← Back to list

Learned Helplessness (Seligman & Maier, 1967)

Pernahkah kita membayangkan ketika kita sudah banyak melakukan berbagai usaha untuk mencapai hal yang kita inginkan namun hasil yang…

dear.meila · 2026-03-03 16:53 · 0 claps · 8.0 min read
#psikologi #mimpi #berjuang #menyerah
Open on Medium ↗

Learned Helplessness (Seligman & Maier, 1967)

Pernahkah kita membayangkan ketika kita sudah banyak melakukan berbagai usaha untuk mencapai hal yang kita inginkan namun hasil yang diharapkan tak kunjung didapat. Apa yang kalian rasakan? Apa yang akan kalian lakukan? Apakah kalian akan berhenti ditengah jalan atau kalian akan terus berusaha sampai hasil yang di inginkan di dapat?

Dewasa ini banyak dari mahasiswa yang merasa tertekan ketika menghadapi dunia perkuliahannya, baik itu tekanan dalam akademik, keluarga, ataupun hubungan sosial. Menurut informasi yang dikutip dari situs Kemdikbud.go.id, gangguan mental kini semakin sering dialami oleh individu berusia 18–25 tahun. Dengan demikian, masalah ini memiliki kaitan erat dengan kehidupan mahasiswa. Hasil survei menunjukkan bahwa 48,9% mahasiswa baru tahun 2023 merasa stres dan tertekan akibat beban tugas. Faktor lain yang berkontribusi meliputi lingkungan sebesar 35,6%, keluarga sebesar 11,1%, dan hubungan romantis (pacaran) sebesar 4,4%. Contoh halnya dalam tekanan akademik, dengannya banyak tugas yang saling mengejar dengan deadline tugas yang lain, ekspetasi mencapai nilai sempurna pada mata kuliah yang diharapkan, namun adakalanya semua kerja keras yang dilakukan itu tidak membuahkan hasil yang diharapkan, seperti contoh ketika seorang mahasiswa berulang kali tidak lulus mata kuliahnya. Situasi ini sering kali membuat mahasiswa tidak berdaya dan menjadikannya kehilangan motivasi untuk mencoba lulus pada mata kuliah itu lagi, meskipun peluang untuk lulus itu masih ada dan terbuka lebar. Dalam ilmu psikologi, fenomena ini dikenal dengan learned helplessness, yaitu kondisi psikologi seseorang yang merasa tidak mampu untuk mengubah keadaannya akibat pengalaman kegagalan yang menimpanya berulang kali.

Teori Learned Helplessness ditemukan pada tahun 1967 pertama kali oleh psikolog Amerika yaitu Martin Seligman dan Steven Maier yang melakukan eksperimen dengan anjing yang diberi sengatan listrik. Saat itu Martin Seligman yang merupakan mahasiswa doktoral di Universitas of Pennsylvania terinspirasi oleh eskperimen yang dilakukan oleh Ivan Pavlov pada anjing, dan Seligman mengujicobakannya pada anjing tentang learned helplessness ini.

Eksperimen ini dilakukan pada seekor anjing dengan cara memasukannya ke dalam sebuah kotak, kotak itu kemudian diberi sengatan listrik yang memberi efek mengejutkan pada anjing itu. Jika anjing itu berhasil menekan tombol yang ada di dalam kotak, maka anjing tersebut selamat karena aliran listrik itu terhenti setelah tombolnya ditekan. Eksperimen ini dilakukan terhadap beberapa ekor anjing. Kemudian eksperimen ini dilakukan pada sekelompok anjing yang berbeda, dimana sekelompok anjing tersebut dimasukkan ke dalam sebuah kotak yang dialiri aliran listrik seperti sebelumnya. Namun ada yang berbeda dengan eksperimen ini, dimana tidak ada cara untuk menghentikan aliran listrik ini, walaupun anjing itu sudah menekan tombol yang berada didalam kotak. Dalam eksperimen ini anjing di dalam kotak terkejut dan terus-menerus terkejut dan mencari cara untuk menghentikan aliran listrik itu walaupun tidak pernah berhasil melakukannya.

Terdapat dua kelompok anjing yang dimiliki dalam eksperimen ini, yang pertama yaitu anjing yang belajar bahwa mereka bisa selamat dengan menekan tombol yang dapat menghentikan aliran listrik itu, dan kelompok anjing kedua yang belajar bahwa mereka tidak bisa menghentikan aliran listrik itu. Selanjutnya kedua kelompok anjing itu dimasukkan ke dalam kotak kembali. Namun dalam eksperimen selanjutnya ini tidak terdapat tombol apapun di dalam kotak, tetapi anjing-anjing itu bisa melompat agar keluar dari kejutan aliran listrik yang ada. Kelompok anjing pertama dimasukkan ke dalam kotak tersebut, kemudian ketika listrik dinyalakan anjing itu berusaha mencari tombol tetapi tidak menemukannya. Akan tetapi anjing itu tidak diam saja dan pasrah, anjing itu melihat bahwa dia busa melompat keluar daari kotak itu dan akhirnya ia pun selamat.

Hal yang berbeda dengan yang dilakukan oleh kelompok anjing yang kedua ketika dimasukkan ke dalam kotak tersebut. Ketika aliran listrik dinyalakan, bukannya berusaha mencari cara untuk menyelamatkan diri dari kejutan listrik, anjing akan tetapi anjing itu hanya duduk diam dan pasrah. Ia membiarkan dirinya disetrum oleh aliran listrik yang ada, meskipun dia bisa melihat peluang selamat dengan melompat keluar dari kotak tersebut.

Berdasarkan dari eksperimen ini, Seligman memahami dari hasil pengamatannya bahwa, ada suatu mekanisme yang disebut dengan “Learned Helplessness” (Ketidakberdayaan yang Dipelajari), ialah suatu kondisi mental dimana seseorang kehilangan kemampuan dan keinginannya untuk menjauhi situasi sulit karena perasaan yang tidak berdaya.

Menurut Seligman masalah psikologis seperti depresi mayoritas muncul karena disebabkan oleh perasaan seseorang yang sudah tidak berdaya untuk keluar dari situasi yang sulit, akibatnya ia kehilangan keinginan untuk mengatasi masalah yang dirasakannya dan memilih untuk membiarkan dirinya hancur dalam kesulitan yang dirasakannya.

Seperti anjing dalam eksperimen Seligman, manusia juga dapat mengembangkan Learned Helplessness karena terpapar pada kejadian yang mungkin tampak, pada awalnya namun tidak dapat dihindari. Namun, tidak seperti anjing, ketidakberdayaan yang dipelajari pada manusia bisa lebih kompleks. Misalnya, ketidakberdayaan yang dipelajari mungkin tidak bisa digeneralisasikan ke dalam semua situasi yang dialami seseorang. Lebih jauh, ketika seseorang mungkin melihat keadaan yang dapat berubah tetapi tidak dapat berubah dengan sendirinya.

Contohnya yaitu trauma masa kecil, yaitu bagaimana suatu peristiwa dengan terjadi berulang kali dapat menyebabkan ketidakberdayaan yang dipelajari. Pengalaman masa kecil yang merugikan atau Adverse Childhood Experiences (ACEs) adalah suatu kejadian yang berpotensi menyebabkan rasa traumatis, seperti penganiayaan anak usia dini, disfungsi keluarga, dan stressor atau pengalaman atau situasi yang penuh dengan tekanan lainnya, yang terkait dengan yang bisa berakibat pada peningkatan perkembangan perilaku kesehatan yang negative di masa depannya nanti, seperti tingginya tingkat impulsivitas, pertikaian, dan pemikiran untuk mengakhiri hidup.

Anak yang mengalami ACE biasanya tidak memiliki cara untuk kabur atau mengendalikan situasi yang terjadi kepada mereka. Banyak penelitian yang memperlihatkan bahwa learned helplessness ini memiliki kesinambungan dengan ACE. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa seorang dewasa yang yang belum lama keluar dari sebuah sistem pengasuhan seperti panti asuhan atau keluarga asuh, akan condong merasakan tingkat learned helplessness yang lebih tinggi daripada seseorang dewasa lainnya. Hal ini disebabkan karena mereka dalam pengalaman masa lalunya mungkin terbatas dalam pembuat keputusan untuk diri sendiri, juga mereka kekurangan dukungan emosi yang kurang stabil.

Dalam penelitian lain ditemukan kesinambungan antara kekerasan dengan saudara kandung dengan learned helplessness ini. Contoh kekerasan yang dialami ialah dalam bentuk bentuk kontak seksual, pengancaman, paksaan, manipulasi, juga perlakuan agresi yang berulang kali. Contoh kekerasan dalam hubungan berpacaran atau disebut dengan dating violence, menjadi salah satu fenomena yang menjadi penyebab learned helplessness dalam hubungan berpacaran. Beberapa contoh perlakuan kekerasan dalam berpacaran ialah: 1. Kekerasan emosional; memberi ancaman kepada pasangan, menyebut pasangan dengan panggilan yang negatif, menanyai pasangan secara intens di depan umum, 2. Kekerasan fisik; perbuatan melukai pasangan yang secara sadar dilakukan seperti memukul, mendorong. Memeberikan perlakuan yang mengakibatkan bekas lupa pada pasangan, 3. Kekerasan seksual; sentuhan dan ciuman yang tidak inginkan juga perkosaan.

Semua perlakuan diatas merupakan masalah yang serius yang dapat menyebabkan pengaruh pada kesejahteraan secara fisik, emosional dan juga psikologis individu tersebut, terutama apabila terjadi pada wanita dewasa muda. Lebih berbahayanya lagi apabila kekerasan yang dialami itu berakibat trauma pada pasangan korban sehingga korban seringkali merasa tidak berdaya ketika masuk dalam hubungan yang membuatnya mendapatkan kekerasan.

Lebih lanjut menurut sejumlah ahli, learned helplessness ini terjadi ketika individu kuat akan keyakinannya sendiri ketika tidak berdaya menangani situasi tertentu dan seringkali gagal. Dalam ilmu psikologi, learned helplessness ini dibagi ke dalam dua jenis. Yaitu situational helplessness atau ketidakberdayan situasional dan personal helplessness atau ketidakberdayaan pribadi. Ketidakberdayan situasional adalah suatu respon yang muncul sementara saat seseorang menghadapi suatu situasi yang individu menganggap tidak bisa ia kendalikan. Dalam keadaaan ini, ia merasa tidak berdaya membuat pengaruh pada hasil atau keadaan, walaupun mungkin sebenarnya ia memiliki kemampuan untuk melakukannya. Respon ini seringkali ada hubungannya dengan suatu situasi tertentu, dan tidak selalu berkelanjutan setelah keadaannya berlalu.

Namun berbanding terbalik dengan ketidakberdayan pribadi, adalah suatu tanda yang lebih dalam dan juga stabil. Jenis ini terbentuk karena pengalaman dan interaksi individu sepanjang hidupnya dengan orang lain, dan biasanya berawal dari masa kanak-kanak. Ketidakberdayaan pribadi ini bukan saja menjadi reaksi atas situasi tertentu, akan tetapi juga berkembang menjadi bentuk pribadi seseorang. Kondisi ini biasanya terjadi pada seseorang yang mengalami rasa cemas berlebih, seringkali mengisolasi dari lingkungan social, mudah merasa tertekan, dan sangat bergantung kepada orang lain ketika melewati kesulitan.

Dalam pengembangan lebih lanjut, bagi Seligman, Maier dan Christoper Peterson seorang psikolog yang terkenal pada bidang psikologi positif terdapat tiga elemen utama yang medalalam learned helplessness ini. Yaitu: 1)Kontingensi; ialah hubungan tindakan dengan hasil yang didapatkan. Dan ada dua kemungkinan pada kontingensi ialah, yang pertama ialah adanya kontrol yaitu ketika tindakan yang dilakukan mempengaruhi hasil, misalnya ketika seseorang belajar dengan keras dan memperoleh hasil yang bagus. Yang kedua ialah tidak ada kontrol; yaitu ketika tindakan yang dilakukan tidak mempengruhi hasil, misalnya walaupun sudah belajar dengan keras, hasil yang didapat tidak bagus karena ada alasan diluar kendali kita. 2)Kognisi; ialah perihal bagaimana seseorang memahami dan menginterpretasikan hubungan antar tindakan dan hasil. Kognisi dalam cakupannya terhadap cara untuk menyadari apakah suatu perlakuan yang dilakukan seseorang mempengaruhi hasil atau tidak, menjelaskan asal suatu hasil dapat terjadi dan memikirkan apa yang mungkin terjadi dimasa depan didasarkan dengan pengalaman. 3)Perilaku; ialah bagaimana seseorang berbuat didasarkan dengan apa yang dipahami tentang hubungan tadi. Apabila seseorang itu merasa tidak ada hubungan antara usaha dan hasil (tidak ada kontrol), seseorang sepertinya berhenti mencoba atau menyerah.

Maka optimisme adalah kebalikan dari ketidakberdayaan. Optimisme dan ketidakberdayaan ini seperti dua sisi koin yang sama. Cara seseorang menjelaskan alasan dibalik apa yang terjadi terhadap dirinya atau situasi di sekitarnya dapat mempengaruhi pada perkembangan learned helplessness atau learned optimism (optimisme yang dipelajari). Merriam-Webster Dictionary mendefinsikan bahwa optimisme sebagai “Kecenderungan untuk memberikan penafsiran yang paling memberi untung terhadap perilaku atau kejadian atau mengantisipasi hasil yang paling baik. Penelitian psikologi menyebutkan bahwa optimisme merujuk pada harapan yang penuh harapan dalam situasi tertentu.

Seseorang yang optimis itu condong untuk menjelaskan suatu kejadian yang negative sebagai akibat dari penyebab dari luar (eksternal), spesifik, tidak stabil dan mengaitkan kejadian positif dengan penyebab dari dalam (internal), global, dan stabil. Seseorang yang memilikki learned optimism cenderung lebih percaya diri walaupun prosesnya sulit atau lambat. Ketika individu yang optimis melalui situasi yang sulit, ia melihatnya sebagai sebuah tantangan dan lalu berusaha lebih keras lagi. Kemudian pandangannya terhadap situasi buruk ialah hanya disebabkan oleh keadaan, nasib buruk, atau hal yang diciptakan orang lain. Individu yang optimis ini juga menganggap stuasi buruk atau peristiwa yang negatif ini sebagai sebuah angin lalu yang datang hanya sementara dan hanya berhubungan dengan saru kejadian saja.

Terdapat atribusi (bagaimana keputusan atau penilaian terhadap seseorang) pada revisi teori learned helplessness ini, dalam teori learned helplesness ini terdapat tiga kecenderungan untuk menjadi tidak berdaya atau optimis berdasarkan gaya atribusi , baik terhadap peristiwa positif ataupun negative.

Terdapat tiga dimensi atribusi: a) Internal/Eksternal; Internal ialah ketika seseorang percaya akan hasil yang ia dapatkan disebkan oleh usahanya sendiri, sebaliknya jika hasil disebabkan oleh kekuatan luar ialah eskternal. b) Stabil/Tidak stabil; Stabil ialah ketika seseorang percaya bahwa penyebab negatif akan mempengaruhi masa depannya, sebaliknya ketika seseorang percaya bahwa hal negatif itu tidak akan mempengaruhi hasilnya di masa depan maka disebut tidak stabil. c) Global/Spesifik pada dampaknya; Kepercayaan bahwa penyebab dari peristiwa negatif akan berdampak pada banyak aspek kehidupan seseorang disebut global, sementara jika hanya berdampak pada satu area spesifik, ini disebut spesifik.

Seseorang yang merasa tidak berdaya itu lebih condong melihat kegagalan sebagai bagian dari hidupnya, kurang percaya diri, jarang berpartisipasi, memiliki produktifitas yang rendah dan menolak perubahan. Sebaliknya seseorang yang optimis memandang kesuksesan sebagai bagian yang penting dalam hidup, dan terus berusaha mengejar kesuksesan bahkan setelah mengalami kegagalan.

Pada akhirnya seseorang yang akan berhasil mendapat hasil yang tinggi ialah ketika ia menunjukkan keyakinannya bahwa ia akan berhasil (Learned optimism) dan sebaliknya seseorang akan gagal ialah ketika menunjukkan keyakinan rendah untuk mencapai keberhasilannya (Learned helplessness).

Referensi

Crandall, AliceAnn, Gladys Lopez Castaneda, Melissa J. Barlow, and Brianna M. Magnusson. “Do Positive Childhood and Adult Experiences Counter the Effects of Adverse Childhood Experiences on Learned Helplessness?” Frontiers in Child and Adolescent Psychiatry 2, no. January (2024): 1–9. https://doi.org/10.3389/frcha.2023.1249529.

Dosedlova, Jaroslava, Martin Jelinek, Helena Klimusova, and Iva Buresova. “Positive Expectations — Optimism and Hope in Models,” 2016, 436–47. https://doi.org/10.15405/epsbs.2016.11.45.

Fink, Emily R, and Tom Johnson. “The Role of Optimism in Goal Adjustment Behavior and Subjective Well-Being,” 2019, 187.

Gomez, Rebecca J, Tiffany N Ryan, Christine Lynn Norton, Courtney Jones, and Patricia Galán-Cisneros. “Perceptions of Learned Helplessness Among Emerging Adults Aging Out of Foster Care.” Child and Adolescent Social Work Journal 32, no. 6 (2015): 507–16. https://doi.org/10.1007/s10560-015-0389-1.

M.Mitina, Larisa, and Georgy V. Mitin. “Psychological Analysis of Issues on Marginalization, Procrastination, and Learning and Professional Development: Helplessness as an Obstacle to Self-Development.” Psychological Science And Education 25, no. 3 (2020).

Meilinda, Anggela, and Wahyuni Kristinawati. “Studi Kasus Learned Optimism Dalam Membantu Wanita Dewasa Penyintas Kekerasan Dalam Pacaran” 24, no. 3 (2024): 2116–22. https://doi.org/10.33087/jiubj.v24i3.5467.

Msrtin E. P. Seligman, PH.D. “Learned Helplessness” 42 (1972): 99–106.

Satria, Bima. “Kesadaran Akan Pentingnya Kesehatan Mental Di Kalangan Mahasiswa Ba Konten Ini Telah Tayang Di Kompasiana.Com Dengan Judul ‘Kesadaran Akan Pentingnya Kesehatan Mental Di Kalangan Mahasiswa Baru’, Klik Untuk Baca: Https://Www.Kompasiana.Com/Bimasatria1744/.” Kompasiana, 2023.

Shamla Larasiza McLaurin. “Childhood Experiences of Sibling Abuse: An Investigation into Learned Helplessness.” Virginia Polytechnic Institute and State University, 2005.


메타데이터
post_id
739c40b4af41
slug
learned-helplessness-seligman-maier-1967-739c40b4af41
url
https://medium.com/@rahmahsyahidah24/learned-helplessness-seligman-maier-1967-739c40b4af41
canonical_url
https://medium.com/@rahmahsyahidah24/learned-helplessness-seligman-maier-1967-739c40b4af41
author_url
https://medium.com/@rahmahsyahidah24
status
ok
fetched_at
2026-09-16 21:18:46