Tidak Takut Jatuh Cinta
Suatu hari seorang teman berkata, “Kamu itu terlalu takut untuk jatuh cinta lagi.”
Tidak Takut Jatuh Cinta
Photo by Falaq Lazuardi on Unsplash
Suatu hari seorang teman berkata, “Kamu itu terlalu takut untuk jatuh cinta lagi.”
Kenyataannya, mungkin aku sudah mencoba beberapa kali untuk jatuh cinta. Tapi selalu berakhir dengan pernyataan,
“Bagaimana jika nanti orang yang kucintai malah sakit karena aku?”
Sekarang aku paham dengan beberapa orang yang menjauh dari orang-orang yang dulu mereka cintai atau sayangi.
Mereka sadar, bahwa mereka telah menyakiti orang yang mereka cintai. Mereka merasa tidak pantas untuk mencintai mereka, dan mereka memilih untuk mundur dan pergi.
Apakah orang-orang seperti ini adalah pengecut?
Ya. Bisa jadi. Mereka adalah orang-orang yang tidak berani pada resiko yang muncul. Mereka adalah orang-orang yang kalah bahkan sebelum berperang.
Bisa jadi mereka yang pernah mencintai dan belum membuat keputusan adalah orang-orang yang memegang komitmen dengan harga diri yang tinggi. Mereka malu dengan apa yang mereka perbuat dan pergi, merasa sudah tidak memiliki tempat pada kata cinta karena sudah menyia-nyiakan kesempatan yang pernah datang.
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang belum memulai kembali? Orang yang ingin jatuh cinta, tapi takut menyakiti orang yang dicintainya?
Apa mungkin hal ini bisa disebut trauma? Jika iya, bukankah cara menghadapinya dengan melawan?
Aku pernah berbicara dengan seorang teman laki-laki. Ia bilang ia memiliki sedikit trauma dengan hubungan. Hingga saat ini masih belum memiliki keberanian untuk memulai kembali. Katanya, entah seberapa baik komunikasi dalam hubungan, entah seberapa hebat saling memahami di antara dua insan, jika memang nanti hadir seseorang yang memiliki nilai lebih dari pasangannya, selalu ada kemungkinan untuk berpindah hati dan disia-siakan.
Aku pernah juga berbicara dengan seorang teman perempuan. Ia bilang, ia tidak percaya laki-laki yang menjanjikan ini dan itu. Hubungan yang romantis dan penuh kebahagiaan. Penuh keyakinan akan sampai pada jenjang pernikahan. Tapi suatu hari, si laki-laki pergi dan memutuskan menghilang. Beberapa kali menghubungi hanya untuk memberitahu, “Lupakan aku”. Semudah itu ucapnya. Dari sekian banyak kenangan yang dibuat, semudah itu temanku ditinggalkan dan disuruh untuk melupakan.
Tapi, teman perempuanku saat ini bilang, “aku tidak takut jatuh cinta. Karena yang lalu adalah yang lalu, saat ini adalah saat memulai lembaran baru dengan orang baru.”
Teman laki-lakiku adalah contoh dari seseorang yang trauma dengan cinta dan takut untuk jatuh cinta lagi. Sedangkan teman perempuanku merupakan contoh dari seseorang yang trauma dari cinta dan berusaha sembuh, serta tidak takut untuk jatuh cinta lagi.
Lalu bagaimana dengan dirimu?
Aku tidak takut jatuh cinta, tapi aku takut menyakiti orang yang aku cinta.
Bukan masalah dengan masa lalu, bukan masalah dengan orang yang sudah lalu. Tapi masalah dengan diri sendiri yang belum selesai dengan segala permasalahan yang ada di dalam diri.
Untuk aku, kamu, kita, selesailah dengan masa lalu, jalani hari ini, dan rancang masa depan. Selesai kan lah permasalahan yang ada di dalam diri. Bisa jadi, solusinya ada di depan matamu.
Kuncinya adalah menerima, bukan melupakan. Barang siapa yang menerima, ia akan bergerak maju dan belajar dari masa lalu.
Mari memulai kembali.
메타데이터
- post_id
- 750c1c267b5c
- slug
- aku-tidak-takut-jatuh-cinta-750c1c267b5c
- url
- https://medium.com/@nay4me11/aku-tidak-takut-jatuh-cinta-750c1c267b5c
- canonical_url
- https://medium.com/@nay4me11/aku-tidak-takut-jatuh-cinta-750c1c267b5c
- author_url
- https://medium.com/@nay4me11
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 23:56:40