Stasiun Bekasi Timur Yang Tak Lagi Sama
Sketsa Jakarta
Sebagai penggemar KRL Commuter Line Jabodetabek, saya luar biasa kaget atas terjadinya tabrakan KRL Commuter Line dan kereta Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam 27 April 2026. Kaget, karena di era transportasi yang makin modern dan terintegrasi, celah yang menyebabkan kecelakaan fatal masih bisa terjadi. Tak tanggung-tanggung, merenggut nyawa 15 perempuan yang layak ditahbiskan sebagai kartini masa kini.

Foto: courtesy Liputan6.com
Diantara 15 perempuan yang mengharu biru itu ada guru, jurnalis televisi, auditor di kantor akuntan terkemuka, mahasiswi yang sedang menimba ilmu, nenek yang sedang menikmati perjalanan bersama anak dan cucunya, hingga ibu muda yang tak pernah lepas dari kantung ASI untuk bayi berusia satu tahun yang ditinggalkannya di rumah lantaran harus bekerja.
Di malam kejadian itu, saya baru tiba di rumah sekitar pukul 21.30 WIB, tapi sama sekali belum mendengar apapun tentang tragedi tersebut. Perjalanan Manggarai-Bojonggede, apalagi duduk di kursi prioritas (berkah uban dan jenggot putih yang tak bisa disembunyikan), kadang melenakan. Kombinasi hembusan AC dan dengkul lelah, membuat mata terpejam sepanjang setengah jam perjalanan.
Baru setelah tiba di rumah dan membuka media sosial, satu per satu postingan bernada sedih, bingung, takut, marah, berkelindan di lini masa. Informasi berkejaran tanpa ada putusnya. Gila ini!! Teriak saya seketika.
Malam itu saya begadang di media sosial, mengikuti cuitan-cuitan keluarga korban yang mencari tahu nasib anggota keluarga masing-masing. Beberapa tweet mereka saya retweet. Salah satunya, tweet pencarian Ainia aka Ain, jurnalis Kompas Teve, karena serasa ada ikatan batin. Grup tempat Ain bekerja adalah juga tempat saya pernah menghabiskan waktu hampir 20 tahun sebagai jurnalis. Seperti ada rasa sedih senior terhadap juniornya yang tiba-tiba mencuat.
Saya mesti menulis sesuatu. Tapi hati kelu dan tangan kaku. Melihat foto-foto dan video-video berseliweran, tak terasa air hangat merembes di kedua kelopak mata. Hingga adzan Subuh datang, saya masih memelototi timeline media sosial. Mulai jumlah korban meninggal 2 orang, bertambah jadi 4, 5, lalu 7 orang, dan akhirnya 15 orang. Makin memaksa tidur, malah makin sulit memejamkan mata.
Saya yakin, jutaan komuter yang saban hari naik kereta merasakan hal yang sama. Meski tak langsung terdampak, solidaritas itu nyata adanya. Stasiun, seperti juga rel dan gerbong adalah benda mati yang menyimpan banyak curahan hati kelas menengah Jabodetabek. Komuter sejati juga tahu wajah mana dan kaki lelah mana yang mesti diberi kursi. Selebihnya adalah bagian dari perjalanan sejarah. Pejabat sibuk berbicara, namun tak ada yang mampu mengganti rasa kehilangan mereka yang ditinggal pergi.
Duka Digital
Jumat 1 Mei 2026, saya kembali ke stasiun, empat hari setelah tragedi itu terjadi. Sejak tinggal di Bojonggede lebih dari 2 tahun silam, saya memang amat mengandalkan KRL sebagai sarana transportasi. Apalagi domisili baru saya tak jauh dari stasiun Bojong. Sepanjang dua tahun, hampir semua stasiun di Jabodetabek pernah saya singgahi. Baik untuk urusan pribadi, pekerjaan, maupun sekadar mampir guna membuat dokumentasi foto dan tulisan. Jadi Bekasi Timur, tujuan kali ini, bukanlah planet asing.
Perjalanan Bojong-Manggarai terasa "normal", meski satu-dua masih terdengar percakapan seputar malapetaka Bekasi Timur. Baik di stasiun maupun di atas kereta. "Nyokap gue masih enggak bolehin naik gerbong khusus perempuan. Kata dia sampe situasinya normal. Masalahnya, kapan?," cerita seorang perempuan muda kepada teman prianya. "Tenang. Bilang ke nyokap, kalo jalan ama gue pasti aman," canda si pria rada takabur.
Normal atau belum, saat nyambung Manggarai-Cikarang, nyatanya masih bisa saya dapati wajah-wajah tegang di atas kereta. Dari tempat saya berdiri di Gerbong 11 yang crowded, terlihat Gerbong 12 khusus perempuan tidak sepenuh gerbong lain. Wajar jika masih ada penumpang perempuan yang memendam trauma massal. Menjelang masuk Stasiun Bekasi Timur, suasana gerbong mendadak hening. Semua orang seperti sibuk berdoa atau bicara dengan hati masing-masing.
Saya melangkah keluar gerbong. Jujur, bulu kuduk agak merinding. Saya tanya istri, dia pun merasakan hal yang sama. Tumpukan bunga di sudut yang disediakan pihak stasiun makin menggunung. Seketika terbayang wajah dan profil 15 perempuan tangguh yang mengakhiri perjalanannya malam itu di stasiun ini. Perjalanan yang membawa mereka kepada sang pemilik ruh. Seorang ibu asal Karawang sambil terisak memandang bunga-bunga itu dari jarak sekitar 2 meter. Berdiri di situ tanpa bergerak.
Dari seorang pengunjung saya beroleh informasi, bunga-bunga itu berdatangan sejak Rabu, berlanjut ke Kamis, hingga Jumat (1 Mei 2026) saat tulisan ini dibuat, gelombang masyarakat yang meletakkan bunga duka cita - baik rangkaian maupun setangkai - di Stasiun Bekasi Timur kian tak terbendung. Dari puluhan jumlahnya, menjadi ratusan, bahkan bisa saja mendekati ribuan.
Dengan cepat, Stasiun Bekasi Timur menjadi rumah bagi jutaan komuter yang tidak saling mengenal, namun memiliki solidaritas dalam diam, kesedihan yang sama, dan perasaan senasib seperjalanan. Padahal sejatinya, stasiun Bekasi Timur, seperti halnya bandara, mal, jalan tol, dan sejenisnya, sesungguhnya tempat biasa, di mana kita bisa bertemu orang-orang biasa.
Menyitir antropolog Prancis Marc Auge tentang konsep place dan non place, stasiun adalah non place alias tempat lalu lalang semata. Dia minim identitas personal. Orang datang dan pergi tanpa adanya ikatan emosional. Apalagi menginap dan berbagi problem hidup. Namun tragedi 27 April sanggup mengubah non-place menjadi place yang sarat makna. Stasiun Bekasi Timur kini bukan lagi sekadar tempat menaikturunkan penumpang kereta.
Namun lebih dari itu, menjadi ruang ingatan kolektif yang bakal terus hidup sepanjang peradaban manusia Indonesia ada. Dia kini memiliki identitas, relasi dengan jutaan orang, dan tentu saja menyimpan potongan sejarah yang tidak mudah dipetieskan.
Tragedi perkeretaapian di Jabodetabek yang mirip dengan Bekasi Timur adalah Tragedi Bintaro I (1987) dan Bintaro II (2013). Tragedi Bintaro I terjadi di era belum adanya media sosial, sedangkan saat Bintaro II sudah ada media sosial, namun perannya sebagai saksi mata peristiwa belum semassif sekarang. Alhasil, duka hanya menyeruak di ruang fisik. Sebatas mereka yang ada di sana dan membaca berita tanpa interaksi apa-apa.
Beda dengan Bekasi Timur. Jutaan orang bertukar info di berbagai platform sejak detik pertama kecelakaan hingga berhari-hari kemudian, memamerkan ruang duka digital yang amat menyayat. Saya bisa menangis berhari-hari di timeline. Testimoni demi testimoni muncul dari berbagai sudut dan sisi. Adik korban, kakak korban, orangtua korban, teman korban, berinteraksi langsung dengan masyarakat di akun media sosial.
Sejak 27 April 2026, wajah Stasiun Bekasi Timur tak akan sama lagi seperti sebelumnya.
메타데이터
- post_id
- 78d62db6c147
- slug
- stasiun-bekasi-timur-yang-tak-lagi-sama-78d62db6c147
- url
- https://medium.com/@icoelism/stasiun-bekasi-timur-yang-tak-lagi-sama-78d62db6c147
- canonical_url
- https://medium.com/@icoelism/stasiun-bekasi-timur-yang-tak-lagi-sama-78d62db6c147
- author_url
- https://medium.com/@icoelism
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 21:39:18