← Back to list

Dakwah dengan Hati ala Buya Hamka: Belajar Menyentuh Hati, Bukan Melukai

Belajar mengutamakan budi pekerti sebagai pedoman jalan dakwah.

Naufal Khair · 2024-12-05 05:32 · 0 claps · 3.6 min read
#islam #akhlaq #dakwah #buya-hamka
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Dakwah dengan Hati ala Buya Hamka: Belajar Menyentuh Hati, Bukan Melukai

Image: Wikipedia

Image: Wikipedia

Dalam sejarah peradaban Islam, dakwah adalah seni menyampaikan kebenaran dengan kasih sayang, bukan berarti menyuarakan kebenaran dengan merendahkan. Sosok Prof. Dr. Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), seorang ulama, cendikiawan, jurnalis, sastrawan, politikus, serta Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dapat menjadi teladan bagaimana dakwah seharusnya dilakukan, yaitu dengan hati yang lembut, akhlak mulia, dan wawasan mendalam.

Buya Hamka dikenal dengan pendekatan dakwahnya yang penuh hikmah dan kasih sayang. Ia mengajarkan bahwa seorang da’i harus menjadi cerminan dari ajaran Islam yang menyejukkan, bukan malah merusak hati manusia. Sebagai pendakwah, pria kelahiran tanah Minangkabau ini piawai berdakwah melalui media tulisan, seperti dalam karya-karya monumentalnya Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, dan masih banyak lagi yang hingga kini masih terus dicetak ulang.

Tidak hanya dalam karya tulisnya, kalimat-kalimat sastra seperti itu juga kerap muncul dalam banyak ceramah dan khotbah Buya Hamka. Sebagaimana kutipan dalam salah satu ceramahnya, ia berkata, “Dakwah itu membina, bukan menghina; dakwah itu mendidik, bukan membidik; dakwah itu mengobati, bukan melukai; dakwah itu mengukuhkan, bukan meruntuhkan; dakwah itu saling menguatkan, bukan saling melemahkan.”

Selain itu, khazanah ilmu pengetahuan agamanya juga dituangkan di dalam karangannya Tafsir Al-Azhar, di mana ia menjelaskan tafsir surah An-Nahl ayat 125: “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” Buya Hamka beranggapan bahwa dakwah yang efektif harus memperhatikan kondisi psikologis dan latar belakang audiens. Dengan kata lain, dakwah akan tepat sasaran jika sebaiknya disampaikan dengan kelembutan dan penuh kebijaksanaan.

Dakwah dengan Cinta, Bukan Cemoohan

Belakangan ini, kita menyaksikan peristiwa di mana seorang tokoh agama sekaligus utusan khusus presiden RI melontarkan ucapan kasar yang terkesan mengejek atau merendahkan profesi penjaja minuman es teh di pengajiannya. Sikap ini sangat kontras dengan ajaran agama Islam. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 11, yang berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلْإِسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Penjaja minuman es teh sendiri dalam pandangan saya, dapat dimaknai sebagai simbol perjuangan hidup, bahkan ia termasuk ke dalam kategori jihad. Setiap tetes keringatnya pun dapat terhitung sebagai ibadah, karena Islam sendiri mengajarkan bahwa setiap pekerjaan halal, sekecil apapun, lebih mulia daripada meminta-minta. Sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, “Seseorang yang membawa seutas tali, lalu ia mencari kayu bakar, kemudian ia menjualnya untuk makan, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Setali tiga uang dengan hal itu, Buya Hamka juga menulis di dalam karyanya Falsafah Hidup, “Segala pekerjaan tidak ada yang rendah dan hina. Hinanya pekerjaan atau mata pencaharian ialah lantaran hinanya perangai ketika mengerjakannya.” Ia juga menambahkan, “Adab adalah pakaian jiwa. Tidak ada ilmu yang akan bermanfaat tanpa adab yang menuntunnya.” Dari sini kita dapat melihat perspektif komunikasi dakwah Buya Hamka, yang mengedepankan pentingnya akhlak dan adab sebagai kunci sukses dakwah.

Buya Hamka pun selalu mengedepankan dialog penuh hikmah dan kehangatan dalam dakwahnya. Di dalam rekaman kasetnya kita dapat mendengar bagaimana gaya bicaranya yang menenangkan, bahkan bagi mereka yang berbeda pandangan. Ia tak pernah menggunakan bahasa kasar atau merendahkan kelompok tertentu, melainkan merangkul semua golongan dengan kasih sayang.

Dalam menghadapi perbedaan pendapat, Buya Hamka tidak pernah menyerang, tetapi menjelaskan pendapatnya dengan dalil dan logika yang kuat. Dalam buku Falsafah Hidup juga, ia menulis, “Jangan membalas keburukan dengan keburukan, karena hanya akan memperbesar keburukan. Lawanlah keburukan dengan kebaikan, agar dunia ini menjadi tempat yang lebih damai.”

Meneladani Buya Hamka di Era Kini

Di tengah era digital yang penuh dengan berbagai opini ini, gaya dakwah Buya Hamka rasanya masih sangat relevan untuk diadopsi. Peran dakwah bukan sekadar tentang mengejar popularitas atau menjadi viral, tetapi tentang menyentuh hati manusia. Sebagaimana beliau pernah berkata, “Keberhasilan dakwah tidak diukur dari banyaknya pengikut, tetapi dari banyaknya hati yang tersentuh.”

Para da’i perlu bermuhasabah kembali dalam menjaga prinsip-prinsip Islam yang menekankan kelembutan, hikmah, dan akhlak mulia. Dakwah adalah tugas mulia untuk membawa manusia ke jalan kebenaran, bukan memperkeruh hati dengan ucapan yang menyakitkan. Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi semesta alam. Oleh karena itu, para da’i seharusnya menjadi wajah yang baik dari ajaran ini.

Penutup

Buya Hamka telah memberikan pelajaran berarti kepada kita bahwa ilmu tanpa adab hanya akan menjadi angin kosong yang berlalu. Dakwah yang sejati adalah dakwah yang lahir dari hati dengan cara memadukan antara ilmu dan adab yang luhur. Seperti yang diutarakan Rasulullah SAW. Ia pernah ditanya oleh sahabat tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke surga. Kemudian Beliau, bersabda “Taqwa kepada Allah dan bagusnya akhlak.” (HR at-Tirmidzi)

Semoga kita senantiasa mampu meneladani akhlak mulia dalam setiap langkah dakwah, membawa pesan Islam yang menyejukkan dan membangun, bukan yang merendahkan atau melukai. Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi:

Hamka, Buya. Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1964.

Hamka, Buya. Akhlaqul Karimah. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1971.

Abdulmalik, KA. Falsafah Hidup. Jakarta: Princeton University Press, 1954.


메타데이터
post_id
7a04c93ed87f
slug
dakwah-dengan-hati-ala-buya-hamka-belajar-menyentuh-hati-bukan-melukai-7a04c93ed87f
url
https://medium.com/@achmadnaufalkh/dakwah-dengan-hati-ala-buya-hamka-belajar-menyentuh-hati-bukan-melukai-7a04c93ed87f
canonical_url
https://medium.com/@achmadnaufalkh/dakwah-dengan-hati-ala-buya-hamka-belajar-menyentuh-hati-bukan-melukai-7a04c93ed87f
author_url
https://medium.com/@achmadnaufalkh
status
ok
fetched_at
2026-07-21 20:25:59