NAPAK TILAS SOSIOLOGI MODERN DALAM KACAMATA ÉMILE DURKHEIM
Bangkitnya era modernitas membawa dunia pada pandangan baru terhadap sosiologi, yang dapat disebut dengan sosiologi modern. Mengenal…
NAPAK TILAS SOSIOLOGI MODERN DALAM KACAMATA ÉMILE DURKHEIM
Bangkitnya era modernitas membawa dunia pada pandangan baru terhadap sosiologi, yang dapat disebut dengan sosiologi modern. Mengenal sosiologi modern tidak akan jauh dari Émile, seorang sosiolog yang dianggap sebagai salah satu pendiri disiplin sosiologi modern. David Émile Durkheim menjadi salah satu pencetus sosiologi modern selain tokoh terkenal lainnya, Karl Max dan Max Webber.
David Émile Durkheim lahir di Épinal, Prancis, pada 15 April 1858. Ibu Durkheim bernama Melanie, adalah seorang pedagang kuda, sementara ayahnya, Moise, adalah seorang Rabi. Rabi juga dikenal sebagai guru atau pemimpin agama di sebuah daerah. Berdasarkan latar belakang keluarganya, banyak yang mengharapkan Émile untuk mengikuti jejak ayahnya dan menjadi Rabi (Peyre, 2025). Namun, kenyataannya, Émile memilih untuk memutuskan hubungan dengan agama sepenuhnya. Meskipun demikian, ia tetap menjadi bagian dari komunitas Yahudi. Pada tahun 1887, ia menikah dengan seorang penyulam muda bernama Louise Julie Dreyfus. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai dua orang anak, Marie Bella (lahir pada 1888) dan Andre-Armand (lahir pada 1892). Émile Durkheim meninggal pada usia 59 tahun akibat stroke, yang dipicu oleh kematian putranya, Andre, yang tewas dalam pertempuran di Bulgaria.
Terdapat beberapa fakta menarik tentang Émile Durkheim yang mencerminkan kepribadiannya dan kontribusinya terhadap ilmu sosial (Peyre, 2025). Pertama, selama masa pendidikannya, Durkheim dikenal sebagai siswa yang berprestasi. Ia menunjukkan bakat luar biasa dalam bidang akademis, terutama dalam studi filsafat dan sosiologi. Hal ini lah yang membawanya ke École Normale Supérieure, salah satu institusi pendidikan paling bergengsi di Prancis. Di sana, ia tidak hanya belajar dari para pemikir terkemuka, tetapi juga mengembangkan pemikirannya sendiri yang akan membentuk dasar-dasar sosiologi modern. Kedua, Durkheim memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keluarga dan komunitasnya. Latar belakang keluarganya yang religius dan tradisional memberikan fondasi yang kuat bagi nilai-nilai sosial yang ia anut. Hubungan ini tidak hanya membentuk pandangannya tentang masyarakat, tetapi juga mempengaruhi cara ia berinteraksi dengan orang lain. Durkheim percaya bahwa solidaritas sosial dan keterikatan komunitas adalah elemen penting dalam menjaga stabilitas masyarakat, dan pandangan ini tercermin dalam karya-karyanya. Ketiga, Durkheim terkenal di kalangan intelektual, terutama dalam bidang filsafat dan psikologi. Keterampilannya dalam berargumentasi dan menyampaikan ide-ide kompleks dengan cara yang jelas dan meyakinkan membuatnya dihormati di kalangan rekan-rekannya. Ia sering terlibat dalam diskusi dan debat mengenai isu-isu sosial dan politik, yang menunjukkan komitmennya terhadap pemikiran kritis dan analisis ilmiah. Keempat, Durkheim merupakan seorang administrator, organisator, dan dosen yang sangat baik. Ia dikenal karena kemampuannya dalam mengelola program akademis dan membimbing mahasiswa-mahasiswanya. Meskipun ia sering memberikan bantuan kepada teman-teman dan pendukungnya, ia kadang dituduh terlalu mengontrol pemikiran mahasiswa-mahasiswanya karena karismanya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ia memiliki pengaruh yang besar, ia juga berusaha untuk membentuk generasi baru pemikir yang dapat berkontribusi pada perkembangan ilmu sosial. Kelima, Émile Durkheim mendukung perjuangan republik yang menentang kembalinya sistem monarki dan mendukung reformasi Republik Ketiga. Ia percaya bahwa sistem republik adalah bentuk pemerintahan yang paling sesuai untuk mempromosikan kebebasan individu dan keadilan sosial. Dukungannya terhadap nilai-nilai republik mencerminkan komitmennya terhadap perubahan sosial dan kemajuan, serta keyakinannya bahwa masyarakat harus terus berkembang untuk mencapai kesejahteraan bersama.
Durkheim hidup dan bekerja selama periode Republik Ketiga, yang merupakan masa yang relatif stabil di Prancis. Ia secara aktif terlibat dalam mendukung Republik Ketiga dan memandang sosiologi sebagai ilmu yang dapat menghasilkan kebijakan yang lebih baik. Selain itu, Durkheim juga merupakan kritikus antisemitisme yang terbuka dan memiliki simpati yang kuat terhadap sosialisme (Peyre, 2025). Selama Perang Dunia I, ia aktif mendukung Prancis, bahkan menulis beberapa artikel yang mengkritik “Pikiran Jerman” karena kecenderungannya terhadap militerisme dan ekspansionisme. Durkheim berharap sosiologi akan berkembang menjadi bidang penelitian yang independen dari bidang seperti politik, ekonomi, psikologi, sejarah, atau filsafat. Ia mengabdikan karirnya untuk mencapai tujuan ini dan percaya bahwa sosiologi dapat memiliki efek nyata, seperti meningkatkan kebijakan.
Teori Solidaritas Sosial
Pemikiran Durkheim yang berbasis sosiologi membawanya untuk diakui sebagai salah satu pendiri sosiologi modern, yang telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman kita tentang masyarakat dan perilaku sosial. Melalui karyanya Durkheim mengembangkan beberapa teori penting yang tidak hanya membentuk dasar sosiologi sebagai disiplin ilmu, tetapi juga memengaruhi berbagai bidang studi lainnya, termasuk psikologi, antropologi, dan ilmu politik. Salah satu teori utama yang dikemukakan oleh Durkheim adalah teori solidaritas sosial. Dalam teorinya, ia membedakan antara solidaritas mekanis dan solidaritas organik. Solidaritas mekanis umumnya ditemukan dalam masyarakat tradisional, yang ditandai oleh kesamaan nilai dan norma di antara anggotanya. Sedangkan solidaritas organik muncul dalam masyarakat modern yang lebih kompleks, yang mana individu memiliki peran yang berbeda dan saling bergantung satu sama lain. Pemahaman ini membantu menjelaskan bagaimana masyarakat dapat berfungsi secara harmonis meskipun terdapat perbedaan di antara individu-individunya. Parca-revolusi Prancis, Durkheim melihat adanya ketidakteraturan tatanan sosial dalam masyarakat. Melalui hal ini, Durkheim mengemukakan teori fakta sosial dalam bukunya yang berjudul The Rules of Sociological Method (1895). Selain itu, Durkheim juga dikenal dengan teorinya tentang anomie, teori ini menggambarkan keadaan norma-norma sosial menjadi lemah atau hilang dan akibat dari perubahan sosial yang cepat. Dalam situasi anomie, individu dapat merasa terasing dan kehilangan arah, yang dapat berkontribusi pada berbagai masalah sosial, termasuk peningkatan tingkat bunuh diri. Melalui pemikiran ini, Durkheim menunjukkan pentingnya norma dan nilai dalam menjaga stabilitas sosial dan kesejahteraan individu. Lebih lanjut, Durkheim melakukan penelitian tentang bunuh diri, yang ia anggap sebagai fenomena sosial yang dapat dipahami melalui kacamata sosiologis. Dalam karyanya Le Suicide (1897), ia mengidentifikasi berbagai jenis bunuh diri yang berkaitan dengan tingkat integrasi dan regulasi sosial. Hal ini dapat di kategorikan seperti bunuh diri egois, altruistik, anomik, dan fatalistik. Ada pun teori mengenai peran agama di dalam masyarakat yang menjadi perhatian Durkheim. Dalam bukunya The Elementary Forms of Religious Life (1912), ia berargumen bahwa agama berfungsi untuk memperkuat solidaritas sosial dan memberikan makna kepada kehidupan individu. Ia melihat agama sebagai cerminan dari struktur sosial dan berpendapat bahwa praktik keagamaan dapat membantu menjaga kesatuan dalam masyarakat.
Pembahasan kali ini akan difokuskan pada teori solidaritas sosial dari Durkheim. Secara terminologis, istilah solidaritas berasal dari bahasa Latin “solidus,” yang berarti solid dan mencerminkan bentuk masyarakat yang memiliki kerjasama serta saling keterkaitan. Konsep solidaritas ini penting untuk memahami dinamika sosial, sebab solidaritas membentuk hubungan yang kuat antara individu-individu dalam sebuah komunitas. Solidaritas sosial diartikan sebagai rasa kesetiakawanan dalam hubungan antar sesama manusia yang mencakup berbagai aspek interaksi sosial.Kesetiakawanan sosial dapat dipahami sebagai hubungan persahabatan yang didasarkan pada kepentingan anggota-anggotanya. Hal ini menunjukkan bahwa solidaritas tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga pragmatis. Maksudnya ialah individu saling mendukung dan membantu satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama. Dengan kata lain, solidaritas sosial merupakan bentuk persahabatan yang menekankan tanggung jawab dan kepentingan bersama (Soulisa, 2015: 6). Lebih jauh, solidaritas sosial berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan individu-individu dalam masyarakat, menciptakan rasa saling memiliki dan saling menghargai. Dalam masyarakat dengan tingkat solidaritas yang tinggi, individu cenderung lebih peduli terhadap kesejahteraan satu sama lain, yang dapat mengurangi konflik dan meningkatkan kesatuan sosial. Solidaritas sosial hadir dalam berbagai bentuk, seperti dukungan emosional, bantuan material, dan kerjasama dalam kegiatan sosial. Sebagai contoh, dalam situasi krisis, seperti bencana alam atau pandemi, solidaritas sosial menjadi sangat penting karena individu dan komunitas bersatu untuk saling membantu dan mendukung satu sama lain. Maka dari itu, solidaritas tidak hanya memperkuat hubungan antar individu, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat secara keseluruhan.
Durkheim melihat bahwa masyarakat merupakan tempat yang paling ideal untuk kehidupan bersama antar manusia, sesuatu yang berada di atas segala-galanya (Muhni, 1994). Dalam bukunya yang berjudul The Division of Labor in Society, Durkheim menjelaskan bahwa terdapat dua jenis masyarakat, yaitu masyarakat sederhana dan masyarakat modern. Perbedaan antara kedua jenis masyarakat ini terletak pada fungsi dari pembagian kerja. Dalam masyarakat sederhana, ia beroperasi dengan cara yang homogen, setiap individu berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri melalui jenis pekerjaan yang sama. Dalam masyarakat semacam ini, kesamaan dalam pekerjaan dan pengalaman menciptakan ikatan yang kuat di antara anggota masyarakat. Solidaritas yang terbentuk dari kesamaan tersebut memungkinkan individu untuk merasakan rasa memiliki dan keterikatan yang kuat, sehingga menciptakan kesatuan sosial yang stabil. Dalam lingkungan yang homogen, norma dan nilai yang sama dipegang oleh semua anggota, yang pada gilirannya memperkuat solidaritas dan memudahkan interaksi sosial. Di sisi lain, dalam masyarakat modern, pembagian kerja bersifat organik. Individu tidak diikat oleh kesamaan pekerjaan, melainkan oleh pembagian kerja itu sendiri yang menciptakan ketergantungan di antara mereka. Setiap individu memiliki peran yang berbeda dan spesifik yang saling melengkapi satu sama lain. Contohnya, dalam sebuah perusahaan, ada berbagai posisi seperti manajer, staf administrasi, dan tenaga pemasaran yang masing-masing memiliki tanggung jawab berbeda, tetapi saling terkait untuk mencapai tujuan bersama. Dengan demikian, masyarakat modern berfungsi dengan cara yang lebih kompleks, dilihat dari keberagaman peran dan fungsi individu menciptakan jaringan interaksi yang saling bergantung. Keberagaman ini tidak hanya memperkaya pengalaman individu, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam masyarakat. Ketika individu menjalankan peran mereka dengan baik, mereka berkontribusi pada kesejahteraan kolektif, meskipun mereka mungkin tidak memiliki kesamaan dalam pekerjaan atau latar belakang. Hal ini menciptakan bentuk solidaritas yang berbeda, sebab ketergantungan dan kolaborasi menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas dalam masyarakat yang beragam. Berdasarkan teori solidaritas sosial, Durkheim membagi menjadi dua bagian, solidaritas mekanis dan solidaritas organik (Durkheim, 1960: 64). Sejalan dengan pemaparan di atas, berikut pemaparan inklusif mengenai teori solidaritas sosial.
Solidaritas Mekanis
Teori solidaritas mekanis yang dikemukakan oleh Émile Durkheim dalam The Division of Labor in Societymemaparkan bagaimana masyarakat sederhana yang umumnya terdiri dari individu-individu dengan latar belakang dan pengalaman yang serupa, membangun ikatan sosial yang kuat (Schiermer, 2014: 65). Singkatnya, solidaritas mekanismuncul dari kesamaan dalam pekerjaan, nilai, dan norma yang dianut oleh anggota masyarakat. Durkheim menekankan bahwa dalam masyarakat yang memiliki solidaritas mekanis cenderung memiliki peran yang serupa dan menjalani kehidupan yang homogen. Hal ini menciptakan kesadaran kolektif yang tinggi, yang mana norma dan nilai bersama mendominasi interaksi sosial. Sebagai contoh, dalam komunitas agraris, semua anggota mungkin terlibat dalam pertanian dan memiliki pandangan yang sama tentang kehidupan, sehingga perbedaan individu tidak begitu terlihat. Solidaritas mekanis juga berfungsi untuk menjaga stabilitas dan ketertiban dalam masyarakat. Ketika individu memiliki kesamaan yang kuat, mereka lebih cenderung untuk mematuhi norma-norma sosial dan menghindari perilaku menyimpang. Durkheim berargumen bahwa ikatan sosial ini sangat penting untuk integrasi sosial, karena menciptakan rasa saling memiliki dan tanggung jawab bersama di antara anggota masyarakat. Namun, seiring dengan perkembangan masyarakat yang menjadi lebih kompleks dan beragam, solidaritas mekanis dapat tergantikan oleh solidaritas organik. Dalam masyarakat modern, pembagian kerja menjadi lebih spesifik dan individu memiliki peran yang berbeda-beda, ketergantungan antar individu menjadi lebih penting dan diprioritaskan. Meskipun solidaritas mekanis memberikan pemahaman tentang bagaimana masyarakat sederhana berfungsi, Durkheim juga menunjukkan bahwa transisi menuju solidaritas organik adalah bagian dari evolusi sosial yang alami. Teori solidaritas mekanis yang dikemukakan oleh Émile Durkheim dalam The Division of Labor in Society cukup menjelaskan bagaimana masyarakat sederhana, yang umumnya terdiri dari individu-individu dengan latar belakang dan pengalaman yang sama membangun ikatan sosial yang kuat. Maka dari itu, solidaritas mekanis muncul dari kesamaan dalam pekerjaan, nilai, dan norma yang dianut oleh anggota masyarakat.
Merujuk pada istilah kehidupan homogen dalam solidaritas mekanis, terdapat hukum represif yang diterapkan. Hukum represif berfungsi untuk menjaga kesatuan dan stabilitas sosial dengan cara menghukum tindakan yang dianggap menyimpang atau melanggar norma-norma tersebut (Durkheim, 1960: 106). Hukum represif berfungsi secara mekanis, yang berarti bahwa anggota masyarakat yang mengalami kejahatan memiliki pemahaman yang jelas tentang tindakan yang harus diambil sebagai respons terhadap pelanggaran tersebut. Dalam pandangan Durkheim, sanksi untuk kejahatan telah tertanam dalam hati nurani setiap individu, sehingga ketika terjadi pelanggaran, reaksi terhadapnya bersifat otomatis dan tidak direncanakan. Dalam hal ini, individu berfungsi sebagai alat masyarakat, yang berarti tindakan mereka mencerminkan norma dan nilai kolektif yang ada.
Dalam masyarakat yang beroperasi dengan hukum represif, perbedaan individu dianggap sebagai ancaman terhadap solidaritas sosial (Durkheim, 1960: 107). Ketika ada individu yang menyimpang dari norma yang telah ditetapkan, reaksi dari masyarakat cenderung sangat kuat dan bersifat paksa. Durkheim menyebut fenomena ini sebagai solidaritas mekanis, maksudnya ialah ikatan sosial dibangun melalui kesamaan dan keseragaman. Pada situasi ini, norma-norma sosial yang ada berfungsi untuk menjaga ketertiban dan stabilitas, dengan sanksi yang diterapkan sebagai bentuk pemeliharaan solidaritas. Nilai moral yang terkandung dalam hukum represif dan solidaritas mekanis sangat jelas terlihat. Namun, penting untuk dicatat bahwa solidaritas yang muncul dari pembagian kerja memiliki fungsi yang serupa dengan solidaritas mekanis, meskipun hukum yang dihasilkan bukanlah hukum represif. Sebaliknya, hukum yang muncul dari pembagian kerja adalah hukum restitutif. Dengan demikian, individu mengikuti norma dan aturan secara sukarela, meskipun tetap ada pengawasan dari masyarakat lainnya. Hukum restitutif memberikan kebebasan yang tidak mungkin ada dalam hukum represif, yang berarti individu memiliki ruang untuk berinovasi dan berkontribusi sesuai dengan peran mereka masing-masing.
Lebih dari itu, hukum tidak berfungsi secara efektif untuk mengoreksi pelanggar atau mengintimidasi ‘calon’pelanggar. Dari sudut pandang ini, efektivitasnya diragukan dan terbilang biasa saja. Fungsi utamanya adalah menjaga kesatuan sosial tetap terjaga dan fundamental (Durkheim, 1960: 108). Jika reaksi emosional masyarakat tidak menggantikan kerugian yang terjadi, maka hukum akan kehilangan kekuatannya, yang dapat mengakibatkan runtuhnya solidaritas sosial. Hukuman jelas berfungsi untuk melindungi masyarakat, tetapi hal ini terjadi karena hukuman memiliki sifat penebusan dosa. Namun, jika hukuman harus bersifat penebusan, itu tidak berarti bahwa rasa sakit atau penderitaan yang ditimbulkan oleh hukuman dapat secara ‘ajaib’ menghapus kesalahan yang telah dilakukan. Hukuman hanya dapat menghasilkan konsekuensi sosial yang positif jika memenuhi syarat tersebut.
Solidaritas sosial yang berasal dari kesamaan hati nurani di antara semua anggota masyarakat. Peran hukum dalam menjaga integrasi sosial tergantung pada seberapa besar kehidupan sosial yang diatur oleh hati nurani bersama (Durkheim, 1960: 109). Semakin beragam hubungan yang dihasilkan dari hati nurani bersama, semakin kuat ikatan antara individu dan kelompok/komunitas. Secara keseluruhan, solidaritas yang muncul dari pembagian kerja berakar pada kerja sama individu dalam masyarakat, sebab setiap orang berfungsi sebagai bagian dari keseluruhan yang lebih besar. Kerja sama ini memerlukan sistem yang mengatur interaksi antar bagiannya, sehingga menciptakan hubungan ketergantungan yang saling menguntungkan. Dalam masyarakat modern, pembagian kerja menjadi semakin kompleks, solidaritas organik menggantikan solidaritas mekanis. Dalam hal ini, individu tidak lagi diikat oleh kesamaan, tetapi oleh peran dan fungsi yang berbeda, yang saling melengkapi satu sama lain. Dengan demikian, meskipun hukum represif dan solidaritas mekanis menjaga ketertiban dalam masyarakat sederhana, hukum restitutif dan solidaritas dari pembagian kerja memberikan ruang bagi individu untuk berkembang dan berkontribusi dengan lebih fleksibel. Hal menunjukkan bahwa dalam masyarakat yang lebih kompleks, solidaritas dibangun tidak hanya melalui kesamaan, tetapi juga melalui pengakuan perbedaan dan kerjasama yang saling menguntungkan.
Solidaritas Organik
Solidaritas organik merupakan bentuk lanjutan yang berbeda dari solidaritas mekanis di dalam The Division of Labor in Society. Individu memiliki peran dan fungsi yang berbeda, sebab solidaritas ini berakar pada ketergantungan antar individu yang memiliki ‘spesialisasi’ dalam pekerjaan mereka. Solidaritas organik muncul dalam masyarakat yang semakin kompleks, di mana individu-individu memiliki peran yang berbeda dan spesifik dalam mencapai tujuan bersama. Pada konteks ini, masyarakat tidak lagi berfungsi sebagai entitas homogen, melainkan sebagai jaringan yang terdiri dari berbagai bagian yang saling berinteraksi dan bergantung satu sama lain. Keragaman peran dan tanggung jawab individu menjadi sangat penting untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat yang beragam. Dalam masyarakat organik, setiap individu berkontribusi dengan cara yang berbeda-beda, sesuai dengan keahlian dan kapasitas mereka. Sebagai contoh, dalam sebuah kota besar terdapat berbagai profesi seperti dokter, guru, supir, dan pengusaha. Mereka masing-masing memiliki peran yang berbeda tetapi saling melengkapi (Almuarif, Hanani, Devi, & Syafitri, 2023: 298). Keberadaan berbagai profesi ini memungkinkan masyarakat untuk berfungsi secara efisien, karena setiap individu dapat fokus pada bidangnya masing-masing dan berkontribusi pada kesejahteraan kolektif.
Solidaritas organik mengakui dan menghargai perbedaan ini, serta menekankan pentingnya kolaborasi antara individu-individu dengan latar belakang dan keahlian yang berbeda. Fenomena masyarakat yang beragam ini, interaksi antar individu menjadi kunci untuk menciptakan harmoni dan keseimbangan. Ketika individu-individu bekerja sama, mereka membangun jaringan sosial yang kuat, yang berarti setiap orang merasa dihargai dan diakui perannya. Selain itu, solidaritas organik juga mencerminkan adanya kesadaran akan ketergantungan di antara individu-individu. Dalam masyarakat yang kompleks, individu tidak dapat memenuhi semua kebutuhan mereka sendiri, mereka memerlukan bantuan dan dukungan dari orang lain. Hal ini menciptakan rasa saling menghormati dan saling menghargai, yang nantinya setiap individu menyadari bahwa kontribusi mereka penting untuk keberlangsungan dan kemajuan masyarakat secara keseluruhan. Solidaritas organik tidak hanya berfungsi untuk menjaga stabilitas sosial, tetapi juga mendorong inovasi dan perkembangan. Ketika individu-individu merasa terhubung dan memiliki tujuan bersama, mereka lebih cenderung untuk berkolaborasi dan menciptakan solusi yang lebih baik untuk tantangan yang dihadapi masyarakat. Dalam hal ini, solidaritas organik menjadi landasan bagi kemajuan sosial dan ekonomi, serta menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Pembagian kerja dalam masyarakat modern mengharuskan setiap individu untuk mengkhususkan diri dalam tugas tertentu yang menjadi pekerjaan seumur hidup mereka (Durkheim, 1960: 115). Proses ini memungkinkan individu untuk mengembangkan keahlian dan pengetahuan dalam bidang tertentu. Kemudian, pada gilirannya meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Namun, ketidakseriusan dalam mengembangkan kemampuan, bertentangan dengan fungsi solidaritas organik. Ketidakseriusan yang dimaksud hanya mencakup pengembangan kemampuan secara dangkal, tanpa mendalami satu atau beberapa kemampuan secara serius. Hal ini dapat mengakibatkan kurangnya kontribusi yang berarti terhadap masyarakat, karena individu tidak dapat memberikan nilai tambah yang diharapkan dari keahliannya (Durkheim, 1960: 118). Berdasarkan hal ini, individu menjadi berbeda sesuai fungsi sosial yang mereka jalani. Setiap orang memiliki peran yang berkontribusi pada keseluruhan sistem sosial. Mereka tidak lagi terpaksa menjalankan fungsi tertentu yang ditentukan oleh leluhurnya, sebab kekuatan keturunan telah melemah. Jadi, setiap individu memiliki kesempatan untuk menentukan jalannya sendiri berdasarkan bakat dan minat pribadi. Oleh karena itu, masyarakat harus memastikan bahwa individu dapat mencapai posisi yang sesuai dengan kemampuannya, terlepas dari latar belakang keturunannya. Hal ini menciptakan lingkungan yang lebih adil, sebab kemampuan dan usaha individu menjadi faktor penentu kesuksesan.
Dengan adanya perbedaan fungsi dalam masyarakat dan berkurangnya pengaruh leluhur, hati nurani ‘bersama’menjadi lebih lemah dan individualisme semakin berkembang. Pertumbuhan kota dan urbanisasi juga berkontribusi pada melemahnya hati nurani bersama, menjadikannya lebih beragam dan menantang. Dalam masyarakat yang semakin beragam, individu memiliki lebih banyak pilihan dan kebebasan untuk mengeksplorasi identitas dan peran mereka. Namun, individualisme ini tidak dapat dipahami sebagai sesuatu yang bertentangan dengan masyarakat. Sebaliknya, individualisme merupakan karakteristik yang lahir dalam masyarakat yang mengedepankan solidaritas organik dan pembagian kerja (Pope & Johnson, 1983: 685). Maka dari itu, individu tidak lagi sekadar bagian dari mesin sosial, tetapi menjadi faktor utama dalam menjalankan kehidupan sosial dengan baik. Secara keseluruhan, Durkheim membedakan antara solidaritas mekanis dan organik dalam dua jenis (Pope & Johnson, 1983: 685). Pertama, ia menggambarkan kedua jenis masyarakat yang sangat berbeda. Dalam solidaritas mekanis, masyarakat berfungsi sebagai kekuatan yang menentang individu. Sedangkan dalam solidaritas organik, masyarakat berfungsi sebagai sistem struktural-fungsional. Dapat dikatakan bahwa solidaritas mekanis adalah masyarakat kecil, terbelakang secara teknologi, homogen, dan tanpa individualitas. Sementara solidaritas organik adalah masyarakat besar, maju secara teknologi, beragam, dan memiliki tingkat individualitas yang tinggi. Perubahan dari solidaritas mekanis ke solidaritas organik mencerminkan transisi dari masyarakat tradisional yang homogen dan sederhana ke masyarakat modern yang beragam dan kompleks.
Berdasarkan pemaparan mengenai teori solidaritas sosial Durkheim dapat disimpulkan bahwa Durkheim membedakan antara solidaritas mekanis dan solidaritas organik, yang masing-masing mencerminkan karakteristik masyarakat sederhana dan modern. Solidaritas mekanis muncul dalam masyarakat tradisional, ditandai dengan kesamaan nilai dan norma di antara anggotanya yang menciptakan ikatan sosial yang kuat. Disamping itu, solidaritas organik lahirdalam masyarakat modern yang lebih kompleks, yang berarti individu memiliki peran yang berbeda dan saling bergantung satu sama lain. Secara keseluruhan, Durkheim menekankan pentingnya norma dan nilai dalam menjaga stabilitas sosial, serta bagaimana solidaritas sosial berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan individu dalammasyarakat. Lebih lanjut, teori solidaritas sosial Durkheim tetap relevan untuk kita dalam konteks masyarakat modern. Hal itu disebabkan oleh suguhan pemahaman yang konkret tentang bagaimana individu saling terhubung dalam jaringan sosial yang inklusif. Saat ini masyarakat ditandai oleh pembagian kerja yang lebih rumit, solidaritas organik hadir sebagai bentuk keterikatan yang mengandalkan spesialisasi dan interdependensi antarindividu. Munculnya solidaritas organik membuat individu tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari masyarakat, tetapi juga sebagai kontributor yang memiliki peran.
메타데이터
- post_id
- 742d07ae4f2e
- slug
- napak-tilas-sosiologi-modern-dalam-kacamata-émile-durkheim-742d07ae4f2e
- url
- https://medium.com/@avocanad/napak-tilas-sosiologi-modern-dalam-kacamata-%C3%A9mile-durkheim-742d07ae4f2e
- canonical_url
- https://medium.com/@avocanad/napak-tilas-sosiologi-modern-dalam-kacamata-%C3%A9mile-durkheim-742d07ae4f2e
- author_url
- https://medium.com/@avocanad
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-17 08:20:12