← Back to list

Semua Orang Berusaha Pulang

“Setengah dari hidup orang Jakarta adalah commuting.”

march1117 · 2026-05-30 13:34 · 0 claps · 4.6 min read
#essay #jakarta #life #writing #bahasa-indonesia
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Semua Orang Berusaha Pulang

“Setengah dari hidup orang Jakarta adalah commuting.”

Entah siapa yang pertama kali mengucapkannya, tapi semakin lama berada di kota ini, semakin sulit rasanya membantah kalimat tersebut.

Setiap hari jutaan orang bergerak dari satu titik ke titik lain. Berangkat saat matahari belum terlalu tinggi, lalu pulang ketika langit sudah gelap. Berdesakan di halte, berdiri di dalam kereta yang penuh, terjebak macet berjam-jam, lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari.

Kadang aku berpikir, sebagian besar hidup kami memang dihabiskan di perjalanan.

Ironisnya, tujuan dari semua perjalanan panjang itu sebenarnya sederhana:

Pulang.

Aku kembali mengingat kejadian tepat di tanggal 4 Mei 2026.

Hari itu adalah hari Senin. Pekerjaan sedang menumpuk, ditambah penyesuaian jobdesk baru yang cukup menguras energi. Sejak sore hujan turun tanpa banyak jeda. Saat jam pulang kerja tiba, yang kuinginkan hanya satu: perjalanan yang lancar.

Lalu muncul notifikasi yang langsung mengubah suasana hati.

Gangguan operasional di Green Line, kereta tidak dapat melintas hingga waktu yang belum ditentukan.

Aku menatap layar ponsel beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ada perasaan kesal yang langsung muncul. Bukan karena gangguannya semata, melainkan karena aku tahu apa artinya.

Artinya perjalanan pulang hari itu tidak akan mudah.

Aku dan beberapa teman akhirnya memutuskan menuju Stasiun Tanah Abang menggunakan mobil online. Harapannya sederhana: saat kami tiba di sana, situasi sudah membaik dan perjalanan bisa dilanjutkan seperti biasa.

Ternyata tidak.

Sesampainya di stasiun, belum ada kepastian kapan operasional kembali normal. Stasiun dipenuhi orang-orang yang sama bingungnya. Sebagian terus memantau ponsel, sebagian lain berdiskusi mencari rute alternatif.

Yang menarik, hampir tidak ada keributan.

Di tengah kerumunan yang semakin padat, kebanyakan orang hanya terlihat pasrah. Wajah-wajah letih berdiri menunggu kabar yang belum jelas, seolah setiap orang sedang menghitung berapa lama lagi mereka harus menunda kepulangan malam itu.

Karena tidak ingin mengambil resiko terjebak lebih lama, aku dan dua temanku yang sama-sama menuju Serpong mulai mencari opsi lain.

Saat itu hujan masih turun. Driver online sulit didapat, sementara kami tidak membawa uang tunai untuk dapat menaiki opsi transport lainnya. Rasanya setiap solusi selalu diikuti masalah berikutnya.

Sampai akhirnya terdengar suara seorang supir angkot menawarkan perjalanan ke arah Serpong.

Kami langsung menghampirinya.

“Mas, QRIS bisa nggak? Kita nggak bawa cash.”

“Bisa, bisa. Naik dulu aja. Nanti gampang lah bayarnya, bisa diurus.”

Kalimat itu terdengar cukup meyakinkan untuk membuat kami bertiga naik tanpa berpikir terlalu lama.

Di dalam perjalanan, sopir menjelaskan bahwa ia akan menuju Rawa Buntu melalui jalan tol.

Seumur hidup, baru kali itu aku naik angkot melewati tol.

Biayanya memang tidak murah, tetapi pada titik itu rasanya tidak ada yang terlalu dipikirkan selain bagaimana caranya bisa terus bergerak mendekati rumah.

Lama-kelamaan rasa kesal yang sebelumnya memenuhi kepala mulai menghilang, mungkin karena suasana di dalam angkot terasa berbeda.

Sudah lama sekali aku tidak naik angkot seperti ini. Duduk di dekat jendela yang terbuka, merasakan udara dingin setelah hujan, dan memperhatikan orang-orang yang kebetulan berada dalam perjalanan yang sama.

Ada yang tertidur dengan kepala bersandar ke kaca, ada yang mengobrol santai dengan penumpang lain, teman-temanku sibuk dengan ponsel masing-masing.

Aku sempat membayangkan kehidupan orang-orang yang berada di dalam angkot itu. Bisa jadi ada yang baru selesai lembur, ada yang pulang dari kampus, atau mungkin sedang memikirkan persoalan mereka yang belum selesai. Kami tidak saling mengenal dan mungkin tidak akan pernah bertemu lagi setelah malam itu, tetapi untuk beberapa puluh menit perjalanan, hidup kami sempat bersinggungan.

Aku menyukai pemikiran itu.

Di kota sebesar Jakarta, kita sering merasa sendirian dengan masalah masing-masing. Padahal di sekitar kita ada begitu banyak orang yang sedang menjalani hari yang sama panjangnya.

Angkot yang kami tumpangi keluar di Tol BSD dan berhenti sejenak di sebuah rest area.

Di sanalah kami baru mengetahui bahwa pembayaran ternyata tidak bisa dilakukan melalui QRIS ataupun transfer. Kami pun bergantian mengambil uang di ATM sebelum melanjutkan perjalanan.

Saat itu hujan kembali turun cukup deras.

Kalau tidak salah ingat, jam sudah menunjukkan sekitar pukul setengah delapan malam.

Perjalanan kembali dilanjutkan hingga akhirnya kami tiba di Stasiun Rawa Buntu.

Di sana kami berpisah, kedua temanku pun sudah dijemput.

Aku belum.

Aku mencoba memesan ojek online berkali-kali, tetapi berkali-kali pula pesananku dibatalkan. Hujan kembali turun cukup deras. Udara malam terasa semakin dingin, sementara area stasiun perlahan mulai sepi.

Kurang lebih tiga puluh menit aku berdiri di sana sambil memegang payung dan berharap ada satu pengemudi yang bersedia menerima pesanan.

Lalu seorang bapak menghampiri.

Awalnya beliau hanya bertanya tentang gangguan kereta yang terjadi malam itu. Kami mengobrol sebentar sampai akhirnya beliau melihat layar ponselku yang masih menampilkan aplikasi ojek online.

“Kakaknya lagi cari ojek?”

Aku mengangguk.

Beliau kemudian menawarkan bantuan. Katanya ia juga seorang driver dan baru saja menyelesaikan order terakhirnya.

Tentu aku tidak langsung menerima begitu saja tawarannya. Sebagai perempuan yang sendirian pada malam hari, kehati-hatian tetap perlu diutamakan. Aku meminta beliau menunjukkan bukti bahwa dirinya memang seorang pengemudi ojek online.

Beliau tidak keberatan.

Setelah melihat riwayat order yang ditunjukkan, aku akhirnya merasa cukup tenang untuk menerima tawaran tersebut.

Perjalanan yang tersisa ternyata masih penuh tantangan.

Kemacetan ada di mana-mana. Beberapa ruas jalan tergenang banjir dan hujan juga belum benar-benar reda. Rute yang biasanya bisa ditempuh dalam belasan menit berubah menjadi hampir satu jam.

Namun pada akhirnya aku tiba di rumah dengan selamat.

Aku memberikan tip sebagai bentuk terima kasih. Jika malam itu beliau tidak menghampiri, mungkin aku masih berdiri di depan stasiun sambil berharap ada seseorang yang menerima pesananku.

Hari itu menjadi salah satu perjalanan paling mahal yang pernah kualami.

Bukan semata karena ongkos yang harus dikeluarkan, tetapi juga karena waktu, tenaga, dan energi yang terkuras sepanjang perjalanan.

Namun di sisi lain, perjalanan itu juga mengingatkanku pada sesuatu yang sering terlupakan.

Di tengah kereta yang penuh sesak, halte yang ramai, jalanan yang macet, dan kota yang bergerak terlalu cepat, setiap orang yang kita temui sebenarnya sedang membawa perjuangannya masing-masing.

Dan pada akhirnya, sebagian besar dari mereka hanya sedang mencoba melakukan satu hal yang sama:

Pulang.

Mungkin itulah alasan mengapa aku masih menyukai transportasi umum meskipun sering mengeluh tentangnya.

Di sana aku melihat potongan-potongan kecil kehidupan yang saling berpapasan sebentar, lalu melanjutkan perjalanan ke arahnya masing-masing.

Dan malam itu, di tengah gangguan kereta, hujan deras, lalu lintas yang sangat padat, aku kembali diingatkan bahwa setiap orang yang kutemui sedang membawa cerita mereka sendiri.

Kebetulan saja, untuk beberapa jam, cerita-cerita itu berjalan di jalur yang sama.

Dan kalau dipikir-pikir sekarang, sebenarnya ada bagian dari perjalanan itu yang terasa seru.

Aku bisa naik angkot lagi setelah bertahun-tahun, melewati tol untuk pertama kalinya, bertemu orang-orang yang tidak kukenal, sampai mengalami berbagai kejadian yang rasanya terlalu absurd untuk direncanakan. Dalam keadaan yang berbeda, mungkin semua itu akan menjadi cerita yang menyenangkan untuk dikenang.

Tapi mungkin memang lebih enak dikenang daripada diulang.

Jadi kalau ada yang bertanya apakah pengalaman itu seru?

Sedikit.

Apakah aku mau mengalaminya lagi?

Jelas tidak.

Untuk sementara, aku cukup berharap bisa pulang seperti orang normal: naik kereta, tidak berdesak-desakan, tidak perlu berganti kendaraan berkali-kali, dan sampai di rumah tanpa harus menjalani petualangan dadakan terlebih dahulu.


메타데이터
post_id
79bbc81610a7
slug
semua-orang-berusaha-pulang-79bbc81610a7
url
https://medium.com/@march1117/semua-orang-berusaha-pulang-79bbc81610a7
canonical_url
https://medium.com/@march1117/semua-orang-berusaha-pulang-79bbc81610a7
author_url
https://medium.com/@march1117
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30