← Back to list

Saya Mulai Takut Kehilangan Ponsel

Saya mulai takut kehilangan ponsel. Bukan karena datanya. Bukan karena aplikasinya. Bukan karena foto-fotonya.

Tris · 2026-06-14 00:01 · 0 claps · 1.9 min read
#reflektif #moslem #inspiratif
Open on Medium ↗

Saya Mulai Takut Kehilangan Ponsel

Saya mulai takut kehilangan ponsel. Bukan karena datanya. Bukan karena aplikasinya. Bukan karena foto-fotonya.

Saya takut karena saya tidak lagi yakin bisa duduk diam selama tiga puluh menit tanpa benda itu.

Dan kalimat itu lebih mengganggu daripada harga ponselnya.

Beberapa tahun lalu saya pernah menunggu seseorang di sebuah kafe. Ia terlambat. Lumayan lama. Empat puluh menit. Saya masih ingat karena itu salah satu pengalaman spiritual yang cukup berat.

Yang menarik bukan soal terlambatnya. Yang menarik adalah selama menunggu saya tidak tahu harus melakukan apa. Saya membuka ponsel. Menutup ponsel. Membuka lagi. Menutup lagi. Lalu membuka aplikasi yang lima menit sebelumnya sudah saya buka.

Entah apa yang saya cari. Tetapi jelas bukan kebijaksanaan.

Saya mulai curiga. Jangan-jangan sebagian besar aktivitas digital kita bukan mencari informasi. Melainkan menghindari kesunyian.

Kalimat itu terdengar cukup dalam. Saya sempat bangga memikirkannya. Lalu lima detik kemudian membuka notifikasi yang sebenarnya tidak penting.

Perjalanan menuju konsistensi memang penuh tantangan.

Saya teringat kisah seorang sufi. Konon beliau bisa duduk berjam-jam dalam keheningan. Saya kagum. Sangat kagum.

Lalu saya mencoba duduk tanpa menyentuh ponsel. Tiga menit.

Menit keempat saya mulai merasa perlu memastikan apakah dunia masih berjalan dengan normal.

Yang lucu… teknologi awalnya diciptakan untuk menghemat waktu. Tetapi entah kenapa sekarang saya sering merasa waktu habis di dalamnya.

Masuk sebentar ke media sosial. Keluar satu jam kemudian. Dengan tambahan informasi yang tidak saya butuhkan.

Tentang: orang yang saya tidak kenal, sedang makan di tempat yang mungkin tidak akan saya kunjungi, bersama orang yang juga tidak saya kenal.

Manusia memang spesies yang unik.

Saya pernah membaca sebuah kisah tentang Imam Ghazali. Salah satu yang selalu membuat saya kagum adalah keberaniannya menghadapi dirinya sendiri. Menghadapi pikirannya. Menghadapi pertanyaannya. Menghadapi kesunyiannya.

Saya membaca itu malam hari. Lalu merenung. Lalu membuka video pendek.

Karena ternyata menghadapi algoritma jauh lebih mudah daripada menghadapi diri sendiri.

Suatu hari saya mencoba eksperimen. Ponsel saya tinggalkan di rumah. Sengaja. Hanya beberapa jam.

Awalnya terasa biasa saja. Lalu muncul gejala. Saya beberapa kali meraba kantong kosong. Persis seperti orang yang kehilangan sesuatu. Padahal yang hilang hanya akses terhadap meme dan notifikasi.

Di perjalanan saya mulai memperhatikan sesuatu. Langit ternyata masih ada. Pohon ternyata masih ada. Orang-orang ternyata masih ada.

Ini terdengar seperti penemuan yang sangat bodoh. Karena memang begitu.

Tetapi saya mulai sadar. Mungkin selama ini bukan dunia yang terlalu berisik. Mungkin saya yang terlalu takut pada sunyi.

Dan mungkin… itulah sebabnya kita terus menggulir layar. Terus mencari sesuatu. Terus membuka aplikasi berikutnya. Bukan karena selalu ada yang penting. Melainkan karena dalam keheningan… kadang kita akhirnya bertemu dengan diri sendiri.

Dan terus terang… itu tidak selalu menjadi pertemuan yang nyaman.


메타데이터
post_id
76c6cc16ee5a
slug
saya-mulai-takut-kehilangan-ponsel-76c6cc16ee5a
url
https://medium.com/@trisbetween/saya-mulai-takut-kehilangan-ponsel-76c6cc16ee5a
canonical_url
https://medium.com/@trisbetween/saya-mulai-takut-kehilangan-ponsel-76c6cc16ee5a
author_url
https://medium.com/@trisbetween
status
ok
fetched_at
2026-07-12 00:07:18