Tersenyum, Untuk Siapa?
Dan kutersenyum, entah untuk siapa
Tersenyum, Untuk Siapa?

Source: Pinterest
Dan kutersenyum, entah untuk siapa
Menebak-nebak siapa dalangnya
Aku atau dirimu…
Larik-larik Tersenyum, Untuk Siapa dari Hivi itu seperti tak lagi sekadar lagu. Ia menjelma gema yang diam-diam mengulang senyumku — yang entah sejak kapan kusematkan padanya.
Untuk pertama kalinya percakapan kami melampaui hitungan sepuluh. Sebuah durasi yang remeh bagi dunia, tetapi terasa panjang dan ganjil di parkiran yang lengang dan tak memihak. Sunyi di antara kami seakan sengaja memberi ruang untuk setiap jeda, setiap tarikan napas, bahkan untuk setiap kalimat yang meluncur setengah ragu dan setengah ingin tinggal lebih lama.
Kali ini rentetan tanyanya melebihi batas biasa dan formalitas, menyentuh wilayah kecil yang personal, membuat kupu-kupu berlarian dalam perut. Rasa penasarannya membuatku nyaris lupa bagaimana caranya berdiri tanpa terlihat goyah.
Ah semoga saja ia tidak membaca gemetar yang kusembunyikan di balik tawa tipis.
Di hadapannya, aku tersenyum dengan mata berbinar. Netraku menyusuri segala hal yang melekat padanya. Aku jadi teringat Linda Blair, seorang psikolog sekaligus pengarang buku Straight Talking, katanya, insting manusia membutuhkan waktu sekitar tujuh detik untuk menilai lawan bicaranya. Maka dalam tujuh detik itu, aku sibuk menilainya.
Satu.
Seragam necisnya membalut sempurna postur tubuhnya yang tinggi — barangkali dua puluh senti di atasku.
Dua.
Rambutnya terpangkas rapi, kacamata yang terselip di kedua daun telinganya menambah kesan tenang dan dewasa. Detail kecil yang menyenangkan untuk dipandangi lebih lama.
Tiga.
Wajahnya terlampau berseri membuat siang terasa sedikit lebih terang dari biasanya. Seakan ingin menyaingi matahari pukul satu saja. Kok bisa ya tetap segar di jam rawan begini?
Empat.
Semilir angin membawa wangi tubuhnya pada indera penciumanku. Aku tidak tau pasti parfum apa, yang jelas wanginya segar, dengan hint citrus dan jejak woody yang samar, seperti sesuatu yang ingin kuingat lebih lama dari seharusnya.
Lima.
Hanya ada jam tangan dengan model sederhana yang melingkar di pergelangannya. Tidak ada sebentuk lingkar apapun di jarinya dan entah kenapa itu membuat senyumku kembali merekah.
Enam.
“Sayang banget cuma sebentar…” desisnya, aku mengangguk setuju.
Alunan suaranya yang lembut membuat kepalaku seketika memikirkan langkah nekat yang nyaris konyol — barangkali aku perlu mencari dalih agar prodi mengizinkan momen ini tinggal lebih lama.
Tujuh.
Dan senyum itu… Senyum hangat yang ia sisipkan berhasil membuat hatiku limpung seketika, seperti kehilangan pijakan tanpa aba-aba.
Aku tidak tau apa yang luruh di detik ke delapan, barangkali fokusku atau mungkin kewarasanku sendiri. Yang kusadari, kini netranya menatapku, seolah menunggu jawabku. Di tengah desik dedaunan yang beradu pelan, semesta terasa diam-diam memihak pada asmaraloka kecil di penghujung masa remajaku.
Dalam ruang penuh ambiguitas itu, harap dan ragu seakan berdiri berdampingan, saling menunggu siapa yang lebih dulu berani ‘tuk maju.
Ciamis, 20 Februari 2026
Zia_end
메타데이터
- post_id
- 786e178bc26f
- slug
- tersenyum-untuk-siapa-786e178bc26f
- url
- https://medium.com/@zia_end/tersenyum-untuk-siapa-786e178bc26f
- canonical_url
- https://medium.com/@zia_end/tersenyum-untuk-siapa-786e178bc26f
- author_url
- https://medium.com/@zia_end
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 18:03:05