← Back to list

Hiraeth.

─ Tentang jalan pulang yang telah lebih dahulu melupakan langkahku.

Hiraeth (n.) · 2026-07-08 07:35 · 0 claps · 2.5 min read
#hiraeth #home
Open on Medium ↗

Hiraeth.

─ Tentang jalan pulang yang telah lebih dahulu melupakan langkahku.

"Barangkali tidak semua jiwa tersesat karena kehilangan arah. Sebagian hanya sedang mencari rumah yang bahkan langit pun lupa pernah menciptakannya."

"Barangkali tidak semua jiwa tersesat karena kehilangan arah. Sebagian hanya sedang mencari rumah yang bahkan langit pun lupa pernah menciptakannya."

Konon, setiap manusia dilahirkan dengan sebuah kompas yang tak pernah menunjuk utara. Jarumnya senantiasa bergetar ke arah yang tak memiliki nama; menuju sesuatu yang bahkan tak mampu dijelaskan oleh bahasa. Mungkin karena itulah dunia menciptakan satu kata yang asing di lidah, tetapi begitu akrab di dada: Hiraeth.

Aku sering mengira bahwa yang kurasakan hanyalah rindu. Namun rindu selalu memiliki tujuan. la mengenal wajah yang hendak dipeluk, alamat yang hendak dituju, atau suara yang ingin kembali didengar. Sedangkan ini... berbeda. Perasaan ini seperti berjalan terlalu jauh hingga setiap tempat yang kulewati tampak asing, sementara tempat yang ingin kudatangi tak pernah benar-benar ada.

Ada kalanya aku duduk di tengah keramaian dan mendadak merasa sedang berkabung atas sesuatu yang tak mampu kusebutkan. Seolah ada bagian dari diriku yang tertinggal di suatu masa, atau mungkin di suatu kemungkinan yang tak pernah sempat menjadi nyata. Anehnya, kehilangan itu begitu nyata, meski aku tak pernah tahu apa yang sesungguhnya hilang.

Barangkali manusia memang tidak selalu merindukan seseorang. Kadang yang mereka rindukan adalah dirinya sendiri. Dirinya yang dahulu percaya bahwa dunia masih menyimpan banyak keajaiban. Dirinya yang belum mengenal bagaimana kecewa dapat mengubah arah langkah seseorang. Dirinya yang belum memahami bahwa tidak semua pertemuan diciptakan untuk menjadi tempat tinggal.

Aku pun demikian. Ada seseorang di dalam ingatanku yang wajahnya semakin kabur setiap tahun, namun rasa kehilangan terhadapnya justru tumbuh semakin utuh. Aku tidak tahu apakah ia benar-benar pernah ada, atau hanya jelmaan dari segala kemungkinan yang gagal diwujudkan oleh waktu. Mungkin ia adalah diriku yang tak sempat tumbuh. Mungkin ia adalah masa depan yang salah belok. Mungkin pula ia hanyalah bayangan yang diciptakan pikiranku sendiri agar kesepian memiliki sosok untuk dipeluk.

Dalam Sanskerta, ada kata Anitya─segala sesuatu yang bersifat tidak kekal. Segala yang lahir akan berubah; segala yang datang akan berpulang. Aku telah berkali-kali membaca makna itu, menghafalnya, bahkan mencoba mempercayainya. Namun pengetahuan sering kali kalah oleh hati. Sebab hati tidak pernah tunduk sepenuhnya kepada kebijaksanaan. la tetap menunggu. Tetap berharap. Tetap memungut serpihan-serpihan kenangan, seolah dari kepingan yang retak itu ia dapat menyusun kembali dunia yang telah lama runtuh.

Mungkin itulah yang disebut Hiraeth. Bukan sekadar kerinduan. Melainkan keadaan ketika jiwamu terus-menerus mencari jalan pulang, padahal rumah yang ditujunya telah lama berubah menjadi kenangan. Atau lebih pilu lagi barangkali rumah itu memang tak pernah benar-benar dibangun.

Sering kali aku bertanya, mungkinkah setiap manusia diam-diam sedang berjalan menuju sesuatu yang telah mereka kehilangan bahkan sebelum sempat memilikinya? Sebab ada hari-hari ketika dadaku dipenuhi duka yang terasa terlalu tua untuk menjadi milikku sendiri. Seakan-akan aku sedang mewarisi kesedihan dari seseorang yang tak pernah sempat kutemui.

Betapa ganjilnya jiwa. la mampu mengenang sesuatu yang tak pernah dialaminya. la dapat merindukan tempat yang tak tercatat di peta mana pun. la sanggup merasa asing bahkan di dalam tubuh yang telah ditempatinya sejak lahir. Barangkali karena sejatinya manusia bukan hanya makhluk yang hidup oleh waktu.

Kita juga hidup oleh kemungkinan. Oleh segala "andaikan" yang tak pernah diberi kesempatan untuk tumbuh. Oleh setiap pintu yang tidak jadi dibuka. Oleh setiap nama yang hanya sempat singgah di ujung doa. Oleh setiap kehidupan yang diam-diam terus kita bayangkan akan terasa lebih utuh, seandainya takdir memilih jalan yang berbeda. Dan mungkin, selama semua kemungkinan itu masih berdenyut di dalam dada, Hiraeth akan tetap tinggal sebagai penghuni paling setia. Bukan untuk menyiksa. Melainkan untuk mengingatkan bahwa pernah ada bagian dari diri kita yang begitu sungguh-sungguh percaya pada keajaiban. Meski akhirnya, keajaiban itu memilih hidup di tempat yang tak lagi dapat dijangkau oleh langkah.


메타데이터
post_id
743fdb576fd8
slug
hiraeth-743fdb576fd8
url
https://medium.com/@chrysnthmum/hiraeth-743fdb576fd8
canonical_url
https://medium.com/@chrysnthmum/hiraeth-743fdb576fd8
author_url
https://medium.com/@chrysnthmum
status
ok
fetched_at
2026-07-13 13:42:41