← Back to list

Menerjemahkan Aksara Semesta

Berdialektika dengan semesta

Thea in Kolom ApplePi · 2025-06-08 00:52 · 94 claps · 4.1 min read
#dialektika #penalaran #semesta #menulis #kolom-applepi
Open on Medium ↗

Menerjemahkan Aksara Semesta

Sumber : https://unsplash.com

Sumber : https://unsplash.com

Semesta

Apa sebenarnya Semesta itu? Sesuatu yang luas? Sesuatu yang besar? Sesuatu yang tidak terdefinisi?

Aku menerjemahkan semesta sebagai sesuatu yang kompleks. Hanya matematika alam yang dapat menjelaskan semesta. Filsafat mencoba berdialektika dengan semesta. Menjawab, namun memunculkan banyak pertanyaan selanjutnya. Memandang semesta tidak hanya sekedar alam dan mahluk hidup yang ada di dunia ini. Namun seluruh elemen yang membentuk alam ini. Terlihat dan tidak terlihat. Hal yang saat ini dapat dimengerti maupun yang hanya akan dimengerti di kehidupan selanjutnya.

Semesta bekerja secara terstruktur. Meninggalkan jejak untuk dipahami dan dimengerti. Meninggalkan pertanyaan untuk dinalar. Meninggalkan ilmu untuk dipelajari.

Semesta seluas itu. Semesta sebesar itu. Semesta semisterius itu.

Semesta ada di Hidup Kita

Kita hidup di semesta ini. Kalimat umum yang saat ini tidak kusetujui. Aku lebih menyetujui bahwa kita hidup bersama semesta. Ia sudah ada di hidup kita sejak bentuk kita berupa janin. Semesta tidak pernah meninggalkan hidup kita. Semesta selalu membersamai kita. Namun, seringnya kita tidak menerima keberadaannya. Seringnya, kita tidak berpijak pada realitasnya. Memikirkan sebuah konklusi singkat dan tidak berlogika,

“Semesta tidak berpihak pada kita”.

Aku yakin jika semesta mampu menampakkan mimiknya, ia akan tersenyum bijak. Memaklumi segala pemikiran kecil manusia yang selalu merasa superior, selalu merasa mengendalikan semua, selalu merasa bahwa segala yang diinginkannya adalah yang terbaik untuk dirinya.

Manusia kecil ini tidak pernah tau, semesta mampu melihat dari banyak sisi. Ia mampu menciptakan sebuah fenomena yang membuat kita akan termenung memikirkan kembali apakah keinginan kita memang benar-benar hal yang kita ingini. Semesta bekerja dengan caranya. Namun kita yang terkadang tidak mampu memahaminya.

Aksara Semesta

Sebagai manusia dengan pemikiran kecil, terkadang aku berfikir. Aku yakin ketika egoku muncul, ketika ekspektasiku tinggi, ketika kesombonganku muncul, dan ketika semua hal menjadi negatif di ranah realitasku, semesta mencoba untuk menunjukkan padaku. Semesta mencoba berkata,

“Itu bukan hal tepat untukmu, nak.”

“Jangan kau angkuh, nak. Jangan merasa tinggi hati.” Semesta mencoba menegurku.

“Ku tunjukkan padamu bahwa ini tidak baik untukmu.” Semesta mencoba memperingatkanku.

Namun, apa yang kuterjemahkan? “Semesta tidak pernah berpihak padaku! Sudah sejauh ini, kenapa semesta tidak mendukungku?!”

Berkubang dalam kesimpulan tidak mendasar karena keterbatasan nalar dalam menerjemahkan aksara semesta. Menyalahkan hal di luar nalar kita. Bersumpah serapah akan hal diluar ekspektasi kita hanya karena ketidakmampuan dalam mengukur ekspektasi diri sendiri. Menempatkan diri sebagai Sang Maha Penentu bahwa apa yang diinginkan adalah yang seharusnya diterima. Andaikan semesta mampu menampakkan mimiknya, ia kembali akan tersenyum bijak.

Berdialektika dengan Semesta

Sudah pernah mencoba bertanya ke diri sendiri atas hal yang terjadi di ranah realitas kita?

“Kenapa ya, aku gagal dalam hubunganku?” “Mengapa aku mengerti hal ini, namun tidak mampu mengerti hal itu?” “Kenapa orang-orang selalu mengecewakan ketika aku meminta tolong suatu hal?”

Jika belum, cobalah. Ini sama dengan berdialektika dengan diri sendiri. Menariknya, kita tidak hanya sedang berdialektika dengan diri sendiri. Kita sedang berdialektika dengan semesta. Penalaran kecil akan menuntun pada jawaban besar di luar ranah kita dan akan menjawab pertanyaan yang tidak pernah habis.

Ya, semesta kembali menunjukkan kompleksitasnya. Semua itu berhubungan. Berintegrasi. Lahirnya kita di dunia, terbentuknya bintang di luar galaksi kita, tumbuhnya bunga kecil di ujung jalan gang rumah kita, berputarnya bulan mengelilingi bumi kita, semuanya berhubungan. Membentuk rantai pemahaman yang berkoherensi dalam menjawab pertanyaan yang tidak pernah habis.

“Mengapa aku gagal dalam test pekerjaan itu? Aku sangat mengiginkannya! Semesta tidak berpihak kepadaku!

Tanpa disadari, kita selalu salah dalam menerjemahkan aksara semesta ketika ego, sentiment, dan emosi mulai menguasai. Tidak bisakah kita berikan kesempatan semesta untuk menjelaskan? Kita tidak pernah mau tau, semesta berusaha memperingatkan kita bahwa pekerjaan itu tidak membuat kita lebih baik. Semesta berusaha memberitahu kita bahwa nantinya akan ada pekerjaan yang lebih layak. Semesta berusaha memeluk kita bahwa ini bukan kegagalan, ini merupakan waktu untuk mengevaluasi diri dalam mempersiapkan keberhasilan yang lebih besar. Namun apa yang kita pikirkan? Alih alih mengevaluasi diri, lebih nyaman untuk menyalahkan hal di luar nalar kita. Manusia. Andaikan semesta mampu menampakkan mimiknya, ia tetap akan tersenyum bijak.

Semesta selalu berkomunikasi dengan caranya

Semesta tidak pernah bekerja untuk kita. Semesta justru selalu bergerak selaras bersama kita, untuk menjalani semua kehidupan ini. Semesta tidak pernah meninggalkan kita. Kita yang terlalu kecil untuk menerjemahkan aksaranya. Ia selalu berkomunikasi dengan caranya. Menegur dengan caranya. Menyayangi dengan caranya. Memberitahu baik buruk suatu hal dengan caranya. Semesta tidak pernah mengeluh tentang kita. Ia punya caranya sendiri untuk memperingatkan kita, bahwa yang manusia kecil ini lakukan sudah di luar batas.

Integrasi atas semua elemen di semesta ini mampu menunjukkan peringatan kepada manusia kecil ini. Hawa panas yang semakin meningkat suhunya karena penebangan pohon liar. Banjir bandang karena adanya eksploitasi alam yang tidak terjaga. Amukan harimau di lingkungan masyarakat karena habitatnya dibakar semena-mena. Ya. Semesta bermaksud berkomunikasi dengan kita, tapi apakah kita mampu menyadari itu? Atau hanya berkutat menyalahkan pihak sana sini tanpa mau berusaha mencari solusi?

Bahkan, melalui ilmu yang tiada batas, semesta memberikan solusi atas dampak negatif dari perbuatan manusia kecil ini. Memberikan material di alam untuk dimanfaatkan secara bijak. Memberikan akal untuk kita bernalar atas apa yang kita lakukan. Tapi bagaimana kita menerjemahkannya? Semuanya terlalu fokus menyalahkan bahwa semesta tidak pernah berpihak pada kita. Andaikan semesta mampu menampakkan mimiknya, ia tidak akan berhenti tersenyum bijak.

Menerima kehadiran semesta dalam kehidupan kita

Apakah selama ini kita tidak menerima kehadiran semesta dalam kehidupan kita? Mungkin saja iya, mungkin saja tidak. Kita tidak pernah menerima kehadiran semesta jika nalar hanya berkutat pada realitas diri sendiri. Kita perlu mengubah sudut pandang dengan meletakkan nalar manusia pada realitas semesta itu sendiri. Semesta selalu bekerja dengan caranya. Semesta selalu membersamai kita. Semesta tidak pernah berkhianat pada kita. Semesta selalu memiliki jawaban atas semua pertanyaaan. Baik terlihat dan tidak terlihat. Baik yang saat ini dapat dimengerti maupun yang hanya akan dimengerti di kehidupan selanjutnya.

Semesta bekerja secara terstruktur. Meninggalkan jejak untuk dipahami dan dimengerti. Meninggalkan pertanyaan untuk dinalar. Meninggalkan ilmu untuk dipelajari. Semesta seluas itu. Semesta sebesar itu. Semesta semisterius itu. Andai semesta mampu menampakkan mimiknya, saat ini juga, ia akan tersenyum bijak mengetahui bahwa kita si manusia kecil ini ingin mengerti tentang dirinya.

Ini hanya sekedar pemikiranku. Pertanyaan atas semua kejadian di hidupku. Kecurigaan atas semua penyebab kegagalanku. Keingintahuan atas semua penalaran yang memiliki batas di dalam realitasku. Ternyata semua dapat kujawab, kupahami, ketika aku mencoba menerjemahkan aksara semesta. Jadi, siapa itu semesta? Atau lebih tepatnya, apa itu semesta?


메타데이터
post_id
792345bca9eb
slug
menerjemahkan-aksara-semesta-792345bca9eb
url
https://medium.com/kolom-applepi/menerjemahkan-aksara-semesta-792345bca9eb
canonical_url
https://medium.com/kolom-applepi/menerjemahkan-aksara-semesta-792345bca9eb
author_url
https://medium.com/@thea24
status
ok
fetched_at
2026-06-12 07:40:50