Negeri Bintang Utara: Ulas Buku Sang Pemimpi
Beberapa jam paling seru di tanggal 12 Januari.
Negeri Bintang Utara: Ulas Buku Sang Pemimpi
117 halaman itu aku tamatkan. Mungkin masih 105 halaman lagi yang belum kubaca sepenuhnya, tapi jelas sudah, aku yakin ini yang namanya jatuh cinta! Rasa-rasanya teringat beberapa semat kata yang sempat terucap temanku, ada keinginan yang besar untuk memiliki kemampuan yang besar dalam menulis hal-hal hebat seperti sang penulis.
Dua jam berlalu cepat. Semua halaman dari buku itu sudah kulahap habis. Lantas jika ditanya bagaimana perasaanku sekarang, jawaban yang paling tepat menggambarkan kondisiku adalah aku ingin menangis. Dalam beberapa kesempatan, aku menangis beberapa kali selama membaca buku ini. Tidak bisa kupungkiri bagaimana kisah tentang dua anak daerah yang berjuang menaklukan mimpi ini seolah mampu membiusku untuk terus bersemangat menyelesaikan segala sesuatu yang sudah kulakukan kemudian melanjutkan perjalanan ke negeri-negeri yang jauh layaknya mereka.
Photo by Jason Buscema on Unsplash
Negeri bintang utara, frasa itu seolah menyulap segala apa yang ada dipikiranku. Terjun bebas ke dalam dunia dan mengizinkan diri berpadu dengan bagaimana Ikal memandang Arai dan semesta. Beberapa kali pula aku menangis kecil, bukan karena kelelahan melainkan karena terlalu dalam membayangkan bagaimana perjuangan dua orang remaja yang bermimpi untuk menjelajahi dunia.
Bagian favoritku sendiri terletak saat Ikal dan Arai harus mempertahankan prestasi akademik mereka. Buku ini ditulis dengan sudut pandang Ikal, seorang anak yang harus bekerja keras untuk memiliki prestasi gemilang. Getir yang ia lalui rasanya benar-benar tersampaikan padaku. Hingga halaman 117, aku memutuskan buku ini dan 2 buku lainnya harus menjadi hadiah untuk diriku sendiri saat ulang tahun ke 22 tahunku di bulan Mei nanti. Rasa-rasanya, manifestasi dari kedua karakter ini begitu dekat dengan diriku sendiri. Walaupun mungkin sepenuhnya saat ini aku justru berada di titik “realitas” dan “mendahului hidup” yang sempat Ikal masuki (semester 5). Setelahnya, aku pun sadar bahwa badai tidak selamanya menetap di satu tempat. Dia datang dan dia juga pergi. Sama halnya perihal kegemilangan.
Sejatinya, ada banyak sekali pelajaran yang aku petik dalam buku ini. Percobaan gagal beasiswa hingga 13 kali, kerja keras menghidupi diri sendiri, kekeuh dan yakin bahwa pendidikan merupakan sarana untuk mengubah nasib menjadi hal-hal yang begitu berkesan untukku.
Beberapa kali buku ini juga mengingatkanku pada sosok-sosok yang pernah kutemui sebelumnya. Keputusanku yang bulat juga didasarkan oleh bagaimana anjuran dari mentor belajarku selama masa gapyear, ia berkata, “Baca darimana pun, kalau memang jatuh cinta dengan bukunya baru lu beli”.
Masih ada banyak hal yang ingin kutuliskan tentang buku ini. Tapi yang jelas adalah aku bersyukur bisa menemukan hal ini.
메타데이터
- post_id
- 7699ba11bcdb
- slug
- negeri-bintang-utara-ulas-buku-sang-pemimpi-7699ba11bcdb
- url
- https://medium.com/@hiretales/negeri-bintang-utara-ulas-buku-sang-pemimpi-7699ba11bcdb
- canonical_url
- https://medium.com/@hiretales/negeri-bintang-utara-ulas-buku-sang-pemimpi-7699ba11bcdb
- author_url
- https://medium.com/@hiretales
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-10 12:16:20