I love you, i’m sorry.
A short story about a boy who fell in love with his best friend and felt sorry about it.
I love you, i’m sorry.
A short story about a boy who fell in love with his best friend and felt sorry about it.
Entah sejak kapan Renjun mulai merasakan perasaan ini. Perasaan yang ia sendiri tidak mengerti, mengapa harus terjadi pada dirinya? Bukankah seharusnya Renjun yang notabenenya adalah laki-laki menyukai perempuan? Lalu kenapa hatinya justru jatuh pada seseorang yang memiliki gender yang sama dengan dirinya, yang lebih parahnya adalah sahabatnya sendiri. SEJAK KECIL.
“Pulang bareng gak, Ren?” suara seseorang menyadarkan Renjun dari lamunannya.
“Anne gimana, Jen? kalian gak balik bareng?”
“Dia lagi rapat OSIS sampai malam, jadi nyuruh gue balik duluan aja” Pantas saja. Kalau Anne ada, mana mungkin Jeno mengajaknya pulang bersama.
“Kalo gitu boleh Jen, hitung-hitung hemat ongkos hehe” Alasan. Sebenarnya, ia hanya rindu pulang bareng Jeno. Semenjak Jeno dan Anne pacaran, mereka jadi jarang menghabiskan waktu berdua. Bahkan untuk sekadar hangout saja bisa dihitung jari. Karena itu, perasaan bahagia perlahan memenuhi dada Renjun. Diam-diam ia berharap mereka tidak langsung pulang. Mungkin mampir sebentar ke warung nasi bebek langganan mereka, misalnya.
“Yaudah, ayo naik” Jeno menyerahkan satu helm kepada Renjun sebelum memakai helm miliknya sendiri. Dengan sedikit kesulitan, Renjun naik ke motor Jeno yang memang cukup tinggi untuk ukuran tubuhnya yang ehem “pendek.”
Sepanjang perjalanan Renjun tersenyum, menikmati momen mereka berdua. “Jen, mau makan nasi bebek pak Manto dulu gak?” katanya, dengan penuh harap.
“Sorry Ren, kayaknya langsung balik aja, ngantuk banget parah. Semalem gue VC sama Anne sampe jam 3 subuh” mendengar itu, senyum Renjun perlahan memudar. Ia ingin cemburu, tapi sebenarnya apa haknya sih? Wajar kalau Jeno menghabiskan waktu semalaman dengan pacarnya sendiri. Renjun tahu itu. Namun, hatinya tetap saja terasa nyeri. Perasaan suka yang ia miliki untuk Jeno terlalu dalam untuk bisa dikendalikan begitu saja. Because he falls in love so deeply with Jeno.
“Oke Jen, langsung balik aja, kasihan kamu kecapean” Setelah itu, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Hanya suara angin dan deru motor yang menemani perjalanan sampai akhirnya mereka tiba di depan rumah Renjun.
Saat Renjun turun dan hendak mengembalikan helm, Jeno tiba-tiba membuka kaca helmnya.
“Ren, berhenti suka sama gue yah” Hampir saja Renjun limbung mendengar pernyataan Jeno barusan. Darimana Jeno bisa tahu bahwasanya Renjun suka sama dia?
“Maksud kamu apa yah, Jen?” sejujurnya Renjun sangat bingung ingin bereaksi atau berkomentar seperti apa.
“Gue tahu kok, lo suka sama gue. ita temenan dari kecil, Ren. Gak mungkin gue gak sadar.” tepat sasaran, dan Renjun semakin bingung untuk bicara ataupun mengelak.
“Lo tahukan, gue suka cewek Ren, dan semestinya lo juga demikian. Jangan melenceng dari norma” setelah mendengar kalimat itu, mata Renjun berkaca-kaca, karena dia sendiripun tidak ingin seperti ini, namun rasanya perasaan sukanya pada Jeno sangat sulit dikubur.
“Sebelumnya maaf yah Jen, kalo aku suka sama kamu. Aku udah coba untuk gak suka, tapi perasaannya gak hilang-hilang. Maaf sudah melenceng dari norma, dan maaf juga sudah jatuh cinta sama kamu” Jeno yang mendengarnya terdiam sebentar, kemudian mengangguk.
“Gue harap setelah ini lo bisa jatuh cinta sama cewek yah Ren.” setelah mengatakan itu, tanpa menunggu jawaban Renjun, Jeno langsung menancapkan gas motornya dan menyisakan Renjun yang akhirnya air matanya keluar juga setelah ia coba tahan.
Renjun merasa bersalah atas perasaannya,
kenapa harus laki-laki?
kenapa harus Jeno?
dan kenapa harus ia yang mengalami ini?
END, 6 May 2026
메타데이터
- post_id
- 75b79dff4ba5
- slug
- i-love-you-im-sorry-75b79dff4ba5
- url
- https://medium.com/@yellownadil/i-love-you-im-sorry-75b79dff4ba5
- canonical_url
- https://medium.com/@yellownadil/i-love-you-im-sorry-75b79dff4ba5
- author_url
- https://medium.com/@yellownadil
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 12:51:24