← Back to list

Ulasan Buku: An Immense World (2022)

Bersafari ke Dunia Lain

Rayan Suryadikara · 2025-07-13 08:00 · 110 claps · 6.5 min read paywalled
#hewan #indra #fauna #sains #alma
Open on Medium ↗

Ulasan Buku: An Immense World (2022)

Bersafari ke Dunia Lain

Penulis: Ed Yong Anak tajuk: How Animal Senses Reveal the Hidden Realms around Us Bahasa: Inggris Tanggal terbit: 21 juni 2022 Jumlah halaman: 464 Penerbit: Random House ISBN: 978–0593133231 Penghargaan: 2023 Andrew Carnagie Medal (Menang), 2023 Royal Society Trivedi Science Book Prize (Menang), 2022 The Kirkus Prize (Finalis)

Belum jadi anggota Medium? Silakan baca versi gratisnya di sini.

Indera kita memilah apa yang kita butuhkan. Keputusan untuk mengenali yang lain, ada di tangan kita.

Mengarungi Ratusan Wanua Wera

“Rayan itu pas kecil, kerjaannya nonton hewan terus! Anaknya memang suka hewan.” Ibu saya sering memakai pemerian ini ketika menceritakan putra sulungnya. Apa memangnya tidak banyak orang yang agak kelihatan dalam menggemari hewan? Saya sendiri, dari kecil sudah menenggelamkan diri dalam berbagai buku dengan ilustrasi fauna. Film animasi favorit saya tidak jauh-jauh dari perhewanan seperti The Jungle Book, The Lion King, Tarzan hingga Brother Bear. Semakin gede, saya beranjak ke film-film dokumenter ala Attenborough, menyaksikan dengan intim segala aneka perilaku hewan dalam berburu, kawin, mengasuh anak, berebut daerah, hingga menghindari bahaya.

Perilaku dan gaya hidup mereka sangat ditentukan dari informasi sensoris yang ditangkap oleh pengindraan mereka, yang kemudian ditafsirkan oleh otak. Informasi sensoris ini akan saling berbeda tergantung waktu, lokasi, cakupan hingga kebutuhan. Hewan nokturnal tidak begitu mengandalkan cahaya layaknya para diurnal. Yang hidupnya dikelilingi air menerima sinyal indrawi yang berbeda dari mereka yang membumbung di angkasa. Begitupun antara mereka yang seluruh dunianya di bawah tanah ukuran satu kapling dan mereka yang tiap musim bermigrasi, atau antara yang hidupnya cuma dalam hitungan hari dan yang bisa mencapai puluhan tahun.

Kemajemukan sinyal dan dengan demikian indra mereka praktis membuat para spesies hidup di alamnya masing-masing. Ed Yong, seorang jurnalis sains, mengajak kita mengintip dan mengapresiasi dunia-dunia ini dengan segala rupa dan spektrumnya melalui buku keduanya An Immense World. Selain dunia yang kita kenali melalui pancaindra namun bisa sangat berbeda tampilannya pada tiap hewan, Yong juga menyoroti dunia lain dari gema dan medan magnet, berdasarkan rasa sakit dan panas, serta bagaimana dominasi spesies kita merombak sensescape — lanskap indrawi — spesies lainnya, sengaja atau tidak.

Buku ini tidak mengurutkan siapa-siapa yang paling unggul per indra. Ambillah penglihatan; manusia memiliki aspek resolusi yang bagus sehingga kita dapat memerhatikan detail-detail lebih baik, namun komprominya adalah sensitivitas cahaya, sehingga kita tak berdaya dalam gulita. Sebaliknya bagi binatang-binatang yang dapat melihat dengan baik dalam temaram, guratan kayu dan helaian rumput dapat luput dari mereka.

Sebagai Homo sapiens, kita memiliki keunggulan sebagai satu-satunya spesies yang menyadari konsep dunia lain ini. Oleh karena itu, meskipun kita tidak akan pernah merasakan persis seperti apa rasanya jadi tikus atau ngengat, imajinasi dan empati memungkinkan kita membayangkannya, dan dengan demikian menjadi takzim akan kerayaan alam-alam ini.

Aneka Piranti Penafsir Realita

Konsep alam-alam lain ini dimatangkan oleh seorang zoolog Baltik Jerman bernama Jakob von Uexküll tahun 1909, yang ia namakan umwelt. Berarti lingkungan dalam bahasa Jerman, Uexküll memakai istilah ini untuk menggambarkan dunia subjektif organisme yang lahir dari cara mereka mengindra sekitarnya. Ia mengkaji caplak sebagai misal, hewan parasit pengisap darah yang masih berkeluarga dengan laba-laba. Menurut Uexküll, umwelt caplak terdefinisikan oleh tiga indra: penciuman untuk menghidu asam butirat (bau badan), sensor panas untuk suhu 37 derajat Celcius, dan sentuhan yang peka terhadap bulu rambut. Manusia masuk sebagai umwelt ideal mereka.

Demikianlah hewan-hewan lainnya memiliki umwelt sendiri-sendiri yang konstitusinya bisa sangat berbeda dengan kita. Laba-laba pelompat memiliki empat pasang mata dan masing-masing ditugasi faset-faset berbeda dalam melihat. Lubang telinga burung hantu tidaklah sejajar, sehingga mereka dapat mengenali arah bunyi secara vertikal. Misai lembu laut sangat sensitif, memungkinkan mereka menyentuh secara jarak jauh dengan air sebagai perantara. Ikan lele memiliki reseptor kecap di sekujur tubuh, yang artinya mereka menjilat tanganmu kalau kamu menyentuh mereka. Dan piranti menghidu anjing sangat canggih, mereka bisa membaca masa lalu dari bau yang tertinggal dan menerawang masa depan dari bau yang datang.

Sebagai makhluk yang mendefinisikan konsep pancaindra, manusia sangat timpang dalam mengandalkan cahaya dan bunyi. Dengan teknologi saat ini hanya mereka berdua yang dapat disiarkan jauh, dan hanya mereka yang kealpaan atau keterbatasannya punya istilah pasarnya sendiri dalam berbagai bahasa. Kontak, rasa dan bau tidak sering dilirik atau disimak keberadaannya. Kalau ditinjau secara bahasa, ambil contoh bau yang cuma memiliki tiga kata khusus dalam bahasa Inggris: stinky, fragrant, dan musty. Bahasa Indonesia lebih beraneka: harum, busuk, angu, sangar, prengus, hingga sangit. Pada suku-suku dengan pola hidup berburu dan meramu seperti Orang Asli Jahai, kosa kata aroma mereka jauh lebih ekstensif dan spesifik.

Memang umwelt kita banyak terbentuk oleh penglihatan, namun tidak berarti variasi model penglihatan mata-mata fauna lain gampang dibayangkan. Kita tidak bisa melihat baik dalam kegelapan seperti kucing. Pandangan kita lurus ke depan, tidak seperti burung yang memandang sekelilingnya. Dan warna ultraviolet, yang biasa dipandang oleh lebah dan kupu-kupu, terletak di luar jangkauan kita. Jika imajinasi kita sulit mencerna sensasi-sensasi ini, bagaimana dengan informasi sensoris di luar ranah lima indra kita?

Marco Kulempar, Polo Kudapat

Konon, orang yang memiliki indra keenam memiliki waskita untuk meramal apa yang akan terjadi hingga membaca pikiran. Kita memandang indra ini dengan takzim, namun sesungguhnya “indra keenam” ini lazim keberadaannya pada hewan-hewan lain. Gelombang seismik yang merambat pada jaring laba-laba, medan listrik dari mangsa yang dapat dijaring hiu, hingga medan magnet yang menuntun penyu kembali ke tempat kelahirannya — semuanya adalah informasi yang luput dari lima indra kita tetapi tidaklah asing pada satwa-satwa lainnya. Tak heran kita menilai kemampuan mendeteksi stimuli-stimuli ini sebagai kekuatan super.

An Immense World mengeksplorasi bermacam rangsangan asing ini dengan menggugah, dan saya ingin mendedikasikan segmen ulasan ini untuk ekolokasi — kemampuan hewan mengarungi dan menemukan objek berdasarkan gema dari suara yang ia hasilkan. *Daredevil *barangkali adalah superhero paling beken yang digambarkan memiliki kemampuan super tersebut, walau ini sedikit salah kaprah. Dengan keempat indra lainnya yang tajam, Matt Murdock dapat memindai sekelilingnya cukup dengan bunyi samar, getaran, hingga tekanan udara — ia tidak aktif mengeluarkan suara. Lumba-lumba dan kelelawar tidak memiliki kemewahan ini. Mereka harus senantiasa berteriak agar lingkungan sekitarnya yang bisu dapat berteriak balik kepada mereka.

Ekolokasi menggunakan suara ultrasonik yang berfrekuensi tinggi sehingga pantulan yang kembali lebih jernih namun jarak tempuhnya dalam udara sangat pendek. Kemampuan ini sebenarnya lebih cocok pada makhluk air, di mana ultrasonik dapat menyebar hingga beberapa kilo. Bagaimana dengan kelelawar? Yong menyadarkan saya bahwa selain ekolokasi adalah kekuatan super, cara kelelawar menerima dan mengartikan gema yang memantul pun sudah bisa digolongkan sebagai kekuatan super itu sendiri. Kelelawar dalam perburuan akan terus-menerus mengukur jarak, mengatur kecepatan, menyesuaikan intensitas sonar, memilah target dari objek lain dan menghindari kelelawar lain hingga mangsa digeramus.

Selain kerumitan ekolokasi, pengetahuan kedua yang baru bagi saya adalah pengindraan ini tidaklah di luar jangkauan kita; ia dapat kita pelajari! Adalah Daniel Kish, orang buta yang berekolokasi melalui jentikan lidah. Menurutnya, orang yang terlahir buta atau buta sedari kecil secara insting mampu berekolokasi, dan orang dengan penglihatan pun dapat mempelajarinya. Namun berbenturan dengan stigma yang bahkan berasal dari beberapa komunitas orang buta membuat penggaungan keahlian ini belum cukup meluas. “Ada semacam keengganan terhadap orang buta yang mengajari sesama orang buta bagaimana berlaku buta,” ujar Kish. Isu ini tampaknya tetap sensitif dan multinuansa, baik dari penyandangnya maupun masyarakat.

Tidak Ingin Terus Terang

Tahun 2019, AppleTv merilis series drama fiksi ilmiah bertajuk *See. Series ini menceritakan generasi baru umat manusia yang terlahir buta setelah wabah virus dan meyakini penglihatan adalah kemampuan pengundang bala yang dulu hampir memunahkan manusia. Teknologi memang merosot ke level abad pertengahan dan jangkauan peradaban mereka menyempit, namun mereka tetap dapat melanjutkan hidup. Manusia ditampilkan tetap dapat berburu, berniaga, membentuk ulang komunitas, hingga memelihara pemerintahan. Mereka tidak bisa membaca, namun dapat melestarikan “tulisan” melalui simpul tali ala [quipu *dari suku Inca](https://nationalgeographic.grid.id/read/133942302/quipu-cara-kekaisaran-inca-menyimpan-informasi-dengan-tali-dan-simpul?page=all). Meskipun hidup di alam tanpa cahaya, mereka tetap berdaya.

Kalau menengok realita kita sekarang, cahaya kian ada dimana-mana. Untaian lampu senantiasa menyala menembus gelap malam, mendampingi segala giat spesies kita. Kita tidak terbiasa menganggap cahaya sebagai polutan, apalagi karena kita kerap menautkannya dengan kemajuan, kebajikan, dan pencerahan — get it? Bahasa tentu berperan kunci di sini dengan segala asosiasi dari benderang, cemerlang, dan gemilang. Kegelapan, sebaliknya, adalah tengara kemunduran, pengundang kejahatan dan stempel keputusasaan. Padahal bagi hewan-hewan tertentu, kegelapan justru kenyamanan dan kebiasaan hidup. Cahaya yang menyilaukan dan mengusik, adalah tamu tak diundang.

Apakah ada alternatif lain di mana kita bisa melihat dalam gelap malam tanpa mengganggu standar hidup satwa lain? Buku ini mengenalkan saya kepada Nieuwkoop, kota di Belanda berjarak 40 kilometer dari tempat saya menetap. Kota ini dekat dengan cagar alam tempat spesies-spesies kelelawar bersarang dan berburu, sehingga penduduknya berinisiatif mengganti lampu jalan bercahaya putih dengan merah. Dibandingkan cahaya putih, cahaya merah tidak berimbas pada mata kelelawar dan serangga lain. Artinya, cahaya merah tampak gelap bagi mereka sementara tetap memberi keterangan bagi manusia meski sedikit horor. Bisa dibilang Nieuwkoop adalah kota kedua yang ramah terhadap kelelawar (Soppeng tetap yang pertama). Saya harus mengunjunginya kapan-kapan.

An Immense World tidaklah serta-merta bermuara pada konklusi klasik bahwa manusia lantas tidaklah sehat bagi keteraturan alam. Melainkan, buku ini menyerukan bahwa kita harus senantiasa merentangkan tenggang hati dan empati melampaui spesies. “Pengaruh kita hakikatnya tidaklah mencemari, tetapi seringkali memukul rata,” tulis Yong. Saat ini umat manusia telah belajar banyak untuk memfasilitasi saudara-saudarinya yang menyandang disabilitas. Dengan momentum ini kita seharusnya tetap tancap gas meragamkan ruang hidup kita demi kelangsungan umwelt-umwelt lainnya. Setidaknya di Indonesia, berita ini adalah satu langkah menuju realita itu.


메타데이터
post_id
78f6b87e67ec
slug
ulasan-buku-an-immense-world-2022-78f6b87e67ec
url
https://medium.com/@rayansuryadikara/ulasan-buku-an-immense-world-2022-78f6b87e67ec
canonical_url
https://medium.com/@rayansuryadikara/ulasan-buku-an-immense-world-2022-78f6b87e67ec
author_url
https://medium.com/@rayansuryadikara
status
ok
fetched_at
2026-07-19 00:45:20