yang akan selalu menyimpan
Kamu tahu, ji? Aku pun baru memahami bahwa tidak ada yang benar-benar hilang, yang ada hanya kadang disimpan terlalu rapi hingga lupa…
yang akan selalu menyimpan

Kamu tahu, ji? Aku pun baru memahami bahwa tidak ada yang benar-benar hilang, yang ada hanya kadang disimpan terlalu rapi hingga lupa pernah meletakkannya di sana.
Sudah hampir dua bulan aku tidak menuliskan namamu dalam kalimat-kalimat panjang. Selama periode waktu itu, tidak ada huruf yang sengaja kucari bentuknya, tidak ada pula metafora yang kupinjam untuk menggambarkan rindu yang samar. Aku pikir itu pertanda baik yang menandakan mungkin aku sudah lebih pandai menata isi kepala. Itu karena aku berfokus pada janji kecil pada diri sendiri saat pergantian tahun: tahun ini harus lebih banyak memperbaiki diri, lebih fokus berjalan ke depan, tidak terlalu sering menoleh ke arah yang sama.
Aku pikir dengan mengisi hari-hari dengan hal baru, dengan mengenal wajah-wajah baru, dengan menyibukkan pikiran pada cerita lain, maka ruang yang biasanya menyebut namamu akan mengecil dengan sendirinya. Sama seperti kamar yang jarang dimasuki, lama-lama akan terasa asing.
Ji, ternyata aku salah.
Ternyata rasa rindu bukan barang yang bisa dipindahkan hanya dengan memindahkan perhatian. Dari yang aku rasakan, dia seperti bayangan yang tetap mengikuti, meski kita pura-pura tidak melihatnya di sekitar. Aku mengira aku hanya sedang tumbuh, ternyata aku hanya sedang mengalihkan perhatian.
Hingga suatu hari, di tengah keramaian kecil, di antara suara-suara yang melantunkan bait lirik yang sama, lagu-lagu yang kamu buat kembali dinyanyikan bersama. Tidak ada yang dramatis, juga tidak ada momen besar. Hanya barisan melodi yang tiba-tiba membuka pintu yang aku pikir sudah mulai kututup rapat. Di situ aku sadar, ternyata ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar pergi.
Aku ikut bernyanyi di sana, dan di antara bait-bait yang pernah begitu akrab, ada rasa yang naik perlahan seperti air pasang. Bukan kesedihan, bukan juga kegembiraan. Lebih seperti pengakuan yang akhirnya tidak bisa lagi disangkal, bahwa ternyata aku sangat rindu kamu.
Lucunya, selama ini aku merasa cukup pandai menyembunyikannya. Seolah-olah dengan tidak menulis, tidak membicarakan, tidak mendengarkan, tidak terlalu sering menyebut namamu, maka perasaan itu akan ikut mengecil. Padahal ia hanya berdiam diri, menunggu dipanggil oleh satu nada yang tepat.
Ya… mungkin begitulah manusia bekerja. Sering berpura-pura tidak merasa agar tetap terlihat kuat. Sering menutup lembaran bukan karena telah menyelesaikan isinya, tetapi karena takut terlalu larut. Sering bilang pada diri sendiri bahwa baik-baik saja, bahwa sekarang tidak lagi menoleh ke belakang yang padahal di sudut hati, ada satu tempat yang tetap terang.
Di tengah semua itu, ada keinginan kecil yang ikut tumbuh: tentu aku ingin menjadi lebih baik juga. Bukan untuk melupakanmu, tapi untuk berjalan sejajar dengan versi terbaik dari diriku sendiri. Jika kamu di sana tidak pernah berhenti berproses, terus memoles dirimu dalam sunyi, maka aku pun ingin melakukan hal yang sama di jalanku. Supaya ketika waktu kembali mempertemukan kita dalam ruang dan waktu yang sama, aku bukan hanya seorang yang berdiri di tempat, tetapi seseorang yang juga sudah menempuh perjalanannya sendiri.
Tetapi sekeras apa pun aku mencoba terlihat biasa, tetap saja ada masa ketika namamu terasa dekat. Seperti angin yang tiba-tiba membawa aroma yang familiar. Tidak terlihat, tidak terdengar, tapi cukup untuk membuat hati bergetar pelan.
Entah mengapa, ada bagian dari diriku yang ingin percaya bahwa di tempatmu berdiri sekarang, mungkin ada perasaan serupa yang kau simpan dengan rapi. Bukan sesuatu yang perlu diumumkan, bukan sesuatu yang boleh terlihat jelas. Sesuatu yang harus disimpan baik-baik karena ada tanggung jawab yang harus dijalani dengan tegak. Mungkin memang begitu caranya untuk dia, menyimpan rindu di saku seragam, lalu melanjutkan tugas dengan wajah yang tenang.
Tidak mengherankan kamu bisa. Bukankah kita semua pandai berpura-pura? Berpura-pura tidak lelah, berpura-pura tidak khawatir, berpura-pura tidak merindukan sesuatu terlalu dalam, dan hebatnya di balik semua itu kita tetap baik-baik saja.
Jadi untuk sekarang, aku tidak lagi mencoba menyangkalnya. Rasa itu ada, dan mungkin memang seharusnya begitu. Tidak perlu dilebihkan, tidak perlu juga dikecilkan. Ia hanya menjadi bagian dari perjalananku, seperti jejak kaki yang tetap tertinggal meski angin berusaha merapikannya.
Semoga di sana langkahmu tetap kuat. Semoga hari-harimu selalu bersama orang-orang yang baik, lingkungan yang hangat, dan langit yang cukup cerah untuk membuatmu tersenyum tanpa beban. Semoga kamu tetap bisa bertahan dengan caramu sendiri: tenang, rapi, dan percaya diri seperti biasanya hingga semua musim ini selesai.
Hingga ketika waktu akhirnya memutar kembali jaraknya, mungkin kita akan bertemu lagi di tempat yang sama seperti dulu: di antara lagu-lagu yang kamu ciptakan, dan di tengah keramaian yang menyanyikannya bersama.
Hingga saat itu tiba, biarlah rindu ini tinggal dengan tenang. Tidak perlu disembunyikan lagi, tidak perlu juga diumumkan.
Ia hanya ada — dan itu sudah cukup.
메타데이터
- post_id
- 735a6df4acd2
- slug
- yang-akan-selalu-menyimpan-735a6df4acd2
- url
- https://medium.com/@menotsuree/yang-akan-selalu-menyimpan-735a6df4acd2
- canonical_url
- https://medium.com/@menotsuree/yang-akan-selalu-menyimpan-735a6df4acd2
- author_url
- https://medium.com/@menotsuree
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13