EPS.O3; Cinta Penjaga Warung dan Supir Truk Cantik
CW/TW; Explicit content, MDNI, Jorok, NSFW, gay awakening, physical intimacy, kissing, suggestive romantic content, jorok pokonya, Mutual…
EPS.O3; Cinta Penjaga Warung dan Supir Truk Cantik

explicit content; yang ngerasa emang masih belum cukup umur just get the fuck away.
CW/TW; Explicit content, MDNI, Jorok, NSFW, gay awakening, physical intimacy, kissing, suggestive romantic content, jorok pokonya, Mutual Attraction, make out, jorok kopros arek cilik minggiroo su.
Kini Arul perlahan berjalan untuk menghampiri Dimas yang mulai ketakutan. Netranya menajam mengunci manik Dimas yang mulai bergetar.
Lampu bohlam kuning yang menggantung di tengah warung membuat bayangan Arul jatuh panjang di lantai semen. Dari luar masih terdengar suara motor lewat sesekali, membuat Dimas semakin sadar bahwa dunia ternyata masih berjalan seperti biasa sementara hidupnya terasa jungkir balik dalam satu malam.
“Lapo kok meneng ae, Dim?”
Dimas kelu, hingga sesaat badannya ditarik untuk lebih dekat. Tubuhnya menabrak dada bidang Arul. Kaos tipis yang dikenakan Arul tak banyak membantu meredam panas tubuhnya. Dimas bahkan bisa merasakan naik turunnya napas lelaki itu tepat di depan dadanya sendiri. Refleks tangannya terangkat menahan bahu Arul, namun alih-alih mendorong, jemarinya justru mengerat diatas bahu itu.
Kepalanya mendongak dan didapatinya Arul yang masih setia menatapnya dengan tatapan lapar, perlahan jarak mereka dikikis oleh Arul. Hingga saat dirasa kepala Arul mulai miring dan hembusan nafasnya menerpa halus permukaan wajah Dimas. Ia menutup matanya.
Kosong untuk sekian detik, hingga kekehan mengejek Arul menerpa bibirnya. Belum sempat Dimas membuka mata sepenuhnya, kini ia harus kembali memejamkan matanya karena merasakan kecupan hangat lehernya.
Bulu kuduk Dimas langsung berdiri. Rasa hangat yang menempel pada kulit lehernya menjalar turun ke tulang belakang seperti aliran listrik kecil. Lututnya terasa sedikit lemas, membuat tubuhnya tanpa sadar mencari pegangan pada bahu Arul.
Kecupan itu sangat lembut dengan suara kecipak kecil yang menghiasi setiap titik ciuman Arul. Ciuman itu awalnya menjelajah turun sebelum akhirnya kembali naik untuk menatap manik Dimas yang semakin sayu.
“Enak a?”
Dimas tak menjawab. Kepalanya justru semakin kosong. Sulit berpikir ketika Arul berdiri sedekat ini. Sulit mengingat alasan kenapa ia harus marah ketika tubuhnya justru bergerak mendekat setiap kali Arul menjauh. Yang ia tahu hanya satu; ia ingin Arul menciuminya lagi. Ia ingin bersetubuh hebat diatas bangku kotak warung milik Arul.
Maniknya turun menatap bibir Arul yang masih menyunggingkan senyum. Perlahan kepalanya maju untuk meraup ranum itu, namun pergerakan kalah dengan kecepatan Arul untuk memundurkan wajahnya.
Tatapan kecewa penuh nafsu tersirat jelas pada manik Dimas, bibirnya masih terasa hangat dan sedikit bengkak. Bahkan ketika Arul menjauh, tubuh Dimas masih menunggu kelanjutan yang tak kunjung datang. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang belum selesai. Alisnya tertekuk sebal, terlebih melihat senyum miring Arul dengan tatapan mengejek yang selalu terpatri apik di wajahnya.
“Selak pengen nemen yo, Dim?”
Dimas kepalang sange, kerah kaus Arul kini ditarik hingga kedua bibir mereka bertabrakan. Lumatan kasar tak beraturan langsung menyerbu ranum Arul yang jelas diterima apik olehnya.
Satu tangannya terselip pada pinggang Dimas yang lebih ramping. Mengelusnya naik turun dengan irama sensual sebelum jempolnya menekan pinggir pinggang itu untuk diremas tatkala sesapan mereka menguat.
“Nnhh…”
Lenguhan terpendam itu keluar dari bibir Dimas yang masih terbungkam dengan bibir Arul. Liur terasa keluar dari garis bibir mereka, sesapan terasa menggelitik bibir atas Dimas ketika Arul menyesapnya dengan ritme seperti sedang menyusu, mencari kelezatan.
Ciuman mereka mengganas di tengah lampu kuning temaram dengan aroma kopi, kayu tua, dan minyak goreng yang meresap di dinding warung bercampur menjadi satu.
Dimas yang awalnya memimpin kini kewalahan, lenguhan kecil mulai terdengar ketika bibirnya digigit pelan untuk Arul lebih mudah melesakkan lidahnya ke dalam rongga mulut Dimas.
Lidah mereka berbelit satu sama lain untuk merasakan saliva masing-masing. Beralih dari rongga satu ke rongga lainnya, hingga saat lidah Dimas berbelit pada rongga Arul, lidahnya di tahan untuk di sesap lebih lama pada rongga mulut Arul. Meninggalkan bibir Dimas mendesah terbuka dengan lidah menjulur yang diraup sesap oleh lawannya.
Ciuman itu kembali memanas ketika bibir mereka kembali di pertemukan untuk kembali merasakan pahit rokok dan manis teh yang sempat dikonsumsi.
Jemari Arul yang semula bertengger pada tengkuk Dimas kini perlahan turun pada pinggang Dimas untuk membawanya berjalan menuju bangku yang semua ditempati Dimas.
Tautan mereka tidak dilepaskan ketika Dimas mulai berjalan maju dengan Arul yang berjalan mundur sebelum akhirnya terduduk pada bangku panjang itu.
BRUKH!
Kakinya terbuka sementara Dimas menahan tubuhnya dengan satu kaki di tengah kaki Arul dan tangan yang berada di pundak Arul.
Dimas baru sadar posisi mereka sekarang. Paha Arul terbuka di bawahnya, kedua tangan Arul menahan pinggangnya agar tidak jatuh. Bahkan tiap kali ia menarik napas, dadanya akan menyentuh dada Arul.
Sialnya, tubuhnya justru tidak bergerak menjauh.
Ciuman itu tertahan sebentar sebelum akhirnya dirasa nafas mereka mulai terasa memendek. Bahu Arul ditepuk kasar oleh Dimas, membuat refleks Arul melepaskan tautan mereka.
Arul menatap Dimas yang kini berada lebih tinggi darinya, kepalanya menunduk dengan bibir basah memerah terbuka dan benang saliva yang menjuntai tipis di antara keduanya. Nafasnya tersengal.
Arul menyelipkan senyumnya sebelum mencuri kecupan pada ranum memerah Dimas. Tangannya dibawa untuk menekan pinggang Dimas untuk duduk di pangkuannya. Mengubah posisi mereka menjadi berhadapan; menyamakan tinggi dengan saling merasakan jantung yang berdegup kencang dengan penis yang sama-sama menegang dibalik celana.
Begitu tubuhnya didudukkan di pangkuan Arul, Dimas langsung menegang. Posisi itu membuatnya sadar betapa dekat mereka sekarang. Bahkan ia bisa merasakan degup jantung Arul melalui dada mereka yang saling menempel. Setiap gerakan kecil terasa terlalu jelas untuk diabaikan.
Otot-otot mereka menegang samar di tengah keheningan, merasakan hawa panas yang menguar dari tubuh mereka.
Dari kejauhan terdengar suara knalpot motor lewat, samar lalu menghilang di jalan raya. Kehidupan masih berjalan di luar sana tanpa menghiraukan keduanya yang siap menghujam nafsunya.
“Iki tah seng jare ngegalau i Mbak Putri, Dim?”
“Menengo su.”
“Kandani, gausah ambek mbakku, wong sek onok aku.”
“Aku sek seneng nyusu.”
“Gaopo nyusu kontolku.”
“Asu.”
Pipi Arul ditampar oleh Dimas bersama kalimat umpatan yang keluar. Namun Arul justru tersenyum miring sesaat wajahnya terlempar ke samping.
Tatapan tajam milik Arul menyapa manik Dimas. Hingga pada detik berikutnya ranum itu kembali ditabrakkan. Namun pada detik berikutnya, pekikan tertahan Dimas terdengar setelah bibir bawahnya digigit oleh Arul dengan cukup kuat. Tak sampai berdarah, namun cukup membuatnya memekik tertahan.
Belum sempat protes Dimas melayang, pantatnya terlebih dahulu ditampar cukup keras oleh Arul, meninggalkan bunyi yang cukup nyaring dengan teriakan Dimas.
“ARHN!”
“Ngaku o, Dim. Wong awakmu ae ngaceng saiki, ojok sok stecu.”
Dimas masih terdiam berperang pada pikirannya, suara Arul menginterupsinya.
“Lek mandek gapopo kok, Dim. Mumpung sek gurung amblas.”
Arul memang bangsat, tapi ia akan selalu mempertahankan prinsipnya untuk tidak memaksakan kehendak terlebih mengenai nafsu, bohong jika Arul tak ingin menghancurkan Dimas saat ini, tapi jika Dimas masih ingin mempertanyakan dirinya tentu Arul tak akan memaksa.
Arul memang tukang goda. Mulutnya kotor, tingkahnya ngawur. Tapi ada satu hal yang tak pernah ia mainkan, kemauan orang lain.
Kalau Dimas bilang berhenti, maka berhenti.
Sesederhana itu.
Untuk pertama kalinya malam itu, Dimas benar-benar menatap Arul. Bukan sebagai adik Mbak Putri. Bukan sebagai tukang goda yang bikin darah tinggi. Tapi sebagai seseorang yang masih memberinya pilihan ketika ia sedang setengah kehilangan akal.
Dimas terdiam tanpa penolakan atau persetujuan. Tapi Arul yakin untuk kali ini Dimas tak akan menolaknya. Benar saja, Dimas tak bergeming selain menangkup wajahnya untuk kemudian mencium pipinya mesra.
Senyum miring tengil itu kembali tercetak, lebih lebar dari sebelumnya. Muka lugu Arul yang semula menjadi pemikat warga kini berubah menjadi demit blangsak yang siap menghunjam lubang siapa saja.
“Cipokanku nagih yo sampe awakmu luluh ngene?”
Pukulan Dimas melayang menuju kepada lengah Arul. Alisnya menukik kesal akan pernyataan Arul yang jelas-jelas tak memerlukan jawaban.
Tawa Arul mengudara dengan Dimas yang memeluknya, menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Arul. Menghirup dalam-dalam aroma maskulin Arul yang terasa hangat bersama keringatnya yang mulai menghilang sesaat pergumulan hangat mereka sebelumnya.
“Dijawab ta, Dim… enak gak ciuman e Mas Arul iki?”
“Enak…” ucapan malu-malu itu sedikit teredam seiring kepalanya diusak pada permukaan kulit Arul menyembunyikan wajahnya.
“Yoopo, Dim?” Arul jelas hanya mengejek Dimas untuk meruntuhkan harga dirinya.
“Hnggnnn, enak…” hilang sudah pride Dimas.
Seumur hidup Dimas selalu merasa dirinya keras kepala. Namun malam itu harga dirinya runtuh hanya karena satu pertanyaan sederhana dari Arul.
Suara itu mengalun merdu menyapa gendang telinga Arul. Tawa bangga tercetak pada wajah tampannya yang kini mulai berkeringat.
Perlahan tangannya kembali turun untuk menyusup dibalik kaus Dimas, menyapa kulit telanjang Dimas yang perlahan menghangat.
Tangan itu mulai merambat naik, mengelus pelan punggung polos itu lalu berpindah ke bagian yang di depannya. Dimas masih tak memberikan perlawanan, justru bergerak gelisah perlahan. Membuat kejantanan mereka yang menegang bergesek dibalik celana mereka.
“Hmngnhh…”
Gumaman tak karuan itu mengalun seraya Arul yang meremas dada Dimas yang ternyata cukup berisi. Otot yang sengaja dibentuk untuk memberikan bentuk tubuh yang ideal, untuk dihancurkan.
“Seneng dirempon ngene yo?”
Rangsangannya masih ditahan untuk tidak memberikan kepuasan pada lawannya, membuat Dimas menggerakkan tubuhnya gelisah. Tanpa sadar pinggangnya mulai bergerak untuk menggesekkan kedua kejantanan mereka yang masih terbalut kain celana.
Arul tertawa remeh, mengejek Dimas yang kini mulai kehilangan pertahanannya.
“Sange nemen yo, Dim.” Tangan Arul menahan pinggang Dimas yang masih mencari kepuasan tersendiri, membuat empunya mengerang frustrasi.
“Anhgg… Mas, age tah…” kepalanya diangkat dari perpotongan leher Arul.
Dapat dilihat wajah frustrasi Dimas yang kepuasannya kini hilang. Lebih ke sange berat.
“Age opo, Dim?” ucapan lembut itu terdengar lebih bangsat kali ini.
“Ngewe…”
“Kentuen aku…”
Kewarasan Arul direnggut.
Suara mendayu dari Dimas membuatnya kini dibutakan hawa nafsu. Tangannya beralih untuk meremas bongkahan pantat Dimas yang menganggur, membuat Dimas cukup terkejut dan memekik. Setidaknya begitu sebelum ranumnya terlebih dahulu diraup kasar oleh Arul yang kepalang nafsu.
Lumatan itu kini berubah intens dengan tangan Arul yang mulai menggerayangi tubuhnya dari balik kaus.
Secara tak sabaran kaus itu diangkat untuk ditanggalkan dari tubuh Dimas, membuat tautan mereka terlepas. Arul menatap lelaki di depannya, seorang sopir truk cantik dengan puting coklat memerah dan dada yang cukup berisi.
Dia lebih ramping dari yang Arul kira, namun otot pada tangannya jelas tak bisa membohongi kekuatan dari si sopir cantik ini. Namun, masa bodoh. Malam ini kekuatannya akan digunakan hanya untuk menahan hasrat buas Arul saja.
Puas mengagumi tubuh polos itu kini ia mulai menciumi bibir Dimas, kecupan itu perlahan turun dari leher hingga tulang selangka. Sesapan dan isapan pada inci kulit itu membuat tanda memerah yang membekas lebih gelap dan kontras pada kulit Dimas.
Hingga ciuman itu kini berhenti tepat di puting Dimas. Puting kemerahan itu diraup oleh Arul, membuat Dimas sedikit tersentak merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pentilnya di hisap.
Rasa hangat yang mengelilingi putingnya membuat tubuhnya menggelinjang, rasanya seolah ada sengatan listrik yang memutus syaraf akalnya.
Rangsangannya semakin kompleks ketika salah satu tangan Arul memainkan pentil satunya yang menganggur dengan tangan satunya lagi menekan pinggangnya untuk mengikis jarak waras mereka.
Dipilin, dicubit sesekali ditarik. Lalu lidahnya lihai bermain di areola Dimas yang semakin memerah, pucuknya yang sudah mencuat semakin dibuat gila dengan permainan mulut Arul di atasnya.
Dimas hanya bisa menjambak rambut Arul untuk membawanya lebih dalam memakan dadanya. Sensasi gila dengan rangsangan yang bertubi-tubi dari Arul.
Namun rangsangan itu tiba-tiba terhenti. Arul melepaskan adegan nyusunya dan menatap Dimas yang berair karena menahan nikmat dunia.
“Dim, sepong sek yo. Gak kuat.”
Bangsat.
Kini Dimas bisa rasakan bagaimana benda itu menekan celana Arul dan bergesek dengan miliknya. Ukurannya beda besar, dengan milik Arul terasa lebih tebal.
“Mudun sek tah, sayang. Yoopo nyepot e iki?”
Dimas mendengus sebal, lalu perlahan turun dari pangkuan Arul untuk menyaksikan bagaimana Arul melepaskan kain yang mengikat pada bagian bawahnya.
Kancing itu dilepas lalu dilucuti meninggalkan dalaman yang menggembung ketika kejantanan itu tercetak menekan kain itu.
Hingga saat kain terakhir itu ditanggalkan, benda panjang itu kini terbebas. Dimas sedikit membola menatap kejantanan itu.
Gendeng, kontol iku cik.
Menghiraukan pikirannya sendiri, naluri Dimas membawanya untuk bersimpuh di hadapan Arul. Menyamakan tubuhnya dengan kontol milik Arul. Cukup membuat Arul terkejut karena ia sendiri belum mengisyaratkan apa-apa.
Namun lagi-lagi, Arul hanya dapat menyunggingkan senyum liciknya. Dimas udah tolol kepalang mabok mau dikontol.
“Nyacak, Dim. Aku pengen ngerti supir cantik iki pinter opo gak nyepong e, opo mek pinter disepong.”
Manik bulat mendongak itu menatap Arul dari bawah dengan hiasan kontolnya yang sudah menegang.
Pusing, terlalu indah untuk diutarakan. Libido Arul rasanya sudah sampai puncak ketika tangan yang sedikit kasar itu mulai melingkupi kontolnya.
Membawanya naik turun dengan ritme pelan. Gerakan ragu-ragu itu perlahan di genggam oleh Arul, membantunya untuk mengocok kontolnya lebih kencang.
“Koyok biasa e lek awakmu ngloco, Dim. Lek wes keroso siap emuten.”
Seolah tersihir, yang semula gerakannya dibimbing oleh Arul kini tangannya mulai bergerak lihai memainkan milik Arul. Entah belajar dari mana, tapi Dimas mulai memainkan pucuk kepala kontol itu, ibu jarinya berputar kecil diatas lubang kencingnya membuat Arul menggeram mendongak merasakan kenikmatan.
Dimas masih berpikir apa yang harus dilakukan berikutnya, setidaknya begitu jika saja video bokep bagaimana perempuan menjilati kontol dengan rakus mulai masuk dalam pikirannya.
Tak ambil waktu lama, Dimas mengikuti perintah nafsunya untuk menjulurkan lidahnya menjilati pangkal kontol itu hingga ujung palkonnya.
Desis dan geraman dari Arul terdengar lebih intens ketika lidah Dimas mulai bermain di palkonnya, menyelimuti kepala kontol yang sudah basah itu dengan kehangatan lidahnya.
“Emuten, Dim…”
Suara parau Arul membuat syaraf otaknya seketika padam, kini mulutnya sudah terbuka untuk kemudian meraup kontol yang ukurannya tak kira-kira itu. Benar, tak muat masuk seluruhnya.
Hangat dan lembab dari udara panas yang dapat dirakan Arul dari rongga mulut Dimas membuatnya mendongak kepayahan. Mulut Dimas saja sudah legit apalagi lubangnya?
Tangan Dimas ikut bergerilya pada bagian yang tak masuk pada mulutnya. Bergerak seirama dengan mulutnya yang mulai meneteskan saliva. Tak jarang meremasnya pelan untuk memberikan rasa nikmat pada Arul.
Surai Dimas dijambak untuk kini diambil alih kuasanya. Dengan rambut itu kini kepala Dimas ditekan lebih dalam untuk menelan kontol Arul. Tangan yang semula bertengger pada kontol itu kini berpindah pada paha Arul untuk menjadi tumpuan.
Paha itu diremas tatkala kontol itu mulai menabrak pangkal rongga mulutnya, menimbulkan bunyi becek yang menggugah selera. Mulutnya digenjot Arul.
GROCKH! GROCKH! HNGG! GROCKH!
Kini air mata sudah memenuhi pelupuk mata Dimas, hingga saat netra itu tak sanggup menampung akan nikmat dan pedih dari agenda menyepong kontol gede Arul. Air matanya mulai turun membasahi pipinya. Bulu mata yang semula kering kini ikut basah akan air mata nikmatnya.
Arul menunduk melihat bagaimana Dimas merem melek disumpal kontolnya.
“Ndangak, Dim.”
Pandangan mereka bertemu, nafsu bangsat Arul justru membuat Dimas harus menerima kontol Arul dengan lebih keras. Yang semula hanya mengikuti ritme mulut Dimas, sekarang pinggang Arul mulai digerakkan berlawanan arah. Sesekali pangkal kontolnya menabrak bibir menul Dimas yang mulai menangis.
“Cok, uayu awakmuh shh Dim..”
Bunyi kecipak basah dengan Dimas yang sesekali mendongak ke arahnya membuat Arul kepalang gila. Kepala Dimas dijambak mundur untuk mendongak menatapnya, membuat kontolnya terlepas dari rongga hangat mulut Dimas.
Bibirnya memerah dengan mulut menganga penuh saliva yang menetes, matanya berair dengan pipi basah. Pandangan sayu dengan nafas terengah. Sialan.
Kontol yang masih menegang itu kini digenggam oleh Arul untuk kemudian diarahkan ke wajah Dimas. Wajah Dimas ditampar menggunakan kontol besar Arul, permukaan basah dari kulit itu menepuk-nepuk pipinya. Dimas hanya bisa pasrah memejamkan matanya merasakan bagaimana hangat kontol itu menyentuh pipinya.
Senyum semringah Arul mengisi wajah tampannya. Ia terlampau bangga membuat Dimas kini tunduk di bawah kontolnya.
“Dim, munggah o nang mejo.”
Naik ke meja, untuk menemukan posisi yang lebih luas. Namun, Dimas enggan untuk naik sendiri.
“Gendong…”
Wajah itu kembali ditampar dengan kekehan Arul yang mengudara menatap Dimas dengan kagum. Perlahan ketiak Dimas diangkat untuk membawa tubuhnya bangkit sebelum pantat Dimas ditangkup untuk diangkat, sedangkan Dimas melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Arul dan kedua tangannya pada leher Arul. Dimas lebih hilang kewarasannya.
Perlahan Dimas diletakkan diatas meja kayu itu dengan posisi berbaring. Celananya langsung dilucuti oleh Arul hingga kini tubuhnya telanjang bulat diatas meja kayu warung pujaan hatinya dulu.
Tatapan buas Arul serasa semakin menusuk, ngeces dia liat body Dimas yang ternyata semok abis. Belum penis milik Dimas yang memerah, baru kali ini Arul melihat penis yang warnanya hampir sama dengan warna kulitnya, bahkan memerah dengan cairan precum yang mulai membasahi ujungnya. Puting yang mencuat memerah kontras pada kulit cerah Dimas yang kini mulai dipenuhi tanda kemerahan.
“Ngiler aku ndelok pentilmu, Dim. Montok.”
“Cok menengo, Mas. Ndangan duhhh…”
“Tenan njaluk di kentu arek iki wkwk.”
Dalam satu kali tarikan tubuh Dimas kini dibawa untuk lebih dekat hingga lubangnya terasa menabrak kontol Arul yang menegang membuat desahan keduanya mengudara halus.
Arul cekatan untuk kini naik mengukung tubuh Dimas, meraup ranum Dimas untuk kembali bertukar saliva dan berbelit lidah. Rasa kontol yang sedikit amis bercampur rasa saliva Dimas membuat nafsu Arul semakin memburu. Tangannya tak tinggal diam hanya untuk menahan berat tubuhnya, kini satu tangan lainnya mulai beralih untuk melesak mengurut kontol cantik Dimas yang mulai basah.
Merasakan sensasi nyelekit enak saat kontolnya diurut, Dimas mulai gelisah dalam ciumannya. Desahan dan lenguhan perlahan intens terdengar. Hingga saat dirasa Dimas tak bisa menahan desahannya, tautan mereka terlepas dengan Dimas yang mendongak dengan mulut terbuka mendesahkan nama Arul untuk bergerak lebih cepat.
“Ahnh… Mas… Cepet… AH!”
Desahannya menggila kala Arul mulai menjilati daun telinganya kembali untuk dikulum dan di kecup. Kocokkan dan permainan ibu jarinya pada palkon Dimas seraya dibuat lebih cepat sembari menuruni leher Dimas untuk dikecup dan di sesap.
Tangan Dimas kini bergerak acak meremas lengan Arul, lalu rambut, pundak dan terus mencari sesuatu untuk menyalurkan rasa nikmat yang tiada tara. Hingga saat pundak Arul diremat kencang bersama cairan hangat yang membasahi telapak tangan Arul, bucat.
Jemari kaki Dimas menekuk dengan kaki yang mengangkang di samping tubuh Arul. Desahan panjang mengalun merdu. Dimas rasa nikmatnya dua kali lipat daripada agenda ngloconya pada hari lainnya.
Namun pertunjukan belum usai pemirsa, berbekal cairan berbau pandan milik Dimas kini jari Arul telah bersiap di depan lubang Dimas. Cairan itu dioleskan pada daun pintu lubang itu, membuat gerakan memutar mengelilingi pinggir lubang itu sebelum akhirnya melesakkan satu jarinya untuk masuk ke dalam lubang Dimas.
Dimas masih belum selesai menikmati pelepasannya kini membuka matanya terkejut, refleks berpegang pada lengan dan pundak Arul ketika kakinya mulai dilebarkan dan ditekuk.
Di saat kemudian Arul melesakkan satu jarinya. Jari telunjuk Arul dapat dirasa keluar masuk pada lubangnya, jari itu masuk ke dalam tubuhnya. Rasanya aneh tapi tak bisa dijelaskan bagaimana.
Dirasa tak ingin membuang waktu, Arul menambah satu jari lainnya. Dua jari telah bersarang. Jemarinya keluar masuk pada lubang sempit itu, membuat gerakan menggunting untuk melebarkan lubang perjaka itu.
Dimas dapat merasakan pedih ketika lubangnya dipaksa melebar perlahan, namun Dimas justru bereaksi berbeda pada detik berikutnya.
“AHNG!”
Ketemu.
Arul kini telah melesakkan tiga jarinya dan membuat gerakan menggaruk dan menusuk pada lubang Dimas. Hingga sesaat ia menyentuh bongkahan lunak di dalamnya, Dimas mendesah keras dengan lubangnya yang mengetat.
Itu cukup untuk membuat Arul tahu dimana posisi titik manis Dimas.
“Dim, aku melbu yo. Rangkulen aku, lek loro cakaren ae gapopo.”
Kontol gede itu dikocok sebentar sebelum diarahkan pada lubang senggama Dimas. Palkon itu kini terasa berkedut menepuk bagian luar lubang Dimas.
Perlahan Arul mendorong kontolnya masuk, sempit banget anjing. Arul menggeram merasakan bagaimana pala kontolnya mulai dipijat dengan dinding sempit Dimas. Sementara Dimas sendiri menggigit pundak Arul, dan mencakar punggungnya merasakan bagaimana perihnya kegiatan mereka. Tubuhnya terasa terbelah dua.
Arul hanya bisa memejamkan matanya sembari berpikir bagaimana Dimas bisa merasakan kenikmatan dunia juga, teralih dari sakitnya.
Tangannya kini kembali beralih untuk menggerayangi dada Dimas, memainkan puncak dadanya. Memilin pentil Dimas yang menegang merah. Dimas yang semula menggigit pundak Arul kini melepasnya, kesempatan itu diambil Arul untuk mencium Dimas, mencoba mengalihkan rasa sakitnya.
Namun sesaat ketika ranum itu berhasil diraup, Arul justru melesakkan miliknya dalam satu kali hentak. Ciuman lembut itu kini berubah, Dimas mengerang tertahan dengan bibir Arul yang masih dikulumnya dan tangan yang mencakar punggung Arul, menenggelamkan kukunya di sana.
Arul membiarkan Dimas menyalurkan rasa sakitnya, air mata menetes dari ujung mata Dimas menuruni pipinya.
Dirasa Dimas cukup melemas, Arul kembali melesakkan lidahnya untuk kembali berperang lidah dengan Dimas, perlahan mulai menggerakkan miliknya yang telah tertanam pada tubuh Dimas.
Perlahan tapi pasti, ritme yang semula tenang itu kini mulai menggila. Penisnya ditarik sampai ujung sebelum dihentak dengan tekanan yang lebih berat, ciuman mereka telah terlepas ketika hentakan demi hentakan di hunjam pada lubang Dimas.
Berkali-kali Dimas menjambak rambut Arul untuk menyalurkan kenikmatannya. Mulutnya terbuka untuk mendesahkan nama Arul dan kenikmatan yang diberikan oleh Arul.
Meja itu kini mulai bergerak dan berdecit mengikuti hentakan dan tubuh Dimas yang terentak di atasnya. Kepalanya mendongak dengan mulut terbuka dan saliva menetes di pinggirnya. Matanya bergulir ke atas merasakan bagaimana nikmatnya disetubuhi oleh adik pujaan hatinya.
“Ehmhngh…”
Enak banget, bener-bener definisi di gaspol ndangak-ndangak. Tinggal tunggu manuknya nembak aja anjing.
“Mahssh…” suara parau Dimas memanggilnya membuat Arul memusatkan pandangannya pada manusia yang kini terhentak dibawahnya.
“Hnmg? Dalemh… Dimh??” suara Arul tak kalah parau dengan hentakan yang masih dilesakkan pada lubang Dimas.
“Nyusu ah! Masdhh enghh! Ah!”
Arul menangkap permintaan itu dengan jelas, kini kepalanya mulai turun untuk mengecup ranum penuh saliva milik Dimas sebelum semakin meluncur untuk kembali menyapa pentil coklat kemerahan milik Dimas.
Hentakannya tak dihentikan, pentil itu dikecup ringan kanan dan kiri sebelum akhirnya diraup dengan sesapan ganas mengikuti ritme desahan Dimas yang semakin menggila
“Aaahnggnhh… ehnghh! Mashdhh! Ah!”
“Enakhh… lagihs…”
“Hhh… Mass… Kontohsle ehnahkk… anghh! Nehhh! Enghh ohhhh!”
Rengekan dan desahan ribut Dimas menguasai kepalanya, Arul menatap ke atas dan melihat bagaimana Dimas menggeleng ribut kepayahan mengatasi rangsangannya.
Tangannya tak dibiarkan menganggur, kini mulai menyentuh kontol Dimas yang mulai berkedut naik turun. Kontol itu kembali diurut, diremas dan dikocok cukup cepat, membuat empunya meloloskan erangan dan desahan hebat di bawah Arul yang masih bergantian menyusu dan mengabsen pentil Dimas.
“AHdn… massh ah mash! Keluar! Aaghh! Pipishh!”
“Pipisono raiku gapopo, bareng.”
Kini hentakannya semakin menggila dengan tekanan dan kecepatan yang mulai ditambah. Manuk Arul dan Dimas siap nembak.
Hingga saat kocokan pada penis Dimas mulai seperti getaran dan hentakan kontol Arul semakin memendek jaraknya. Dalam beberapa detik kemudian keduanya keluar.
Arul mendongak, membuka mulutnya merasakan bagaimana rektum Dimas memijat kontolnya yang masih menyemburkan sperma di dalamnya. Lalu tangannya yang terasa hangat dengan kontol Dimas yang juga mengeluarkan sperma.
Kaki Dimas terangkat menekuk di sisi tubuh Arul dengan jemari kaki menekuk kaku. Dimas mendongak dengan tubuh menggelinjang hebat dan paha bergetar. Nafas dan desahnya tersengal merasakan pelepasan dan bagaimana sperma Arul menghangatkan lubangnya.
CURRR!
Dimas pipis, membasahi tubuh telanjang dan kaus Arul, bahkan sedikit menciprat ke muka Arul. Gila. Enak banget kontolnya si Arul.
DI dalam warung itu kini sangat lembab dengan panas yang menguar dari tubuh mereka, bercampur bau pandan, peluh dan kencing Dimas yang membasahi tubuh merek berdua dan meja di bawahnya.
Untuk beberapa saat tak ada yang bicara. Yang terdengar hanya napas mereka yang masih berat dan suara kendaraan jauh di luar warung. Tubuh Dimas terasa ringan sekaligus lelah. Kepalanya terkulai lemas pada meja kayu itu dengan kakinya yang juga menjuntai ringan.
Arul turun untuk mengecup kening Dimas. Membuat Dimas yang semula terpejam kini membuka matanya. Bulu mata basah dengan air mata dimana-mana, belum netra yang menatap Arul sayu. Kontol Arul rasanya kedut-kedut di bawah.
“Suwon, Dim. Mariki ojok galau i mbakku, ambek o aku ae yo.”
Setelah semuanya mereda, dunia perlahan kembali terdengar. Jangkrik di luar warung, suara motor yang lewat jauh di jalan raya, dan bunyi kipas tua yang berputar lambat di sudut ruangan. Dimas baru sadar betapa panas tubuh mereka tadi hingga mereka lupa bahwa mereka masih di dunia.
Dimas tak banyak menjawab, ia hanya mengangguk lemas lalu tangannya direntangkan untuk memeluk Arul. Namun belum sampai di pelukannya, Dimas justru menanggalkan kaus Arul yang basah karena kencingnya ke lantai.
Detik berikutnya Dimas masih belum memeluknya, justru mengalungkan tangannya pada pundak Arul, menatap Arul sayu penuh nafsu.
“Nyobak gaya liyane yo, Mas? Aku sek pengen dikentu…”
Cok matane asuu…
메타데이터
- post_id
- 7977e54a2224
- slug
- eps-o3-cinta-penjaga-warung-dan-supir-truk-cantik-7977e54a2224
- url
- https://medium.com/@amoreosen/eps-o3-cinta-penjaga-warung-dan-supir-truk-cantik-7977e54a2224
- canonical_url
- https://medium.com/@amoreosen/eps-o3-cinta-penjaga-warung-dan-supir-truk-cantik-7977e54a2224
- author_url
- https://medium.com/@amoreosen
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-22 05:41:33