Kesadaran Manusia dan Relativitas Fisika
Mimpi dan kenyataan merupakan dua hal yang berbeda. Jika bermimpi dirasakan saat kita tertidur (tidak sadar), kenyataan dirasakan saat kita…
Kesadaran Manusia dan Relativitas Fisika

Mimpi dan kenyataan merupakan dua hal yang berbeda. Jika bermimpi dirasakan saat kita tertidur (tidak sadar), kenyataan dirasakan saat kita sadar. Perbedaan keduanya didasarkan atas definisi sadar dan tidak sadar yang sifatnya absolut dan pasti. Namun apa jadinya jika keduanya ternyata tidak absolut, melainkan relatif? Bagaimana jika ternyata keduanya tidak ada dan portal antara mimpi dan nyata hanyalah perbedaan perspektif belaka? Hal inilah yang telah menjadi pusat perdebatan ilmuwan selama ribuan tahun. Dari dulu hingga sekarang, belum ada yang mampu menjelaskan konsep kesadaran dan definisinya secara neurologis. Tetapi, hal tersebut mungkin saja berubah baru-baru ini berkat gagasan dua fisikawan yang mendobrak nosi kesadaran.
Sebagai pendahuluan dan pemudah penjelasan, Penulis ingin memberikan ilustrasi sederhana terlebih dahulu. Posisikan Anda sebagai orang yang tertidur dan sedang bermimpi. Di dunia Anda sekarang, “mimpi” tersebut kini menjadi “kenyataan” dan dunia yang “sesungguhnya” menjadi “mimpi”. Sebaliknya, pada orang yang terbangun, “mimpi”-lah yang “tidak nyata” karena dirinya sedang “sadar”. Di sini, dapat kita lihat bahwa perspektif seseorang yang sadar dan tidak, memiliki kemiripan dengan peristiwa relativitas pada fisika. Fenomena ini dapat pula dianalogikan sebagai seseorang yang bergerak dengan kecepatan konstan akan melihat temannya yang “diam” bergerak. Sementara pada perspektif temannya yang diam, dialah yang bergerak. Dengan menggunakan konsep dasar teori relativitas tersebut, tidak ada pengamat yang lebih benar dalam melakukan observasi. Perbedaan yang muncul antara pengamat hanya disebabkan oleh berbedanya frame of reference, sementara realita yang diobservasi adalah satu hal yang sama.
Menurut Relativistic Theory of Consciousness gagasan Nir Lahav dan Zachariah A. Neemeh, kesadaran bukan merupakan hasil rekayasa otak (imajinasi), melainkan hasil pengukuran fisis terhadap alam sekitar. Sehingga, jika dikaitkan dengan teori relativitas, dua subjek dapat memiliki hasil observasi yang berbeda atas realita yang sama. Seorang ilmuwan yang ingin meneliti kesadaran subjek eksperimen tidak akan mampu untuk melakukannya karena perspektif ilmuwan (sebagai orang ketiga) dan subjek (sebagai orang pertama) tidak akan pernah sama — selaras dengan konsep relativitas fisika.
SUMBER:
oleh NAMA: ANDI SAFA AFIANZAR (10221080) NIM TPB: 16021174 JURUSAN: FISIKA
메타데이터
- post_id
- 75ec2d0c9e52
- slug
- kesadaran-manusia-dan-relativitas-fisika-75ec2d0c9e52
- url
- https://medium.com/@atafianzar/kesadaran-manusia-dan-relativitas-fisika-75ec2d0c9e52
- canonical_url
- https://medium.com/@atafianzar/kesadaran-manusia-dan-relativitas-fisika-75ec2d0c9e52
- author_url
- https://medium.com/@atafianzar
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 18:12:23