Hantu di Balik Playlist Itu
Mengapa ‘penyakit’ menaruh seseorang di dalam lagu ini tak perlu buru-buru disembuhkan?
Hantu di Balik Playlist Itu
Mengapa ‘penyakit’ menaruh seseorang di dalam lagu ini tak perlu buru-buru disembuhkan?

Meme terkait yang dimaksud (Cr: Kokoruyuk di Pintrest)
Beberapa minggu lalu, seorang teman melontarkan opini yang sukses membuatku terdiam sejenak. Sangat bertolak belakang dengan caraku menikmati lagu.
Dia bilang, baginya, musik itu ya sebagaimana adanya saja, sebatas melodi yang enak didengar dan lirik yang pas dilantunkan. Dia tidak menaruh perasaan apa pun ke dalam sebuah lagu, apalagi menyisipkan sosok seseorang di dalamnya.
Jujur, aku butuh waktu untuk mencerna kalimatnya. Bagaimana bisa sebuah lagu hanya sekadar lewat di telinga tanpa menggoreskan ingatan apa-apa? Isi kepala dan hati manusia memang misteri, tapi buatku pribadi, aku tidak bisa. Dan mungkin tidak akan pernah bisa untuk mendengarkan musik dengan cara sesederhana itu.
Ada sebuah meme yang cukup sering berseliweran di linimasaku. Bunyinya kira-kira begini: “Semoga kebiasaan mengasosiasikan memori dan orang dengan musik yang aku derita ini cepat sembuh.” Meme ini ramai sekali digunakan. Selain karena memang lucu, kalimat itu rupanya sangat relate dengan banyak orang.
Fakta bahwa banyak yang menganggap kebiasaan ini sebagai ‘penyakit’ yang harus disembuhkan justru membuka fakta bahwa ternyata aku tidak sendirian. Saking banyaknya orang yang menaruh memori pada musik, hal ini sampai dijadikan lelucon kolektif.
Bagiku, lagu dan ingatan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ada banyak sekali lagu yang aku suka, dan setiap lagu itu nyaris selalu membawa satu atau dua ingatan kembali padaku.
Ingatannya pun tidak melulu soal momen krusial yang mengubah hidup; seringnya justru hal-hal receh dan sederhana. Tapi intinya, ia pasti terasosiasi.
Kalau bicara soal pengalaman pribadi, aku punya satu lagu andalan yang setiap tahun selalu nongkrong dengan bangga di daftar Spotify Wrapped milikku sejak hari pertama ia dirilis. Sebagai penggemar NIKI sejak tahun 2019, perilisan lagu “Before” jelas menjadi momen yang kutunggu-tunggu. Aku adalah salah satu orang yang langsung mengklik music video-nya detik itu juga.
Namun, dunia ini kadang punya selera humor yang menyebalkan soal waktu. Malam di mana lagu itu rilis, bertepatan dengan malam aku bertengkar hebat dengan mantan online-ku.
Tahun 2022. Sepanjang hari itu, interaksi kami hanya sebatas saling melempar pesan perselisihan yang sukses membuat hati pedih tidak karuan. Di dalam kamar kosku, udara dari AC yang biasanya sebatas menyejukkan malam itu rasanya berubah menjadi dingin yang membekukan tulang.
Begitu “Before” mulai terputar, aku langsung mendengarkannya on repeat. Memang, liriknya tidak seratus persen sama persis dengan apa yang kualami. Tapi secara vibe, emosi, dan nada, lagu itu terasa aku banget. Malam itu, melodi “Before” berubah wujud menjadi representasi utuh dari hubunganku dan dia yang sedang hancur.
Hari ini, perasaanku padanya tentu sudah menguap tak bersisa. Berkomunikasi pun sudah tidak pernah lagi. Tapi anehnya, lagunya tetap lengket. “Before” tetap menjadi salah satu lagu favoritku sampai detik ini. Setiap kali mendengarnya, aku tidak serta-merta bersedih atau merindukan orangnya. Aku hanya… teringat. Memori tentang rasa pedih pertengkaran dan dinginnya kamar kos malam itu sesekali masih menyapa pikiran setiap kali lagunya mengalun.
Rasa penasaran tentang mengapa temanku bisa begitu kebal terhadap memori musik sementara aku begitu rapuh membuatku iseng mencari tahu, dan akhirnya menemukan sebuah artikel psikologi dari Dr. Shahram Heshmat, Ph.D. Dari sana, sedangkal yang bisa kupahami, dugaanku selama ini tervalidasi oleh sains.
Ternyata, hubungan antara musik dan memori itu punya ikatan psikologis yang sangat kuat. Musik memancing emosi, dan emosi itulah yang kemudian menarik kembali memori kita ke permukaan.
Aku baru tahu kalau ingatan jangka panjang kita dibagi menjadi dua tipe: eksplisit dan implisit. (1) Memori eksplisit adalah memori sadar yang harus kita panggil dengan sengaja, seperti mengingat teori pelajaran. Memori ini bisa memudar kalau jarang diingat. (2) Memori implisit adalah ingatan bawah sadar yang bekerja otomatis.
Menurut apa yang kupahami dari tulisan tersebut, mengasosiasikan lagu dengan seseorang adalah bentuk classical conditioning (pengkondisian klasik) yang bersarang di memori implisit kita. Sebuah kejadian, sebuah emosi, dan sebuah lagu saling mengikat satu sama lain di alam bawah sadar tanpa kita minta.
Pantas saja “Before” begitu lengket di kepalaku. Saat aku mendengarkannya pertama kali di momen yang sangat emosional, otakku secara otomatis menjadikannya ‘tombol’ untuk emosi tersebut.
Fakta menarik lainnya yang kutemukan adalah fenomena yang disebut reminiscence bump atau lonjakan kenangan. Kata artikelnya, secara psikologis, manusia cenderung mengasosiasikan paling banyak kenangan pada kejadian di usia 10 hingga 30 tahun. Di usia remaja dan dua puluhan inilah selera musik kita terbentuk, bersamaan dengan momen-momen di mana kita merasakan banyak emosi kuat untuk pertama kalinya.
Bahkan, sekuat itu memori implisit bekerja, musik disebut sebagai salah satu dari sedikit hal yang bisa menembus kabut otak penderita Alzheimer. Orang yang sudah lupa dengan identitasnya sendiri masih bisa mengingat kenangan masa muda mereka hanya dengan mendengarkan lagu lama. Merinding rasanya menyadari betapa kuatnya sebuah melodi mengakar di kepala kita.
Setelah merenungkan semua ini, aku sampai pada satu konklusi: tidak ada ‘penyakit’ yang perlu disembuhkan dari kebiasaan ini.
Jika temanku bisa menikmati musik murni sebagai nada, itu haknya. Tapi buatku, mengasosiasikan musik dengan memori dan orang-orang di dalamnya bukanlah sebuah kelemahan. Ini sekadar cara otak dan hatiku bekerja, sebuah rekam jejak emosional.
Mengingat seseorang lewat lagu bukan berarti kita gagal move on atau terjebak di masa lalu. Kadang, itu hanya cara pikiran kita menyapa kembali serpihan waktu yang pernah kita lalui. Toh, pada akhirnya, lagu-lagu itulah yang menyusun soundtrack dari cerita panjang kehidupan kita sendiri.
[embed]Musik Video: Before — NIKI
메타데이터
- post_id
- 7764167efee7
- slug
- hantu-di-balik-playlist-itu-7764167efee7
- url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/hantu-di-balik-playlist-itu-7764167efee7
- canonical_url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/hantu-di-balik-playlist-itu-7764167efee7
- author_url
- https://medium.com/@ewrinaa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 17:05:31