← Back to list

Ugoi (rakyat mediocre)

(AL) Alauddin S. · 2024-05-12 20:10 · 1 claps · 4.5 min read
#cerpen-indonesia #tobat #plot-twist #renungan
Open on Medium ↗

Ugoi (rakyat mediocre)

Terletak di kos-kosan sederhana jauh menembus basement sempit ukuran 4 x 4, panas gerah minim sirkulasi udara, dan diterangi lampu redup lanjut usia. 4 sekawan metroseksual, mahasiswa tingkat akhir, duduk bersila beralas tikar, ditemani kopi hitam berselang pisang goreng, sedang serius-seriusnya merencanakan agenda besar. Seolah masa depan umat sedang dipikul, hingga pisang goreng yang difungsikan sebagai media silaturahmi dipakai untuk booster adu mulut menggali solusi. Malam itu adalah penentu rencana akbar mereka, blue print prosuderal dan tahap-tahap dalam bertingkah, dan pastinya semua harus terlaksana secara sistematis! Apa gerangan sebenarnya? Gerombolan pemuda paruh baya mau membujuk sahabatnya yang malas sholat.

Di waktu yang bersamaan, Nun jauh di sana, di perumahan kayu pinggiran ibu kota, jabuk lantai kayunya, sedikit bocor di ruang depan jika hujan deras menerpa. Ugoi si bujang perjaka seperantaran umur mahasiswa abadi, dengan postur membungkuk, sedikit berlemak, sedang santai rebahan di rumah, menikmati malam seakan tak ada hari esok dan tak pernah terbetik sedetikpun untuk introspeksi dengan kondisinya yang amburadul. Ugoi adalah target sasaran rencana terselubung ini. Memang tak terukur tingkat malasnya. Jika meminjam diagnosa dokter, kemalasan Ugoi sudah berada di stadium empat tak terselamatkan. Andaikata tak ditangani dengan cepat, tanggap, dan berdasar formula yang tepat, Ugoi akan buta dengan Tuhannya sendiri.

Empat sekawan secara amatiran berspekulasi bahwa periode kemalasan Ugoi akan hilang menguap seiring memasuki musim hujan, karena alasan klasik Ugoi selalu didalihi dengan panas terik matahari. Di titik ini semua alasan Ugoi terlihat goblok nan tak masuk akal, lantaran selama ini rebahannya selalu di bawah terpaan kipas angin. Mendengar ocehan yang berulang-ulang dan tak bermakna ini, 4 sekawan dengan berat hati memaklumi sambil menyelidik dengan harapan Ugoi akan solat kembali bertepatan ketika gelora angin sejuk dari musim hujan tiba. Karena malasnya tak ketolongan, Ugoi masih enggan solat dengan alibi air sumur buat Wudhunya dingin tak terbayang.

Dua jam terkuras nihil tanpa hasil, berdebat dengan harapan mendapat resolusi, tapi alih-alih dengan ekspetasi, secercah jalan keluarpun belum didapati. Walaupun berlarut-larut tandas hingga tengah malam dan masih jauh dari progress, mereka sekarang makin memahami Tabi’at Ugoi. Di samping berlabel mahasiswa abadi karena IQ tiarap, Ugoi juga tertimpa beberapa masalah keluarga satu tahun yang lalu, masalah pelik memeras emosi yang menjalari kelakuan dan pola-pikirnya. Semakin kesini, empat sekawan makin menarik topik diskusi ke langkah persuasive sebagai premise rencana yang akan diambil. Di awal silang pendapat, Udin, yang sering menyeret emosi di ruang rapat, mengusulkan cara yang tragis dan mengena seperti bentakan, kucilkan, dan telantarkan. Tentu saja tiga suara yang lain menolak mentah-mentah ide ini, pertama karena kejam dan kedua itu psikopat.

Dari empat mahasiswa ini cuma usulan Ucok yang terlihat masuk akal dan berperasaan. Meminjam strategi partai lokal saat ingin mengusungkan calonnya. Ucok berinisiatif tuk menanamkan memori pentingnya solat di spot-spot strategis seperti saat kumpul malming di rumah Udin, poster berisi untaian nasehat akan pentingnya solat. Jika dua minggu telah berlalu, konten poster akan menyoroti topik yang sedikit mengancam “Azab dan malapetaka bagi mereka yang meninggalkan solat”. Tak luput disela percakapan juga di isi dengan diskusi mengenai solat. Tak lupa kami membujuk Ugoi untuk solat jika azan telah berkumandang, sekalipun dia menepis dengan ribuan omong kosong. Di Group Whatsapp kami sebarkan petuah-petuah ulama’ yang tak terlalu panjang. Dan untuk pemungkas, kami selipkan satu dua dark joke siksa kubur.

Di minggu awal pelaksanaan proker, belum terpancar sedikitpun cahaya ilahi di wajah Ugoi, masih seperti bak langit hitam gelap berawan hitam. Empat sekawan mengetahui betul bahwa rencana ini tak semudah yang mereka bayangkan. Menggusur kemalasan dengan cara santun memerlukan konsistensi yang terjaga, membabat energi serta emosi. Berdasar kalkulasi, 3 bulan adalah jangka waktu ideal untuk mengubah pola-pikir Ugoi. Demi persahabatan, Ugoi adalah alasan yang cukup sebagai sumber api semangat para empat sekawan dengan bara pantang menyerah. Mereka sudah sumpah besi berkomitmen memberikan yang terbaik, dan tiada kata resign sebelum rampung 3 bulan.

Minggu silih berganti, hingga kalender hari menginjakkan kakinya di bulan yang baru. Menilik progress Ugoi, tiada hasil memuaskan untuk dibanggakan. Ugoi masih lenggak lenggok, tak bertata krama dan nol dari ibadah. Dang, salah satu empat sekawan, sedikit kalem, jurusan psikologi, yang bertugas khusus menyelidik raut muka dan tingkah laku Ugoi, juga turut menggeleng-geleng pertanda nihil. Empat sekawan mulai cemas

Memasuki akhir bulan ketiga, tak satupun rangkuman data memamerkan kesuksesannya. Empat sekawan memutuskan berkumpul di pangkalan Starling (Starbucks keliling) dekat bundaran HI. Spot ini dipilih karena bersahabat dengan dompet akhir bulan. Mereka bertekad untuk melakukan evaluasi dan mungkin menjadi pertemuan terakhir mereka membahas grand planning ini. Malam itu, dihiruk piruk lalu lintas ibu kota, hilir mudik wajah kantuk bersiram lelah, ditambah dengan derita asap kenalpot dan desing mesin kendaraan. Semua hati empat sekawan bergelut rasa kecewa dan sedih. Karena selama grand planning 3 bulan yang lalu, mereka sigap dengan alternatif dan jalan keluar, dan siap mengantisipasi setiap kemungkinan yang ada, tapi fakta menjungkar-balik angan-angan, rencana ini justru berakhir tragis jauh dari ekspektasi. Tanpa basa-basi, hanya 30 menit tatap muka, lalu beranjak pergi layaknya seorang pecundang dengan semua kekalahannya.

Esok hari, ketika fajar shidiq menyinsingkan horden menyambut matahari, Azan shubuh berkumandang. Ucok bergeliat bak ulat mendengar komandan membunyikan gendang perang, bangun menjerit perih sambil memegang kepalanya yang berdenyut-denyut, Ucok memimpikan hal yang ganjil. Di mimpinya, Ucok melihat lima orang berpakaian compang camping terdampar di Gurun mencoba bertahan, tak ada makanan tak ada minuman pun tak ada tempat tuk berteduh. Di tengah terik matahari yang membakar sampai ke ubun-ubun, datang seorang kakek tua, bersinar putih bajunya, teduh mukanya, datang mengambil salah satu dari lima sekawan, membawanya terbang tinggi hingga tak terlihat kemana rimbanya.

Ucok mencoba bertasbih, beranjak mengambil Wudhu, berusaha melupakan semua mimpi ini. Anehnya, selama diperjalanan menuju masjid, Ucok dihantui keganjalan, seolah mimpi tadi begitu nyata. Hingga masuk ke perantaraan Masjid, melepas sendal, masuk dari pintu samping, seketika Ucok tercengan melihat shaf paling depan, di dekat mimbar dia melihat Ugoi. “Apakah aku masih bermimpi?” Sahut hati Ucok tak percaya. Namun posisi Ugoi saat itu sungguh spesial, didekat mimbar berdekap kain kapan, berbaring di bawah keranda jenazah, dan tertulis jelas ALMARHUM UGOYONTO bin SELAMET di atas kertas menempel di usungan jenazah. Ucok berdiri mematung, membendung kesedihan yang mendalam. James dengan kopiah bulatnya, perlahan datang kesampingnya, yang juga hampir menumpahkan tangis pilu, memegang pundak Ugoi mencari teman tuk berduka. Cepat atau lambat, di balik yang empat sekawan ini rencanakan, tetap Tuhanlah sang pemegang hakiki segala rencana. Menunjukkan bahwa kuasa-Nya lah yang satu-satunya kuasa tak tertandingi. Dan di riwayat garis takdir Ugoi. Tuhan memilih untuk mencabut nyawanya malam itu.

Ugoi, sahabat hidup semati empat sekawan, memang pergi ke masjid berbalut pakain putih menutupi aurat dengan rapi, harum bermandikan wangi-wangian pertanda dia sudah suci, namun dia ke masjid bukan karena langkah kakinya yang menghendaki tapi sudah waktunya dia kembali ke pangkuan Ilahi


메타데이터
post_id
79f273a985cd
slug
ugoi-rakyat-mediocre-79f273a985cd
url
https://medium.com/@el.shahih/ugoi-rakyat-mediocre-79f273a985cd
canonical_url
https://medium.com/@el.shahih/ugoi-rakyat-mediocre-79f273a985cd
author_url
https://medium.com/@el.shahih
status
ok
fetched_at
2026-07-23 21:04:19