← Back to list

HAI

Cerita di warung kopi

Bantara Putra Bentala in Meja Sajak · 2026-06-28 13:53 · 85 claps · 3.2 min read
#humor #cerita-mini #cermin #meja-sajak #hidup
Open on Medium ↗
Wiki topics: 😂 · Humor & Satire

HAI

Photo by Parker Coffman on Unsplash

Photo by Parker Coffman on Unsplash

Hai, namaku Rama. Cita-citaku sebenarnya menjadi astronot, tetapi takdir berkata lain.

Dan sekarang, di sinilah aku. Di sebuah bangunan dengan panjang empat meter dan lebar tiga setengah meter, disertai dinding bata merah, ditemani serenceng kopi saset dan berbagai jenis rokok.

Sebenarnya aku tidak ingin menjadi penjaga kedai kecil ini, namun apa daya, ekonomi memaksaku untuk menggeluti bidang ini. Ia tidak mendukungku untuk menggeser Neil Armstrong dari leaderboard NASA, tetapi tidak apa-apa, aku tetap bersyukur.

Setidaknya, di sini aku bisa meminum kopi, makan camilan, merokok, dan mendengar keluh kesah beragam manusia dengan bermacam-macam watak dan profesi.

Malam ini langit menurunkan butiran-butiran kecil air dengan tenang tanpa disertai angin dan sambaran kilat. Hal itu membuat rasa kantuk menyerang mataku yang berjam-jam menyaksikan layar ponsel.

Semua itu tak bertahan lama karena fokusku teralihkan kala ada suara yang menyapaku.

“Bang, beli kopi item dua sama rokoknya sebungkus,” ucap pemuda itu.

Lalu dia pun berlalu dan duduk di samping pintu masuk. Kuamati dia sambil menyeduh kopi pesanannya. Dia melakukan banyak gerakan, seperti menggosok muka, menjambak rambut, berdengus kasar, sampai pada akhirnya dia mengadahkan tangannya sambil menutup mata.

Setelah selesai menyeduh kopi, aku pun mengantarkan minuman itu ke mejanya.

“Silakan diminum, Mas,” ucapku sambil tersenyum.

Dia membalas dengan matanya yang kosong.

Bukan, maksudnya tatapan yang kosong. Sebab kalau matanya yang kosong, tidak ada bola matanya. Bisa saja aku teriak dan melempar kopi panas itu ke wajahnya.

Lalu, aku mengambil inisiatif untuk duduk di sampingnya dan meminta izin untuk menemaninya. Barangkali dia butuh saran dan masukan atau sekadar teman mengobrol. Aku siap membantu, kecuali jika topik obrolannya soal menghina rezim atau dia tiba-tiba meminjam uang. Maka, dengan senang hati aku akan melipir pergi dari hadapannya.

Namun, kenyataannya itu tidak terjadi. Setelah dia mengizinkanku duduk dan menemaninya, dia hanya diam sambil menikmati sebatang rokok. Sesekali ia juga menyeruput kopi panasnya dengan sedikit tidak hati-hati.

Aku pun hanya mengamatinya tanpa niat memperingatkan. Toh dia sudah besar. Tidak usah diberi tahu soal hal-hal yang remeh begini.

Hening pun sirna kala dia mulai membuka suaranya. Dia bertanya kepadaku bagaimana cara menghadapi pacar yang selalu saja menelepon tanpa melihat waktu.

Kutanya balik, “Apa kesibukanmu dan apa kesibukan pacarmu?”

Dia menjawab bahwa dirinya sedang merintis usaha, sedangkan pacarnya adalah anak kuliahan semester enam.

Hah, sekarang aku paham inti permasalahannya. Aku pun turut membakar rokok. Jelas rokokku sendiri, masa aku minta rokok pada pelangganku.

Aku jelaskan bahwa pada dasarnya pola pikir kalian itu berbeda. Wajar saja jika pacarmu terus meneleponmu. Barangkali dia memiliki segudang cerita tentang kehidupannya di kampus.

Kau harus bisa mengerti bahwasanya jika kau berpacaran, maka itu sudah menjadi risikomu. Dan menurutku, hal itu sangat mengganggu pikiranmu yang terus berputar mencari celah untuk memajukan usahamu.

Ucapku santai.

Dia hanya diam, entah merenungi ucapanku atau memikirkan pacarnya. Aku tidak tahu dan aku juga tidak terlalu peduli, karena itu haknya.

Dia bertanya lagi bagaimana caranya agar pacarnya bisa mengerti kondisinya, karena sering kali sang pacar menuduhnya sedang berselingkuh, padahal dia sibuk ke sana kemari menjajakan produknya.

Oh, malangnya nasib pemuda ini. Semoga mentalmu kuat, karena sekarang pergi ke psikolog itu mahal biayanya.

Aku memberinya saran untuk mengajak sang pacar berdiskusi dengan lembut dan memberikan kalimat-kalimat yang bisa membuatnya tenang serta percaya. Lebih bagus lagi kalau sang pacar mengerti dan memberikan dukungan.

Setelah mendengar saranku, dia mengangguk setuju. Lalu, dia merogoh saku celananya, mengeluarkan benda pipih, dan mulai memainkannya. Mungkin dia sedang mengirim pesan kepada sang pujaan hati.

Hal itu membuatku tersenyum sambil menyeruput kopi.

Sebentar.

Ini kopi milik pelangganku.

Aduh, dasar otak pelupa. Untung pemiliknya tidak tahu. Aku buru-buru menyimpan gelasnya sambil berpura-pura mengelap meja.

Setengah jam aku diam melihat dia bertukar pesan dengan pasangannya. Jika dihitung, ada lima kali dia mengendus, ada tiga kali dia mengumpat, ada tujuh kali dia mendecak, dan sekali dia memejamkan matanya cukup lama.

Setelah enam puluh menit, akhirnya dia menyimpan ponselnya. Dia meneguk kopinya, lalu menyandarkan tubuh di bangku. Ia bergumam kecil seolah sedang mengalami musibah besar.

Dengan kesadaran penuh, aku menepuk bahunya pelan sambil menyemangatinya.

Dia tersenyum lebar, lalu berterima kasih kepadaku. Katanya, berkatku ia tahu bahwa pacarnya itu bukan perempuan terbaik baginya.

Dia lanjut bercerita tentang bagaimana sang pacar menuntutnya untuk menjadi sempurna. Namun, jika dia menuntut balik, maka pacarnya akan marah dan mengatakan bahwa dia cowok patriarki. Dan masih banyak hal lain yang pelangganku ceritakan.

Ia pun bangkit dan mulai mengoceh bahwa cita-cita tidak bisa berjalan bersama dengan cinta, dan harus ada salah satu yang dikorbankan.

Ia memelukku dan membayar pesanannya. Dia bahkan memberiku uang lebih, membuatku tersenyum sambil kebingungan.

Setelah ia pergi, aku sadar bahwa aku pun sudah empat tahun tidak berpacaran. Lantas mengapa aku bisa memberi saran soal asmara? Wah, sungguh keajaiban yang mesti diabadikan di etalase warungku.


메타데이터
post_id
75e78f09d8f0
slug
hai-75e78f09d8f0
url
https://medium.com/meja-sajak/hai-75e78f09d8f0
canonical_url
https://medium.com/meja-sajak/hai-75e78f09d8f0
author_url
https://medium.com/@cagak.mahardika
status
ok
fetched_at
2026-07-09 15:12:33