← Back to list

Aku dan Hari-hari #2

Kepalaku sering sakit akhir-akhir ini. Tak ada keberanian untuk periksa ke dokter. Berkali-kali aku sudah meyakinkan mama kalau sepulang…

Muhfatiah Muhdar · 2026-05-24 16:24 · 0 claps · 2.3 min read
#mama #ibu #jurnalharian
Open on Medium ↗

Aku dan Hari-hari #2

Kepalaku sering sakit akhir-akhir ini. Tak ada keberanian untuk periksa ke dokter. Berkali-kali aku sudah meyakinkan mama kalau sepulang sekolah atau sehabis kegiatan ini dan itu, akan ku upayakan singgah di puskesmas. Tapi kata-kata yang meyakinkan mama justru hanya jadi angin lewat bagiku, si pengucap. Apa itu juga bagian dari kebohongan? Siapa pula yang senang bertemu dokter.

Sebenarnya bertemu dokter tidak menakutkan. Dokter tidak seberbahaya itu. Hanya saja, antri berjam-jam itu yang bikin malas. Kalau gawat, bisa langsung masuk IGD saja. Tapi, kalau sakit kepala biasa tentu harus antre. Pusat Kabupaten Mamuju (atau kutulis Ibu Kota Mamuju saja?) punya dokter yang masih minim, di rumah sakit yang berbeda bisa punya dokter spesialis yang sama. Kalau di pusat kabupaten saja seperti itu, janganlah heran jika di kecamatan tempatku tinggal untuk dapat Paracetamol sesuai resep dokter saja kita harus war nomor antrean.

Mengeluh sakit, mengeluh berkali-kali. Tentu saja hanya pada diriku sendiri. Akan ribet jika harus mengumbar-umbar rasa sakit pada orang lain. Tidak enak merepotkan. Tidak senang merepotkan. Huh, terlalu mandiri sekali alias pura-pura kuat, haha. Mau mengeluh pada Mama? Astaga, beliau saja sudah repot dengan sakit akibat saraf kejepitnya. Berkali-kali terapi. Berkali-kali keluar masuk rumah sakit. Tapi dasar mama-mama di dunia, sesakit apapun mereka selalu khawatir dengan keadaan rumahnya, isi tudung sajinya, dan kondisi kamar anak-anaknya.

Mama-mama di dunia juga unik sekali. Semakin mereka mengomel dan marah-marah, semakin bersih pula isi rumahnya. Kekuatannya jadi bertambah lima kali lipat setiap mengomel. Kerjanya seperti diiringi soundtrack. Dan itu menjengkelkan. Untuk manusia malas sepertiku, yang jika tidak ada kerjaan lebih memilih rebahan dengan tenang, mendengar omelan mama bikin moral berada di persimpangan jalan. Tidak enak kalau tidak membantu, tapi kondisinya sedang capek. Dan jika membantu, akan jadi garing juga suasananya, karena beliau dalam kondisi mood swing. Dasar mama-mama. Duh, dasar calon mama-mama (menunjuk diri sendiri).

Hal menyebalkan selanjutnya perihal kebiasaan mamaku adalah setiap kali aku berada di luar rumah lalu pulang, akan kudapati kamarku yang sudah sangat rapi dan bersih. Itu bikin rasa bersalah tumbuh di dadaku. Padahal sering kubilang padanya kalau kamarku tidak usah dibersihkan. Aku selalu trauma melihat mamaku baring di bangsal rumah sakit karena sakitnya kambuh, dan sudah pasti karena kelelahan.

Tapi sekali lagi, dasar mama-mama, mamaku. Ngeyel. Dan sialnya sebagai anak, hak untuk marah pada orang tua serasa tidak ada. Pada kondisi mau marah, akan selalu ada bisikan di kepalaku “banyak sekali mi dosamu, mau ko lagi masuk neraka gratis dengan jadi anak durhaka?”. Keyakinan macam apa ini? Jangakankan marah, mengatakan ‘ah’ saja sudah bisa bikin aku jadi anak durhaka. Kata guru agamaku di sekolah dulu sih begitu.

Maka benarlah kata Pak Sapardi; yang fana adalah waktu. Rasanya baru kemarin mamaku sibuk sediakan perlengkapan sekolah kami saat libur semester. Rasanya baru kemarin pantatku dicambuknya karena aku ketahuan memanah pelipis mata teman kelasku hingga berdarah (padahal cuma karet gelang dan lidi). Rasanya baru kemarin mama menelfon dan bilang padaku masih cukup ji uang makan mu di situ?”.

Boom, ubannya sudah banyak. Wajahnya sudah keriput yang bikin aku hampir tidak percaya dengan cerita-ceritanya kalau dulu banyak laki-laki yang suka padanya. Pendengarannya bahkan sudah tidak bekerja maksimal. Sudah sering masuk rumah sakit pula. Sial, aku bahkan belum tahu kebahagiaan apa yang bisa kuberikan padanya. Tapi setidaknya beliau sudah terhibur kalau sehabis maghrib bisa video call dengan cucunya. Maksudku anak dari adikku.

Ubannya sudah banyak, tapi baru tahu scroll reels Facebook. Suka percaya dengan editan AI lagi. Aku sendiri jadi bingung setiap kali mendengar beliau bilang “mau betulan mi ini kiamat dunia, masa ada kucing bersisik ikan”. Ah Mamaku, luvvv deh.

Muhfatiah Muhdar


메타데이터
post_id
786046a2adaa
slug
aku-dan-hari-hari-2-786046a2adaa
url
https://medium.com/@jurnalfatiah/aku-dan-hari-hari-2-786046a2adaa
canonical_url
https://medium.com/@jurnalfatiah/aku-dan-hari-hari-2-786046a2adaa
author_url
https://medium.com/@jurnalfatiah
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30