Melepas Yang Terlepas
Perlahan, sedikit demi sedikit aku mulai mengingat apa saja yang sudah aku lewati dan telah aku miliki. Menulis daftar selayaknya belanja…
Melepas Yang Terlepas

freepik.com
Perlahan, sedikit demi sedikit aku mulai mengingat apa saja yang sudah aku lewati dan telah aku miliki. Menulis daftar selayaknya belanja di lantai bawah supermarket yang mulai sepi pengunjung, banyak sekali ternyata isinya. Meskipun berat dan selalu kehabisan nafas seperti di ambang kematian, aku mulai bisa menggapai kesadaranku yang sempat hilang karena ulah siapa pun aku tak tahu. Bisa saja memang ulahku, atau bisa saja itu ulah mereka yang menyakiti.
Meskipun begitu, aku masih harus melepas secara total. Sangat tidak nyaman karena duri yang besar dan tancapannya yang lumayan dalam. Rasanya tiap aku cabut, darah mengalir deras selayaknya keran air yang lepas dari tempat wudhu. Satu per satu aku lepas dan kubiarkan saja sampai sembuh sendiri. Kehabisan darah, pusing dan hilang daya hidup. Sejujurnya, perasaanku mulai kebas tanpa ampun. Dipenuhi kekosongan adalah suatu kata yang unik. Bagaimana bisa kosong dan penuh, sebuah kata yang berlawanan, disatukan dalam satu kalimat dan menjadi makna baru?
Tertutup dari luar, berbulan-bulan aku asing. Takut berbicara dengan manusia lain, tak peduli apakah satu jenis maupun tidak. Mataku selalu bergetar mengikuti ritme tak teraturnya jantung. “Hadir di sini” justru jadi hal yang menyeramkan untukku. Selalu terlempar ke dalam hari menyeramkan itu. Sebuah hari di mana kata, jiwa dan dunia seakan hancur, menghilangkan aku dari dunia. Seakan meninggal, aku menjadi mayat hidup yang tujuan hidupnya adalah membuat manusia bahagia dan tenang.
Sekarang aku mulai perlahan hidup. Hal-hal baik satu per satu datang setiap aku melepas durinya. Atau mungkin sebenarnya hal-hal baik selalu menyertaiku selama ini tetapi aku tidak melihatnya? Dibutakan luka dan genangan darah yang menenggelamkan amarah dan euforia? Apakah ini jawaban dari usahaku untuk berserah kepada Dia Yang Maha Mencinta? Aku juga tak tahu, aku menulis ini hanya sebagai kiat untuk membuang sampah yang mengganggu dan mulai menutupi lagi.
Kulepas koneksi yang menyakitkan dan darah mengucur tak beraturan lagi. Sejenak kulihat wajah yang membuka siksa. Kuhadapi meski masih penuh memar badan dan jiwaku. Mata sembab, dada sesak, kelenjar getah bening yang kambuh, tenggorokan dan paru yang terlanjur hitam. Aku lepas, lalu aku tutup dengan sebuah doa yang aku harap tak akan pernah menjadi nyata dan terjadi yang sebaliknya, “Semoga kau tak akan pernah mengalami berjuta luka yang kau beri ini dan semoga perjalananmu menyenangkan”.
Aku akan hidup lagi dengan semestaku yang kukehendaki sebelum ruh ditiupkan saat janin.
Semoga semestamu tak dihancurkan yang tercinta seperti kehancuranku olehmu, duniaku. Terbaliklah!
메타데이터
- post_id
- 778ca7e93c3a
- slug
- melepas-yang-terlepas-778ca7e93c3a
- url
- https://medium.com/@KataCuts/melepas-yang-terlepas-778ca7e93c3a
- canonical_url
- https://medium.com/@KataCuts/melepas-yang-terlepas-778ca7e93c3a
- author_url
- https://medium.com/@KataCuts
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 09:34:02