Namanya Gerbang, Anaknya Maiyah
Andai percakapan Maiyah adalah rapat DPR dan pemerintahan.
Namanya Gerbang, Anaknya Maiyah
Aku memang belum lama kenal Maiyah, tapi rasaku tidak perlu waktu lama untuk akrab dengannya. Sebab kegelisahan dan keresahan sosial, politik, ekonomi, juga religi yang kadang kurasakan juga turut dirasakan oleh Maiyah. Atas dasar kesamaan itu, lantas anggapku barangkali aku lebih dulu kenal rohaninya Maiyah ketimbang kenal fisiknya "Oh, dia namanya Maiyah".
Teman-teman, dulur-dulurr belum tahu Maiyah? Oke mulailah bertanya dan silakan cari sendiri jawabannya.

(Foto: galeri pribadi)
Perjalanan ke Karanganyar di mulai pukul 16.42, mundur 42 menit dari yang sudah direncanakan sebelumnya. Maklum kadang ada saja kendala, memang betul manusia hanya bisa merencanakan dan selebihnya Gusti Allah yang menentukan. Tapi tidak masalah bagiku, lagi pula forum yang bakal kudatangi ini forum cair yang mengalir, bukan forum dinas atau politisi yang cenderung kaku nan elitis itu.
Sore itu di Hari Jumat (9/5/2025) aku memang sudah ada janji dengan Mas Firman dan Mas Farhan, dua orang yang juga aktif Maiyahan. Karena hari itu terhitung aku yang paling sibuk (cosplay pekerja birokrat yang tidak dibayar alias magang), mau tidak mau mereka harus mengikuti jamku, dan sepakatlah kita on the way ke Karanganyar jam 4 sore.
Ketika ditanya teman kos mau ke mana, jawabku "Mencari sesuatu yang tidak ada di Semarang", nyeleneh memang tapi itulah caraku untuk menyederhanakan percakapan, toh mereka sudah paham polah basaku.
Berangkatlah kami mengendarai dua motor sejuta umat pabrikan Honda, ya betul Beat dua buah beda generasi. Aku sendiri dengan motorku dan Mas Firman boncengan dengan Mas Farhan. Ingat kendala yg kutulis di awal tadi? Jadi kendalanya adalah motor Mas Farhan yang mati lampu seinnya, "Asem getun banget yakin rasane Han, padahal awit mau isuk ayem, garep mangkat malah ora beres motore jyan", ujarnya.
Lokasi tujuan kami adalah Oemah Jampi, Bakalan, Jumapolo, Karanganyar, di sinilah Temu Nasional XI Gerbang (Gerakan Anak Bangsa) bakal dilangsungkan sampai hari Minggu (11/5/2025). Jika berpatok Gmaps estimasi waktu tempuh adalah 3 jam 7 menit, tapi itu kata Maps yang hanya menghitung jarak dan kecepatan rata-rata, dia belum mempertimbangkan waktu istirahat dan mampir-mampir lainnya, heuheu. Yang jelas sedari awal kami putuskan akan jalan santai, sambil menikmati setiap putaran roda Beat dua generasi itu, menikmati setiap tempat yang di singgahi tanpa rencana.
Rute perjalanan ini hampir saja membelah Pulau Jawa, Semarang-Salatiga-Boyolali-Surakarta-Sukoharjo-Karanganyar. Kalau saja sempat ke Jogja, maka tuntas sudah misi pembelahan Pulau Jawa hewheww, mewujudkan ramalan Sabdo Palon bahwa Pulau Jawa bakal terbelah. Dalam perjalanan ini ternyata kami tidak hanya bertiga, ada satu makhluk yang setia menemani kami dari Semarang-Surakarta, dia adalah hujan bulan Mei.
Cukup menjadi pengingat yang acap kali dipesankan orang tua ketika pamitan "Hati-hati, jangan ngebut-ngebut, capek melipir sebentar istirahat, jangan dipaksakan."
Sampai di rumahnya Kang Imam (tuan rumah Tenas kali ini) pukul 22.40, dan ketika kami sampai aula kumpul sudah cukup ramai. "Alhamdulillah tambah lagi rombongan dari Kebumen via Semarang, tinggal menunggu rombongan dari Ciamis, Blitar, dan Jakarta", ucap Pak Teguh yang tengah memimpin forum malam itu.
Terhitung dalam perjalanan lima jam lebih itu kami melipir dua kali, pertama untuk maghriban di Salatiga, kedua menyantap mie tambang di kota kelahiran Jokowi. Kan sudah dibilang ini perjalanan santai, lima jam enam jam, tujuh jam perjalanan pun akanku nikmati. Lantas kenapa mie tambang? Sebetulnya semacam mie Chinese, aku lupa nama produknya, yang jelas karena ukurannya yang besar makaku sebut saja mie tambang.
Gerakan Anak Bangsa (Gerbang)
Temu Nasional (Tenas XI) kali ini menjadi momen pertama kalinya aku berinteraksi langsung dengan Gerbang. Aku dikenalkan dengan Gerbang oleh Mas Fir di Kebumen sewaktu Tawashshulan Pitulikuran ramadhan kemarin di rumahnya. Karena gagasannya yang cenderung klop denganku, maka kuputuskan untuk kenalan lebih dalam.
Gerakan Anak Bangsa disingkat Gerbang adalah gerakan sosial politik, tapi bukan ormas, bukan pula partai politik. Dia lahir dari rahim Maiyah, pencetusnya adalah Pak Haryanto dan Pak Teguh, orang penting di Maiyah yang juga dekat dengan Mbah Nun (Cak Nun/Emha Ainun Nadjib). Maka dari sini sudah jelas, semua orang di Gerbang adalah orang Maiyah, tapi tidak semua orang Maiyah ikut bergerak di Gerbang. Kenapa demikian? sebab tidak semua jamaah Maiyah konsen dan mau bersentuhan dengan jalur politik. Karena Gerbang cenderung politis, maka silakan simpulkan sendiri.
Lebih dari itu, jalan Gerbang tidak hanya di jalur politik, tapi juga sosial ekonomi kemasyarakatan. Gerbang punya Sekolah Warga, yaitu pendidikan alternatif anak yang tersebar di banyak kota/kabupaten dengan karakternya masing-masing. @sakolamotekar di Ciamis; @eper lawas, @carocarin, @sibar di Kebumen; @sw_kandangkadang di Jepara; dan banyak lagi. Ihwal ekonomi Gerbang juga punya Industri Warga yang memberdayakan Ibu-ibu PKK di Yogyakarta, dan sebagainya.
Ada hal lain yang mendorongku sampai ke Tenas ini. "Infonya Pak, ada rundown tidak?", tanyaku pada Mas Fir hari-hari sebelumnya. "Tidak ada, mengalir saja", jawabnya. Ini dia, karena isinya orang-orang Maiyah, maka polanya juga tidak jauh dari Maiyah. Forum resmi tapi kegiatannya cenderung santai dan mengalir, ada sesi pembacaan Tawashshulan juga, persis seperti Maiyah.
Meskipun aku mahasiswa politik dan aktif di organisasi kemahasiswaan, tapi rasaku kurang enjoy kalau terus dihadapkan dengan forum resmi seperti seminar atau bimtek (bimbingan teknis) dinas-dinas pemerintahan. Aku lebih cocok duduk melingkar, saling berhadapan, saling bersautan pendapat, wahh istimewa sekali. Andai DPR dibuat semacam ini, forum dua arah, saling berargumentasi, dan saling berdebat, mungkin negara ini akan lebih baik dari kondisi sekarang ini.

Melingkar, berhadapan, weweh gagasan (Foto: @gerbang_jogjakarta)
Tiga hari dua malam, duduk melingkar dan saling berhadapan, selama berjam-jam dan dalam beberapa sesi. Batinku "kok ada forum seperti ini", bahkan lepas Hp sekalipun, semua memperhatikan apa yang sedang dibahas dan siapa yang sedang bicara, persis seperti Maiyah. "Sebetulnya apa yang menyatukan orang-orang ini?", lanjutku.
Cinta. Ya apalagi kalau bukan cinta, ia bisa membuat apa yang dianggap tidak mungkin menjadi mungkin. Aku menyaksikan betapa uniknya orang-orang di sini, mereka begitu berwarna, ada peternak madu; petani; guru honorer; pedagang sate; kyai kampung; pemilik warung; pelaku seni; dosen; mahasiswa; pelajar; ojol; barbershop; pencari jodoh; dan sebagainya. Kalau bukan karena kecintaan mereka pada negara ini, akan susah untuk forum seplural ini bisa berjalan sewindu (8 tahun). Orang-orang ini berusaha mencintai tanah airnya dengan caranya sendiri.
Aku membayangkan, mungkin seperti ini dulu Socrates mengajarkan pengetahuan lewat metode elenchus-nya kepada masyarakat Athena kala itu. Atau mungkin serupa dengan Salon Perancis di abad ke-17 yang di kemudian hari menghasilkan pemikir dunia sekelas Voltaire, Diderot, hingga Rousseau yang menghantarkan Perancis ke Era Pencerahan. Yang jelas aku tidak menemukan percakapan semacam ini di ruang kelas.
Suasana yang hangat, cair, dan penuh arti. Kelihaian Pakde Har dan Pakde Teguh dalam menahkodai acara patut diacungi jempol. Ada saja caranya memecah suasana, aku melihat ada gaya Mbah Nun dalam diri beliau berdua. Juga Aang putranya Kang Deny dari Ciamis, cerdas tapi lucu, jarang sekali anak setara kelas 3 SD mampu bicara panjang lebar di depan umum, sudah seperti pemantik diskusi mahasiswa saja dia ini.
Waktunya Kembali Pulang
Berangkat bertiga dari Semarang, aku pulang berdua berboncengan dengan Mas Fir. Subuh tadi (Minggu, 11/5/2025) Mas Farhan sudah lebih dulu balik ke Semarang, ada Bapak dan Ibu Negara (orang tua) yang kunjungan ke Semarang katanya. Tenas XI Gerbang ditutup pukul sepuluh siang, berakhir sudah forum anti mainstream nan unik ini, sampai jumpa lagi lain waktu Bapak-bapak, Mas-mas, Kang-kang, dan Adik-adik semua.
Sekira pukul 11.40 aku dan Mas Fir berpamitan, dengan menunggangi Beat kami memutuskan balik lewat jalur berangkat. "Entah ke mana Beat ini hendak berbelok, lihat saja nanti", batinku. Masih ada waktu libur dua hari Senin-Selasa, sayang rasanya jika harus buru-buru kembali ke Semarang.
Benar saja, belum juga jalan jauh motor ini mengantarkan kami ke Masjid Kauman Surakarta, lantas kami dhuhuran di sini. Sambil sedikit meregangkan badan, ehh kebladasan sampai setengah tiga. Padahal niatku jam setengah dua lanjut penjelajahan ke Museum Radya Pustaka. Sebab aku masih penasaran dengan tempat ini, museum tertua di Indonesia yang menjadi setting tempat kasus pemalsuan puluhan arca hingga menyebabkan kematian salah seorang arkeolog kondang Pak Lambang Babar Purnomo. Lebih lanjut silakan cari tahu sendiri.

Beberapa koleksi Museum Keris (Foto: Firman).
Dengan menghitung waktu, akhirnya kami beralih ke Museum Keris, tempat yang tidak kalah istimewa. Ada banyak koleksi keris di sini dengan banyak macam pamor, dhapur, tangguh, dan warangka. Sangat cocok dikunjungi bagi kalian pecinta tosan aji, dan enthusiast budaya.
Perjalanan belum selesai, dari Museum kami lanjut ke Bukuku Lawas, kopian dengan gaya klasik Jogloan penuh dengan buku. Ahh syahdu sekali. Jam sembilan malam lanjut perjalanan pulang, kembali tanpa perencanaan, roda motor mengantarkan kami untuk mampir di Masjid Sheikh Zayed. Masjid penuh marmer yang dibangun dengan dana 300 miliar lebih dari Uni Emirat Arab. Sebagai timbal baliknya ada satu jalan di UEA yang dinamai Jalan Joko Widodo, heuheu. "Mampir daleme Khang Owi apa?", canda Mas Fir.
Dari Sheikh Zayed, perjalanan lanjut meniti jalanan Surakarta-Semarang via Boyolali-Salatiga. Sempat muter-muter di Boyolali untuk cari makan, tapi tidak ada yang pas. Akhirnya berhentilah kami tepat jam 00.00 WIB di warung pinggir jalan dekat pusat kota Salatiga, tepatnya di depan Satlantas dan Polisi Militer. Aku lebih suka makan di tempat semacam ini, ketimbang di franchisee nan kapitalis semacam KFC dan Mekdi. Wajah Indonesia adalah warung sederhana dengan rasa makanan istimewa, hitung-hitung membantu UMKM.
Adanya tulisan ini, artinya aku selamat sampai kos, begitu juga Mas Fir dan Mas Far. Sekira setengah tiga malam aku menginjakkan kaki kembali di kost berlogo tugu lawet, alhamdulilah. Terima kasih semua atas ilmunya, juga Kang Imam selaku tuan rumah. Harapku gagasan-gagasan itu terus hidup tidak hanya di Gerbang dan Maiyah, tapi menyebar ke mana-mana tak terkecuali juga ke Anak-anak yang Diyatimkan Zaman.
메타데이터
- post_id
- 7495fb08e29f
- slug
- namanya-gerbang-anaknya-maiyah-7495fb08e29f
- url
- https://medium.com/@sulkhanudin/namanya-gerbang-anaknya-maiyah-7495fb08e29f
- canonical_url
- https://medium.com/@sulkhanudin/namanya-gerbang-anaknya-maiyah-7495fb08e29f
- author_url
- https://medium.com/@sulkhanudin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 21:38:15