Bertanya pada Malam
Bertanya pada Malam
Hai, ini saya. Saya yang sudah terlalu asing dengan dunia saya sendiri. Bahkan hampir kehilangan apa yang melekat pada diri saya. Di penghujung tahun 2023 ini, saya melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Pun, terpikir juga tidak.
…..
Sore itu terlalu gelap untuk dirasa. Embusan angin beradu dengan ombak sungai yang menghantam pelataran kaki jembatan. Di antara anak tangga yang lusuh, ditemani dua gelas teh hangat dan semangkuk bakso tanpa kuah, saya memulainya. Kata-katanya sudah saya susun dengan rapi dari rumah. Sebelum akhirnya, malam menghampiri saya dari belakang. Ya, dia yang saya sebut sebagai malam dari permai. Malam yang saya harapkan menjadi tempat ternyaman, setelah hari yang menyakitkan.“Kurang jauh. Kenapa tidak sekalian sampai bawah saja. Atau duduk di perahu itu,”
Terlalu banyak cerita yang dibacakan. Hingga akhirnya, tanpa disadari bakso di dalam mangkuk hanya tersisa dua saja.
“Apa boleh saya bertanya?”
“Boleh. Apa?”
Masih enggan saya tanyakan. Antara ragu atau bahkan tidak berani sama sekali.
Hening. Angin makin kencang. Sore makin gelap. Tidak ada jingga dan lembayung senja di sana. Semua abu-abu, kelam. Apa langit tahu bagaimana suasana hati saya?
“What are we?”
“Maksudnya?”
Entah saya yang salah bertanya, atau dia yang memang tidak mengerti arah pertanyaan saya. Daripada kalimat, sebenarnya kita ini apa? Pun saya buat agak sedikit enak didengar. Karena jujur dari yang paling jujur, saya tidak berani bertanya.
“Maaf harus bertanya. Saya pikir ini perlu saya tanyakan. Supaya saya bisa memposisikan diri saya saat memberikan respon, Mas,”
Sekarang dia yang hening. Sudut matanya mengarah pada saya. Tapi enggan saya lihat. Dia menunggu kalimat berikutnya dari saya.
“Kalau punya tujuan di masa depan bersama saya, ayo berjuang sama-sama. Kalaupun hanya sebatas teman,… It’s ok,” kemudian saya lanjutkan.
“Saya bertanya seperti ini bukan berarti menuntut untuk dijadikan pacar atau dinikahi segara. Tidak. Sama sekali tidak. Saya tahu, Mas punya banyak mimpi yang sedang diperjuangkan. Banyak keinginan yang harus diwujudkan sebelum menikah. Pun sama, saya juga,”
Dia masih diam. Kemudian setelah keheningan yang dilewati, dia coba menjelaskan dengan cerita dan pengalamannya. Tapi tidak mengarah pada dua pilihan yang saya berikan.
“Pilihan saya hanya dua,”
“Tapi saya punya jawaban sendiri. Jalani saja dulu,”
…..
Boleh jadi hal terbodoh yang saya lakukan di tahun 2023, adalah menanyakan kepastian. Bertanya kita ini apa, ke mana arahnya. Tidak seharusnya saya bertanya. Harusnya saya mundur, saat dia mengatakan bahwa saya adalah teman spesial. Subjeknya sudah jelas, te-man. Ada rasa ingin membuang seluruh wajah saya, atau mungkin langsung menghilang saja, saat kalimatnya sampai pada, jalani saja. Karena sejatinya, kalau dia memang menginginkan saya, dia pasti tidak akan membuat saya bingung.
Atau mungkin memang saya yang salah. Seharusnya saya tidak perlu membawanya sampai ke perasaan saya, saat membicarakan masa depan bersama saya. Karena boleh jadi itu adalah bayang-bayang rencananya, bersama seseorang yang bukan saya.
Seharusnya saya sadar dari awal, kalau saya bukan apa yang dia inginkan di masa depannya. Karena teman spesial, bukan berarti akan menjadi teman hidup.
Di saat saya tersesat dalam kebingungan yang saya rasakan, di saat itu pula dia kembali pergi. Tanpa mengizinkan saya, melihat tatapannya di antara kursi tunggu di terminal seperti biasa.
Saya berpikir bahwa saya sedang dikejutkan oleh suatu keadaan. Jatuh cinta tanpa sengaja, pada dia yang tanpa sadar sudah selalu menjelma dalam bait-bait puisi malam saya. Jatuh cinta bahkan di saat saya belum siap untuk jatuh cinta. Jatuh cinta di saat saya tidak ingin jatuh cinta kepada siapapun. Jatuh cinta di saat saya yang boleh jadi sudah mati rasa. Jatuh cinta di saat saya berpikir bahwa, saya mungkin tidak akan lagi membuka hati. Tapi dia, membuat saya ingin sekali kembali untuk percaya. Dia mengambil kembali perasaan saya yang hilang. Dan pada saat itu saya terlalu percaya bahwa, Tuhan memang mendatangkannya untuk saya. Menjawab doa-doa yang saya langitkan untuk tidak ingin mengenal orang baru. Jatuh cinta kepadanya sungguh di luar kendali saya. Karena dia memang orang yang sudah lama ada pada hidup saya. Dikirim sejak hitungannya masih satu.
…..
Sekarang sudah 1 Januari 2024. Ini mungkin celotehan isi kepala saya yang terpanjang. Karena sudah sampai pergantian tahun, maksud saya. Saya berikan dua kalimat sebagai penutup, atau mungkin ini adalah awalnya.
Hai, Malam. Jika di ujung nanti kamu tak kunjung memilih saya, saya akan tetap mendoakan dari dalam ruang tersunyi yang pernah saya miliki. Saya tetap bersamamu, meski sudah kamu tinggalkan sejauh-jauhnya. Di mana pun, dan bersama siapa pun kamu, saya harap kamu tidak pernah merasakan perih dari luka yang saya miliki saat melihatmu pergi.
Sejauh ini, saya masih memuji-muji takdir, karena sudah bersedia menuntun saya untuk bertemu malam. Meski akhirnya takdir pulalah yang membawa saya menyusuri kerinduan di antara bingung yang entah di mana dan kapan berakhirnya.
Ditulis; 31–12–23 sampai 01–01–24
메타데이터
- post_id
- 75a7dd481b86
- slug
- bertanya-pada-malam-75a7dd481b86
- url
- https://medium.com/@kalalingga/bertanya-pada-malam-75a7dd481b86
- canonical_url
- https://medium.com/@kalalingga/bertanya-pada-malam-75a7dd481b86
- author_url
- https://medium.com/@kalalingga
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 03:41:49