Jika Hidup Bisa Diulang
Ketika satu nyawa hilang saat aku main game, aku hampir selalu menekan tombol menu, lalu restart. Di kepalaku, kehilangan satu nyawa…
Jika Hidup Bisa Diulang
Photo by Sigmund on Unsplash
Ketika satu nyawa hilang saat aku main game, aku hampir selalu menekan tombol menu, lalu restart. Di kepalaku, kehilangan satu nyawa berarti aku tidak akan bisa menyelesaikan level itu. Jadi daripada menunggu semua nyawa habis, lebih baik aku mulai saja dari awal.
Ternyata, cara aku bermain game aku bawa juga kedalam hidupku. Kedalam kehidupanku yang nyata.
Ketika aku membuat satu kesalahan dalam hidup, kepalaku langsung penuh dengan skenario seandainya. Seandainya aku tidak memilih itu. Seandainya aku tidak berkata begitu. Seandainya hidupku bisa diulang.
Kesalahan itu terasa seperti merebut seluruh hidupku. Seolah-olah setelah itu, aku tidak pantas melanjutkan apa pun.
Akhirnya aku menjalani hari-hariku dengan setengah hati. Menjalani hari hanya karena aku masih bangun dari tidur dan jantungku masih bekerja. Tidak ada semangat, tidak ada gairah.
Aku takut membuat kesalahan lagi. Jadi aku memilih bergerak seminimal mungkin. Menjalani hal-hal yang sudah aku tahu, atau bahkan tidak berjalan sama sekali, supaya tidak jatuh.
Dan di titik itu, hal yang aku pikirkan hanyalah… Rasanya akan lebih mudah kalau hidup ini direstart saja.
Tapi sayangnya hidupku tidak punya tombol restart.
Pilihan satu-satunya adalah menjalani semuanya sampai akhir.
Sampai hari ini… aku membaca kalimat sederhana, yang amat-amat sangat klise, Dan semua orang juga pasti tahu, yaitu ‘manusia pasti membuat kesalahan’.
Aneh ya, kalimat itu begitu sederhana, begitu sering diucapkan, tapi terasa sangat jauh bagiku.
Pembuat game tahu, kita tidak akan bisa menyelesaikan level hanya dengan satu nyawa. Mungkin bisa saja ya kalau jago, tapi normalnya sih sepertinya tidak. Itulah kenapa kita diberi banyak nyawa.
Tuhan juga pasti tahu, manusia akan selalu berbuat salah. Itulah kenapa kita diberi waktu. Waktu untuk belajar, dan mencoba lagi dengan cara yang berbeda.
Tapi sayangnya selama ini aku terlalu sibuk menatap kesalahanku. Menyesalinya. Menyalahkan diri sendiri. Alih-alih belajar darinya.
Mungkin pernyataan kucing punya sembilan nyawa. Punya makna historis lain, yang aku kurang tahu, nanti aku cari tahu. Tapi untuk saat ini menurutku kalimat itu lahir dari kekaguman kita pada cara mereka hidup. Mereka berani melakukan apapun seakan-akan mereka tidak bisa mati. Maka sekarang, aku ingin mencoba hidup seperti kucing. Bukan berarti aku akan sering memanjat pohon ya. Tapi hidup dengan keyakinan bahwa aku bisa mencoba dan melangkah tanpa harus lumpuh oleh rasa takut akan melakukan kesalahan.
Selama ini aku salah menaruh fokus ketika bermain game. Aku terlalu ingin menyelesaikan level dengan sempurna. Padahal yang perlu aku lakukan hanya menyelesaikannya. Tidak harus sempurna. Tidak perlu bahkan.
Maka sekarang ketika aku melakukan kesalahan, ketika aku terjatuh. Tapi aku masih bisa melihat jarum jam yang berdetak dan menit yang berganti, itu artinya aku masih mempunyai nyawa untuk menyelesaikan level permainanku.
메타데이터
- post_id
- 73269cae3fb2
- slug
- jika-hidup-bisa-diulang-73269cae3fb2
- url
- https://medium.com/@katharinapuspa/jika-hidup-bisa-diulang-73269cae3fb2
- canonical_url
- https://medium.com/@katharinapuspa/jika-hidup-bisa-diulang-73269cae3fb2
- author_url
- https://medium.com/@katharinapuspa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 21:39:52