Nama-Nama di WhatsApp Lenyap Satu per Satu
Surat cinta 7
LOVE AND LETTERS
Nama-Nama di WhatsApp Lenyap Satu per Satu

Ilustrasi oleh Hisashi Okawa
Nama-nama di ponselku mulai hilang, satu demi satu
Gadis yang sangat aku cintai menikah, punya anak
Seorang temanku didiagnosis menderita kanker, dan itu benar-benar mengguncangku
Manajer bar yang dulu biasa aku kunjungi, bunuh diri
Perempuan itu menuruni jembatan penyeberangan. Langit berwarna biru tua, dan lampu-lampu di tiang serta gedung-gedung sudah menyala. Mungkin waktu sedang menjelang senja, atau bisa jadi fajar — saya kesulitan memastikannya dengan yakin. Yang jelas, musim tampak sedang suram. Barangkali itu sebabnya segalanya terasa muram.
Namun muram tidak selalu berarti buruk. Adakalanya ia membuat seseorang menjadi terpana, dan juga sedikit meneteskan air mata. Persis yang saya alami saat menonton video musik “Hitsu Zetsu” di perpustakaan kampus. Lagu Radwimps kembali mengesankan.
Yojiro Noda, penulis lirik sekaligus vokalis grup band asal Jepang ini, lagi-lagi berhasil menyentuh sisi manusia yang tampak remeh, tetapi sesungguhnya berarti. Tidak banyak yang punya kepekaan seperti dirinya. Kepekaan untuk menangkap detail-detail sepele, lalu melemparnya kembali dengan letupan yang mengguncang. Begitu kuat sampai-sampai saya tidak bisa tidak memikirkan nama-nama di kontak WhatsApp saya yang lenyap satu per satu.
Noda barangkali benar. Manusia menumpuk kehilangan-kehilangan kecil. Suka atau tidak, ia akan terus bertambah, membludak, lalu perlahan membentuk semacam gunung. Dan mau atau tidak, tak banyak pilihan tersisa selain menatapnya dengan wajah yang sedikit banyak kecut. Begitulah adanya.
“Tapi tidak bisa begitu,” kata orang-orang menolak menerima. Mereka memerlukan arti, alasan, dan penjelasan. Manusia satu-satunya mahluk yang begitu terobsesi pada makna. Sayang sekali, sangat sering dorongan untuk terus-terusan memberi arti menelan diri mereka sendiri. Dan benar kata Camus, “benturan antara kebutuhan manusia akan makna dan keheningan dunia yang tak masuk akal” adalah hal yang sungguh absurd.
Lama-lama, kecenderungan ini menjadi semacam penyakit makna yang mencemaskan. Dari yang berwujud, hidup, hingga abstrak seperti relasi antarmanusia pun tak luput dari kebutuhan terhadap kemaknaan. Maka manusia menjadi seseorang yang — bukan digerakkan oleh kasih, melainkan rasa takut yang amat dalam untuk dilupakan — mematenkan bahwa tiap-tiap orang yang ditemui harus memiliki arti penting bagi “aku”, dan pada saat yang sama, aku juga berarti penting bagi “mereka”.
Tidak mengherankan bila kita terus berusaha memeras makna dari setiap pertemuan, meski susu itu sebenarnya tidak ada di situ.
Padahal, seperti sebuah cerita yang pernah dosen saya sampaikan saat di kelas. (Seingat saya) tentang pementasan teater di mana tiga orang duduk melingkar membaca koran di atas kursi. Lalu satu orang berdiri dan pergi. Tak lama, orang lain datang mengisi kursi kosong itu, dan membaca koran. Adegan ini berulang, terus-menerus, tanpa dialog, sampai pertunjukan usai.
Setiap kali merenungkan hubungan antarmanusia, saya kerap teringat cerita itu. Terlebih ketika menyadari bahwa tak lama lagi masa studi saya berakhir. Itu artinya teman-teman kampus saya akan menjadi seperti teman-teman SMA; teman-teman SMA seperti teman-teman SMP; teman-teman SMP seperti teman-teman SD; dan teman-teman SD seperti teman-teman TK; yang pada akhirnya menjadi seperti teman-teman playgroup.
Koran ditutup, saatnya pergi. Hanya begitu.
메타데이터
- post_id
- 790b8e8c4e2b
- slug
- nama-nama-di-whatsapp-lenyap-satu-per-satu-790b8e8c4e2b
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/nama-nama-di-whatsapp-lenyap-satu-per-satu-790b8e8c4e2b
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/nama-nama-di-whatsapp-lenyap-satu-per-satu-790b8e8c4e2b
- author_url
- https://medium.com/@justjeki
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-26 20:43:51