← Back to list

Kartu Nama

Atakan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Sesekali ia membetulkan posisi duduknya, sementara ujung sepatunya…

embun · 2026-05-18 11:47 · 0 claps · 2.4 min read
#romance #fiksi #fiksi-remaja
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Kartu Nama

Atakan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Sesekali ia membetulkan posisi duduknya, sementara ujung sepatunya mengetuk lantai kafe dengan irama cepat — sebuah tanda yang jelas bahwa ia sedang dirundung kegugupan luar biasa.

“Beneran… nggak perlu dibalikin?” tanya Atakan ragu.

Gerakan Sofiya yang hendak menyuapkan makanan ke mulutnya terhenti. Ia mendongak, menatap Atakan dengan binar mata yang tenang. Tanpa kata, gadis itu mengangguk pelan, lalu melanjutkan suapannya yang sempat tertunda.

Atakan mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sesak di dadanya sebelum menyeruput kopi hitam yang mulai mendingin. Saat ia menyesap kopinya, Sofiya kembali memperhatikan pria di hadapannya itu. Kali ini, tatapannya tertuju pada sudut bibir Atakan yang tampak memar kebiruan — sisa dari kejadian sebelumnya.

“Kamu bukan asli orang Eropa, ya?” Pertanyaan Sofiya memecah keheningan.

Atakan tersentak. Ia segera memutus pandangannya dari jendela besar di samping mereka dan menoleh cepat ke arah Sofiya. Pria itu mengangguk kaku. “Gue… anu, apa itu… emm…”

Ia mendadak kehilangan kosa kata. Lidahnya terasa kelu untuk menyusun kalimat yang sederhana sekalipun. Melihat tingkah canggung Atakan, Sofiya tak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh pelan. Ia mengambil sapu tangan, menepuk-nepuk bibirnya dengan anggun, lalu mencoba membantu Atakan keluar dari rasa malunya.

“Pindah ke sini waktu masih kecil?” tebak Sofiya.

Atakan mengangguk, merasa sedikit lega. “Iya. Lahir masih di Indo, cuma dari umur dua tahun, kalau nggak salah, udah pindah ke sini.”

Sofiya mengangguk-angguk kecil menyimak penjelasan itu.

“Kalau lo sendiri?” Atakan mencoba membalikkan keadaan agar fokus tidak terus-menerus pada dirinya.

Gadis itu tampak berpikir sejenak. “Aku lahir di sini. Tapi waktu kecil sempat tinggal di Indo sebentar, terus balik lagi ke sini pas umur enam tahun.”

“Pantesan bahasa Indo lo masih lancar banget,” gumam Atakan yang dibalas senyuman tipis oleh Sofiya.

“Sekali lagi, makasih ya, Atakan,” ucap Sofiya tulus.

Atakan masih menatapnya, ada sedikit rasa bersalah di matanya. “Santai aja. Gue juga minta maaf buat yang waktu itu.”

Keduanya terjebak dalam senyum canggung selama beberapa detik. Namun saat atmosfer di meja itu perlahan mulai menghangat, seorang pria berpakaian serba hitam masuk ke kafe dan melangkah cepat ke arah mereka. Pria itu membungkuk sedikit, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Sofiya.

Atakan memperhatikan perubahan itu dengan saksama. Wajah Sofiya yang tadinya terlihat santai perlahan berubah tegang. Bahunya mengeras, dan sorot matanya kembali dingin. Sofiya hanya mengangguk singkat, memberikan isyarat agar pria itu menunggu di luar.

“Ah, sepertinya aku harus pergi sekarang,” ucap Sofiya sambil bergegas merapikan tasnya.

Melihat Sofiya berdiri, Atakan secara refleks ikut berdiri, hampir menyenggol meja saking terburu-burunya. Sofiya merogoh tas tangannya, mencari sesuatu, lalu mengulurkan secarik kertas tebal ke arah Atakan.

“Ini kartu namaku. Senang bisa berkenalan denganmu, Atakan,” ucapnya formal namun tetap terasa ramah.

Atakan memandangi kartu nama itu selama beberapa detik — meresapi nama yang tertera di sana — sebelum akhirnya menerimanya dengan hati-hati. Ia menyunggingkan senyum tipis yang tulus. “Makasih. Hati-hati di jalan.”

Sofiya berbalik dan berjalan meninggalkan kafe dengan langkah yang cepat dan teratur. Atakan kembali menjatuhkan dirinya ke kursi dengan kasar, matanya langsung beralih ke jendela besar di sampingnya. Di sana, ia melihat Sofiya berjalan menuju sebuah mobil hitam yang sudah menunggu di area parkir.

Atakan terus memandang punggung gadis itu sampai ia masuk ke dalam mobil. Meski ini adalah pertemuan pertama mereka yang bersifat ‘resmi’, ada rasa akrab yang aneh merayap di benaknya. Seolah-olah mereka sudah pernah bertemu, ah kan memang sudah pernah bertemu. Dan dugaannya benar. Dari cara Sofiya bersikap dan berbicara, gadis itu tampak dua tahun lebih tua darinya.

Mobil itu meluncur pergi, meninggalkan Atakan yang masih memegang kartu nama di tangan.


메타데이터
post_id
77f3ce889191
slug
kartu-nama-77f3ce889191
url
https://medium.com/@3embuun_/kartu-nama-77f3ce889191
canonical_url
https://medium.com/@3embuun_/kartu-nama-77f3ce889191
author_url
https://medium.com/@3embuun_
status
ok
fetched_at
2026-06-15 20:49:13