← Back to list

Kung, Cucumu Sedang Merasakan Asam Manisnya Kehidupan Dewasa

Surat Kedua dari Nia untuk Kakung

Karunia Safitri in Ruang Kontemplasi · 2026-06-11 04:33 · 312 claps · 3.4 min read paywalled
#ruang-kontemplasi #bahasa-indonesia #refleksi #journaling #jurnal
Open on Medium ↗

berdamai dengan hidup

Kung, Cucumu Sedang Merasakan Asam Manisnya Kehidupan Dewasa

Surat Kedua dari Nia untuk Kakung

Photo by Sixteen Miles Out on Unsplash

Photo by Sixteen Miles Out on Unsplash

Lanjutkan membaca bagi non-Member dengan klik ini.

Kung! Astagaa! Akhirnya kita berjumpa Kembali. Sudah lama aku ingin ngobrol lagi. Aku sebenarnya enggan menggunakan dalih kesibukan, tetapi kenyataannya memang begitu. Aku berangkat kerja sebelum 7.30 dan pulang kerja 17.00. Normal sebenarnya. Hanya saja terkadang ada yang membuatku pulang lebih lama, atau aku mengalihkan diri sejenak dengan jalan-jalan yang terkadang bersama teman-temanku.

Setiap hari aku juga perlu satu jam untuk PP kerja. Kantorku dekat Kayutangan.

Eh, Kayutangan sekarang bagus kung. Mirip-mirip Malioboro. Sekarang dibuat satu arah, dan ketika renovasi dulu sempat ditemukan jalur lori lama. Katanya Uti, kalian dulu bepergian menggunakan lori itu. Asapnya mengotori penumpang, harus berdesakan, minim fasilitas, dan kekurangan-kekurangan lainnya.

Sekarang tidak perlu lagi dengan lori karena sudah ada motor, bahkan hidup dipenuhi dengan kenyamanan dan kemudahan. Ojek sekarang bisa online lewat HP, bahkan memesan makanan hingga segala keperluan lainnya. Aku jadi ingat, dulu kakung sering pengen sate ayam ketika sore menjelang malam. Kita punya langganan. Aku dan uti akan tetap membelikanmu sate walau hujan-hujan. Haha.

Sekarang tidak harus susah-susah begitu, kung. Kita bisa pesan makanan dari HP dan nanti satenya akan dikirm sama mas ojeknya. Tapi, apalah arti itu semua ketika tiada lagi yang makan sate di depan televisi sembari melihat sepak bola bersamaku, bukan?

Eh, aku sampe lupa cerita. Aku kerja di salah satu cabang organisasi non profit. Lumayan lah, kung. Aku bisa service HPku sendiri — yang harganya cukup bikin tabungan terkuras itu huhu — terus aku bisa jalan-jalan kemana-mana dengan uangku sendiri, bisa membelikan Uti makanan tiap pulang kerja, pokoknya memenuhi kebutuhanku sendiri.

Uti tentu masih membantu, dan bantuannya amat berarti meskipun menurut orang lain sederhana. Seperti bekal yang sudah tersedia saat aku akan berangkat, pintu yang terbuka ketika aku sampai rumah, beban berberes rumah yang sudah dibagi, dan masih banyak lagi.

Kontrakku berjalan sampai akhir tahun ini. Aku sedang mempertimbangkan apakah akan perpanjang atau bagaimana. Kamu tidak perlu khawatir. Kalau aku bisa menaklukkan berbagai gunung seperti Merbabu, Paralayang di Batu, Canyoning di Lawang, dan Snorkeling di Gili Ketapang, maka pasti aku bisa menaklukkan hal selainnya.

Kadang aku bertanya-tanya. Kalau sudah cukup dengan diri sendiri begini, masihkah aku butuh orang lain?

Pernah seorang teman kutanyai untuk apa dia menikah, alasannya untuk seks, punya keturunan. Like, kok seremeh itu ya? Memangnya sudah siap dan bisa menjadi orang tua, bahkan di kala kondisi terendah dalam hidup? Menjadi manusia ketika bahagia itu mudah kan, tetapi jika kondisi sedang nggak baik-baik saja ituloh. Ya kan kung?

Katanya kehidupan itu paradoks. Weh, bisa ngomong gini Nia sekarang ya kung wkwkwk. Tapi aku sepakat. Sebab ada masa di mana “aku bisa melakukan berbagai hal dan juga merasa cukup dengan diriku sendiri, masih butuh cowok nih?” tapi ada juga masa di mana aku membayangkan mungkin akan menyenangkan bila ada seorang pria yang menatapku sebagaimana kamu menatapku.

Pria yang tersenyum amat tulus di kala merayakan keberhasilan satu sama lain, tetapi juga saling menggenggam dan berbagi peluk ketika masa duka datang. Pria yang mampu membicarakan arah masa depan pembangunan dan politik bangsa ini hingga sesederhana meributkan enaknya masak Indomie kuah atau yang goreng karena sama-sama sedang malas masak.

Lagipula Nia ketika pagi mode “baik”, “siap”, ”oke” tapi ketika sudah di atas jam 5 sore Nia akan mode “huaaaa capeeek laperrr ayooo pulang ayo makaaan!” Hahaha.

Dan di antara paradoks itulah, aku perlahan-lahan menemukan makna di balik kehidupan ini. Seperti, ternyata adanya pasangan akan membuat hidup ini seperti memiliki pelengkap. Kemudian, kehidupan dewasa yang sebenarnya itu ternyata ketika ada masalah atau dinamika dikomunikasikan dan diselesaikan dengan baik.

Aku masih berupaya untuk menjadi dan menemukan sosok yang bisa seperti itu. Yang dengan berani bilang “Kita bicara lagi ketika sudah lebih baik, tidak sedang emosi begini” ketika kami berselisih.

Yang tidak perlu didikte atau diajari mengimbangi kapasitasku dalam menjalani hidup; dari sesederhana “hai sayang, selain cantik kamu sudah ngapain saja hari ini?” sampai membicarakan “Menurutmu apa saja hal yang patut kita syukuri dan perlu kita evaluasi di hubungan ini?” secara berkala denganku.

Aku merasakan, dan mulai bertumbuh dari sana. Tetapi untuk bisa bersama dengan seseorang yang memenuhi kualifikasi bersama Nia tentu tidak boleh sembarangan. Sebab orang seperti itu tengah ditempa oleh kehidupan, sebagaimana Nia yang ditempa proses demi prosesnya.

Hidup yang ternyata asam manis ini sedang kunikmati, kusyukuri, dan kumaksimalkan. Asam manis enak soalnya, apalagi kalau dimasak jadi Koloke dan Fuyunghai. Hihihi.

Nanti kalau aku sudah menemukan orangnya, aku akan ceritakan padamu.

Untuk sekarang ini, keknya itu dulu deh kung. Aku mau lanjut kerja — ini aku nulisnya di sela-sela target dan deadline kerjaan. Kalau ga begitu kita gak ketemu soalnya. Sampai jumpa kembaliii. Tetaplah bertahan dalam alam penantian itu, tapi lepaslah risaumu jika bisa. Kami — aku dan uti — baik-baik saja di sini.

Doa kami masih terus mengalun untukmu, semoga mampu meringankan bebanmu dan mempertemukan kita semua nantinya di tempat terbaiknya.

Nia,

Beberapa bulan menjelang usia 25.

[embed]Kung, Cucu Perempuanmu Sedang Lelah dengan Hidup Akan Adakah Pria Lain Sepertimu Suatu Saat Nanti?medium.com


메타데이터
post_id
767b44fe3af2
slug
kung-cucumu-sedang-merasakan-asam-manisnya-kehidupan-dewasa-767b44fe3af2
url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/kung-cucumu-sedang-merasakan-asam-manisnya-kehidupan-dewasa-767b44fe3af2
canonical_url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/kung-cucumu-sedang-merasakan-asam-manisnya-kehidupan-dewasa-767b44fe3af2
author_url
https://medium.com/@karuniasafitri17
status
ok
fetched_at
2026-06-14 11:28:49