuhnya pantas atas keindahan itu?
메타데이터
- post_id
- 72beebdaf8dd
- slug
- jejak-sufisme-dalam-film-film-abbas-kiarostami-dan-beban-kontrasnya-yang-tak-terhindarkan-72beebdaf8dd
- url
- https://medium.com/@belajarmembunuh/jejak-sufisme-dalam-film-film-abbas-kiarostami-dan-beban-kontrasnya-yang-tak-terhindarkan-72beebdaf8dd
- canonical_url
- https://medium.com/@belajarmembunuh/jejak-sufisme-dalam-film-film-abbas-kiarostami-dan-beban-kontrasnya-yang-tak-terhindarkan-72beebdaf8dd
- author_url
- https://medium.com/@belajarmembunuh
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 19:15:58