← Back to list

Refleksi Mahasiswa Rantau: Apatisme Bali di Tengah Krisis Nasional

Sebagai seorang mahasiswa rantau asal Bali, saya selalu membawa kebanggaan terhadap tanah kelahiran saya. Bali dikenal dunia karena…

I Gede Gohan Adiputra · 2025-09-03 04:10 · 3 claps · 1.7 min read
#apatisme #bali #refleksi
Open on Medium ↗
Wiki topics: AIM · AI in Marketing

Refleksi Mahasiswa Rantau: Apatisme Bali di Tengah Krisis Nasional

(Sumber Foto: Arsip Pribadi)

(Sumber Foto: Arsip Pribadi)

Sebagai seorang mahasiswa rantau asal Bali, saya selalu membawa kebanggaan terhadap tanah kelahiran saya. Bali dikenal dunia karena budayanya yang luhur, masyarakatnya yang ramah, serta filosofi hidup yang menjunjung nilai keseimbangan. Namun dibalik itu, ada kegelisahan yang tidak bisa saya sembunyikan, yaitu sikap apatis sebagian masyarakat Bali terhadap kondisi bangsa saat ini.

Dewasa ini, kita hidup di tengah situasi di mana aspirasi rakyat seringkali terabaikan, suara kebenaran ditindas oleh segelintir oknum yang menduduki kursi kekuasaan, dan kebijakan yang lahir justru kerap menjauh dari kepentingan rakyat kecil. Dalam kondisi seperti ini, seharusnya setiap daerah termasuk Bali, hadir dengan suara kritisnya. Sayangnya, yang tampak justru diam dan pasrah, seolah tidak ada hal yang perlu diperjuangkan.

Apatisme ini tentu tidak lahir begitu saja, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi. Pertama, budaya harmoni dan sikap nrimo sering kali dipahami sebagai tindakan menghindari konfrontasi, meskipun dihadapkan dengan ketidakadilan. Kedua, fokus utama masyarakat pada pariwisata dan ekonomi sehari-hari membuat isu politik dianggap jauh dari realitas masyarakat. Terakhir, tidak bisa dilupakan pula, trauma politik masa lalu meninggalkan rasa enggan untuk bersuara karena dianggap berisiko. Saya memahami hal-hal seperti itu, tetapi bukan berarti kita bisa terus membenarkan sikap diam dan “koh memunyi”.

Sebagai mahasiswa Bali yang saat ini mengenyam pendidikan di luar Bali, saya melihat ada hal kontras yang cukup tajam. Di luar Bali, saya menyaksikan masyarakat lebih berani, lebih vokal, dan lebih sadar akan urgensi memperjuangkan suara rakyat. Kontras ini yang membuat saya geram sekaligus gelisah, sampai kapan Bali hanya dikenal karena pariwisatanya, tanpa berani menyumbang suara yang berarti dalam memperjuangan keadilan nasional?

Saya percaya, generasi muda Bali, terutama mahasiswa, punya andil besar untuk memutus rantai apatisme ini. Menyuarakan aspirasi rakyat tidak selalu harus dengan teriakan di jalan. Ada banyak cara lain yang bisa dilakukan, misalnya melalui tulisan, forum diskusi, karya seni, maupun memanfaatkan ruang digital. Hal yang paling penting adalah adanya niat dan keberanian untuk menyatakan bahwa kita peka serta peduli dengan kondisi negeri ini.

Kegelisahan ini lahir bukan karena saya membenci tanah kelahiran saya, melainkan karena saya cinta terhadap tanah yang luhur ini. Saya ingin melihat Bali tidak hanya berdiri megah sebagai destinasi wisata dunia, tetapi juga sebagai tanah yang dihuni oleh masyarakat yang berani, berani berpihak pada kebenaran dan berani menyuarakan keadilan. Sebab, diam di hadapan ketidakadilan sama artinya dengan ikut melanggengkan ketidakadilan tersebut.

Semarang, 3 September 2025

I Gede Gohan Adiputra


메타데이터
post_id
7a0f00a56f1b
slug
refleksi-mahasiswa-rantau-apatisme-bali-di-tengah-krisis-nasional-7a0f00a56f1b
url
https://medium.com/@igedegohan/refleksi-mahasiswa-rantau-apatisme-bali-di-tengah-krisis-nasional-7a0f00a56f1b
canonical_url
https://medium.com/@igedegohan/refleksi-mahasiswa-rantau-apatisme-bali-di-tengah-krisis-nasional-7a0f00a56f1b
author_url
https://medium.com/@igedegohan
status
ok
fetched_at
2026-07-26 15:15:35