Individu ‘Woke’ Rentan akan Gangguan Mental, Kesadaran terhadap Isu Sosial Turut Mempengaruhi…
written by Syifa dan Ciquita
Individu ‘Woke’ Rentan akan Gangguan Mental, Kesadaran terhadap Isu Sosial Turut Mempengaruhi Psikologis
written by Syifa dan Ciquita

Di tengah isu ketidakadilan sosial, ras, dan gender dalam kehidupan bermasyarakat kita, muncul istilah ‘woke’ yang menggambarkan individu yang memiliki kesadaran dan secara aktif memperhatikan isu-isu tersebut. Istilah tersebut sejalan dengan prinsip feminisme yang memperjuangkan kesetaraan yang lebih inklusif, termasuk interseksionalitas (ras, kelas, dan seksualitas).
Secara teori, ‘woke’ adalah kesadaran kritis yang berakar dari empati. Berdasarkan studi dari National Library of Medicine, seseorang dengan empati yang tinggi rentan terhadap tekanan psikologis.
Namun, perlu diketahui bahwa menjadi individu ‘woke’ yang peka terhadap masalah sosial yang krusial tidak seerotis yang dibayangkan. Tidak jarang individu ini rentan akan kecemasan berupa perasaan takut yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan aktivitas sehari-hari.
Ditambah lagi ‘activism fatigue’ di mana individu ‘woke’ mengalami kelelahan aktivisme karena harapan akan perubahan telah berkurang akibat perasaan kewalahan dan keputusasaan. Hal tersebut dapat dipicu oleh stres akibat perubahan seperti hukum dan kebijakan baru yang malah merugikan masyarakat.
https://drive.google.com/file/d/127acQhp6d_XPJkYHI8yWbWE_RffowUFq/view?usp=drivesdk
(a clip in which Baskara Putra/Hindia stated that he got acid reflux after seeing distressing political news)
Penelitian yang dilakukan oleh Gauditz (2025) menunjukkan bahwa burnout pada aktivis dapat terjadi karena 3 hal utama yaitu:
- Prefigurative betrayal: Ketika nilai yang diperjuangkan dilanggar oleh kelompok sendiri seperti diskriminasi internal
- Inadequate expectations: Ketidaksesuaian harapan dalam organisasi seperti tuntutan yang bertentangan dengan kerja kemanusiaan
- Split between life-worlds: Keterpisahan antara kehidupan pribadi dan aktivisme karena kondisi politik sehingga kesulitan mengintegrasikan pengalaman mereka
Lantas bagaimana cara kita untuk menjaga kesehatan mental sebagai aktivis? Menurut disertasi yang dilakukan oleh Mclnerney (2022), penanggulangan activism burnout dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, yaitu:
- Menerapkan healing justice practice: Melakukan praktik seperti meditasi, mindfulness, atau bentuk refleksi diri lainnya
- Mengembangkan budaya collective care: Melakukan praktik saling mendukung dalam komunitas dengan cara berdiskusi untuk meningkatkan kesejahteraan anggota
- Menggunakan strategi koping (strategi mengatasi stres) yang beragam: Aktivis dapat menggunakan strategi sesuai kebutuhan seperti problem-focused coping (mencari bantuan profesional), emotion-focused coping (istirahat, distraksi, dan mengambil jeda), meaning-focused coping (merenungkan makna dari perjuangan), dan social coping (berbagi cerita dan dukungan orang lain)
- Menciptakan kondisi kerja yang berkelanjutan: Dilakukan dengan menciptakan ruang kerja yang inklusif dan suportif yang menghargai batasan pribadi dan kebutuhan istirahat tanpa adanya tuntutan produktivitas dan kompetisi
- Mengatasi hambatan akses bantuan: Menyediakan dukungan bagi anggota komunitas melalui kolaborasi dengan profesional ataupun komunitas/organisasi lain yang terkait
Sebagai generasi muda penerus bangsa, memang perlu bagi kita untuk menyuarakan ketidakadilan sosial untuk menciptakan masa depan yang inklusif. Tetapi hal ini bukan berarti kita harus menelantarkan kesejahteraan pribadi. Marilah kita bersama lebih peduli terhadap well-being diri sendiri dan teman seperjuangan kita!
Source
“5 Things You Should Know About Stress”. The National Institute of Mental Health, U.S. Department of Health and Human Services, https://www.nimh.nih.gov/h. Diakses pada 11 April 2026.
Huang C., Zifeng W., Sha S., Cunming L., Ling Y., Peng J., Hongxing Z., dan Chun Y. 2025. The Dark Side of Empathy: The Role of Excessive Affective Empathy in Mental Health Disorders, Biological Psychiatry, 98(5), Pages 404–415.
Gamache, Justin-Ames. 2025. Reclaiming “Woke”: A Critical Consciousness Framework for Social Awareness, Empathy, and Educational Equity.
Gauditz, L. C. (2025). Activist burnout in No Borders: The case of a highly diverse movement. Transcultural Psychiatry, 62(2), 167–180.
Gorski, P. C. 2018. Racial battle fatigue and activist burnout in racial justice activists of color at predominately white colleges and universities, George Mason University, Vol (21)
McInerney, E. E. (2022). Coping with trauma and burnout: Healing justice practices in activism (Doctoral dissertation, University of Miami).
Merriam-Webster. 2024. Woke. Merriam-Webster. https://www.merriam-webster.com/dictionary/woke. Diakses pada 11 April 2026.
메타데이터
- post_id
- 74f6548eb8bd
- slug
- individu-woke-rentan-akan-gangguan-mental-kesadaran-terhadap-isu-sosial-turut-mempengaruhi-74f6548eb8bd
- url
- https://medium.com/@girlupmdn/individu-woke-rentan-akan-gangguan-mental-kesadaran-terhadap-isu-sosial-turut-mempengaruhi-74f6548eb8bd
- canonical_url
- https://medium.com/@girlupmdn/individu-woke-rentan-akan-gangguan-mental-kesadaran-terhadap-isu-sosial-turut-mempengaruhi-74f6548eb8bd
- author_url
- https://medium.com/@girlupmdn
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30