← Back to list

Menyingkap Gunung Sampah di Kota Kecil Mojokerto

“Setiap orang dapat menghasilkan sampah hingga 0,7 hingga 1 kg per harinya” ungkap Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan…

Asdieren · 2026-06-29 14:57 · 1 claps · 4.8 min read
#sampah #sejarah #demografia
Open on Medium ↗
Wiki topics: 😂 · Humor & Satire

Menyingkap Gunung Sampah di Kota Kecil Mojokerto

TPA Randegan (Sumber: Mojokerto Disway)

TPA Randegan (Sumber: Mojokerto Disway)

“Setiap orang dapat menghasilkan sampah hingga 0,7 hingga 1 kg per harinya” ungkap Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya Beracun KLHK Rosa Vivien Ratnawati. Fenomena ini menunjukkan bahwa setiap masyarakat Indonesia masih gemar menghasilkan sampah tanpa pengolahan yang tepat terutama terhadap sampah plastik.

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional atau SIPSN menyebutkan bahwa pada tahun 2025 mencatat timbunan sampah nasional telah mencapai 24,8 juta ton. Hal ini menunjukkan sampah masih menjadi PR besar bagi Indonesia dari tahun ke tahun. SIPSN melanjutkan bahwa dari total timbunan sampah tersebut 34,55% yaitu sebesar 8,5 juta ton diantaranya sudah dikelola dengan baik. Sementara lebih dari 60% sampah masih tertimbun tanpa tindakan lebih lanjut.

Timbunan sampah tersebut paling banyak lahir dari sektor rumah tangga dengan presentase 56,7% atau 7,2 juta ton setiap tahun. Sehingga dapat disimpulkan bahwasannya semakin padat penduduknya maka akan semakin tinggi produksi sampah hariannya. Hal ini telah terjadi di berbagai kota-kota besar di Indonesia. Seperti halnya di Jakarta dengan timbunan sampah mencapai 3 juta ton lebih per tahun. Atau bahkan timbunan sampah di Kota Bandung yang mencapai 1.500 ton per hari.

Timbunan sampah yang tidak dapat dikelola dengan baik tersebut memberikan efek negatif terutama bagi kondisi tanah, air, dan udara. Beberapa waktu lalu kita disuguhkan dengan sebuah berita yang memperlihatkan keberadaan pulau sampah di pesisir Muara Angke, Jakarta Utara. Timbunan sampah tersebut merupakan hasil dari hulu yang kemudian terbawa hingga ke pesisir pantai utara.

Ketika musim hujan tiba, sampah basah yang tertimbun akan mengeluarkan bau tak sedap serta mengeluarkan gas berbahaya. Bahkan bau tak sedap masih dapat tercium dalam radius 500 m.

Selain itu, timbunan sampah dapat menjadi habitat satwa pembawa penyakit seperti tikus, lalat, nyamuk, dan lainnya. Tak heran jika penyakit seperti DBD, malaria, dan berbagai penyakit menular banyak menjangkiti masyarakat di dekat timbunan sampah.

Inilah realitas yang terjadi di berbagai kota-kota di Indonesia. Lebih parahnya lagi, penghasilan sampah tidak sepadan dengan sistem pengelolaan yang baik. Akhirnya, hanya tersisa gunung-gunung sampah yang diciptakan manusia itu sendiri.

Mojokerto: Kota Kecil dengan Gunung Sampah

Ketika mendengar Kota Mojokerto, mungkin kita langsung terpikirkan bahwa ini merupakan salah satu kota kecil di Indonesia. Dengan luasnya yang sekitar 20 km2, Kota Mojokerto juga terjangkit oleh permasalahan sampah yang tak kunjung teratasi.

Hal ini dapat dilihat pada salah satu TPA di pinggiran Kota yaitu Randegan. Saat ini, TPA Randegan dipaksa untuk menerima beban sampah per hari mencapai total 70 hingga 90 ton. Namun dalam beberapa waktu terakhir, permasalahan sampah mulai menjadi fokus pemerintah kota sehingga beban pasokan sampah yang awalnya mencapai 90 ton berkurang menjadi 58 ton per hari.

Upaya pengurangan ini juga didukung oleh berbagai program seperti optimalisasi bank sampah di setiap RW hingga melakukan budidaya maggot untuk mengurangi volume sampah organik. Agar upaya tersebut berhasil, pemerintah Kota Mojokerto turut melibatkan berbagai pihak terutama masyarakat itu sendiri. Bahkan pada tahun 2022 lalu, Kecamatan Prajuritkulon berhasil mendapatkan penghargaan di IGA Award karena berhasil dalam mengelola sampah.

Berbagai program tersebut dilakukan untuk meminimalisir terjadinya berbagai dampak negatif akibat timbunan sampah. Terutama dalam peristiwa kebakaran gunung sampah di TPA Randegan pada akhir tahun 2023.

Kebakaran bermula ketika sisi barat gunung sampah terbakar pada pagi hari di tanggal 8 September 2023. Api membakar sebagian sampah sehingga menimbulkan asap tebal. Namun, melalui respon cepat dari tim pemadam kebakaran, api dapat dipadamkan pada sore harinya. Akan tetapi, secara tiba-tiba api muncul kembali pada malam hari sehingga asap tebal yang dihasilkan oleh kebakaran mengarah ke permukiman warga.

Setelah ditelisik lebih dalam, penyebab dari kebakaran disebabkan oleh kondisi cuaca ekstrem yang diperparah dengan menguapnya gas metana dari timbunan sampah. Peristiwa ini menimbulkan dampak negatif kepada masyarakat sekitar karena asap tebal yang dihasilkan. Sehingga banyak warga yang mengalami masalah pernafasan seperti batuk dan sesak nafas.

Berdasarkan peristiwa tersebut, apakah kita pernahkan terpikirkan bagaimana kota kecil seperti Mojokerto yang memiliki luas sekitar 20 km2 dapat menghasilkan gunungan sampah hingga puluhan berton?

Jejak Historis Pertumbuhan Penduduk di Kota Mojokerto

Jika kita lihat dari jejak historis, Mojokerto telah menjadi sentral penanaman komoditas tebu dan industri gula di era kolonialisme Belanda. Hal ini memicu kedatangan buruh dari wilayah lain dengan pertumbuhan demografi yang cepat namun lapangan kerja sedikit. Nantinya, mereka akan dikirim ke Mojokerto sebagai buruh pabrik hingga petani demi menggerakkan perekonomian kolonial.

Sampai akhirnya terjadi surplus penduduk di tahun-tahun setelahnya. Mengacu pada data sensus penduduk tahun 1891, penduduk di Mojokerto telah mencapai lebih dari 15 ribu penduduk.

Ini merupakan angka penduduk terbesar ketiga di keresidenan Surabaya. Pada tahun setelahnya yaitu 1930, terjadi peningkatan jumlah penduduk Mojokerto 19 ribu penduduk. Peningkatan tersebut tidak berhenti di era kolonial saja, bahkan pertumbuhan penduduk di wilayah ini terus terjadi pasca kemerdekaan Indonesia.

Berdasarkan hasil pencatatan penduduk Nasional oleh BPS pada tahun 1961 menunjukkan total jumlah penduduk Kota Mojokerto yang telah mencapai 51 ribu jiwa. Hal ini terus meningkat dari tahun ke tahun hingga saat ini. Tercatat pada tahun 2025 jumlah penduduk Kota Mojokerto telah mencapai total 142.650 jiwa dengan jumlah lahan yang terbatas.

Peningkatan jumlah penduduk tersebut sangat dipengaruhi oleh kaum urban yang datang untuk merubah nasib di kota ini. Hal ini mengakibatkan lahan-lahan kosong di sekitar pusat perekonomian mulai dipenuhi dengan rumah warga yang terus berlanjut dari masa ke masa.

Sejak era kolonial, Kota Mojokerto memang telah memiliki daya tarik tersendiri dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah.

Bahkan pihak swasta turut membangun berbagai infrastruktur publik seperti bioskop, lapangan tenis, villa, hingga rumah sakit yang dapat digunakan oleh kaum bumiputera.

Saat ini, sentral perekonomian Kota Mojokerto terletak pada industri sepatu dan pariwisata sejarah yang melimpah di berbagai sudut kota. Tak heran jika banyak migran yang datang ke wilayah ini.

Berdasarkan pengamatan penulis yang merupakan orang Mojokerto, melihat bahwa lahan di wilayah kota telah menipis untuk dijadikan sebagai permukiman warga. Bahkan gang-gang kampung di sekitar Alun-Alun Kota Mojokerto memperlihatkan permukiman padat penduduk dengan ciri khas jalan sempit.

Maka dari itu, tak heran jika konsumsi sampah masyarakat Kota Mojokerto sangat tinggi per harinya. Sebab, pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat turut berkontribusi dalam meningkatkan volume sampah di wilayah ini.

TPA Randegan: Sebuah Komparasi Peta

TPA Randegan merupakan satu-satunya tempat penampungan akhir sampah di Kota Mojokerto. Sehingga TPA ini menjadi tulang punggung penampungan sampah selama beberapa dekade terakhir.

Peta TPA Randegan Tahun 2010 (Sumber: Via Google Earth)

Peta TPA Randegan Tahun 2010 (Sumber: Via Google Earth)

Peta TPA Randegan Tahun 2026 (Sumber: Via Google Earth)

Peta TPA Randegan Tahun 2026 (Sumber: Via Google Earth)

Jika dilihat dalam perbandingan peta dari TPA Randegan tahun 2010 dengan 2026, akan tampak jelas perubahan lanskap di sekitar TPA ini. Pada tahun 2010, di bagian kanan peta masih menunjukkan kenampakan sawah yang rapi. Namun, jika dilihat pada tahun 2026, kawasan telah berubah total menjadi penampungan sampah.

Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan volume sampah di Kota Mojokerto dari tahun ke tahun mengalami peningkatan signifikan dan tak terkendali.

Sehingga solusi sangat diperlukan untuk menekan angka tersebut seperti yang telah diimplementasikan sebelumnya. Tidak hanya itu, kesadaran juga turut berperan dalam menciptakan kota yang rapi, bersih, dan sehat bagi seluruh warganya.


메타데이터
post_id
753d83c22c35
slug
menyingkap-gunung-sampah-di-kota-kecil-mojokerto-753d83c22c35
url
https://medium.com/@ahmadsahnun288/menyingkap-gunung-sampah-di-kota-kecil-mojokerto-753d83c22c35
canonical_url
https://medium.com/@ahmadsahnun288/menyingkap-gunung-sampah-di-kota-kecil-mojokerto-753d83c22c35
author_url
https://medium.com/@ahmadsahnun288
status
ok
fetched_at
2026-07-13 19:25:35