Kependudukan di Wilayah Marjinal: Out of Northern Boyolali
Penulis: Arya Mukti Kusuma Dewa | Divisi Riset dan Keilmuan Kabinet Garda Cipta HMGP UGM 2023
Kependudukan di Wilayah Marjinal: Out of Northern Boyolali
Penulis: Arya Mukti Kusuma Dewa | Divisi Riset dan Keilmuan Kabinet Garda Cipta HMGP UGM 2023

Sumber: jcomp dalam Freepik.com
Geografi adalah studi tentang karakter dan organisasi permukaan bumi yang terus berkembang. Ilmu geografi mempelajari tentang bagaimana, mengapa, dan di mana aktivitas manusia dan alam terjadi serta bagaimana aktivitas-aktivitas tersebut saling berhubungan (Strahler, 2013). Santosa & Muta’ali (2014) juga menyoroti hubungan dinamis antara bumi dengan segala unsur di dalamnya menurut pengertian geografi. Berdasarkan pengertian dan pemahaman tentang geografi dari para ahli tersebut, dapat ditarik dua hal penting terkait permukaan bumi dan unsur di dalamnya yaitu manusia.
Permukaan bumi merupakan ketampakan yang beragam, setiap area di permukaan bumi dengan karakteristik sama akan dilihat menjadi satu kesatuan yang disebut sebagai wilayah. Wilayah berarti sebuah unit ruang yang ditandai oleh suatu fitur seperti kesamaan pemerintahan, bahasa, situasi politik, atau bentuk lahan (Berglee, 2016). Wilayah memecah permukaan bumi menjadi unit kecil, dengan fenomena terkait manusia yang menarik di dalamnya. Di sisi lain, wilayah juga digunakan sebagai unit objek pembangunan. Oleh karena itu, pemahaman terkait wilayah dan fenomena sosial akibat aktivitas manusia di dalamnya sangat penting bagi pelaksanaan pembangunan berbasis wilayah.
Salah satu kajian terkait fenomena sosial manusia adalah kependudukan. Kependudukan berbeda dengan demografi, Fouberg (2012) menjelaskan bahwa demografi adalah studi tentang populasi dalam perspektif umum, cenderung hanya melihat penduduk secara statistic dan matematik. Di sisi lain, meskipun kependudukan memiliki dasar sama yaitu tentang kondisi penduduk di suatu wilayah, tetapi kompleksitas yang dimiliki lebih mendalam terutama dalam menjawab pertanyaan mengapa, bagaimana, dan kolaborasinya dengan disiplin ilmu lain seperti politik dan ekonomi. Kependudukan mengkaji aspek-aspek yang mempengaruhi struktur dan komposisi penduduk seperti tingkat kelahiran, tingkat kematian, dan migrasi.
Tingkat kelahiran dan kematian digunakan sebagai variabel untuk menghitung pertumbuhan penduduk alami. Akan tetapi, dalam sebuah wilayah terutama di masa sekarang dengan globalisasi dan konektivitas antar tempat yang sangat tinggi, migrasi menjadi aspek yang tidak kalah penting. Migrasi dikaitkan dengan tindakan bergerak dan menetap di tempat atau negara lain (de Haas, 2021). Migrasi sebagai bentuk mobilitas penduduk dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan cara, migrasi dapat berlangsung permanen atau musiman, bergerak dari desa dan kota yang disebut migrasi urbanisasi atau bahkan.
Lee (1966) memberikan sebuah teori bahwa migrasi terjadi karena faktor penarik dan pendorong serta konsep penghalang atau barrier. Faktor penarik adalah aspek-aspek yang dimiliki oleh tempat tujuan yang dapat menarik migran untuk datang ke tempat tersebut. Di sisi lain, faktor pendorong didominasi oleh kondisi di tempat asal yang memaksa migran untuk pergi. Sementara itu, konsep penghalang atau barrier adalah segala sesuatu yang menjadi rintangan dalam melakukan migrasi seperti geografi atau finansial. Migrasi sebagai salah satu bentuk mobilitas penduduk terjadi hampir di semua wilayah, termasuk pada penduduk yang tinggal di bagian utara Kabupaten Boyolali.
Kabupaten Boyolali adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang terdiri dari 22 kecamatan dan beribukota di Kecamatan Boyolali. Boyolali berbatasan dengan Kota Surakarta, Klaten, Magelang, Sragen, Karanganyar, Grobogan, dan Kabupaten Semarang. Nugraha et al. (2015) menyebutkan bahwa Kabupaten Boyolali melebihi kelebihan lokasi tersebut, di mana lokasinya yang berada dalam zona segitiga pembangunan, yaitu antara Semarang, Yogyakarta, dan Surakarta. Kabupaten Boyolali dapat dibagi menjadi dua wilayah melalui regionalisasi. Dua wilayah tersebut adalah Boyolali Utara dan Boyolali Selatan, contoh dari regionalisasi vernacular. Marek (2023) menyebutkan bahwa wilayah perseptual terbentuk karena persepsi dan dan gambaran subjektif orang terhadap sebuah wilayah.
Boyolali Utara memiliki tingkat pembangunan yang cenderung lambat atau bahkan tertinggal dari bagian Boyolali lainnya. Boyolali Utara terdiri dari beberapa kecamatan seperti Wonosegoro, Wonosamodro, Juwangi, dan Kemusu. Berdasarkan data BPS, keempat kecamatan tersebut hanya menampung 13,09% atau sekitar 141.365 jiwa dari total populasi Kabupaten Boyolali yang mencapai 1.079.952 jiwa dalam luas yang mencakup 26,13% dari total luas Boyolali, 1.080 km persegi. Hal tersebut menghasilkan rendahnya kepadatan penduduk di wilayah tersebut, kepadatan penduduk rata-rata dari keempat kecamatan tersebut adalah 553,24 penduduk per kilometer persegi. Keempat kecamatan tersebut juga berada di lokasi yang jauh dari pusat pemerintahan kabupaten dengan rata-rata berjarak 48,5 km.
Boyolali Utara didominasi oleh penggunaan lahan berupa lahan pertanian. Sebagai contoh di Kecamatan Wonosegoro hanya 841,25 Ha yang digunakan sebagai permukiman atau bangunan dari luas kecamatan total 5.179,20 Ha. Penggunaan lahan berupa pertanian sawah dan tegal yang mencapai 2.325,22 Ha menunjukkan secara tidak langsung bahwa mata pencaharian penduduk masih didominasi sektor pertanian. Selain itu, laju pertumbuhan penduduk di Boyolali Utara melebihi rata-rata kabupaten yaitu 0,68% dengan kontribusi paling besar dari tingginya angka kelahiran. Dalam aspek kependudukan, Boyolali Utara mengalami fenomena menarik yaitu migrasi keluar yang tinggi.
Fenomena migrasi yang tinggi tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Dalam sudut pandang ekonomi, kesejahteraan penduduk di Boyolali Utara cenderung di bawah rata-rata. Penggunaan lahan berupa sawah tadah hujan yang dominan memberikan gambaran terkait implementasi teknologi dan kondisi ketersediaan air. Boyolali Utara memiliki masyarakat mayoritas tradisional, tidak ada industri penting yang berkembang di wilayah tersebut. Hal tersebut menyebabkan lapangan pekerjaan terbatas pada aktivitas pertanian dengan pendapatan per tahunnya yang cukup kecil. Selain itu, wilayah Boyolali Utara secara umum bukanlah pusat populasi dan pertumbuhan, jaraknya cukup jauh dari kota-kota terdekat seperti Salatiga, Boyolali, dan Surakarta juga mengurangi spreading effect dari pembangunan yang ada di kota-kota tersebut. Oleh karena itu, keadaan yang terjadi memaksa penduduk untuk melakukan mobilitas untuk mencari pekerjaan di tempat lain yang mana dapat berjalan permanen atau menjadi pelaku komuter.
Penyebab migrasi keluar dari Boyolali Utara dapat dilihat juga melalui kacamata sosial. Boyolali Utara mengalami kesenjangan fasilitas publik terutama pendidikan tinggi. Jumlah populasi yang kecil menyebabkan fasilitas publik tidak memadai karena belum memenuhi ambang batas agar fasilitas yang dibangun berjalan optimal. Ketiadaan fasilitas Pendidikan tinggi dan minimnya fasilitas pendidikan di tingkatan yang berjenjang, mendorong dinamika perpindahan penduduk untuk mendapat akses terhadap pendidikan yang baik. Penduduk yang sadar akan pentingnya pendidikan akan cenderung memilih bersekolah di tempat lain, terutama penduduk usia sekolah tinggi. Perpindahan dan mobilitas tersebut terus terjadi yang memberikan pengaruh terhadap ketersediaan penduduk usia produktif di Boyolali Utara, terutama apabila penduduk melanjutkan perantauan setelah menempuh Pendidikan.
Perantauan yang didorong oleh faktor pendidikan menjadi salah satu pola migrasi dari Boyolali Utara ke tempat lain yang berujung pada perpindahan permanen. Di sisi lain, keterbatasan akses pendidikan menyebabkan efek negatif lain seperti pernikahan dini karena kurangnya kesadaran dan kemampuan ekonomi yang terbatas. Kondisi sosial dan ekonomi Boyolali Utara tidak terlepas dari kondisi fisik lingkungan yang tidak mendukung. Kondisi fisik tersebut memberikan dampak besar dalam mendorong migrasi penduduk keluar dari wilayah Boyolali Utara.
Boyolali Utara yang mencakup Wonosegoro, Wonosamodro, dan Juwangi merupakan bagian dari zona karst Kendeng bagian selatan, memiliki topografi berbukit hasil perlipatan dan struktur sedimen yang masih belum banyak diteliti (Ediyanto et al., 2016). Kondisi geologi berupa karst menyebabkan ketidakcocokan terhadap pertanian irigasi dan memberikan kerawanan bencana kekeringan karena minimnya air permukaan. Lutgens et al. (2015) menyebutkan karakteristik topografi karst yang berasosiasi dengan pori-pori tanah dan batuan yang besar sehingga air akan langsung menuju bawah tanah, dan Ketika ada kenampakan sungai di permukaan umumnya jalurnya pendek.
Karakter karst di Boyolali Utara berakibat pada luas lahan kritis dan potensial kritis. Selain itu, belum ada upaya penanganan untuk mengatasi permasalahan tersebut misalnya pengambilan air tanah dalam dengan teknologi. Kebijakan yang diambil pemerintah saat ini untuk mendukung produktivitas pertanian Boyolali Utara cenderung tidak berkelanjutan dan kurang efektif seperti pembangunan embung. Penduduk yang melakukan migrasi keluar sebagian mengalami dampak dari kondisi lahan yang semakin kritis dan produktivitas semakin berkurang sehingga memilih untuk menjual lahan tersebut.
Penduduk yang melakukan migrasi berada dalam kelompok umur produktif dengan tujuan tempat lain yang menawarkan lapangan pekerjaan dan pendapatan ekonomi yang lebih baik sebagai faktor penarik utama. Seringnya, pola migrasi selain karena faktor pendidikan dipengaruhi oleh kekerabatan. Penduduk yang bermigrasi mengikuti kerabatnya di tempat tujuan agar lebih mudah mendapat pekerjaan. Tempat yang menjadi tujuan antara lain Jakarta dan sekitarnya, Semarang, Surakarta, atau tempat lain dengan keberadaan industri yang membutuhkan tenaga kasar dengan pendidikan dasar.
Migrasi keluar wilayah memberikan dampak bagi Boyolali Utara sendiri, meskipun terjadi cukup masif tetapi kurang diperhatikan karena migrasi tidak teregistrasi. Penduduk yang melakukan migrasi atau merantau menghasilkan pendapatan dan kemudian mengirimkannya sebagai remitansi. Rindirindi (2023) menuliskan bahwa pengiriman remitan dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan dan pemenuhan kehidupan keluarga di Desa Banyusri, Kecamatan Wonosegoro. Dampak positif dari migrasi keluar adalah kehidupan yang lebih baik dan sejahtera. Tetapi, di sisi lain, dampak negatif dapat terjadi seperti fenomena brain drain yaitu ketika banyak penduduk dengan kualitas individu yang tinggi lebih memilih migrasi dan tidak berupaya membangun daerah asalnya. Kemudian, kurangnya penduduk usia kerja menyebabkan Boyolali Utara di dominasi oleh penduduk lansia dan anak kecil sehingga pembangunan tidak optimal.
Keberlanjutan juga dipertanyakan terkait pengganti dari penduduk yang berprofesi sebagai petani saat ini, terlebih pemerintah belum mampu membuat kebijakan yang efektif. Pemerintah perlu meningkatkan akses pendidikan untuk meningkatkan kualitas SDM seiring dengan upaya peningkatan produktivitas pertanian karena meskipun jumlah penduduknya rendah, Boyolali Utara memiliki tingkat pertumbuhan penduduk cukup tinggi relative terhadap kecamatan lain di Kabupaten Boyolali. Selain itu, pembentukan klaster industri yang lebih dekat seperti pabrik garmen yang ada di Kecamatan Klego, akan memperbanyak lapangan pekerjaan yang tidak memerlukan migrasi permanen. Terlebih, efek pengganda dari keberadaan industri akan lebih terasa bagi penduduk sekitar termasuk Boyolali Utara sebagai penyedia tenaga kerja.
Referensi
BPS. (2023). Kabupaten Boyolali dalam Angka 2023. Boyolali: Badan Pusat Statistik Kabupaten Boyolali.
BPS. (2023). Kecamatan Wonosegoro dalam Angka 2023. Boyolali: Badan Pusat Statistik Kabupaten Boyolali.
de Haas, H. (2021). A theory of migration: the aspirations-capabilities framework. Comparative Migration Studies, 9(1). https://doi.org/10.1186/s40878-020-00210-4
Ediyanto, E., Kristianto, R. A., & Riswandi, H. (2016, November). Proposed Repaking-Boyolali Geoheritage. In 9th Indonesia-Malaysia Conference-Regional Geoheritage Conference 2016 (pp. 141–156). Fakultas Teknologi Mineral UPN Veteran Yogyakarta.
Fouberg, E. H., Murphy, A. B., de Blij, H. J. (2012): Human Geography. People, Place, and Culture. Hoboken, John Wiley & Sons.
Lee, E. S. (1966). A theory of migration. Demography, 3(1), 47–57.
Lutgens, F. K., Tarbuck, E. J., & Tasa, D. (2015). Essentials of geology. Boston, MA, USA: Pearson.
Nugraha, W. S., Subiyanto, S., & Wijaya, A. P. (2015). PENENTUAN LOKASI POTENSIAL UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN BOYOLALI. Jurnal Geodesi UNDIP, 4(1), 194–202. Retrieved from https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/geodesi/article/view/7664
Rindirindi, B. (2023). KONTRIBUSI MIGRASI TERHADAP PENGEMBANGAN PERDESAAN (STUDI KASUS: DUSUN BANYUSRI, DESA BANYUSRI, KABUPATEN BOYOLALI) (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS DIPONEGORO).
Santosa, L. W., & Muta’ali, L. (2014). Bentang Alam dan Bentang Budaya: Panduan Kuliah Kerja Lapangan Pengenalan Bentanglahan. Yogyakarta: BPFG UGM.
Strahler, A. (2013). Introducing physical geography. Hoboken, NJ, USA: Wiley.
메타데이터
- post_id
- 7abc89ee5948
- slug
- kependudukan-di-wilayah-marjinal-out-of-northern-boyolali-7abc89ee5948
- url
- https://medium.com/@hmgp.geo/kependudukan-di-wilayah-marjinal-out-of-northern-boyolali-7abc89ee5948
- canonical_url
- https://medium.com/@hmgp.geo/kependudukan-di-wilayah-marjinal-out-of-northern-boyolali-7abc89ee5948
- author_url
- https://medium.com/@hmgp.geo
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13