← Back to list

How I Measure Toxicity

Toxic, dalam arti sesungguhnya, berarti racun. Beberapa makhluk hidup memiliki racun ini, termasuk manusia. Namun, manusia memiliki both…

Raymundus Jati Primanda · 2023-07-19 08:08 · 3 claps · 5.9 min read
#toxic-relationships #visual-modeling #indicators #filters
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

How I Measure Toxicity

Toxic, dalam arti sesungguhnya, berarti racun. Beberapa makhluk hidup memiliki racun ini, termasuk manusia. Namun, manusia memiliki both toxin and its remedy.

It’s a beautiful paradox.

lo harus punya takaran untuk mengukur tingkat racun pada seseorang agar bisa tetap waras melanjutkan hidup. why?

karena gue merasa kita tidak akan terlepas dari namanya berinteraksi dengan orang lain. Entah itu orang-orang terdekat, orang-orang yang kita kenal, mau pun orang-orang asing. Semakin banyak berinteraksi, semakin besar kemungkinan kita terpapar dengan orang-orang toxic.

That’s the reason lo harus punya takaran untuk mengukur tingkat racun pada seseorang, entah itu orang yang penting untuk lo mau pun orang asing.

Pada kesempatan ini, gue ingin sharing mengenai salah satu takaran penting yang gue kembangkan dan pakai sehari-hari untuk stay sane dan terhindar dari hubungan yang tidak sehat dengan siapa pun.

Takaran ini bisa lo pakai untuk membuat keputusan untuk melanjutkan, menghindari, atau mendelegasikan, atau melepas relasi apapun. Gue memvisualisasikan takarannya seperti ini:

RJP’s People Toxicity Dashboard

RJP’s People Toxicity Dashboard

The Origin of Dashboard

Gue sedikit curhat mungkin ya mengenai asal usul mengapa dashboard ini bisa muncul tiba-tiba di kepala gue.

Salah satu triggernya karena gue prihatin dengan teman-teman dekat gue yang terjebak dalam hubungan toxic dengan pasangan mereka. Jumlah teman-teman gue yang terjebak engga bisa dihitung dengan jari. It’s very very concerning.

Ini salah satu tools untuk decision making process yang selalu gue ajukan ke teman-teman gue untuk decide apa yang harus mereka lakukan di hubungan mereka.

Pernah mendengar teman kita ngeluh seperti ini?

Gue cape banget menghadapi pacar gue. Udah berkali-kali gue ingetin supaya engga bentak-bentak gue, eh dia malah makin menjadi. Untung aja gue sayang. — Teman A

Atau mungkin curhat mengenai lingkungan kerja seperti ini:

Ray, gue tuh heran sama si X. Udah tau ide untuk melakukan A di divisi gue tuh dari gue, eh dia malah mengambil semua kredit untuk itu. Gue udah sampaikan concern gue, tp dia tetap melakukannya. Engga cuma sekali atau dua kali. Dia berkali-kali melakukan itu. I’m so done with this . Gue udah hilang respect sama dia— Teman B

The Energy Gauge

Dari kedua contoh di atas, gue memvisualisasikan seberapa capenya kondisi mereka saat itu. Seperti takaran bensin di mobil, energi mereka pada kasus itu sama-sama pada titik rendah.

Namun decision yang mereka ambil berbeda.

The Importance Gauge

Teman A memilih untuk mempertahankan karena pacarnya itu masih penting untuknya. Sedangkan teman B memilih untuk melepas relationship itu dengan resign dari jabatannya karena hubungan mereka tidak terlalu penting.

Disini gue memvisualisasikan takaran seberapa pentingnya hubungan teman-teman gue ini dengan masing-masing pacar / teman itu seperti takaran bensin juga. Semakin penting hubungan itu, semakin resistant mereka terhadap toxicity hubungannya itu.

The Resistance Level

Tapi tidak selamanya kita bisa resistant terhadap toxin pasangan. Ada masanya kita juga dalam kondisi yang tidak baik-baik saja atau vulnerable secara emosional. Ketika kita dalam kondisi buruk itu, kita semakin sensitif terhadap toxin dan bisa meningkatkan toxicity level dari pasangan kita.

Disitulah indikator resistance muncul.

The Toxicity Indicator

Nah, hal terpenting dari semuanya adalah takaran toxicity itu tersendiri. Seperti yang gue sampaikan pada awal story ini, orang memiliki toxin dan juga remedynya. That’s why takarannya memiliki dua sisi, yaitu healing di paling kiri dan breaking the paling kanan.

Most of the time, toxicity level dari teman/pasangan kita berada di antara neutral-healing atau neutral-threatening.

Jika ada kondisi dimana toxicity level hubungan penting kita berada di threatening-breaking dan energy kita sedang rendah, ada kemungkinan lo akan menjadi vulnerable dan it may break you. You may need to find someone to “heal” you in your vulnerable time.

When to Keep Going On

Hubungan yang baik tidak selalu dalam kondisi yang baik. Terkadang, ada masanya ketika terjadi konflik antara lo dan teman/pasangan lo, hubungan teman-teman menjadi renggang. But, that’s okay!

Selama lo merasa dia adalah orang penting di hiduplo, beberapa threatening toxin pun seharusnya tidak membunuhlo.

The key question is, apakah dia masih penting dan worth untuk diperjuangkan?

What hurts you, yet doesn’t kill you, make you stronger.

Ini berlaku juga di hubungan yang sehat. Justru ini adalah kondisi yang paling optimal untuk menumbuhkan rasa percaya dan kehandalan teman / pasangan lo.

There is no “no-conflict” relationship. They’re either faking it or after something that only you possess.

Ketika ada konflik, selesaikanlah dengan intensi untuk mempertahankan pertemanan. Lo bisa decide untuk:

  • berkolaborasi (sama-sama mencapai titik penyelesaian),
  • mengakomodasi (menurunkan ego sendiri untuk mencapai titik penyelesaian),
  • mendominasi (mengutamakan ego untuk mencapai titik penyelesaian), atau
  • sama-sama melupakan ego untuk mempertahankan relationship itu.

When to Seek a Help

Ketika sebuah konflik yang berkepanjangan sama-sama menguras tenaga lo dan teman/pasangan lo, tapi lo masih merasa hubungan ini perlu dipertahankan, disitu lah lo memerlukan pihak ketiga untuk membantu lo mempertahankan relasi lo dan teman/pasangan lo.

Pihak ketiga ini akan bertindak sebagai mediator / pihak yang terekspos dengan toxin dari teman/pasanganlo secara langsung. Sebut saja psikiater, psikolog, sahabat lo, atau mungkin orang-tuanya. Anyone yang lo rasa bisa membantu mempertahankan hubungan lo ini bisa dijadikan pihak ketiga ini.

Pastikan orang yang lo percayai ini tidak menambah “dosis” di konflik / toxin yang sedang lo hadapi. Bisa jadi ada beberapa orang tertentu yang justru memperkeruh keadaan. No matter what, jangan melupakan intensi utama lo, yaitu mempertahankan hubungan lo ini.

When to Avoid or Give it a Break

Ini adalah titik terberat dalam hubungan lo. Pada kondisi ini lo udah menjalani konflik berkepanjangan tanpa solusi yang pasti. Banyak orang-orang termasuk teman gue sendiri pernah terjebak dalam perangkap di titik ini. Solusi paling baik di titik ini adalah menghindar. Jauhkan dirilo dari orang ini, baik secara fisik maupun mental.

Perangkap atau manipulasi yang sering terjadi di titik ini adalah half of the time, teman / pasangan lo ini akan menolak semua permintaan lo. But the other half of time, mereka akan memenuhi semua permintaan lo. Ini teknik manipulasi yang sering terjadi dan lo harus aware dengan ini.

Disini energi lo sedang sangat rendah, dan lo sangat sensitif terhadap toxin mau pun remedy yang diberikan orang lain terhadaplo. Terlebih kalau lo terpapar toxin terlalu lama. Any remedy dari siapa pun akan lo terima, terkadang tanpa memikirkan konsekuensi ke depannya.

It’s scary. Avoid this scenario as much as you can. Ketika sudah ada tanda-tanda manipulasi, you must avoid this person as fast as you can. You won’t be sane if you still try to build / maintain your relationship.

When to End or Leave

Toxin level di titik ini sudah mencapai di titik merusak. Baik secara fisik mau pun mental. Catcalling, KDRT, gaslighting, ancaman, dan merendahkan sudah masuk dalam kategori breaking.

Orang-orang yang masuk toxicity kategori ini memiliki ciri khas tersendiri. Cara lo mengidentifikasinya adalah lo sering menanyakan: “kok nih orang bisa tega melakukan itu ya?”. Lo pasti akan mempertanyakan intensi seseorang melakukan sesuatu ke lo.

Banyak orang yang masih bertahan meskipun berada di hubungan toxic-breaking ini. Untuk mereka yang bertahan, mereka masih menganggap penting orang ini. Sedangkan untuk yang melakukan toxin ini, mereka sudah tidak peduli.

Apakah hubungan seperti itu bisa berjalan? Tentu saja tidak. Dipaksakan juga yang ada itu akan merusak fisik mau pun mental lo.

Your mental health matters, brother and sister. Let em go. Break free from the chain. Avoid to meet them in the future.

But your greatest homework would be forgiving someone who doesn’t what to apologize.

It will be hard, but you should do it for yourself.

Love yourself

Afterwords

Meskipun di dalam contoh ini lebih banyak digunakan dalam romantic relationship, dashboard ini berguna juga untuk menyeleksi orang-orang baru yang berusaha masuk ke hidup lo.

Jangan sampai lo menerima orang-orang toxic-threatening dan toxic-breaking ke dalam hidup lo.

Semoga takaran ini bisa lo pakai juga untuk hiduplo. I’d be happy to answer your questions in the discussion / comment sections

Stay awesome my friends. Please keep supporting me by following and subscribing to my latest stories

See ya!


메타데이터
post_id
759300ac970
slug
how-i-measure-toxicity-759300ac970
url
https://medium.com/@mundus/how-i-measure-toxicity-759300ac970
canonical_url
https://medium.com/@mundus/how-i-measure-toxicity-759300ac970
author_url
https://medium.com/@mundus
status
ok
fetched_at
2026-06-16 19:09:56