Lima belas menit di jalan pulang
Lima belas menit di jalan pulang

Hari ini hujan lagi. Aku sudah siap dengan payungku, tapi masih ragu, baiknya aku pakai sekarang atau menunggu sebentar lagi. Aku cek aplikasi prediksi cuaca, ternyata hari ini seharusnya cerah, “Asem, langit aja galau” bisikku.
Hujan akhir-akhir ini semakin sulit ditebak, rasanya sepanjang tahun ini selalu ada hujan di tiap bulannya. Karena itu, aku selalu siap payung. Baru sepuluh langkah, langit udah balik cerah lagi. “Giliranku yang nangiskah ini?” selorohku sembari melipat payung.
Waktu tempuh untuk sampai rumah tinggal lima belas menit, tapi aku memutuskan untuk duduk terlebih dulu di satu kursi di trotoar. Kenangan lewat dengan santun kalau masuk musim nggak jelas kayak sekarang. Trotoar basah, aroma hujan, dan manusia yang melambat dalam langkahnya jadi pemandangan yang menarik. Kemudian ada pegangan tangan yang hangat, senandung lagu, dan ucapan asal dari orang-orang jadi bumbu pelengkapnya. Aku hafal, karena aku sempat menjadi pelakunya di jalan yang biasa kita lewati bersama.
Beberapa orang berjalan dalam kenangan, beberapa lagi memilih berkubang di dalamnya. Aku melihat gerombolan orang terburu-buru, sedangkan aku di sini menatap trotoar dengan sendu. “Tangki rinduku kapan sih habisnya?” batinku. Aku menggulir foto dalam galeriku. Keberuntunganku, aku rajin mengambil foto dan mengumpulkannya dalam satu album. Dia dengan helm batok hitamnya yang jelek, kemudian ada beberapa objek yang kita temu ketika pergi ngedate, ada pula jepretan random motor matic generasi awal yang dia pengen karena, “Dia itu termasuk dalam jajaran legenda, Ca”. Aku bahkan masih ingat tiap fragmen kenangan dalam tiap foto. Percakapan yang terjadi dalam swafoto pertama, atau ucapan semangat di swafoto terakhir.
Dia memandang kamera dengan senyumannya yang lemah. Suara yang biasanya lantang, dua minggu terakhir ikut melemah bersama berat badannya. “Ca, kalo habis fase drop yang ini aku udah bisa jalan, kita nongkrong di trotoar lagi ya?” ucapnya seperti setengah berbisik. Aku cepat-cepat mengangguk sambil menahan tangis.
Tapi ternyata kisah kita secepat anggukanku. Alat monitoring denyut dan aroma khas obat yang pahit ternyata jadi melodi perpisahan kita. Tangan yang biasanya hangat dengan cepat berubah dingin. Aku ingat, hari itu juga masuk dalam jajaran musim nggak jelas, pagi itu tiba-tiba buliran gerimis terjatuh. Aku lega karena merasa terwakilkan. Malam dan lantunan lagu yang aku bagi ketika bersama dia, jauh lebih manis daripada mimpi yang kupunya. Sebab itu, aku harus menahan tangis, memenuhi harapannya, dan memalingkan perasaan untuk sementara.
Handphoneku tiba-tiba bergetar, notif telepon dari ibu. “Ca, Azka mulai rewel nyariin kamu. Lembur lagi?”
“Iya, Bu. Lima belas menit lagi aku sampai, udah turun bus” jawabku setengah panik.
Aroma yang aku himpun tadi berubah, dari ketenangan menjadi bau racun karbon kendaraan. Secara natural aku bergabung menjadi kelompok gerombolan manusia dengan langkah cepat, sambil membatin, “kalau tanpa Azka, aku mau jadi apa?”
메타데이터
- post_id
- 7a964e0250cd
- slug
- lima-belas-menit-di-jalan-pulang-7a964e0250cd
- url
- https://medium.com/m%C3%A9dium-bercerita/lima-belas-menit-di-jalan-pulang-7a964e0250cd
- canonical_url
- https://medium.com/m%C3%A9dium-bercerita/lima-belas-menit-di-jalan-pulang-7a964e0250cd
- author_url
- https://medium.com/@rnmm
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 12:25:32