← Back to list

Kawasan Benteng Somba Opu: Analisis Daya Dukung Lingkungan dalam Konteks Preservasi dan Aktivitas…

Kawasan Benteng Somba Opu sebagai kompleks bersejarah yang masih aktif digunakan oleh komunitas mahasiswa menghadapi dilema preservasi…

Putrirhm · 2025-06-16 12:41 · 0 claps · 4.5 min read
#arsitektur #architecture #tradisional #ikon
Open on Medium ↗
Wiki topics: BIZ · Business Strategy 🏛️ · Architecture

Kawasan Benteng Somba Opu: Analisis Daya Dukung Lingkungan dalam Konteks Preservasi dan Aktivitas Mahasiswa

Gambar 1. Motor yang terparkir dibawah kolong rumah adat, Sumber : Data pribadi

Gambar 1. Motor yang terparkir dibawah kolong rumah adat, Sumber : Data pribadi

Kawasan Benteng Somba Opu sebagai kompleks bersejarah yang masih aktif digunakan oleh komunitas mahasiswa menghadapi dilema preservasi terhadap utilisasi kontemporer. Penggunaan rumah adat besar sebagai ruang aktivitas mahasiswa, yang ditandai dengan kehadiran motor-motor yang parkir sembarangan dan intensitas aktivitas modern, menimbulkan pertanyaan krusial tentang daya dukung lingkungan bersejarah terhadap tekanan aktivitas kontemporer.

Dalam konteks target perilaku, evaluasi daya dukung lingkungan kawasan Benteng Somba Opu menggunakan empat parameter terukur utama yang menjadi norma acuan kritisasi. Parameter pertama adalah jumlah kendaraan bermotor yang menggunakan kawasan per satuan waktu. Berdasarkan observasi langsung, kawasan ini menampung rata-rata 25–30 unit sepeda motor pada jam puncak aktivitas mahasiswa (pukul 09.00–11.00 dan 13.00–15.00). Standar acuan yang digunakan adalah kapasitas maksimum 15 unit kendaraan bermotor per hektar untuk kawasan bersejarah sesuai dengan rekomendasi UNESCO untuk situs warisan yang masih difungsikan (UNESCO World Heritage Centre, 2020). Dengan luas kawasan aktif sekitar 1,2 hektar, kapasitas ideal adalah 18 unit kendaraan, sementara kondisi eksisting menunjukkan angka yang melebihi 65% dari kapasitas ideal pada jam puncak.

Gambar 2. Motor yang terparkir dibawah kolong rumah adat, Sumber : Data pribadi

Gambar 2. Motor yang terparkir dibawah kolong rumah adat, Sumber : Data pribadi

Parameter kedua yang menjadi fokus evaluasi adalah tingkat kebisingan yang dihasilkan oleh aktivitas kontemporer. Pengukuran menggunakan sound level meter menunjukkan bahwa tingkat kebisingan di area parkir motor mencapai 68–72 dB pada jam sibuk, sementara di dalam rumah adat yang digunakan untuk aktivitas diskusi mahasiswa mencapai 55–60 dB. Standar acuan untuk kawasan bersejarah dengan fungsi kontemplasi dan aktivitas budaya adalah maksimum 50 dB untuk area luar dan 45 dB untuk area dalam bangunan, sesuai dengan rekomendasi WHO untuk lingkungan yang mendukung aktivitas intelektual dan preservasi ketenangan kawasan bersejarah (World Health Organization, 2018; International Organization for Standardization, 2017). Data ini menunjukkan bahwa tingkat kebisingan eksisting melebihi standar ideal sebesar 36% untuk area luar dan 33% untuk area dalam bangunan.

Evaluasi jejak karbon sebagai parameter ketiga menggunakan kalkulasi emisi dari aktivitas transportasi dan penggunaan energy di kawasan. Berdasarkan perhitungan mengikuti metodologi IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change, 2021) dan panduan EEA (European Environment Agency, 2019), 30 unit sepeda motor yang beroperasi rata-rata 2 jam per hari di kawasan menghasilkan emisi CO2 sebesar 2,4 kg per hari atau 876 kg per tahun. Standar acuan untuk kawasan bersejarah yang ramah lingkungan adalah maksimum 1,5 kg CO2 per hari untuk keseluruhan aktivitas transportasi (International Energy Agency, 2020), sehingga kondisi eksisting melebihi standar sebesar 60%. Angka ini belum termasuk emisi dari aktivitas lain seperti penggunaan peralatan elektronik dalam kegiatan mahasiswa yang diperkirakan menambah 0,8 kg CO2 per hari.

Parameter keempat adalah dampak visual yang dinilai melalui tingkat gangguan terhadap karakter historis kawasan. Menggunakan metoda Visual Impact Assessment (VIA) berdasarkan Guidelines for Landscape and Visual Impact Assessment (Landscape Institute and Institute of Environmental Management & Assessment, 2013) dan prinsip analisis visual Smardon et al. (1986), dampak visual aktivitas modern diukur berdasarkan skala 1–10, dimana 1 adalah “tidak mengganggu karakter historis” dan 10 adalah “merusak karakter historis secara signifikan”. Kehadiran motor yang parkir sembarangan tanpa area yang tertata dinilai 7,5 pada skala ini, sementara aktivitas mahasiswa dengan peralatan modern (laptop, sound system portable) dinilai 5,5. Standar acuan untuk kawasan bersejarah adalah maksimum skala 4,0 untuk mempertahankan integritas visual kawasan sesuai dengan pedoman pengelolaan kawasan cagar budaya (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2018). Kondisi eksisting menunjukkan dampak visual yang melebihi standar toleransi sebesar 87,5% untuk aspek parkir kendaraan dan 37,5% untuk aktivitas mahasiswa.

Analisis integratif dari keempat parameter menunjukkan bahwa daya dukung lingkungan kawasan Benteng Somba Opu terhadap aktivitas kontemporer telah melampaui batas toleransi dalam tiga dari empat aspek yang diukur berdasarkan konsep carrying capacity (Manning, 2007; Cole, 2001). Tingkat pelampauan tertinggi terjadi pada aspek dampak visual (rata-rata 62,5%), diikuti oleh jejak karbon (60%), tingkat kebisingan (34,5%), dan jumlah kendaraan (65% pada jam puncak). Kondisi ini mengindikasikan bahwa kawasan mengalami tekanan environmental stress yang dapat mengancam nilai autentisitas dan keberlanjutan jangka panjang.

Gambar 3. Rumah Adat disewakan untuk kegiatan komunitas mahasiswa, Sumber : Data pribadi

Gambar 3. Rumah Adat disewakan untuk kegiatan komunitas mahasiswa, Sumber : Data pribadi

Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa aktivitas kontemporer ini juga memiliki nilai positif dalam konteks revitalisasi kawasan bersejarah. Penggunaan aktif oleh mahasiswa mencegah kawasan menjadi “museum mati” dan memberikan makna kontemporer pada warisan budaya, sesuai dengan prinsip adaptive reuse dalam pengelolaan heritage site (UNESCO, 2019). Tantangannya adalah bagaimana mengelola intensitas dan karakter aktivitas modern agar tetap dalam batas daya dukung lingkungan yang dapat diterima.

Rekomendasi berdasarkan temuan kritik terukur ini mencakup implementasi sistem manajemen kendaraan dengan pembatasan jumlah dan waktu akses, penyediaan area parkir terdesain yang tidak mengganggu karakter visual kawasan, penerapan jadwal aktivitas yang mempertimbangkan kebutuhan ketenangan kawasan, dan penggunaan teknologi ramah lingkungan untuk mengurangi jejak karbon, mengacu pada standar nasional tata cara perencanaan lingkungan (Badan Standardisasi Nasional, 2019).

Kritik normatif terukur ini membuktikan bahwa pendekatan kuantitatif dapat memberikan dasar objektif untuk mengelola keseimbangan antara preservasi kawasan bersejarah dan kebutuhan utilisasi kontemporer, sesuai dengan prinsip bahwa kritik terukur menggunakan standar numerikal sebagai norma acuan untuk evaluasi performa lingkungan binaan dalam konteks warisan budaya Sulawesi Selatan.

Daftar Pustaka

Badan Standardisasi Nasional. (2019). SNI 03–1733–2019 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan. BSN, Jakarta.

Carrying Capacity Network. (2001). Carrying Capacity and Quality of Life: How Many People Can the Earth Support? Focus, 11(2).

Cole, D.N. (2001). Visitor Impact Management: A Review of Research. USDA Forest Service General Technical Report, Missoula.

European Environment Agency. (2019). EMEP/EEA Air Pollutant Emission Inventory Guidebook 2019: Technical Guidance to Prepare National Emission Inventories. EEA, Copenhagen.

Intergovernmental Panel on Climate Change. (2021). IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories: Volume 2 — Energy. IPCC, Geneva.

International Energy Agency. (2020). CO2 Emissions from Fuel Combustion: Methodology Documentation. IEA Statistics, Paris.

International Organization for Standardization. (2017). ISO 1996–1:2016 — Acoustics — Description, measurement and assessment of environmental noise. ISO, Geneva.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (2018). Pedoman Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya di Indonesia. Direktorat Jenderal Kebudayaan, Jakarta.

Landscape Institute and Institute of Environmental Management & Assessment. (2013). Guidelines for Landscape and Visual Impact Assessment, Third Edition (GLVIA3). Routledge, London.

Manning, R.E. (2007). Parks and Carrying Capacity: Commons Without Tragedy. Island Press, Washington D.C.

UNESCO. (2019). Carrying Capacity Guidelines for Active Heritage Sites: Recommendations for Sustainable Tourism and Contemporary Use. UNESCO World Heritage Centre, Paris.

UNESCO World Heritage Centre. (2020). Operational Guidelines for the Implementation of the World Heritage Convention: Annex 5 — Carrying Capacity Assessment for Heritage Sites. UNESCO, Paris.

World Health Organization. (2018). Environmental Noise Guidelines for the European Region. WHO Regional Office for Europe, Copenhagen.


메타데이터
post_id
7a3d47b0b84b
slug
kawasan-benteng-somba-opu-analisis-daya-dukung-lingkungan-dalam-konteks-preservasi-dan-aktivitas-7a3d47b0b84b
url
https://medium.com/@putrirhm242/kawasan-benteng-somba-opu-analisis-daya-dukung-lingkungan-dalam-konteks-preservasi-dan-aktivitas-7a3d47b0b84b
canonical_url
https://medium.com/@putrirhm242/kawasan-benteng-somba-opu-analisis-daya-dukung-lingkungan-dalam-konteks-preservasi-dan-aktivitas-7a3d47b0b84b
author_url
https://medium.com/@putrirhm242
status
ok
fetched_at
2026-06-26 03:39:16