← Back to list

Menilik Robin Swift, Mengucap Selamat Tinggal

Sebuah cerita tentang bahasa, kolonialisme, dan seseorang yang perlahan tercerabut dari asal-usulnya.

brie · 2026-05-27 15:31 · 0 claps · 6.7 min read
#book-review #babel #rf-kuang #self-discovery #self-actualization
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 📱 · Mobile Development 📚 · Books & Reading

Menilik Robin Swift, Mengucap Selamat Tinggal

Sebuah cerita tentang bahasa, kolonialisme, dan seseorang yang perlahan tercerabut dari asal-usulnya.

A Book Review: Babel by R. F. Kuang Heavy Spoiler Alert, Kinda Talking about the Whole Book.

Babel, sebuah buku fiksi sejarah yang tidak sengaja aku temukan di toko buku.

Malam itu, aku sedikit terpaksa menyempatkan diri untuk pergi ke Gramedia di Jalan Sudirman dengan niat mencari kalkulator — pekan ujian, dan kalkulator lamaku sudah cukup bapuk untuk bisa dipakai bertempur. Namun, setelah 30 menit berkeliling, aku tidak menemukan kalkulator itu (ada sih… tapi bukan model yang kucari).

Akhirnya aku memutuskan untuk melihat-lihat buku di lantai atas, toh aku juga sudah lama tidak membaca, apalagi membeli buku. Cukup lama aku berada di sana, menyusuri barisan rak-rak sesak; membaca sekilas blurb yang terpampang di bagian belakang buku; menimbang mahalnya harga dengan sedikit lembaran uang yang ada di dompetku; meletakkan kembali buku yang terlalu mahal, terlalu tebal, terlalu tipis, atau terlalu tidak menarik untuk kubaca.

Setelah sekitar satu setengah jam melakukan kegiatan-kegiatan yang sudah aku sebutkan barusan, mataku tidak sengaja melihat satu buku yang sampulnya cukup familier — entah aku pernah melihatnya di mana. Kuambil, kuperhatikan lamat-lamat bagian belakangnya, “tebal ya, tapi aku suka topik ceritanya”. Harganya juga terbilang cukup adil untuk buku dengan lebih dari 600 halaman. Oke lah, aku beli.

Babel memuat cerita tentang Robin Swift (begitulah kita akan memanggilnya di sepanjang cerita), seorang bocah laki-laki Tionghoa dari negeri Kanton yang melanglangbuana ke Oxford, sebuah wilayah terpelajar di Inggris. Ia diseret untuk terus mempelajari berbagai bahasa — dipaksa menemukan celah terjemahan, untuk menciptakan “kekuatan” pada batangan perak — demi menghidupkan roda motor perekonomian dan kekuasaan Inggris, tanpa menyadari bahwa hal magis yang berasal dari kontribusi terjemahannya itu akan digunakan oleh para bajingan-bajingan Inggris untuk menghancurkan, mengambil alih harta karun yang terkandung di tanah-tanah lain, termasuk tanah kelahirannya.

Babel bercerita tentang banyak kisah pertemuan, perjamuan, penciptaan kekuatan magis, pertentangan, pengkhianatan, pertumpahan darah, dan perpisahan.

Buku ini diawali dengan pertemuan yang cukup manis antara Robin dengan Richard Lovell, seorang profesor berkebangsaan Inggris, yang datang entah dari mana untuk kemudian menyelamatkan Robin dari ngerinya penyakit menular yang sedang menjangkiti daerahnya kala itu, membawanya ke London, Inggris, dan menyuguhinya dengan kemewahan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Profesor Lovell merupakan juru selamatnya, atau setidaknya, begitulah pikirnya.

Di rumah Lovell, setiap harinya Robin akan belajar dengan tutor-tutor hebat dan terkemuka yang direkrut oleh Lovell. Ia belajar bahasa Latin, Yunani Kuno, bahkan bahasa ibunya sendiri, Mandarin. Ia ditempa, dipersiapkan untuk masuk ke Institut Penerjemah Kerajaan (Babel) di Universitas Oxford saat ia menginjak umur 18 tahun.

Dan benar saja, Robin berhasil menjadi mahasiswa Institut Penerjemah Kerajaan (Babel) di Universitas Oxford saat ia menginjak umur 18. Di sanalah, ia bertemu dengan teman-temannya, Ramiz Rafi Mirza (yang akrab dengan panggilan Ramy), seorang muslim dari Kalkuta, India yang dibawa ke Yorkshire, Inggris oleh cendekiawan Inggris bernama Sir Horace Wilson; Victoire Degraves, gadis kulit hitam yang sebelumnya diperbudak oleh sebuah keluarga di Prancis dan pada akhirnya berhasil melarikan diri serta memalsukan surat rekomendasi untuk bisa masuk ke Institut itu; dan Letitia Price (Letty), anak bungsu dari seorang mantan laksamana Angkatan Laut Inggris.

Di Oxford, banyak hal yang terjadi pada Robin. Namun, sepertinya, salah satu hal paling besar yang berhasil mengubah pandangannya terhadap Inggris adalah pertemuannya dengan kakak tirinya — yang bahkan sebelum itu tidak ia ketahui keberadaannya — Griffin Harley.

Pertemuan pertamanya dengan Griffin terjadi ketika Robin tanpa sengaja membantu kelompok pencuri batangan perak di dekat Menara Babel. Barulah pada pertemuan kedua, Robin mengetahui bahwa ia dan Griffin merupakan saudara tiri dan kakaknya itu adalah anak dari profesor Richard Lovell, seorang mantan mahasiswa Institut Penerjemah Kerajaan di Oxford, serta anggota aktif yang tergabung di sebuah kelompok pemberontak rahasia bernama Hermes Society. Di pertemuan itu juga, Griffin dengan segera mengajak Robin untuk bergabung menjadi anggota Hermes. Ia menyuguhi Robin dengan fakta bahwa Babel dan cipta-perak merupakan alat imperialisme Inggris yang digunakan untuk memperkuat kolonialisme dan eksploitasi. Ia juga menekankan kepada Robin bahwa ia akan selamanya menjadi orang asing yang tidak akan dianggap setara oleh bangsa Inggris yang sok superior itu, dan bahwa kehidupan akademik Robin di Oxford dibangun di atas penderitaan bangsa yang dijajah — termasuk bangsa kelahirannya dan Griffin — oleh Inggris.

Meskipun sempat diterpa keraguan dan rasa cemas, Robin akhirnya setuju untuk bergabung dengan Hermes.

Selama bertahun-tahun lamanya, Inggris dan Oxford — terutama Babel — telah menjadi rumah bagi Robin. Meskipun selama berada di Inggris ia berkali-kali diingatkan bahwa dirinya bukan bagian dari mereka, Robin tetap menemukan kenyamanan dalam hidupnya di sana. Ia menikmati scones buatan Mrs. Piper, pembantu di rumah Profesor Lovell yang selalu memperlakukannya dengan hangat sejak kecil; belajar bersama Ramy, Victoire, dan Letty di Perpustakaan Babel sambil berkutat dengan tumpukan tugas terjemahan; bermain kartu di kamar asrama; pergi ke pub bersama; hingga menghabiskan malam dengan membicarakan bahasa dan etimologi sampai larut.

Oxford memberi Robin kehidupan yang selama ini tidak pernah ia miliki sebelumnya. Kehidupan yang tenang, nyaman, dan dipenuhi ilmu pengetahuan. Di Babel, Robin menjadi seseorang yang dikagumi karena kecerdasannya. Para profesor memuji kemampuannya dalam menerjemahkan bahasa Mandarin dan bahasa-bahasa klasik, sementara mahasiswa lain memandangnya sebagai salah satu murid paling cemerlang di angkatannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Robin merasa dirinya memiliki tempat untuk berpijak.

Namun, di balik segala kenyamanan itu, Babel tetap berdiri di atas sistem yang sejak awal tidak pernah benar-benar memihak orang-orang seperti Robin.

Hal itu perlahan mulai disadari Robin setelah keterlibatannya dengan Hermes semakin dalam. Bersama Griffin dan anggota Hermes lainnya, Robin mulai mengetahui bagaimana Babel menggunakan cipta-perak untuk memperkuat dominasi Inggris atas negara-negara lain. Pengetahuan tentang bahasa yang selama ini terlihat begitu indah dan intelektual ternyata digunakan untuk kepentingan imperialisme. Bahasa-bahasa dari bangsa yang dijajah dipelajari, diterjemahkan, lalu diubah menjadi alat untuk memperkaya Inggris melalui perdagangan, perang, dan kolonialisme.

Bersama Hermes, Robin mulai menyusup ke bagian-bagian perpustakaan Babel yang aksesnya dibatasi. Ia mencuri buku-buku penelitian, jurnal akademik, hingga catatan mengenai cipta-perak untuk kemudian diberikan kepada Hermes. Pengetahuan yang selama ini dimonopoli Babel perlahan diselundupkan keluar sebagai bentuk perlawanan terhadap Inggris. Tak jarang, Robin harus berbohong kepada Ramy, Victoire, dan Letty tentang ke mana ia pergi pada malam hari atau mengapa ia sering menghilang secara tiba-tiba.

Namun, bahkan ketika ia membantu Hermes melawan Babel, Robin tidak pernah benar-benar mampu membenci tempat itu.

Setelah menyelesaikan operasi bersama Hermes, Robin tetap kembali duduk di perpustakaan Babel seperti biasa. Ia tetap menikmati aroma buku-buku tua di rak perpustakaan, tetap menghabiskan waktu berjam-jam membicarakan bahasa bersama teman-temannya, tetap merasa tenang saat berjalan melewati lorong-lorong Oxford yang selama ini telah menjadi bagian dari hidupnya.

Konflik itulah yang terus menggerogoti Robin selama bertahun-tahun.

Semakin dalam ia memahami bagaimana Inggris mengeksploitasi bangsa-bangsa lain melalui Babel, semakin besar pula rasa bersalah yang tumbuh dalam dirinya karena tetap mencintai tempat itu. Griffin terus mengingatkan bahwa Babel dibangun di atas penderitaan negara-negara jajahan, termasuk Cina, dan bahwa kenyamanan yang dinikmati Robin di Oxford lahir dari sistem yang menghancurkan tanah kelahirannya sendiri.

Tetapi Robin tidak bisa begitu saja melepaskan Babel. Oxford telah memberinya terlalu banyak hal: pendidikan, kehidupan yang layak, teman-teman yang ia cintai, dan perasaan memiliki rumah yang selama ini tidak pernah benar-benar ia rasakan sebelumnya. Robin mengetahui bahwa Babel adalah bagian dari mesin imperialisme Inggris, tetapi pada saat yang sama, Babel juga menjadi satu-satunya tempat di mana ia pernah merasa dibutuhkan.

Sejak saat itu, Robin terus hidup di antara dua sisi dirinya yang tidak pernah benar-benar bisa berdamai.

Satu bagian dari dirinya ingin mempercayai Griffin, membenci Inggris, dan melawan Babel sepenuhnya. Akan tetapi, bagian lainnya masih ingin duduk tenang di perpustakaan Oxford, mengerjakan terjemahan, dan berpura-pura bahwa semua kenyataan itu tidak pernah ada.

Konflik itu semakin menghantam Robin ketika Babel mengirimnya ke Kanton sebagai penerjemah dalam urusan perdagangan Inggris dengan Cina. Perjalanan itu menjadi salah satu titik yang benar-benar mengubah cara Robin memandang Inggris. Di Kanton, Robin melihat secara langsung bagaimana perdagangan opium menghancurkan masyarakat Cina. Jalanan dipenuhi orang-orang yang kecanduan opium, keluarga-keluarga hidup dalam kemiskinan, dan Inggris tetap memaksa perdagangan tersebut berjalan demi keuntungan mereka sendiri. Sementara itu, Babel dan cipta-perak memainkan peran besar dalam menjaga kekuatan ekonomi Inggris tetap berdiri.

Perjalanan itu membuat Robin menyadari betapa jauhnya ia dari tanah kelahirannya sendiri. Ia masih mampu berbicara dalam bahasa Mandarin, tetapi Kanton tidak lagi terasa seperti rumah. Inggris telah mengambil terlalu banyak waktu dari hidupnya. Ia dibesarkan dengan pendidikan Inggris, cara berpikir Inggris, dan kehidupan akademik Inggris, sampai-sampai sebagian dari dirinya yang dulu terasa begitu dekat kini perlahan terasa asing.

Ia mengenali jalan-jalan di Kanton, memahami bahasa yang digunakan orang-orang di sekitarnya, bahkan masih mengingat beberapa potongan masa kecilnya di sana. Namun, semua itu terasa seperti kenangan milik orang lain. Robin berdiri di tanah kelahirannya sendiri dengan perasaan asing yang sulit dijelaskan, seolah-olah ia sedang pulang ke tempat yang diam-diam telah berhenti menganggapnya sebagai bagian dari dirinya.

Dan barangkali, hal yang paling menyakitkan bagi Robin bukanlah kenyataan bahwa Inggris tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai bagian dari mereka, melainkan kenyataan bahwa ia sendiri perlahan mulai kesulitan mengenali siapa dirinya sebenarnya.

Di Oxford, Robin akan selalu dipandang sebagai anak Cina yang kebetulan cukup pintar untuk berguna bagi Babel dan Inggris. Namun, ketika ia kembali ke Kanton, ia juga tidak lagi merasa benar-benar menjadi bagian dari tempat itu. Ia terlalu Cina bagi Inggris, tetapi juga terlalu Inggris bagi tanah kelahirannya sendiri.

Hermes membuat Robin mulai mempertanyakan seluruh hidup yang selama ini ia jalani. Setiap kali Griffin berbicara tentang kolonialisme Inggris dan bagaimana Babel dibangun di atas penderitaan bangsa lain, Robin merasa marah, tetapi kemarahan itu tidak hanya ditujukan kepada Inggris, melainkan juga kepada dirinya sendiri. Sebab di saat yang bersamaan, Robin tetap menikmati kehidupan yang diberikan Babel kepadanya.

Robin mengetahui bahwa Babel perlahan merenggut tanah kelahirannya, tetapi Babel juga menjadi tempat yang membentuk hampir seluruh dirinya. Dan mungkin karena itulah Robin terus hidup dalam kebingungan yang tidak pernah benar-benar selesai: ia tidak lagi tahu bagian mana dari dirinya yang benar-benar miliknya sendiri, dan bagian mana yang telah dibentuk oleh Inggris selama bertahun-tahun.

Sedikit demi sedikit, bagian-bagian dari diri Robin yang dulu mulai memudar. Ia seperti dipaksa mengucapkan selamat tinggal kepada sebagian dari dirinya sendiri.


메타데이터
post_id
747bba4cc3cc
slug
babel-dan-ucapan-selamat-tinggal-kepada-sebagian-diriku-sayang-747bba4cc3cc
url
https://medium.com/@aishhainda/babel-dan-ucapan-selamat-tinggal-kepada-sebagian-diriku-sayang-747bba4cc3cc
canonical_url
https://medium.com/@aishhainda/babel-dan-ucapan-selamat-tinggal-kepada-sebagian-diriku-sayang-747bba4cc3cc
author_url
https://medium.com/@aishhainda
status
ok
fetched_at
2026-06-22 12:55:45