Tentang Waktu
Perihal waktu, kematian, dan cinta.
Tentang Waktu

web.suaramuhammadiyah.id
Kepada waktu kita bertanya, mengapa Selasa menyebrang ke Jumat? Dan Jumat selalu siap untuk menjelma Selasa?
Perihal jam masih berdetak seperti biasanya. Sementara kepada daun penanggalan, ia tidak merasa harus bertahan di dinding itu.
Lalu ketika merah ada di depan rumah, kita semua berkumpul—bertukar sedih, dan bergegas untuk pergi.
Karena hidup adalah sebuah penyeberangan, yang menggantung antara bumi dan Sang Langit, dan kita hanya perlu melintasi jembatannya.
Ketika tiba waktunya untuk menyeberang, dan kepada penjaga jembatan, kita cukup menganggukkan kepala sekadarnya.
Lalu tanpa ada bicara—kita melangkah, agar bisa sampai di seberang sana. tak perlu tergesa-gesa—kita menunggu antrean.
Dan pada suatu hari nanti, siapa yang akan menantiku di seberang? sungguh adakah yang menantiku?
Memang kau suka tidak percaya—katamu selalu; aku tidak pernah tahu, apakah itu caramu menyatakan cinta kepadaku?
Dan ketika Selasa menyeberangkan aku ke Jumat, kau ternyata telah ada di sana. Bersiap untuk berangkat ke Selasa.
Tanpa ada lambaian tanganmu kepadaku, mungkin sebab kita senantiasa bersama, di dalamnya—di luar waktu.
(Terinspirasi dari karya "Perihal Waktu" milik Sapardi Djoko Damono)
메타데이터
- post_id
- 7369fa062f90
- slug
- tentang-waktu-7369fa062f90
- url
- https://medium.com/@faizarnofiputra/tentang-waktu-7369fa062f90
- canonical_url
- https://medium.com/@faizarnofiputra/tentang-waktu-7369fa062f90
- author_url
- https://medium.com/@faizarnofiputra
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 03:40:04