← Back to list

RESENSI DARI SEBUAH BUKU YANG BERJUDUL “MATINYA KEPAKARAN”

Resensi

Muhammad izzat Qurtubi · 2025-02-05 22:21 · 0 claps · 4.7 min read
#matinya-kepakaran #resensi #resensi-buku #pakar
Open on Medium ↗

RESENSI DARI SEBUAH BUKU YANG BERJUDUL “MATINYA KEPAKARAN”

Penulis: Tom Nichols Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia Tahun Terbit: Cetakan I, Desember 2018 Halaman: xviii + 293 halaman

Buku ini membahas sebuah era dimana kebenaran dan ilmu pengetahuan menggantung entah dimana, dan hal itu hari ini disebut sebagai, post-truth. Post-truth merupakan sebuah era yang serba simplifikatif dan itu hanya cenderung didasari dengan emosi atau perasaan tanpa melihat, menganalisa, dan melibatkan fakta serta kebenaran untuk mengambil kesimpulan pada hal-hal tertentu. Tidak mengherankan, ketika kebohongan seperti salah satu contohnya ialah “58%” atau yang lainnya, menjelma menjadi kebenaran begitu saja meskipun kejanggalan-kejanggalan juga terjadi begitu saja dalam prosesnya. Triliunan informasi yang berterbangan di sosial media, nyaris sekali tidak bisa dikonfirmasi fakta-faktanya. Sedangkan sebagai awam, kita tetap mengkonsumsi itu tanpa pernah peduli apa dampaknya bagi awam seperti kita.

Pakar, yang dikategorikan sebagai orang-orang kelas menengah, juga nyaris keterangan-keterangan ilmunya tidak mendapati legitimasi publik. Apalagi ketika kita bandingkan dengan influencer yang memiliki jutaan pengikut. Meskipun sama-sama ngobrolin politik, pakar politik tidak akan lebih dipercaya daripada seorang influencer yang mengatakan “Menurut saya atau sepengetahuan saya”. Secara bersamaan, mungkin kita akan berpikir bahwa tidak semua pakar dapat kita percaya cuma-cuma atau dengan alasan yang lain pula. Akan tetapi, menggeneralkan untuk kemudian memutuskan lebih percaya omongan influencer atau merasa tahu sendiri sebab kemudahan mengakses informasi, bukan merupakan sebuah jalan keluar yang cukup bijak sebagai awam. Mengapa demikian? Sebab fungsi para pakar sebenarnya hanya memberikan keterangan detail berdasarkan ilmu pengetahuannya. Kendatipun banyak para pakar hari ini detail ilmunya dijual pada kesewenang-wenagan kaum elit yang menindas rakyat, sebagai awam kita musti tetap mengerti dan mencari alternatif lain atau pakar lain daripada memilih untuk tidak percaya kepada pakar yang hanya akan semakin memperlebar jarak antara pakar dan awam. “Menurut saya” dan “Menurut Ilmunya” sudah pasti memilik kerangka penjelasan yang sangat berbeda. Mengargumentasikan sesuatu seperti keadaan politik atau demokrasi, membutuhkan lebih dari hanya sekedar “menurut saya”. Bukan soal boleh atau tidak boleh, melainkan untuk meminimalisir kekeliruan paham dalam benak kita.

“Orang yang paling tidak memiliki informasi di antara kita adalah mereka yang paling meremehkan pakar, dan menuntut hak berbicara paling besar mengenai masalah yang tidak pernah mereka pelajari.” Hlm. 276.

Buku yang berjudul “Matinya Kepakaran” ini melatar belakangi kondisi demokrasi dan situasi politik di negara bernama Amerika Serikat. Sebuah negara adidaya yang dijadikan kiblat demokrasi modern oleh negara-negara berkembang atau periferi. Demokrasi dalam arti disini bukan hanya sekedar tentang pemilihan umum atau electoral semata. Akan tetapi dalam arti yang cukup luas sehingga kita selaku citizen atau civil, dapat mengadirkan kebijaksanaan bagi sesama manusia nun juga lingkungan yang belum cukup penting disekitar kita hari ini. Sungguh tragis bila kita hanya melihat demokrasi dalam arti formal dan prosedural, bukan intelektual. Sebab, akal sehat kita tak akan pernah terima apabila menjadi dungu atau bodoh merupakan hak pilih(demokrasi) dalam kehidupan kita. Adakah dari kita yang sepakat bahwa penerimaan diri untuk dijajah adalah hak? Tentu tidak, dan hal demikian pasti tidak akan berujung pada konklusi apa bila diperdebatkan. Di Amerika Serikat sana, demokrasi modern berjalan bergandengan dengan liberalism(freedom) yang serba kapital, individual dan konsumtif. Suatu kehidupan manusia modern yang jauh dari kepercayaan satu sama lain, data-data riset, detail ilmu pengetahuan, bahkan masa depannya sendiri. Mayoritas mereka disana bekerja sangat keras setiap hari, berusaha mencapai kebahagian melalui hal-hal yang dimaterialkan dan bisa dibeli dengan uang. Dalam kesadaran yang penuh pun, saat ini mereka menyorakkan slogan negara maju sembari menunggu hasil perasan sumber daya dari negara berkembang. Lantas sekarang siapa yang lebih butuh siapa? Tapi, menurut saya pertanyaan ini cukup tidak bijak untuk dijawab. Baik dari prespektif negara maju dan atau negara berkembang, karena keduanya sama-sama dicengkram tanpa tahu bagaimana caranya melepaskan.

Lagi-lagi dibuku ini “Matinya Kepakaran” adalah suatu pembacaan zaman dan penerawangan masa depan yang sering mengabaikan dalil ilmu pengetahuan atau pakar. Hal ini bukan suatu bentuk pengkultusan atau klaim superioritas untuk para pakar. Tapi apabila kita sadari, ilmu pengetahuan yang dipangku oleh para pakar bukan suatu anugerah yang tiba-tiba turun dari langit seperti para nabi atau rasul. Menjadi pakar, ialah menempuh proses zaman sembari berjalan didalam zaman yang terus berkembang dengan ilmu pengetahuan. Saya sendiri sepakat dengan itu, bedanya saya sering menyebut itu sebagai “Ulul albab dan insan kamil”. Hari ini, hal yang sangat mengerikan adalah ketika para pakar tidak dipercaya lagi, dan yang bukan pakar banyak dipuji karena lapisan emosi saja, bukan bangunan argumentasi. Jika kita memahami lebih mendalam, problem kepakaran hari ini bukan hanya tidak dipercaya, tapi juga dianggap sia-sia. Hal ini bermula ketika argumentasi seorang pakar itu salah atau tidak terbukti keterangannya(Inipun tidak terbukti karena dihalangi). Mula penghalangan ini dapat dilihat dari bagaimana seorang politisi mengomentari keterangan ilmu pengetahuan para pakar dengan kalimat “tidak menjamin” atau “omon-omon“. Pada faktanya, fungsi pakar memang bukan seperti lembaga penjamin mutu yang dapat merespon suatu kejadian tertentu dalam negara. Sebab, fungsi jaminan tadi terdapat di negara, sedangkan pakar juga bagian yang harus dijamin argumentasinya oleh negara. Pakar hanya harus menjamin, bahwa prinsip, metodologi dan sebagainya benar-benar memuat sesuatu yang ilmiah. Penghalang lainnya, terjadi ketika para pakar salah atau melakukan kesalahan. Hal ini terjadi, dalam kasus yang variatif seperti pelanggaran kode etik dan inkonsistensi prinsip dalam mengutarakan argumen serta sering berbicara yang bukan pada bidang pakarnya. Sebenarnya, melakukan kesalahan bisa dianggap wajar, hanya saja ketika itu dilakukan oleh pakar, maka ia akan berhadapan dengan kehidupan. Ambilah salah satu contoh argumentasi “kuliah itu hanya kebutuhan tersier” mungkin sisi kerusakannya tidak bisa nampak sebagai suatu peristiwa, akan tetapi betapa kita tahu bahwa negara memang menghalangi warganya untuk tumbuh lebih layak dalam merangkul ilmu pengetahuan.

Penjelasan diatas merupakan sebuah gambaran dari hancurnya kepakaran yang nanti akan berujung pada matinya kepakaran. Sejengkal sebelum kematiannya fungsi pakar, marak sekali terjadi tanda-tanda penundukan oleh politisi dan awam. Kita sering mendengar bagaimana seorang pejabat negara tiba-tiba dianugerahi gelar akademik bukan hasil dari riset atau menempuh pendidikan. Kita juga sering melihat bagaimana para awam tidak menganggap layak keterangan para pakar. Ketidaktahuan awam akan diubah menjadi senjata politik oleh para politisi. Cemohan tak terkendali dari awam yang ditujukan kepada para pakar adalah suatu pertanyaan besar, mengapa awam melakukan itu? kalau bukan karena sesuatu yang memiliki dampak krusial pada kehidupan manusia, sepertinya argument sederhana semacam ada hegemoni(manipulasi informasi) massa untuk kepentingan politik tertentu lebih bisa diterima sebagai penyebabnya. Manipulasi informasi bisa dikatakan sangat lazim di era post truth, namun tetap sesuatu yang dzalim. Jurnalisme era ini bahkan hanya dipandang sebagai tombak politik elit. Sangat mudah bagi elit dengan modalnya, menerbitkan satu berita atau informasi untuk membuat awam kebingungan. Parahnya, pengerahan aparat baru yang bernama buzzer juga dianggarkan melalui uang pajak.

Selain dari banjirnya informasi diinternet dan pergaulan politik yang banal. Ternyata penyebab lainnya juga terdapat di dunia Pendidikan itu sendiri. Didalam buku “Matinya Kepakaran” penulis menyorot bagaimana calon pakar yaitu seorang “Mahasiswa” terlalu dimanja secara intelektual. Sebab mahasiswa tidak lagi dipandang sebagai murid atau peserta didik, melainkan klien. Senada dengan ini, dosen yang mengajar mahasiswa pun merasa tidak terlalu susah payah mengupgrade kualitas intelektual perkuliahan. Maka cukup biasa, apabila seorang mahasiswa menganggap setara dengan dosen secara intelektual. Hingga menyebabkan hilangnya keyakinan kepakakaran atau intelektual untuk menempuh aral terjal kehidupan. Dalam kasus ini, komersialisasi pendidikan menduduki peringkat pertama sebagai pengacau yang mengancam kepakaran.

Pada akhirnya, Nichols mengharapkan otoritas kepakaran dapat kembali kepada masyarakat, pakar kembali menjadi rujukan, orang awam sadar bahwa dirinya tidak tahu lebih banyak ketimbang pakar, dan menerima pada apa yang dikatakan olehnya.

Seperti kata Rasulullah SAW; jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.


메타데이터
post_id
7a56cbf39a25
slug
resensi-dari-sebuah-buku-yang-berjudul-matinya-kepakaran-7a56cbf39a25
url
https://medium.com/@one.four0219/resensi-dari-sebuah-buku-yang-berjudul-matinya-kepakaran-7a56cbf39a25
canonical_url
https://medium.com/@one.four0219/resensi-dari-sebuah-buku-yang-berjudul-matinya-kepakaran-7a56cbf39a25
author_url
https://medium.com/@one.four0219
status
ok
fetched_at
2026-07-21 02:19:38