Luruh; Sebelum Dijamah
Sekali saja, pernahkah namaku mampir walau sekejap dalam pertimbanganmu? atau setidaknya, sekali aja — tidakkah nayanika-mu sudi melirik…
Luruh; Sebelum Dijamah
Sekali saja, pernahkah namaku mampir walau sekejap dalam pertimbanganmu? Atau setidaknya sekali saja, tidakkah nayanika-mu sudi melirik dan mengeja seluruh ketulusan yang telah kutanam habis di hadapanmu?

Barangkali yang diminta tak pernah lebih dari satu kemungkinan — sebuah ruang di bawah bumantara yang bahkan tak pernah diizinkan untuk terbuka.
Pernahkah, walau hanya sedetik — nama ini mampir dalam nayanika-mu saat kau menimbang hal-hal yang layak dipertahankan?
Sebab langkah ini sudah terlalu lelah menempuh aksanya jalan yang sama; memperjuangkan sebuah asa yang bahkan tak pernah kau beri hak untuk tumbuh.
Namun, yang ditemukan selalu saja punggung yang kian bayang-bayur.
Ada gerak menghindar yang begitu rapi setiap kali renjana ini mencoba menyapa, seolah ketulusan hanyalah wisa yang harus diredam —bukan untuk dipahami.
Mungkin sejak awal, narasi ini memang sudah rumpang — seolah memang tak pernah ada ruang di kalbu itu, selain sebagai catatan kaki yang kau biarkan luruh begitu saja.
Lalu, bagaimana ‘kita’ bisa menjadi asmara-loka, jika satu kesempatan saja selalu gugur sebelum sempat kau jamah?
메타데이터
- post_id
- 73ae2e8ccec8
- slug
- luruh-sebelum-dijamah-73ae2e8ccec8
- url
- https://medium.com/@rrakhz/luruh-sebelum-dijamah-73ae2e8ccec8
- canonical_url
- https://medium.com/@rrakhz/luruh-sebelum-dijamah-73ae2e8ccec8
- author_url
- https://medium.com/@rrakhz
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-11 21:11:36