Waktu yang Salah untuk Makanan yang Benar
#166–[89]: Mie Ayam di Pagi Hari dan Bubur di Malam Hari
SINGGAH SEJENAK
Waktu yang Salah untuk Makanan yang Benar
#166–[89]: Mie Ayam di Pagi Hari dan Bubur di Malam Hari
Photo by JANG’S 🍂 on Unsplash
Kali ini saya ingin menulis hal yang ringan. Tentang makanan. Hampir setiap minggu pagi kami—saya dan istri—jalan kaki dari rumah ke GOR Satria Purwokerto. Jarak tempuh dari rumah ke sana sekitar 3 kilometer cukuplah untuk membuat badan berkeringat.
Sesampainya di sana, biasanya kami lanjutkan olahraga—entah itu bulutangkis ataupun sekedar jogging ringan. Setelahnya, agenda dilanjutkan dengan sarapan di pasar kaget yang selalu diadakan tiap Minggu pagi pukul 06.00–10.00 WIB. Pasar itu biasa kami sebut dengan Pasar Minggon.
Belum bergabung di Medium? Lanjutkan membaca di sini.
Banyak sekali orang berjualan apapun di sana, dari baju, perkakas rumah tangga, sayur mentah, bahkan furnitur, serta tentu saja berbagai menu sarapan dan jajanan. Dimulai dari soto, pecel, nasi uduk, lontong opor, ayam geprek, dan termasuk jajanan ala-ala luar negeri seperti takoyaki dan kimbap.
Terkait sarapan, satu kedai yang tidak pernah saya singgahi untuk sarapan adalah mie ayam. Saya suka mie ayam. Tapi tidak untuk sarapan.
Entah kenapa, ketika mie ayam muncul di pagi hari, suasananya terasa salah. Rasanya seperti melihat orang berjogetan di arena salawat. Mungkin tidak salah bagi sebagian orang—yang terbawa suasana dengan lantunan salawat—tapi salah bagi saya karena merusak esensi salawat.
Pagi hari punya nuansa sendiri—tenang, ringan, dan santai. Mie ayam, dengan bumbu kental dan saus pedasnya, terasa terlalu berat dan bersemangat untuk menjejali perut yang baru bangun tidur. Suasananya tidak pas dan serasa mengajak berkelahi tubuh.
Lain halnya dengan soto. Porsinya kecil, kuahnya ringan, dan perasan jeruk nipisnya seperti membangunkan tubuh secara perlahan. Soto adalah teman terbaik pagi hari. Tidak berlebihan, tapi cukup menghangatkan perut dan menenangkan suasana.
Menu yang juga cocok untuk sarapan adalah nasi goreng. Dia terasa pas untuk sarapan, tapi janggal kalau muncul di jam makan siang. Nasi goreng sebagai menu siang seperti tamu undangan yang datang terlalu awal atau malah kelewat larut, jadi tidak tahu harus duduk di mana.
Nasi goreng di pagi hari, adalah menu yang naik kasta dari status “nasi sisa semalam” menjadi menu utama yang dimuliakan. Di malam hari pun, dia bisa hadir sebagai penyelamat perut lapar yang praktis. Tapi di siang hari? Rasanya dia tidak punya panggung yang jelas.
Tapi tentu kita harus membedakan porsi nasi goreng untuk sarapan dan makan malam. Nasi goreng dengan porsi melimpah saat pagi hari adalah hal yang tidak benar. Hakikat nasi goreng pagi hari yang merupakan sisa nasi semalam, tidak seharusnya dihadirkan dengan porsi melimpah. Namanya saja nasi sisa. Tapi kalau untuk malam hari, porsi melimpah tidak masalah, karena agar tidak tersisa nasi di pagi hari.
Makanan, seperti halnya manusia, punya waktu tampil terbaik. Bubur ayam adalah contoh lain. Dia cocok untuk pagi yang penuh suasana kantuk. Teksturnya yang lembek dan porsinya yang ringan seakan mengerti bahwa tubuh belum siap bekerja keras untuk mencerna.
Tapi ketika bubur ayam hadir di malam hari—yang entah kenapa sekarang mulai banyak dijual di jam-jam itu—saya merasa seperti sedang sarapan di waktu yang salah. Seolah terlalu pagi karena masih gelap, padahal gelapnya ini karena sudah malam. Kalau sendok bisa berbicara, mungkin dia akan menolak dipakai membantu mengkonsumsi bubur di malam hari.
Ini bukan soal logika atau gizi. Ini soal rasa dan suasana. Bahkan rendang yang konon diakui dunia sebagai salah satu makanan terenak di dunia, terasa terlalu “berat” jika dikonsumsi menjadi lauk di pagi hari.
Rendang terlalu “serius” disantap di waktu yang seharusnya menyantap makanan ringan. Ditambah kuah santan? Tubuh saya bisa-bisa minta tidur lagi. Bukannya karena tidak enak, tapi tubuh yang belum sempat bangun dari rasa malasnya tidak siap untuk mengkonsumsi itu.
Tentu semua ini sangat subjektif. Ada yang sarapan mie ayam, makan siang bubur, dan makan malam buah potong. Tapi bagi saya, setiap makanan sudah punya panggungnya sendiri. Ketika dia tampil bukan di waktunya, rasanya tidak salah tapi juga tidak pas.
Sejauh ini, sarapan favorit saya adalah soto, nasi uduk atau nasi kuning. Yang ringan-ringan saja. Makan siang favorit saya nasi padang atau nasi rames dengan berbagai pilihan lauk dan sayur. Makan siang adalah jam makan yang “serius”, jadi saya perlu kenyang dan puas.
Sedangkan untuk makan malam, biasanya saya pilih menu yang sedikit berisi tapi tidak terlalu berat seperti sate, nasi goreng, atau olahan lain yang dimasak dengan benar. Makan malam bagi saya juga adalah momen berkumpul, jadi pilihan tempat juga menjadi hal yang tidak kalah penting.
Soal mie sendiri, saya punya pembedaan khusus antara mie ayam dan ramen. Mie ayam cocoknya untuk makan siang karena nuansanya yang berat. Sedangkan ramen, lebih pas dinikmati malam hari karena ada nuansa kemewahan dalam semangkuk ramen—kuah yang pekat, topping yang tertata rapi, dan suasana makan yang biasanya lebih tenang — yang membuatnya terasa sebagai penutup hari yang pas.
Makanan bukan cuma soal rasa, tapi juga soal waktu, suasana, dan kebiasaan. Kadang makanan terasa aneh bukan karena rasanya berubah, tapi karena dimakan di waktu yang tidak biasa. Kita terbiasa menikmati makanan tertentu di jam tertentu, jadi ketika itu berubah, rasanya pun ikut berbeda.
Bagaimana dengan kalian? Bagaimana cara kalian memandang makanan? Apa kalian juga merasa mie ayam tidak cocok untuk sarapan?
메타데이터
- post_id
- 751d00ade842
- slug
- waktu-yang-salah-untuk-makanan-yang-benar-751d00ade842
- url
- https://medium.com/@yasirfuadi/waktu-yang-salah-untuk-makanan-yang-benar-751d00ade842
- canonical_url
- https://medium.com/@yasirfuadi/waktu-yang-salah-untuk-makanan-yang-benar-751d00ade842
- author_url
- https://medium.com/@yasirfuadi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 16:53:31