Bro Things Gone Wrong (1)
Dalam sepetak kos berukuran 3x4 meter, berceceran banyak alat gambar dan pewarna yang hampir kering karena tidak tertutup dengan benar…
Bro Things Gone Wrong (1)
Dalam sepetak kos berukuran 3x4 meter, berceceran banyak alat gambar dan pewarna yang hampir kering karena tidak tertutup dengan benar. Sedang dua orang lelaki tengah memejamkan mata di lantai yang hanya beralaskan karpet tipis. Wajah lelah mereka tergambar dengan jelas dengan bercak warna warni sisa kegiatan kreatif akhir semester pendidikan mereka.
Sadar bahwa ia tertidur setelah menyelesaikan tugas akhir Nirmana 2 dimensi, Juna terbangun untuk merapikan hasil kerjanya sebelum harus mengulang karena ketumpahan cat. Karena ia bersumpah, Nirmana adalah musuh terbesar mahasiswa seni dan desain.
Juna merapikan kuas yang bercecer dan kembali menutup cat sakura dengan rapat. Ia bangunkan kawan sebayanya yang tengah tertidur juga. Posisinya mepet dengan kolong meja belajarnya. Kaos jersey birunya terangkat sedikit dan mulutnya sedikit terbuka. Terdengar dengkuran halus mengalir indah dari bibir Jovian, teman satu kampus yang kebetulan ingin menginap dan menyelesaikan tugas bersama di kamar kos Juna.
Awalnya Juna menolak karena ia tidak suka area privasinya dikunjungi oleh teman. Namun entah bagaimana Jovian bisa berhasil meluluhkan Juna. Mereka tidak dekat sebelumnya. Namun karena beberapa kali tergabung dalam kelompok presentasi yang sama, Juna menjadi sedikit akrab dengan Jovian. Kepribadian Jovian sendiri adalah sosok yang extrovert dan mudah bergaul, berbanding terbalik dengan Juna yang cenderung introvert dan tidak mudah akrab dengan orang.
“Jovian, bangun dulu. Beresin tugas kita terus tidur lagi.”
Juna menepuk bahu Jovian yang tidur agar menyimpan tugas melukis keramat mereka. Pasalnya jika mengulang mereka akan begadang lagi selama 2 hari. Dosennya pun sangat teliti dan detail. Satu coretan kecil pasti akan ter — notice.
“Jovian bangun! Pindah gih ke kasur! Nanti masuk angin kalo tidur disitu!” Juna tidak tahu kalau Jovian itu tukang tidur. Nyandar sedikit langsung molor. Makanya julukannya Kang Pelor.
Berkat guncangan Juna yang penuh tenaga, Jovian berhasil bangun dengan rambut gondrongnya yang acak-acakan itu. Juna sendiri juga gondrong, tipikal mahasiswa seni ISI. Tapi mereka kuliah di salah satu Universitas di Surabaya.
Pemuda jersey biru mengerjapkan matanya. Tangannya membereskan kertas gambar A3 — nya ke atas meja belajar lalu merebahkan diri di kasur bersprei kotak-kotak berukuran 140 x 200 cm milik Juna. Sedangkan si pemilik masih berada di toilet untuk mencuci mukanya yang masih bernodakan cat.
Melihat Jovian tidur di kasurnya, Juna mengambil selimut tambahan di lemari untuk ia pakai karena selimutnya sudah dimonopoli oleh si tukang tidur. AC nya ia naikkan menjadi 24 derajat (sebelumnya 20 derajat). Mengurangi hawa dingin yang menyeruak di dini hari. Juna mengambil bantal sisa dan boneka Tokki — nya untuk tidur di karpet. Ia lipat bed cover yang ia ambil dari lemari untuk digunakan alas tambahan.
“Kok tidur di bawah? Kan masih ada space di sini?”
Sadar Juna tidak kunjung naik ke kasur, Jovian terbangun. Menyuruh Juna untuk berbaring di sisi kanan yang masih kosong dan muat untuk digunakan dua orang.
“Gak apa-apa. Kamu aja yang tidur di situ. Aku bisa tidur di sini.”
“Hey, harusnya kamu yang berhak tidur di sini karena ini kasur kamu. Sini biar aku aja yang tidur di bawah.”
“Tapi kan kamu tamu, Jo!”
“No! Biar adil kita tidur bareng lah di sini. Masih muat kok. Kan kita gak bongsor-bongsor amat. Sini!” Jovian menarik lengan Juna dan membawa bantal serta boneka Tokki — nya.
“Gini kan adil tidurnya barengan.”
Juna merasa canggung. Sedangkan Jovian sendiri sudah kembali memejamkan matanya. Beruntung besok tidak ada mata kuliah pagi yang perlu dihadiri. Hanya perlu ke kampus untuk mengumpulkan tugas Nirmana saja lalu pulang. Mereka bisa sedikit lega.
Waktu menunjukkan pukul 09.00 dan sinar mentari telah memasuki celah ventilasi kamar kos Juna. Alarm yang disetel pukul 07.00 tak digubris sama sekali lantaran ponsel si pemilik tertutup bantal sisa yang tertumpuk di karpet bawah. Volume — nya yang semalam terpencet turun ikut berkontribusi dalam faktor bangun kesiangan hari ini.
Jovian menggeliat pelan merubah posisi yang semula menghadap punggung Juna, kini menjadi membelakangi. Tangannya tampak sedikit kebas karena udah 3 jam dia tidur tanpa merubah posisinya. Juna yang merasa punggungnya tidak hangat lagi sadar dari mimpi indahnya dan mengumpulkan nyawa untuk bangkit.
Keringat membasahi pelipis Juna dan pakaiannya sedikit lembap. Nggak biasanya ia tidur sampai gerah begini. Mungkin suhu Kota Surabaya hari ini sedang naik pikirnya. Nyatanya, semalam memang Jovian tidak sengaja memeluknya saat tidur. Sama-sama tidak sadar.
Juna menyibak selimutnya dan tidak sengaja menyenggol punggung Jovian. Juna yang posisinya dekat tembok sedikit kesusahan untuk bangkit. Melihat jam dinding, Juna terkejut. Pasalnya jam 11 nanti ia harus ke ke kampus untuk mengumpulkan tugas Nirmana semalam. Dibangunkannya Jovian dengan brutal dan penuh tenaga yang kekuatannya tidak seberapa itu. Sedangkan lelaki gondrong jersey biru hanya mengerang dan kembali nyaman dengan tidurnya.
“Jo bangun! Udah jam 9 lewat nih! Jo!”
Juna akhirnya menyerah membangunkan pemuda tersebut. Tenggorokannya sudah tercekat dan kering. Dengan segera ia bangkit menuju kamar mandi yang terdapat di dalam kos sambil membawa pakaian bersih. Persetan dengan Jovian, ia tidak mau terlambat nanti.
10 menit berlalu. Juna keluar dari kamar mandi dan Jovian terpantau masih belum bangun. Air botolan yang tersisa di nakas ia tuang ke tangan dan dicipratkan ke wajah Jovian sambil cekikikan.
“Bangun Jo! Sia-sia begadang semalam nih kalau telat ngumpulin Nirmana! Ayoo bangun…” Juna merajuk lucu sekaligus jengkel. Jovian yang wajahnya sedikit basah akhirnya membuka matanya. Ia bangkit dengan rambut gondrong berantakannya dan bibir mengerucut.
“Chuu dulu boleh gak?”
“Edan kamu Jo! Ngigau apa?”
Jovian yang mendengar reaksi Juna cuma ketawa. Juna membuka lemari pakaiannya. Memilih kemeja mana yang akan ia pakai nantinya. Jovian bangkit dari kasur dan berjalan mendekati Juna.
“Boleh peluk nggak?” bisiknya.
“Apaan anjir, gay banget jadi orang.”
Juna menghindar dari Jovian yang berusaha menyentuhnya dengan ekspresi geli. Sedangkan Jovian malah menggoda pemuda kelinci tersebut sampai Juna teriak-teriak.
“Hey, jangan teriak-teriak! Kayak yang mau diperawanin aja sih kamu Jun!”
“Lah lagian kamu kayak om-om gay anjir. Geli banget asu!”
“Eitttss mulutnya. Ternyata Juna bisa ngumpat juga hmm? Nakal ya?” Goda Jovian lagi.
“Bodo ah. Cepetan mandi!” Juna mendorong Jovian ke kamar mandi dengan terpaksa.
“Iya, iya. Habis mandi tapi boleh peluk ya!”
“Nggak! Gay banget. Bilangin mama kamu nih, anaknya Gay!”
Juna menutup pintu kamar mandi paksa. Dari dalam Jovian menyahuti.
“Kata mama nggak apa-apa Gay kalau pacarnya itu kamu!”
Juna wajahnya merah. Ia masih yakin kalau ia 100% lurus. Nggak tahu nantinya.
“Aku masih lurus ya!” teriak Juna agar didengar Jovian.
Kepala Jovian menyembul dari pintu kamar mandi. Ia tersenyum menyeringai.
“Yakin? Soalnya spreimu kotak-kotak gitu, biasanya cowok gay boti suka pake itu.”
“Yang bener aja!”
Ampun dah ngetik apaan gua wkwk. Semoga suka ya gaebabz lovers.
메타데이터
- post_id
- 7a9b63ebee9f
- slug
- daily-dose-of-gaebabz-7a9b63ebee9f
- url
- https://medium.com/@linzel56/daily-dose-of-gaebabz-7a9b63ebee9f
- canonical_url
- https://medium.com/@linzel56/daily-dose-of-gaebabz-7a9b63ebee9f
- author_url
- https://medium.com/@linzel56
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 10:39:35