Kuda Mati dalam Pembangunan Zona Integritas
#70: Saatnya Berhenti Mempertahankan Pola Lama
OPINI FUADI
Kuda Mati dalam Pembangunan Zona Integritas
#70: Saatnya Berhenti Mempertahankan Pola Lama
Photo by Soledad Lorieto on Unsplash
Beberapa waktu yang lalu, di beranda saya muncul artikel tentang teori kuda mati. Teori ini konon berasal dari pepatah suku Dakota Indian yang berbunyi:
"Ketika Anda menyadari bahwa Anda sedang menunggangi kuda yang sudah mati, solusi terbaik adalah turun dari kuda tersebut."
Teori ini mengajarkan kita untuk segera menghentikan usaha mempertahankan sesuatu yang sudah tidak efektif. Sudah tahu kuda mereka mati, mereka malah memberi makan kuda itu, mengganti perawat kuda, mengadakan rapat untuk meningkatkan produktivitas kuda, studi banding perawatan kuda, atau bahkan membuat definisi sendiri apa yang dimaksud dengan mati itu.
Belum bergabung di Medium? Lanjutkan membaca di sini.
Ironisnya, banyak organisasi justru bertindak sebaliknya, yaitu mempertahankan hal-hal tidak efektif itu. Alih-alih turun dari kuda mati dan berganti kuda baru, mereka malah menghabiskan waktu dan energi untuk memaksakan sesuatu yang tidak lagi memiliki peluang berhasil.
Peristiwa ini tanpa disadari terjadi di kantor saya, khususnya dalam hal kegiatan pembangunan Zona Integritas (ZI) menuju predikat Wilayah Bebas (WBK).
Beberapa hari lalu, kantor kami mengadakan rapat untuk persiapan kegiatan pembangunan ZI di tahun 2025. Di tempat saya, rapat adalah sebatas agenda kegiatan yang terkadang sekadar formalitas rutin. Rapat tidak digunakan untuk belanja masalah dan mencari solusi atas masalah-masalah itu.
Kami telah memulai pembangunan ZI sejak tahun 2020, namun hingga kini belum berhasil meraih predikat WBK. Sayangnya, kegagalan ini tidak pernah benar-benar dijadikan pelajaran. Pola kerja yang sama tetap diulang, meski terbukti gagal.
Seharusnya, kegagalan yang terjadi bertahun-tahun itu menjadi pelajaran dan dijadikan bahan evaluasi. Sayangnya itu tidak terjadi. Tidak ada evaluasi atas penyebab kegagalan-kegagalan sebelumnya dan bahkan strategi yang sama masih saja dilakukan.
Saya mau tidak mau jadi teringat teori kuda mati itu ketika rapat berlangsung. Betapa repitisi kuda mati tetap dipertahankan dalam rangka upaya pembangunan ZI itu. Kuda mati itu dapat diartikan sebagai kebiasaan, sistem, atau pola kerja upaya pembangunan yang terbukti gagal tapi dipertahankan dengan berbagai alasan.
Tanpa perlu saya ceritakan secara detail, tapi kurang lebih kuda mati itu berupa pendekatan yang berbasis sebatas pemenuhan dokumen, apologi ketidakterlibatan para koordinator, dan abai terhadap inovasi-inovasi.
Respon yang diberikan atas kuda mati itu dari dulu masih saja sama yaitu mempertahankan status quo berupa taktik yang sama, menekankan bahwa ketidakberhasilan meraih WBK adalah karena ketidakberuntungan, rotasi tim pemenuhan dokumen dengan harapan mungkin akan ada nuansa baru, dan bersikap defensif atas usulan-usulan baru.
Saya cenderung tidak bisa diam melihat yang kurang pas ini, sehingga saya memang memberikan usulan untuk turun dari kuda mati itu. Pada kesempatan itu saya mengusulkan langkah-langkah, diawali dengan pertanyaan yang cukup ekstrim yaitu sebenarnya kita serius atau tidak untuk berupaya memperoleh predikat ini.
Keseriusan ini bagi saya penting karena bakal menentukan kualitas dari pembangunan ZI ini. Kalau sekedar formalitas saja ya buat apa. Predikat tidak kita dapat dan energi juga bakal terbuang sia-sia.
Kalau memang kita mau serius, buang jauh-jauh sikap permisif atas kesibukan pekerjaan sebagai dalih untuk tidak turut serta menyiapkan dokumen pemenuhan. Menyerahkan pemenuhan dokumen hanya kepada tim kecil tanpa ada mekanisme koreksi dan validasi adalah kesalahan nyata pemenuhan dokumen yang terbukti menyebabkan kita gagal di dua tahun terakhir. Semua pihak harus ikut terlibat, sehingga keberhasilan maupun kegagalan pembangunan akan menjadi tanggung jawab bersama.
Selanjutnya saya juga menyampaikan bahwa fokus hanya pada pemenuhan dokumen pun juga adalah sebuah kesalahan. Pemenuhan dokumen adalah adalah bentuk dokumentasi kegiatan jadi tentu kegiatan itu harus dilaksakanan dulu. Apa yang mau didokumentasikan kalau kegiatannya tidak ada?
Terakhir, evaluasi rutin harus menjadi bagian penting dari proses pembangunan ZI. Kegagalan di masa lalu harus dianalisis secara mendalam untuk mengidentifikasi penyebab utama dan memperbaiki strategi ke depan.
Evaluasi ini harus benar-benar dilaksanakan, bukan sekadar formalitas. Strategi hasil evaluasi akan menjadi patokan bagi tim untuk melangkah agar tim tidak bergerak tanpa panduan.
Zona Integritas bukan sekadar sertifikat atau penghargaan, tetapi komitmen untuk terus beradaptasi dengan perubahan. Jika pola kerja lama untuk terbukti tidak berhasil mencapai tujuan itu, maka solusi terbaik adalah berhenti mempertahankannya.
Seperti halnya teori kuda mati, mempertahankan kebiasaan yang tidak produktif hanya akan membuang waktu dan sumber daya. Sebaliknya, berani turun dari kuda mati adalah langkah awal menuju perubahan nyata.
Berani melangkah meninggalkan kuda mati akan membuat kita lebih siap menghadapi tantangan apapun, termasuk tantangan membangun zona integritas yang merupakan bagian dari reformasi birokrasi untuk memenuhi harapan masyarakat akan pelayanan yang bersih, transparan, dan profesional.
메타데이터
- post_id
- 7a15ebeef009
- slug
- kuda-mati-dalam-pembangunan-zona-integritas-7a15ebeef009
- url
- https://medium.com/@yasirfuadi/kuda-mati-dalam-pembangunan-zona-integritas-7a15ebeef009
- canonical_url
- https://medium.com/@yasirfuadi/kuda-mati-dalam-pembangunan-zona-integritas-7a15ebeef009
- author_url
- https://medium.com/@yasirfuadi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 16:52:50