MEMBIRU
PROLOG: Bait-Bait Doa di Kota Hujan
MEMBIRU
**PROLOG:
Bait-Bait Doa di Kota Hujan**
“Membuka kisah dari sudut sebuah pondok di Bogor. Tentang ambisi yang sunyi, pilihan hidup yang kaku, dan keringat orang tua yang menjadi jangkar agar kaki tak mudah goyah oleh arus kesenangan sesaat. “
Gerimis Bogor selalu punya cara tersendiri untuk melarutkan ambisi ke dalam sujud dan doa. Di kota ini, hujan bukan hanya air yang turun dari langit, melainkan melodi yang mengiringi setiap bait harapan yang mengangakasa. Aku Ilham, seorang yang tumbuh di antara penuntut ilmu, remaja dengan renjana pagi hingga malam. Di antara aroma hujan yang berpadu dengan senandung wahyu yang lirih, tidak jarang menemukan diriku terjebak pada destinasi rasa. Pada satu bilik rasa, terdapat keteduhan spiritual yang memelukku dalam ketenangan ibadah setiap waktu. Di sisi lain, ada ruang sunyi yang teramat bising di kepalaku, sebuah ruang yang dipenuhi oleh keinginanku untuk berkarir di dunia IT, dan aku ingin memulainya dari sebuah universitas negeri ternama.
Di balik deru renjana, di antara ratusan deru langkah dengan jubah dan peci, aku justru memilih untuk menarik diri. Aku menjadi santri yang sangat pemilih dalam berteman, merawat jarak dari riuh, membatasi interaksi hanya pada hal-hal yang dirasa perlu. ketetapan hati ini sering kali menjadi keliru makna sebagai sebuah keangkuhan. Mereka yang tidak paham mungkin mengira aku menutup diri karena merasa lebih tinggi. Namun, mereka tidak pernah tahu badai apa yang berkecamuk di dalam dadaku.
Setiap kali larut dalam dialog fana, atau hanyut dalam ruang hampa, Seketika, gurat wajah hangat kedua orang tuaku hadir berlabuh di pelupuk mata.
Aku melihat dengan jelas guratan letih di wajah bapak dan ibu, demi mengirimkan lembar demi lembar rupiah agar aku bisa tetap belajar di sini. Kerasnya cara mereka bekerja adalah jangkar yang menahan kakiku agar tidak mudah goyah oleh arus kesenangan sesaat. Aku tahu diri, aku tidak terlahir dengan hak istimewa untuk sekadar bermain-main, atau mencicipi kegagalan tanpa jaminan.
Saban gulita merayap pelan dan memadamkan binar asrama, sunyi yang mencekam seketika mengambil alih ruang. Di atas sajadah, aku melabuhkan sujud. Menyatukan barisan mimpi di kepala, aku mengizinkan semua pinta paling lantang untuk mengangkasa membelah langit
“yallah, Engkau tahu betapa kerasnya orang tuaku membanting tulang. Maka, jangan buat ini menjadi sia-sia. Di antara luasnya ilmu-Mu, permudahkan setiap jalan yang ku tempuh”
Doa itu bukan sekadar aksara tanpa sukma, itu adalah sumpah setia antara aku, keringat orang tuaku, dan malam-malam di kota yang dingin.
CHAPTER 1: Logika yang Bertaut di Ruang Senyap
“Pertemuan pertama yang tak disengaja dengan feri saat ujian beasiswa bersama. Awal dari sebuah skenario langit”
Ada hari-hari di mana takdir bekerja tanpa permisi. Sore itu, langit dipenuhi gumpalan awan yang kian menghitam, mengisyaratkan sebentar lagi hujan akan luruh membumi. Aku, yang masih mengenakan pakaian salat lengkap, menuruni tangga demi tangga dengan dada berdegup, bergegas menunaikan panggilan ujian beasiswa
Kala derap langkah berhenti di pelataran kantor sekolah, Nyatanya sudah ada yang tiba lebih awal, lengkap baju koko dengan kacamata dan gaya rambutnya yang khas. Aku mengenali orang ini, dia adalah Feri, teman satu angkatanku.
“Eh Ham, ente ikut tes beasiswa juga sore ini?” ujar Feri sembari membetulkan letak kacamatanya.
“Iya Fer, ente tes beasiswa kampus mana?” jawabku, sengaja melempar balik pertanyaan demi memecah sunyi dalam hampa basa-basi kami.
“Ane tes di kampus telcom, Ham,” sahut Feri.
Tepat saat aku ingin memvalidasi bahwa kami sedang berada di ujian yang sama, seorang guru berseragam cokelat dan peci yang menyelimuti kepalanya melangkah keluar dari dalam kantor. Ia menghampiri kami, mengalirkan salam hangat, lalu mempersilakan kami melangkah masuk.
Rintik hujan mulai terdengar, tetes demi tetesnya membanjiri genting dengan melodi yang khas, menguar aroma tanah basah yang akrab di sela nafas. Di dalam ruangan itu, aku mendapati diriku duduk berdampingan dengan Feri. Tanpa janjian, tanpa rencana, kami berdua sedang menatap layar yang sama, berjuang memperebutkan satu karsa.
CHAPTER 2: Garis Tangan yang Bertaut
“Kilas balik impian masa SMP tentang IDN, proses tes menggunakan HP Bang Nopri, hingga pengumuman yang membawa kejutan ganda. “
Nyatanya, tidak semua ikhtiar berakhir dengan puncak karsa. Beberapa minggu setelah ujian di bawah deru hujan sore itu, lewat layar gawai yang kupinjam dari Bang Nopri senior sekaligus guru asramaku sebuah kenyataan pahit harus kuterima dengan lapang dada.
Namaku dan Feri tidak tercantum di lembar kelulusan beasiswa Telcom. Kami gagal. Jendela kaca kecil itu seolah meredupkan satu harapan yang sempat melambung tinggi.
Namun, di tengah mendungnya rasa kecewa, sebuah pesan dari ibu hadir membawa ketenangan. Lewat aksara yang dikirimkannya, beliau berkata
“Percayalah, jika itu rezekimu maka semuanya mudah untukmu namun jika bukan rezekimu, berprasangka baiklah bahwa allah ingin menjauhi mu dari hal buruk dan mempersiapakan skenario terbaik untukmu ”
Kalimat sederhana itu seketika menjelma menjadi lentera di tengah kegelapan. Nyatanya, di balik deru penolakan itu, Tuhan rupanya sedang menuntun langkahku menuju sebuah jalur yang sudah lama kurajut dalam doa. Sebuah jalan kembali untuk menjemput impian lama yang sempat kuanggap mati.
Jauh sebelum hari ini, sejak seragamku masih biru tua di bangku SMP, nama IDN (Islamic Developer Networking ) sudah berdengung di telingaku bagai melodi indah sebuah tempat di mana teknologi dan agama berpadu. Informasi tentang tempat ini pertama kali kudengar dari bapakku. Beliau yang memiliki latar belakang di dunia teknologi sering bercerita dengan penuh binar, menggambarkan bagaimana IDN mencetak generasi digital yang tangguh. Namun, angka tiga juta rupiah per bulan untuk biaya pendidikan di sana kala itu adalah dinding tinggi yang tak mampu dilompati oleh realitas finansialku. Aku hanya bisa melangitkan doa, membiarkan impian itu mengangkasa agar suatu saat bisa mencicipi belajar di sana.
kala petang merayap pelan, melarutkan bising asrama dalam tawa dan canda para santri yang bersiap menyambut hari sabtu dan ahad, sebuah skenario takdir tak terduga menghampiriku. Malam itu, di sela riuh rendah lorong-lorong asrama, waktu mengantarkanku pada jadwal telepon yang biasa kunanti. Aku menyempatkan diri menyambungkan rindu.
“Bang, bapak dapat informasi, IDN lagi buka beasiswa penuh untuk mahasiswa angkatan pertama “ujar bapak di seberang sana, mengalirkan suara hangatnya melalui gawai kecil yang kugenggam. Percakapan malam itu seketika mengubah arah anganku.
Berbekal saran tersebut, aku mendaftarkan diri, menyelami setiap jengkal kisi-kisi yang diberikan dengan keteguhan hati. Untuk bisa menembus beasiswa penuh di sekolah yang pernah jadi impianku, ada tiga tahapan besar yang harus kutaklukkan tes logika, psikologi, dan hafalan. Nyatanya, prosesnya tidak pernah instan sebuah ikhtiar yang menguras seluruh fokus di dua tempat berbeda.
Dua ujian pertama, logika dan psikologi, kuhadapi di rumah dengan dahi berkerut di depan layar. Aku merelakan waktu libur pondok demi membedah lembar soal, menenun mimpi di sela keterbatasan. Sedangkan sisa ujian terakhir, hafalan dan mengaji, bergulir secara daring di pesantren. Aku bersimpuh takzim, menghadap gawai milik Bang Nopri.
Selepas halaqah di pelataran saung sore itu, dadaku masih berdegup kencang oleh bayang-bayang kegagalan dari Telkom. Aku menyeret langkah menuju sudut asrama, menghampiri Bang Nopri, sosok yang selama ini kubersamai dalam pengabdian sebagai wakilnya.
“Bang, ane pinjam handphone-nya lagi ya, mau lihat pengumuman hasil tes yang lain,” ujarku, mencoba peruntungan kedua.
Melalui layar kecil milik Bang Nopri itulah, beberapa waktu lalu aku mempertaruhkan hafalan dan lantunan ayatku secara online. Dan kini, di sore yang sama, di balik kaca gawai pinjaman itu, jemariku yang berkeringat dingin mulai menggulir layar, mencari sebuah jawaban atas doa yang kupendam sejak bangku SMP.
Mata beralih dari satu baris ke baris berikutnya, menyisir daftar nama yang tertera pada dokumen digital di layar gawai Bang Nopri. Detak jantungku memburu, memukul-mukul dinding dada dengan ritme yang tak beraturan. Di sudut asrama yang mulai temaram, waktu seolah berhenti berputar. Hingga akhirnya, sepasang mataku terpaku pada satu nama yang tertulis di sana Muhamad Ilham Mubarrok. Lolos. Beasiswa penuh 100% untuk angkatan pertama Politeknik IDN.
Seketika, gemuruh di dalam dada runtuh menjadi hamparan rasa syukur yang tak bertepi. Dinding tinggi seharga tiga juta rupiah per bulan yang dulu mengurung impianku sejak bangku SMP, runtuh seketika oleh kalimat kelulusan itu. Pesan Ibu beberapa minggu lalu kembali terngiang, menjelma menjadi kebenaran yang nyata. Allah benar-benar sedang menyiapkan skenario terbaik-Nya untukku. Jalur teknologi dan agama yang sempat kuanggap mati, kini membentang lebar di hadapan mata.
Namun, saat binar bahagia itu belum sepenuhnya reda, netraku menangkap sesuatu yang ganjil. Aku mengusap layar gawai sekali lagi, memastikan penglihatan ini tidak keliru. Tepat di lembar yang sama, berdekatan dengan baris namaku, sebuah nama yang sangat akrab kembali muncul Feri.
Aku tertegun di tempat dudukku. Feri. Seseorang yang beberapa minggu lalu duduk berdampingan denganku di bawah deru hujan, berbagi rasa kecewa yang sama atas penolakan Telcom, ternyata kembali menautkan garis takdirnya di sini. Kami gagal bersama di gerbang yang satu, untuk kemudian dituntun secara tidak sengaja menuju jalan yang sama. Pondok yang sama, kekecewaan yang sama, dan kini kampus yang sama.
Dari balik bilik asrama, di atas layar kecil pinjaman yang menyimpan sejuta keajaiban sore itu, aku menyadari bahwa perjalanan ini baru saja dimulai. Skenario langit telah mempertemukan logika dan doa dalam satu koordinat. Lembar baru kisah hidupku resmi dibuka.
CHAPTER 3: Elegi SBMPTN dan Warisan Garis Kode
“Saat gerbang perguruan tinggi negeri tertutup rapat oleh kegagalan SBMPTN, sebuah titik balik justru menanti di ujung rasa kecewa. Di sanalah garis kode pertama mulai diketik, mengubah runtuhnya sebuah impian menjadi fondasi awal bagi perjalanan baru yang tak terduga. “
Kelulusan dari pondok membawa kelegaan yang luar biasa, sekaligus menandai berakhirnya babak penarikan diri yang melelahkan. Di atas kertas, aku sebenarnya sudah bisa bernapas lega; satu tiket emas berupa beasiswa penuh di Politeknik IDN sudah aman di dalam genggaman.
Namun, di sudut hatiku yang paling keras kepala, ada sebuah ambisi lama yang menolak untuk padam begitu saja. Aku tetap melangkah menuju meja ujian nasional, mendaftarkan diri untuk bertarung di medan SBMPTN.
Langkah ini kuambil bukan karena meragukan skenario semesta yang membawaku ke IDN, melainkan sebagai bentuk pertanggungjawabanku pada ego yang jujur. Aku telah merawat ambisi menembus perguruan tinggi negeri sejak seragamku masih putih-abu di kelas sepuluh.
Kian hari, di sela-sela hafalan ayat yang menggema dan tekanan lingkungan angkatan, aku menyelinap di dalam sunyi untuk menyelami materi ujian. Aku hanya ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri, sejauh mana raga dan logika yang telah ditempa ini mampu bertarung di medan laga yang sesungguhnya. Maka, aku mengarahkan bidikan pada dua menara gading akademis yang ternama di bidang teknologi yaitu, Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor.
Namun, hari pengumuman itu tiba bagai tamparan angin dingin yang mengempas seluruh angan. Saat jendela kaca kecil itu memancarkan hasil akhir, kenyataan berbicara lain. Dua menara gading akademis yang ternama itu tertutup rapat untukku, angka angka nilai kompetisiku tidak mampu meruntuhkan kriteria ketat yang mereka minta.
Di tengah riuh kegagalan itu, ada beberapa jemari yang mengulurkan simpati, menawarkan opsi untuk berlabuh ke jurusan lain di universitas yang sama melalui jalur yang tersisa. Namun, aku memilih untuk menarik diri dari segala tawaran itu dengan tegas. Aku idealis, atau mungkin sebagian orang mengira ketetapan hatiku ini sebagai sebuah keangkuhan yang keras kepala.
Bagiku, masa depan bukanlah sesuatu yang bisa dikompromikan dengan sekadar ‘asal kuliah’. Aku tidak ingin tersesat dalam dialog fana di jurusan yang tidak kucintai. Aku hanya ingin melangkah di jalan yang ku suka, tidak ada tawar-menawar untuk karsa yang satu itu.
Keteguhan sikap ini bukanlah sesuatu yang lahir tanpa arah. Tiap detak waktu aku mulai meragukan pilihanku, pikiranku selalu melayang pada siluet hangat Ahmad Lofy seorang saudara yang sudah kuanggap bagai kakakku sendiri. Di mataku, ia adalah bukti nyata bahwa jalan teknologi bukan sekadar tren, melainkan masa depan yang mandiri.
Ketika badai pandemi melanda dunia beberapa tahun lalu, memaksa seluruh insan mengunci diri di dalam rumah dan menghentikan perputaran roda ekonomi, aku menyaksikan sebuah kontras yang nyata. Di tengah hiruk-pikuk kecemasan global, aku melihat Kak Lofy bekerja dengan begitu tenang di sudut kamarnya.
Hanya bermodalkan sebuah peranti kerja dan koneksi internet, ia mampu menghidupi diri dengan sangat layak. Nyatanya, dari balik ruang privat yang senyap itu, ia tetap produktif dan berdaya di masa-masa sulit. Keberadaannya adalah jangkar yang meyakinkanku bahwa jalan ini tidak pernah salah.
CHAPTER 4: Cikarang, Cluster Pinus, dan Hangatnya Secangkir Kopi Pertama
“Selepas kelulusan meredam, perjalanan sesungguhnya dimulai. Sebuah kereta, obrolan panjang bersama Feri, dan keputusan menyewa rumah murah yang kelak menjadi saksi awal perjalananku.”
“Bang, bangun Bang! Ayo ke masjid!” seru Bapak membangunkan tidurku pagi itu, disusul cipratan air yang sengaja disemprotkan ke mukaku.
Pagi itu, suasana masih teramat syahdu. Udara dingin khas fajar memeluk raga saat aku bergegas menuju masjid. Dengan mata yang masih sulit terbuka sempurna, aku menyalakan motor dan melesat membelah keheningan subuh. Masjid menjadi titik awal dari sebuah hari yang akan meretas jalan panjangku hari ini.
Selepas pulang dari masjid, kamarku mendadak riuh oleh kesibukan kecil. Aku mulai mengemas amunisi, melipat beberapa helai baju, menata perlengkapan mandi, dan memastikan semua kebutuhan esensial masuk ke dalam tas. Rencananya, aku akan menginap selama dua hingga tiga hari di daerah Kampusku untuk melakukan survei gedung kampus Politeknik IDN sekaligus berburu kostan terdekat.
“Bang, ayo makan! Sarapannya sudah jadi nih,” suara Ibu menggema dari arah meja makan. Pagi itu, sebelum berangkat mengajar, Ibu selalu menyempatkan diri menyiapkan hidangan pagi untuk keluarga.
Aku duduk dan segera menyantap telur dengan banyak topping yang selalu menjadi menu andalan Ibu. Masakan yang sederhana, namun rasanya selalu menjelma hidangan paling nikmat di semesta. Setelah menyelesaikan sendok terakhir, aku berjalan menuju tempat cucian piring untuk Membersihkan wadah bekas makanku, membuka basa-basi di sela kesibukan Ibu yang masih berkutat dengan urusan dapurnya.
“Doain Abang ya, Bun, supaya lancar cari kostannya sama survei gedung kampusnya,” ujarku sembari menyusun piring di rak basah.
Ibu menghentikan aktivitasnya sejenak, mengelap kedua belah tangannya pada selembar serbet kering, lalu menatapku hangat. “Iya, Bang. Semoga lancar ya. Jangan macam-macam di sana, Bang. Kalau ada apa-apa, langsung telepon kami.”
Satu jam kemudian, rumah perlahan sepi. Adikku sudah berangkat sekolah, sementara bapak dan Ibu pergi menunaikan tugas mereka untuk mengajar. Namun sebelum langkah kaki mereka melewati ambang pintu, aku sudah terlebih dahulu menghampiri, mencium takzim tangan kedua orang tuaku untuk meminta ridho dan pamit pergi.
Setelah memastikan seluruh amunisi logistik terkemas sempurna di dalam ransel, aku memesan ojek online menuju Stasiun Rawa Buntu.
Matahari perlahan naik, mengubah embun pagi menjadi embusan angin yang mulai hangat. Jalanan yang kulewati terasa agak lengang, para pekerja dan pelajar sudah lama melebur dalam rutinitas sejak pagi buta. Aku menatap lurus ke depan, menelusuri aspal yang sudah sangat akrab di ingatan karena selalu menjadi jalur utamaku setiap kali hendak menuju stasiun.
Sesampainya di Stasiun Rawa Buntu, aku bergegas menuju mesin penyelaras untuk mengisi saldo. Di peron, masih tersisa satu-dua orang yang berangkat kerja siang, namun suasananya jauh dari kata padat. Jarum jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi, tetapi sang surya sudah menumpahkan sinarnya dengan begitu terik.
“Persiapan jalur satu, masuk Kereta Api Commuter Line tujuan Tanah Abang.”
Suara peringatan otomatis dari pengeras suara stasiun menggema, sebuah penanda bahwa rangkaian besi tua yang kunanti akan segera tiba. Bel kereta berbunyi nyaring suara yang teramat akrab di telingaku. Menyusul desis khas saat pintu-pintu kereta bergeser terbuka. Setelah membiarkan penumpang turun, aku melangkah masuk ke dalam gerbong.
“Alhamdulillah, AC “gumamku dalam hati, lega saat hawa dingin langsung menyergap kulit, mengusir penat akibat sengatan matahari di luar.
Kali ini aku tidak mendapatkan tempat duduk. Meski gerbong tidak terlalu ramai, deretan kursi sudah terisi penuh oleh para pekerja. Aku memilih berdiri di dekat pintu, menyandarkan raga sambil menatap sudut-sudut gerbong. Kereta api selalu punya banyak cerita untukku, Di balik jendela gerbong inilah aku menghabiskan waktu sendirian setiap kali masa perpulangan pondok tiba. Di saat santri-santri lain dijemput oleh riuh pelukan hangat keluarga mereka dengan mobil di depan gerbang pesantren, aku justru terbiasa mengemas duniaku sendiri ke dalam ransel. Melangkah keluar dari gerbang pondok, aku berjalan mandiri menuju stasiun terdekat setiap kali masa liburan tiba.
“Sebentar lagi kereta Anda akan tiba di Stasiun Tanah Abang.”
Suara pengumuman kembali memutus lamunan. Aku bersiap di depan pintu, melangkah turun membelah kerumunan penumpang untuk melakukan transit menuju jalur kereta tujuan Stasiun Cikarang. Satu demi satu anak tangga kutapaki dengan takzim, berpindah peron, dan kembali menunggu di batas garis aman.
Pada paruh perjalanan kedua ini takdir berpihak pada lelahku. Aku mendapatkan tempat duduk di sudut gerbong. Di bawah ritme roda besi yang beradu konstan dengan rel, aku menyandarkan kepala, memejamkan mata perlahan, dan membiarkan kereta membawaku menuju Cikarang tempat di mana Feri dan sebuah awal keakraban baru telah menungguku di sana.
Bzzzt… Bzzzt…
Gawai di dalam sakuku bergetar. Aku merogohnya keluar, melihat nama Feri tertera di layar, lalu segera menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Woi Ham, lu di mana? Gue udah di parkiran nih!” Nyaring suara Feri memecah lamunanku melalui TWS yang tersemat di telinga.
“Iya, nih, baru banget keluar stasiun,” jawabku sembari menempelkan kartu KRL pada gate keluar.
Begitu lolos dari pembatas gerbang, aku langsung mempercepat deru langkah menuruni anak tangga stasiun. Terik matahari siang itu rasanya tepat berada sejajar di atas kepala. Bekasi kota yang kerap dijuluki khalayak sebagai planet lain karena suhu ekstremnya siang ini benar-benar membuktikan reputasinya. Sengatan panasnya terasa sangat berbeda, menyengat kulit tanpa ampun.
“Lu di mana, Fer? Gue udah di area parkiran nih,” tanyaku lagi lewat sambungan telepon yang masih terhubung.
“Woi, Ham!”
Sebuah teriakan lantang menyambar pendengaranku disusul lambaian tangan di udara. Saat tatapanku masih terpaku lurus ke depan, sementara suara di seberang gawai belum juga terjeda, sosok Feri menangkap sudut mataku. Ia berdiri di sana, melambaikan tangan dengan gaya khasnya. Aku mematikan sambungan telepon, lalu melangkah lebar membelah uap panas parkiran untuk menghampirinya.
“Lama amat lu, Ham. Kereta dari barat emang selalu penuh drama ya?” seloroh Feri menyambutku, lengkap dengan senyum tipis dari balik kacamatanya.
“Kata gua.., transit Tanah Abang tadi padatnya bukan main,” jawabku sambil membetulkan posisi tali ransel yang terasa kian berat di pundak.
Kami tidak membuang banyak waktu di bawah sapaan terik matahari Cikarang yang membakar. Feri segera memimpin jalan menuju motornya. Dari titik parkiran inilah, petualangan berburu tempat bernaung dimulai. Di sepanjang aspal yang kami lalui, dinding kecanggungan yang sempat terbangun selama bertahun-tahun di pondok perlahan runtuh. Kami mengurai banyak kisah tentang pondok, Poltek IDN, hingga kecemasan yang selama ini tersimpan rapat di balik dada. Bentangan jarak belasan kilometer seketika memendek, lebur oleh keakraban baru yang memeluk hangat.
Tujuan pertama kami hari itu adalah melihat langsung wujud fisik dari Politeknik IDN. Namun, perjalanan menuju ke sana ternyata menjadi siksaan tersendiri. Jalur yang kami lewati dipadati oleh truk-truk besar pengangkut pasir. Setiap kali kendaraan raksasa itu melintas, udara panas berbaur dengan serbuk tanah yang terbang terbawa angin, langsung menghantam wajah.
“Ham, tutup kaca helm lu! Perih banget ini mata!” teriak Feri dari depan, mencoba membelah angin dan gemuruh mesin truk.
“Udah gue tutup, Fer! Tetap aja tembus, debunya gila banget!” balasku setengah berteriak, sambil menyipitkan mata yang mulai terasa sepet dan perih.
Setelah berjuang menembus kepulan abu jalanan, lanskap perlahan berubah. Di tengah-tengah permukiman warga yang tak kalah terik, gedung kampus kami berdiri tegak di bawah kawalan perbukitan batu. Hamparan hijau dan barisan pohon liar yang tumbuh subur di sana menciptakan kontras yang mencolok antara modernitas arsitektur dengan kesederhanaan desa. Begitu motor Feri melambat memasuki gerbang, netraku seketika menyapu seluruh penjuru. .
Kenyataan langsung menampar ekspektasiku. Gedung perkuliahan kami ternyata masih menyatu dengan gedung SMA IDN. Ruangan yang disediakan sangat terbatas, jauh dari bayangan kampus-kampus pada umumnya.
Aku turun dari motor, memandangi koridor bangunan yang dipenuhi santri mendekap laptop, saling bertukar sapa dalam bahasa Inggris. “Wajarlah, angkatan pertama”, ujarku menenangkan diri dalam hati.
“Gimana, Ham? Ya… begini kondisinya,” ujar Feri, seolah bisa membaca isi kepalaku.
Aku tersenyum tipis, mengibaskan debu yang menempel di jaket. “Enggak apa-apa, Fer. Yang penting esensinya, bukan casing-nya. Yuk, nyari kontrakan.”
Dari IDN, kami bertolak menuju titik berikutnya untuk menemui teman lama Feri bernama Tonsul. Jaraknya lumayan jauh, sekitar sebelas kilometer dari kampus. Tonsul adalah alumni pondok SMP-ku dulu. Bedanya, setelah lulus SMP, Tonsul langsung memilih melanjutkan pendidikan di SMA IDN, sehingga ia jauh lebih paham seluk-beluk daerah ini.
“Woi, Tonsul!” sapa Feri hangat begitu kami bertemu di sebuah titik di luar perumahan.
“Eh, Feri! sehat lu?,” balas Tonsul terbahak. Tatapannya kemudian beralih kepadaku. “Eh, ini Ilham ya? Salam kenal, Ham.”
“Iya, Sul. Salam kenal. kita satu almamater ya?,” jawabku sambil menjabat tangannya erat sambil bertanya basa-basi.
“Yoi, bener banget! Dunia sempit ya, ketemu lagi kita di sini,” sahut Tonsul ramah.
Tanpa buang waktu, Tonsul langsung mengajak kami berkeliling area Perumahan Citra. Ia menunjukkan beberapa opsi tempat tinggal, melewati cluster demi cluster, hingga akhirnya motor kami berhenti di depan sebuah rumah di Cluster venus.
Rumah ini terhitung sangat besar. Fasilitasnya lengkap, ada satu kamar mandi, dua kamar tidur, ruang dapur, ruang keluarga yang lapang, tempat khusus untuk menjemur pakaian, serta teras luas yang cukup untuk menampung satu mobil dan satu motor.
“Ini serius, Sul, tipenya segede gini?” tanya Feri, matanya berbinar memeriksa area teras.
“Iya, speksinya emang mantap ini. Pemiliknya lagi butuh atau gimana gue kurang tahu,” jawab Tonsul sembari menyerahkan kontak pemilik rumah.
Setelah melakukan negosiasi singkat via telepon, angka yang keluar membuat jantungku sedikit melompat. “Tujuh juta per tahun, Fer,” bisikku pada Feri.
Feri terbelalak. “Hah? Tujuh juta dibagi dua cuma tiga setengah juta seorang? Ham, lu enggak merasa aneh?”
Aku berjalan ke area dapur yang agak remang, mengetuk dindingnya pelan. “Gue mikir hal yang sama, Fer. Murah banget buat rumah segede ini. Ini rumah angker apa punya histori buruk, ya? Jangan-jangan bekas tempat pesugihan atau pembunuhan lagi.”
Tonsul yang mendengar bisikan kami langsung terbahak di dekat pintu depan. “Hahaha! Pikiran lu berdua kejauhan, Coy! Enggak ada cerita begitu di sini. Aman, ini murni karena harganya lagi miring aja.”
Meski masih menyisakan sedikit rasa sangsi di kepala, kombinasi antara dompet yang pas-pasan dan luasnya fasilitas rumah ini berhasil memenangkan ego kami. Rumah di Cluster Pinus ini resmi menjadi pilihan.
Tidak terasa, gumpalan awan di langit mulai meredup, membawa kami pada penghujung hari pertama. Tubuhku dan Feri sudah lengket oleh campuran keringat dan debu truk pasir tadi siang.
“Udah mau magrib nih. Lu berdua malam ini menginap di rumah gue aja, enggak usah nyari penginapan lagi,” ajak Tonsul tulus, menepuk pundakku.
“Wah, enggak ngerepotin nih, Sul?” tanyaku sungkan.
“Santai, sekalian kita ngobrol-ngobrol buat persiapan lu berdua masuk kampus” sahut Tonsul sembari menyalakan kembali mesin motornya.
Malam itu, di bawah atap rumah Tonsul, kami langsung bergantian membersihkan diri dari sisa-sisa debu jalanan yang menempel sepanjang hari. Begitu raga kembali segar, rasa kantuk dan lelah yang luar biasa langsung menyergap tanpa ampun. Tanpa membuang waktu, kami segera merebahkan diri dan terlelap, mengistirahatkan pikiran untuk bersiap menghadapi babak baru yang sesungguhnya di Politeknik IDN.
CHAPTER 5: Jejak Supra dan Enam Hati di Citra
“Rintik hujan hari pertama ospek mempertemukan kembali jejak lama. Di atas aspal belasan kilometer, sebuah konvoi pulang menyatukan enam hati yang kelak mendefinisikan arti persahabatan sesungguhnya.”
Pagi itu masih berselimut kabut tipis ketika rintik hujan mulai turun membasahi jagat raya. Di bawah langit yang muram, aku dan feri membelah jalanan, terjebak di antara deru mesin dan kepulan asap hitam dari truk-truk besar di depan kami. Waktu terasa bergulir teramat cepat, memburu ego kami yang kian cemas.
“feri, bisa cepat lagi enggak? Dua puluh lima menit lagi pembukaan mahasiswa baru bakal mulai nih!” ujarku setengah berteriak sembari menutup mulut, mencoba menghalau pekatnya polusi jalanan.
“Iya Ham, sabar. Namanya juga motor Supra, harus sabar. Lu kira motor gue ninja ZX ?” balas feri dari balik kemudi. Ia membetulkan letak kacamatanya yang mulai ditutupi debu jalanan.
Hujan turun semakin deras, memaksa genangan air jalanan menciprat dan membasahi celana kami. Sesampainya di gerbang kampus, pemandangan riuh langsung menyambut; mahasiswa baru tampak berlarian pontang-panting mencari perlindungan dari amukan hujan.
feri segera memarkirkan motor lawasnya di sudut area parkir. Sembari menarik kunci dari stopkontak, ia menghela napas panjang, “Cuy, hari pertama aja udah sulit ya.”
“Cepat, langsung masuk dulu ke ruangan. Ini hujan sudah enggak bersahabat,” ujarku setengah berlari, meninggalkan feri karena rintik air kian menderu. feri bergegas menyusul dari belakang, menyamai langkah kakiku yang terburu-buru. Thanks God, kami masih menyisakan waktu lima belas menit untuk sekadar menghela napas dan mengeringkan baju sebelum acara pembukaan resmi dimulai.
Satu per satu mahasiswa mulai membanjiri ruangan ber-AC tersebut. Suasana yang tadinya asing perlahan mencair oleh senyuman yang bertebaran dan obrolan hangat mengenai daerah asal masing-masing. Di ruangan ini, ego runtuh tak banyak orang yang angkuh atau diam seakan membangun tembok pembatas.
“Eh, follow IG gue dong. Siapa nama lu? Kenalin, gue Hasib,” ujar seorang pemuda yang sama sekali belum kukenal, tiba-tiba menyodorkan layar ponselnya dengan canggung.
“Eh, iya… sabar. Mana IG lu?” jawabku membalas sodoran Hasib, sedikit kaku namun mencoba ramah di tengah situasi baru ini.
Tiba-tiba, suara pintu yang terbuka lebar seketika memotong riuh rendah percakapan kami. Ruangan mendadak hening.
“Assalamualaikum, selamat pagi, kawan-kawan.”
Sebuah kalimat pembuka yang sebenarnya biasa kudengar, namun kali ini terasa sangat berbeda karena pemilik IDN langsung yang berdiri di depan, menyapa kehadiran kami para mahasiswa angkatan pertama. Pembukaan hari itu terasa magis beliau mengalirkan untaian motivasi hebat yang membakar semangat di dada kami yang masih hijau.
“Baik, mungkin ini yang bisa Bapak sampaikan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Makasih,” ucap Pak Dedi seraya melambaikan tangannya, menutup sesi pagi yang penuh energi.
“Istirahat, ayo Di, cari masjid,” bisikku kepada feri begitu acara selesai. feri mengiyakan dengan anggukan kepala yang mantap.
Kembali ke parkiran motor, kali ini aku yang memegang kendali setir Supra milik Feri. Sebelum menaiki jok, dahi sejenak mengernyit memperhatikan tunggangan baru di depan mata.
“Kok lu bawa motor Supra sih, Fer?” tanyaku heran, menatap bodi ramping motor bebek legendaris tersebut. “Kemarin pas kita boncengan muter-muter nyari kontrakan bareng Tonsul kan lu bawa Vario merah.”
Feri menepuk slebor belakang motor bebeknya bangga lalu terbahak. “Iya nih, sengaja gue tukar dari rumah buat menghemat bensin. Supra bensinnya hemat banget, Ham. Isi dua puluh ribu bisa sampai Madinah!”
Aku spontan tertawa mendengar selorohnya sembari menyalakan mesin. “Wah, kalau sampai Madinah mah itu bukan irit lagi namanya, Fer. Itu motor ditiup malaikat!”
“Tapi serius, di jalur Jonggol yang naik-turun begini, mesin ini juaranya. Murah, bandel, enggak bikin kantong mahasiswa angkatan pertama kering,” sahut Feri santai sembari naik ke jok penumpang.
Kami kemudian berkendara membelah jalanan menuju masjid terdekat demi beristirahat dan mendinginkan otak yang sempat tegang akibat rentetan materi ospek. Di luar, cuaca berubah ekstrem; panas terik begitu membakar kulit, sebuah kontras yang tajam setelah beberapa jam mendekam di dinginnya ruang pembukaan tadi.
Pikiran yang kembali dingin dan raga yang telah usai membentangkan diri di pelataran masjid membuat kami siap menghadapi paruh kedua hari ini. Usai istirahat siang, roda Supra kembali berpijak di tempat yang sama di kampus.
“Selamat siang, Pak,” salamku dengan senyum ramah kepada penjaga kendaraan di sana saat memarkirkan motor.
“Eh Ham, acara selanjutnya di masjid bawah, ayo!” celetuk feri tiba-tiba, mendahuluiku dengan lari-lari kecil di depan.
Sesampainya di masjid bawah, kami disambut oleh barisan mahasiswa yang telah ramai bercakap-cakap. Di antara kerumunan itu, mataku menangkap sosok yang familier.
“Kenalin, namaku Abad,” ucap seorang mahasiswa yang sempat kutemui saat makan siang tadi, menjabat tanganku hangat.
“Eh iya Bad, tadi kita sempat kenalan,” jawabku dengan tawa tipis sembari mengulurkan tangan balik kepadanya.
Tak lama kemudian, beberapa kakak tingkat (kating) mulai mengambil alih ruangan, memberikan instruksi untuk sesi perkenalan lanjutan dan mencairkan suasana dengan permainan ice breaking. Di sela-sela riuh rendah permainan itu, aku berbisik setengah berteriak pada Abad, “Selanjutnya acara apa lagi, Bad?”
“Acara selanjutnya di sungai, Ham,” jawab Abad dengan logat Jawanya yang khas dan medok. Ia kemudian menoleh ke arah sudut ruangan sebelum menambahkan, “Eh, kamu tidak pulang dengan rombongan Citra? Mereka izin mau pulang duluan, tidak mengikuti acara setelah ini karena kost mereka jauh.” Abad menunjuk ke arah sekumpulan pemuda empat orang yang juga kulihat di acara pembukaan pagi tadi.
Citra nama cluster tempat aku dan feri tinggal kini berdengung. Jarak dari rumah kost kami menuju kampus tercinta memang cukup jauh, berkisar tiga belas kilometer. Di sinilah, sebuah epilog persahabatan yang sesungguhnya dimulai, dengan nama “Citra” sebagai identitas perekat kami.
“Eh, dari Citra juga ya?” tanyaku setengah berlari menghampiri keempat orang tersebut sebelum mereka melangkah keluar.
“Iya,” jawaban singkat itu datang dari seseorang bernama Umar. Perawakannya tegap, namun badannya sedikit lebih pendek dariku.
Pertanyaanku segera disusul oleh seseorang di sebelahnya yang memiliki perawakan jenggot dengan tubuh yang gempal, tampak karismatik, “Dari Citra juga, Bang?”
“Iya Mas, dari Citra juga. Pengen pulang ya? Enggak ikut acara setelah ini?” jawabku beruntun. Aku sempat merasa bingung harus memanggilnya dengan sebutan apa, karena pemuda bernama Yunus ini tampak sangat bersahaja, mirip seorang ustaz di mataku saat itu.
“Oh, ya udah, bareng aja Mas,” sahut Yunus ramah, mengajak kami untuk konvoi pulang bersama. Aku dan feri pun sepakat mengikutinya, memutuskan untuk izin tidak menghadiri sesi lanjutan di sungai.
Sore itu, jalanan menuju perumahan Citra dipenuhi oleh raungan mesin motor kami. Aku dan feri melesat dengan motor Supra lawasnya, sementara empat lainnya mengikuti dengan motor masing-masing kecuali Umar yang waktu itu dibonceng Yunus.
Melalui perjalanan belasan kilometer itulah, dinding-dinding pembatas di antara kami perlahan runtuh. Ilham adalah panggilanku, seorang anak Tangerang yang memiliki banyak rekam sejarah tentang hidup. feri, orang yang sudah kukenal lama sejak dari bangku pondok, kini disatukan kembali oleh takdir di kampus yang sama.
Lalu ada Yunus, pemuda berwajah laiknya orang sholeh yang memiliki tawa lepas kepada orang-orang yang dianggapnya sefrekuensi dengannya. Ada pula Amar, seseorang yang awalnya kukira angkuh dari pembawaannya, namun pikiranku salah ia memiliki pola pikir luar biasa yang sangat kukagumi, memberikan banyak pelajaran hidup yang berharga selama kebersamaan kami.
Di sisi lain ada mukhsan awalnya kukira ia hanyalah orang awam yang baru meraba dan mengenal laptop, namun ternyata bentangan ilmunya begitu luas, berbanding terbalik denganku yang benar-benar baru merangkak mengenal dunia pemrograman. Dan terakhir ada difqi, sosok teman sekaligus guru bagi kami saat itu, yang dengan sabar membimbing kami yang masih gagap dengan dunia kode ini.
Di atas aspal jalanan menuju Citra sore itu, kisah pertemanan kami resmi mengakar. Sebuah lingkaran kecil tempat kami saling berbagi lelah dan belajar. Senang bisa mengenal kalian, kawan. Di sinilah cerita semuanya berawal.
CHAPTER 6: Badai Logika dan Langkah Kaki Menuju Lampung
“Di bawah tekanan tugas yang perlahan mengikis barisan, sebuah tradisi bernama Edurace menguji batas akhir ketahanan fisik dan isi dompet. Menembus batas kota hingga menyeberangi selat, perjalanan ini memaksa ego tunduk pada arti kebersamaan yang sesungguhnya.”
Tidak terasa, ini sudah hari ke-63 kami mengikuti pembelajaran di kampus tercinta. Satu per satu dari mahasiswa mulai mengeluarkan diri dari kampus tersebut, dengan alasan tugas yang terlalu banyak, dan sebagian dari mereka beralasan ingin mencari pembelajaran yang lebih layak. Temanku, Amar, termasuk yang berpamitan saat itu. Walau hanya sebentar waktu yang kami habiskan bersama, banyak tawa dan lelah yang telah menghiasi hari-hari kami kala itu.
“Woi Fer, lu udah siap-siap belum buat Edurace besok?” ucapku, mencoba mengagetkan feri yang sedang asyik dengan telepon genggamnya.
“Owh, iya Cokk, nanti aja laa. Berangkatnya masih lama jam 3 pagi,” jawab feri yang matanya masih fokus berselancar di dunia maya.
Sejujurnya, aku tidak ingin mengikuti kegiatan Edurace ini karena menurutku banyak tenaga dan uang yang harus dikeluarkan. Sedangkan kami, para mahasiswa yang hanya hidup pas-pasan, harus berpikir 33 kali untuk sekadar ikut acara tersebut.
Tidak terasa azan isya berkumandang begitu tertib malam itu. Karena rumah kami jauh dari kampus dan kami harus berkumpul sangat pagi, aku dan feri mengambil keputusan untuk menginap di rumah teman yang dekat dengan kampus. Aku membuka ponsel dan mengetik pesan untuk Abas, pengampu guru asrama di kampusku yang kebetulan mengurusi pondok IT untuk tingkat SMP dan SMA.
“Bas, gw nginep di asrama lu yak malem ini. Gua takut begal ni klo berangkat jam 1 pagi ke kampus,” tanyaku lewat pesan layar teleponku.
Tidak begitu lama handphone-ku bergetar. Abas mengirimiku pesan balasan: “Bolehh Ham, sini ke asrama gua aja.” Jadilah malam itu aku bermalam di asramanya. Abas sendiri akrab dipanggil “AL”bukan Aliando apalagi almarhum.
“Ham, Ham, bangun! Udah jam 2 nih. Ayo bergegas, udah ramai di lapangan bawah,” bisik Abas membangunkan tidurku pagi itu.
Netraku mengerjap, berusaha mengusir kabur yang bertamu, mencoba mengumpulkan kesadaran. Aku tidak tahu feri di mana saat itu, karena sebelum sampai di asrama Abas, aku sempat singgah di rumah temanku yang jaraknya 2 km dari kampus dan kami berpisah saat itu.
Di bawah, satu per satu mahasiswa mulai memadati area lapangan dan membuat baris sesuai regunya masing-masing. Kelompokku sendiri berisikan lima orang, yaitu aku, Dulan, Nopri, Muklas, dan Furid. Kami siap memulai pagi itu dengan penuh semangat. Namun, ada satu masalah.
“Eh, si furid di mana ya?” tanyaku kepada yang lain.
Hening. Tidak ada jawaban. Akhirnya kelompok kami terpaksa menunggunya datang, karena peraturan edurace ketat, regu yang boleh pergi hanya regu yang lengkap kelompoknya. Dua puluh menit sudah kami menunggu dalam kecemasan. Ketika sosok yang dicari akhirnya muncul dengan wajah mengantuk, ternyata orang yang kami tunggu-tunggu itu baru terbangun dari mimpinya.
“Busett, ditungguin dari tadi boss!” ujarku kepadanya dengan nada pasrah.
Suara jangkrik dan burung hantu masih setia menghiasi perjalanan awal kami menuju Post 1, yaitu Alun-Alun Jonggol. Jaraknya sangat jauh apabila ditempuh dengan berjalan kaki. Sadar akan keterbatasan fisik dan waktu, kami memutuskan untuk mencari tumpangan pagi itu. Beruntung, kami berhasil mendapatkan tumpangan hingga bisa menyelesaikan misi di sana dan mengumpulkan uang logistik.
“Udah cukup nih buat beli tiket. Lanjut yuk ke post selanjutnya!” ajakku kepada yang lain setelah menghitung hasil target kami.
Akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkatan kota (angkot). Sebelum pergi meninggalkan area, kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto sebagai kenangan dan bukti absen bahwa kami sudah menginjakkan kaki di Monas.
Matahari mulai menampakkan sinarnya, dan asap kendaraan mulai merayap ke segala sisi jalanan ibu kota. Kelompokku bergegas untuk menuju post selanjutnya, yaitu Museum Fatahillah atau yang biasa disebut Kota Tua. Kami memutuskan untuk menggunakan kereta untuk menempuh perjalanan ke post dua tersebut.
Namun, jarak dari posisi kami ke stasiun tidaklah dekat. Sangat tidak mungkin untuk nebeng dari satu mobil ke mobil lain karena ada anggota dari kelompok kami yang tidak terbiasa melakukan itu. Akhirnya angkot menjadi kendaraan alternatif untuk menuju Stasiun Nambo saat itu.
Melihat ongkos yang lumayan berat jika ditanggung sendiri, aku memutar otak. “Eh, bagaimana kalau kita barengan sama kelompok Syafiq buat patungan bayar angkot ke stasiun? Mahal juga nih kalau cuman ditanggung lima orang. Bagaimana?” ujarku memberikan pertanyaan kepada teman-teman.
“Boleh, boleh!” dulan menyahuti pertanyaanku dengan cepat.
Kami pun memutuskan untuk pergi bersama kelompok Syafiq kala itu. Di momen inilah, takdir mempertemukanku kembali dengan feri, yang ternyata berada di dalam satu kelompok dengan Syafiq.
Asap pabrik menyelimuti perjalanan kami menuju Stasiun Nambo. Matahari kini tepat berada 70 derajat di atas kepala kami. Sesampainya di stasiun, kami memutuskan untuk makan pagi terlebih dahulu karena auman yang terdengar dari perut kami masing-masing. Tawa menghiasi perjalanan kami saat itu, mengalihkan perhatian dari bunyi perut yang tak kunjung berhenti sejak dari post pertama.
Setelah selesai dengan suapan demi suapan, raga kami dipaksa kembali berjalan, meskipun sejujurnya tubuh ini sudah enggan melanjutkannya. Beruntung, kereta yang kami tunggu akhirnya datang menjemput. Di dalam gerbong, aku melihat wajah salah satu teman yang tampak sangat kelelahan.
“Woi, muka lu kucel amat, Nus! Lihat noh, ketek lu basah, hahahah!” sapaku kepada Yunus yang kini duduk berhadapan denganku.
“Hahaha, sama aja lu, Ham!” jawab Yunus dengan tawa sembari melirik sinis ke arah Mukhsin yang badannya kini juga sudah penuh dengan keringat. Lagi-lagi, tawa kecil seperti itu yang menyelimuti dan menguatkan perjalanan kami.
Setibanya kami di Monas, panas yang menyengat langsung terasa tidak bisa diterima oleh kulit.
“Yallah, panas banget gess…” ujarku mengeluh kepada kelompokku.
“Eh, kita jualan kripik dulu untuk mendapatkan uang untuk membeli tiket naik kapal,” suruh kelompok Syafiq kepada kelompokku. Karena kelompok Syafiq telah menyiapkan alat dagangan dari awal, akhirnya kami menyatukan tenaga dan menjual barang dagangan seadanya saat itu demi menyambung biaya perjalanan.
Setelah target berdagang selesai, kami berkejaran dengan waktu demi mengejar jadwal keberangkatan kapal selanjutnya di Pelabuhan Merak untuk menuju Bakauheni. Kini sang bagaskara tak lagi menampakkan sinarnya, sore perlahan berganti malam.
Aku yang sudah benar-benar lelah hanya bisa berandai-andai di dalam hati. Aku ingin mempunyai pintu kemana saja seperti Doraemon. Aku yang sudah rindu dengan empuknya kasurku, lagi-lagi sunyiku dibangunkan oleh gelak tawa dari obrolan satu sama lain di antrean pelabuhan. Aku yang sebelum agenda ini hanya mengenal sebagian orang di kampusku, kini menjadi mengenal semuanya karena kedekatan yang terbangun sepanjang perjalanan ini.
“Eh ayooo, bengong aja! Kapal udah sampai tuu,” ujar furid memecahkan lamunanku saat itu.
Malam itu, kami kebagian kapal dengan suasana yang sangat padat seperti pasar. Bau dan kotor menjadi satu di kapal itu. Namun, kini penciuman dan mataku sudah tak memedulikan itu semua. Aku hanya ingin tidur entah di mana saja demi memulihkan energi yang terkuras seharian penuh. Kini lamunanku menjadi mimpi, berbaur dengan bintang-bintang yang kulihat di atas kapal yang perlahan bergerak membelah Selat Sunda.
“Eh Ham, bangun! Udah mau sampee, ayoo!”
Orang di sampingku meneriakiku sambil berlari ke arah tangga. Suasana mendadak menjadi hening saat itu. Aku sempat tertinggal rombongan karena kesadaranku belum pulih penuh, tetapi beruntung kelompokku masih ada di sekitarku untuk menungguku bangun.
Jam sudah menandakan pukul dua pagi kala itu. Sinar bintang dan bulan kini tampak sangat indah dari sebelumnya. Energi yang kembali penuh membuat kami siap menjalani tantangan setelah ini. Selanjutnya, kami diarahkan untuk berjalan kaki ke Gedung Menara Siger yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan.
Awalnya kami berniat untuk menaiki angkutan umum untuk mendaki ke sana, tetapi harga yang ditawarkan tidak bersahabat dengan kantong keuangan kami yang sudah sekarat. Lagi dan lagi, sang kaki harus menanggung beratnya badan dengan melewati jalur yang menanjak tajam.
Namun, lelahku kali ini tidak berbuah manis. Sesampainya di atas, Menara Siger tersebut ternyata ditutup karena sedang ada pembangunan. Ada rasa kecewa, tetapi tertutupi oleh sesuatu yang lebih besar.
Banyak pelajaran yang dapat kuambil dari perjalanan panjang ini; tentang arti persahabatan, tentang lelah yang dibarengi senyuum, tentang berharganya selembar uang, tentang menahan lapar, dan masih banyak lagi. Makasih telah memberi hal entah berupa pelajaran atau pengalaman. See you next time.
Sebab pada akhirnya, aku dan hiruk-pikuk perjalanan ini adalah kalibrasi frekuensi tanpa arogansi.
CHAPTER 7: Mahakarya Semester Ganjil
“Di bawah tempaan tenggat waktu yang tak masuk akal, sebuah lingkaran pertemanan menjelma menjadi keluarga. Kami memasak di panci yang sama, bersujud di saf yang sama, dan membaca sandi lelah hanya lewat tatapan mata. Namun, akhir dari babak pertama ini harus dibayar dengan sebuah kursi yang mendadak kosong.”
Jika ada satu tombol waktu yang diizinkan untuk kutekan kembali, aku akan memilih memutar jam dan kembali ke semester satu ini. Semester ganjil memberikan begitu banyak tawa, kebahagiaan, dan rasa senang yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh waktu. Di sinilah titik mulanya. Di semester ini, aku benar-benar menemukan arti sebuah pertemanan yang sesungguhnya sebuah lingkaran yang tidak hanya asyik diajak tertawa, tetapi juga mampu membawa satu sama lain pada keseriusan belajar.
Kami tumbuh menjadi sebuah koloni kecil yang saling menjaga. Di tengah gempuran tugas, hal-hal kecil menjadi jangkar yang menjaga waras kami. Kami terbiasa mengingatkan satu sama lain untuk hal-hal baik, seperti bergegas mengambil air wudu saat azan berkumandang, atau sekadar memastikan tidak ada perut yang kelaparan. Makan bersama dan memasak bersama di dapur kostan menggunakan bahan seadanya adalah perayaan sederhana setelah hiruk piruk tugas. Porsi bermain game pun terkendali; kami tahu kapan harus menatap layar untuk hiburan dan kapan harus menutupnya demi masa depan.
Di dalam lingkaran ini, kemistri kami terbangun begitu damai. Hubungan ini bahkan telah mencapai level di mana kata-kata sering kali menjadi tidak lagi dibutuhkan. Tanpa perlu berbicara sepatah kata pun, hanya dengan saling menatap mata, aku bisa langsung mengerti apa yang sedang ingin disampaikan atau apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan oleh teman-teman ku. Sebuah tatapan bisa berarti “Gua pusing sama kode ini,” atau “Ayo kita rehat sejenak.” Kami saling membaca layaknya sebuah buku yang terbuka.
Namun, romansa pertemanan itu harus berbenturan dengan realitas akademis yang menghantam tanpa ampun. Sepanjang semester 1 ini, kami benar-benar belajar dari didikan keras Pak Dedi. Beliau memberikan rentetan tugas akhir dengan intensitas tinggi yang benar-benar menguras logika dan tenaga mahasiswa baru.
Bayangkan saja, kami diwajibkan menyelesaikan seratus vlog berbahasa Inggris, dan itu juga merupakan tugas dari Pak Dedi. Tugas video tersebut harus berjalan beriringan dengan tugas berat lainnya membangun sebuah sistem nyata yang harus langsung bermanfaat bagi masyarakat. Selama tugas-tugas ekstrem itu diberikan, Pak Dedi tidak pernah sekalipun memuji atau sekadar memberikan bahasa yang memvalidasi hasil kerja kami. Polanya selalu sama: setiap kali satu tugas selesai, langsung ada tugas lagi, ada tugas lagi, dan begitu terus tanpa jeda napas. Jika ada yang berani tidak mengerjakan atau menyerah, ancamannya Drop Out (DO).
Awalnya terasa berat, namun dari benturan keras inilah aku mulai belajar dan tersadar. Memang seperti inilah realitas dunia industri yang sesungguhnya. Di luar sana, tidak akan ada kata-kata indah atau pujian manis dari bos yang ada hanyalah rentetan tugas baru setiap harinya. Lewat tekanan tanpa henti itu, kami sadar kami sedang dididik bukan untuk menjadi mahasiswa biasa yang manja, melainkan menjadi profesional yang tangguh dan mampu bersaing ketat di dunia kerja.
Tantangan nyata itu aku wujudkan dengan memilih pulang ke akar, kembali ke kampung halaman untuk objek tugas akhirku. Aku memutuskan untuk membangun sebuah website company profile dan sistem Content Management System (CMS) untuk sekolah milik nenekku di sana.
Membangun CMS dari nol bukanlah perkara mudah bagi seorang pemula. Malam-malamku habis di depan laptop, bergulat dengan baris-baris kode, database, hingga menyusun dokumen dokumentasi teknisnya yang tebal. Melelahkan? Tentu saja. Namun, karena intensitas tinggi dari Pak Dedi itulah kami justru semakin merapat. Kami melewati badai tugas akhir ini bersama-sama, tumbuh bersama, belajar bersama, serta menanggung susah dan senang bersama. Alih-alih tertekan, kami justru melewati setiap sisa tenggat waktu tugas akhir ini dengan penuh rasa senang dan bahagia.
Akhirnya, semua fajar yang kami kejar berbuah manis. Kode-kode berhasil di-commit, seratus video berhasil diunggah, dan sistem CMS untuk sekolah nenek selesai disematkan dengan sempurna. Namun, di tengah riuh perayaan keberhasilan akhir semester itu, ada sudut asrama yang mendadak terasa dingin. Ada satu bangku yang kosong.
Umar, salah satu sahabat terdekat dari lingkaran Citra kami, memilih untuk menyudahi perjalanannya di Poltek IDN di semester ini. Kabar pamitnya yang sempat membayangi langkah kami sejak awal perjalanan Edurace kini benar-benar menjadi nyata.
Melihat langkah kakinya keluar dari gerbang kampus menyisakan rasa getir yang pekat di tengah manisnya pencapaian semester pertama. Kami berhasil menaklukkan badai logika yang diberikan para dosen, tetapi kami harus kehilangan satu nakhoda di kapal ini. Sebuah perpisahan awal yang mengajarkanku satu hal di kampus ini, tidak semua orang yang memulai perjuangan bersamamu akan berdiri di panggung yang sama saat semuanya berakhir.
Terima kasih, Amar. Selamat melanjutkan petualanganmu di tempat yang baru.
CHAPTER 8: Industri Pertama dan Paspor yang Tak Pernah Terbayangkan
“Awal semester 2. Pengalaman kerja pertama di sebuah perusahaan di Kebayoran Lama dan tantangan backpacker ke Singapura-Malaysia dari Pak Dedi.”
Ketika pintu industri terbuka lebih cepat dari garis waktu akademis, Jakarta Barat menjadi panggung pembuktian bagi sebuah tim kecil beranggota empat orang. Di antara tawa renyah di ruang kerja dan getirnya realitas tanpa kontrak, sebuah tantangan lintas negara mendadak datang, memaksa langkah kaki melompati batas peta yang tak pernah terbayangkan.
Memasuki awal semester dua, sebuah kejutan besar menghampiri jalanku. Aku mendapatkan opportunity untuk bekerja di sebuah perusahaan yang sedang ingin membuat unit bisnis baru di bidang amil zakat. Tidak sendiri, aku dan Difqi mendapatkan kesempatan emas ini dan menjadi Fullstack Developer di sini. Adalah suatu kebanggaan besar bagiku untuk mendapatkan pekerjaan ini, di mana magang industri sebenarnya baru menjadi keharusan di semester tiga, namun aku sudah berhasil mendapatkannya lebih awal di semester dua.
Hari pertama kerja dimulai di suatu pagi yang begitu terik di Jakarta Barat. Begitu sampai di lokasi, dari jauh aku melihat seseorang yang wajahnya tidak asing di mataku.
“Eh Dibali, lu ngapain di sini?” ujarku menyapa dengan nada heran. Dia adalah teman satu angkatanku di kampus, namun kami berbeda jurusan; dia dari jurusan DMM (Digital Media Multimedia). Sejujurnya, kami tidak pernah begitu akrab sebelumnya, bahkan jarang berkomunikasi dan hanya mengobrol sesekali saja.
“Gua ditawarin kerja di sini nih, Am, jadi designer,” jawab Dibali dengan menyeringai yang begitu khas di wajahnya.
Tidak lama setelah obrolan kami dimulai, suara deru motor matic hitam yang sangat akrab di telingaku terdengar merapat. Itu Difqy.
“Eh Am, udah sampai duluan lu di sini,” ujarnya kepadaku sambil melepaskan helm.
Kami bertiga kemudian diarahkan masuk ke dalam ruangan untuk dikumpulkan oleh Project Manager kami, yaitu Mba Chelsi. Ternyata, kami tidak hanya berstatus sebagai tim yang berisi tiga orang laki-laki. Di dalam ruangan, sudah ada seorang wanita yang mengisi posisi sebagai UI/UX Designer.
“Hai, aku Yutami. Salam kenal semua,” sahutnya ramah. Yutami memiliki paras yang cantik dengan riasan minimalis, menonjolkan keanggunan tanpa kepalsuan.
Sejak hari itu, terbentuklah sebuah tim yang sangat kokoh. Tawa selalu menghiasi ruang kerja kami yang isinya hanya berempat. Di sinilah penilaian awalku tentang Dibali runtuh. Ternyata, Dibali adalah orang yang sangat lucu sekali. Tingkah dan celotehannya benar-benar jenaka, sampai-sampai Yutami selalu dibuat ketawa olehnya.
Namun, di balik tawa yang pecah di ruang kerja dan romansa pekerjaan pertama di Kebayoran Lama ini, ada sekat gelap yang menimpaku. Sebuah masalah besar yang sangat berat sedang menyelimuti hidupku. Saking besarnya masalah ini, tidak pernah terbersit sekalipun di dalam pikiranku bahwa hal mengerikan seperti ini akan terjadi di dalam sejarah hidupku.
Awal dari badai besar ini bermula dari challenge target omset 100 juta dari Pak Dedi. Ambisi dan tekanan itu memaksaku untuk memutar otak dan mencari uang sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat. Celakanya, saat itu aku melangkah dengan membuta tanpa adanya financial literacy (literasi keuangan) yang mumpuni. Keputusan-keputusan yang kuambil justru berbalik arah menjadi bumerang yang menghantam telak pertahanan finansial dan mentalku.
Masalah kerjaan yang pahit tanpa adanya ikatan kontrak hitam di atas putih, ditambah hak gaji yang kerap kali tertahan dan terlambat, semakin memperkeruh keadaan. Di sudut-sudut ruang Jakarta Barat, aku benar-benar berada di titik nadir. Aku menangis dalam diam, meratapi impitan masalah yang rasanya teramat mustahil untuk diselesaikan oleh anak seusiaku saat itu.
Belum selesai aku bernapas dari hantaman masalah besar tersebut, Pak Dedi sudah melemparkan lagi tantangan gila berikutnya kepada kami, backpacker keluar negeri menuju Singapura dan Malaysia.
Jujur, tantangan baru ini seketika berubah menjadi kepusingan luar biasa bagiku. Bagaimana mungkin aku harus memikirkan ongkos pergi ke luar negeri di saat isi dada dan kepalaku sedang porak-poranda oleh masalah keuangan yang karut-marut? Pada momen-momen itulah ego dan mentalku sempat rapuh, seringkih kaca yang menanti remuk. Ada titik di mana aku merasa lelah yang teramat sangat dan ingin menyudahi saja perjuangan ini semua. Rasanya ingin menyerah. Menuliskan chapter ini bahkan membuat mataku sedikit berkaca-kaca dan terharu ternyata, anak muda yang sempat hancur dan rapuh kala itu bisa melewati badai ekstrem tersebut hingga akhirnya bisa berdiri tegak dan lulus hari ini. Kalau semua detail masalah itu aku ceritakan secara rinci, mungkin bab ini akan berubah menjadi satu buku tersendiri yang sangat tebal.
Namun, takdir selalu punya cara yang unik untuk mendidik manusia. Perjalanan lintas negara yang awalnya kuanggap sebagai beban, di luar dugaan justru menyaru sebagai setetes penyejuk, sekadar membasuh jiwaku yang gersang. Di sepanjang jalur pelarian singkat itu, masalah-masalah yang membuntutiku seolah diredam sementara oleh takjubnya dunia baru.
Bagi seorang anak pondok sepertiku, perjalanan backpacker dengan modal pas-pasan itu seketika meruntuhkan sekat-sekat pesimisme. Berjalan di bawah bayangan gedung pencakar langit Singapura dan kemegahan Malaysia memberiku sebuah suntikan semangat baru.
Ternyata, dunia ini teramat luas. Masalah yang sedang menghimpitku di tanah air tiba-tiba terasa kecil di hadapan bentangan dunia yang begitu megah. Langkah kaki di tanah Malaya itu berhasil memantik sebuah api baru di dalam dadaku. Aku tidak boleh berhenti dan mati di sini. Dari perjalanan yang penuh air mata tersembunyi itu, aku akhirnya berani merajut sebuah mimpi besar yang baru suatu saat nanti, aku harus dan pasti bisa membangun karier di luar negeri. Perjalanan ini memaksaku bertumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Semester dua yang penuh dengan plot twist mulai dari canda tawa tim amil zakat, tangis rahasia di sudut ruangan, hingga jejak kaki penenang jiwa di tanah Malaya akhirnya ditutup dengan manis lewat kolaborasi kelompok dalam membangun aplikasi mobile pada tugas akhir semester dua. Aku pulang bukan lagi sebagai mahasiswa baru yang naif, melainkan sebagai seorang petarung yang sudah tahu bagaimana rasanya bangkit dari kehancuran.
CHAPTER 9: Seratus Kilometer di Atas Aspal dan Hilangnya Ruang Gym
“Semester 3: Kewajiban pengabdian beasiswa IDN, magang di Jakarta Utara, mengajar di Bogor di akhir pekan, hingga terpaksa vakum dari hobi mengangkat beban.”
Ketika tubuh dipaksa melibas seratus kilometer aspal di bawah guyuran hujan tanpa henti, jarak bukan lagi sekadar angka, melainkan ujian bertahan hidup. Di antara upah magang yang hanya menyisa untuk bensin dan pelarian ke bilik kost sederhana, sebuah hobi besar yang menjadi rumah kedua terpaksa dikorbankan demi sebuah prioritas baru yang jauh lebih mendesak.
Setelah menyudahi hari-hari pahit di perusahaan amil zakat tersebut, aku sempat menganggur untuk beberapa waktu. Masa-masa itu sengaja kugunakan untuk menenangkan diri, mencoba meredam kecamuk dari masalah besar yang masih setia membuntuti langkahku. Namun, hidup harus tetap berjalan. Lamaran demi lamaran magang kembali aku ajukan ke berbagai tempat. Sayangnya, takdir kali ini justru melabuhkan kapalku pada sebuah perusahaan yang jaraknya tidak masuk akal. Jalanan sepanjang seratus kilometer lebih menjadi saksi bisu runtuhnya ragaku setiap kali pulang dan pergi.
“Ya Allah, kenapa Engkau begitu berat memberikanku cobaan?” gumamku lirih dalam hati.
Kalimat itu sering kali terucap di balik kaca helm, tepat saat aku sedang mengendarai motor, membelah jalanan ibu kota yang dipadati oleh ribuan pekerja di tengah guyuran hujan besar. Kalau diingat-ingat lagi hari ini, aku pun kadang takjub dan bertanya pada diri sendiri, kok aku bisa ya sekuat itu? Di saat isi kepala masih porak-poranda oleh masalah besar yang belum usai, aku masih harus menjalani magang di tempat yang jaraknya teramat jauh.
Perlu digarisbawahi, ini adalah tempat magang, bukan kerja formal. Aku hanya diberikan upah sebesar 50 ribu rupiah sehari. Uang itu seketika langsung habis tanpa sisa 35 ribu rupiah untuk membeli bensin motor agar bisa sampai ke tujuan, dan 15 ribu rupiah sisanya untuk makan siang. Karena nominalnya yang sangat mepet, tak jarang aku harus membawa bekal makanan sendiri dari rumah demi menghemat pengeluaran.
Di antara sekian bentang perjalanan yang melelahkan itu, ada satu fragmen ingatan yang paling menyayat hati. Sore itu, langit seolah tumpah tanpa ampun, mengguyur jalanan dengan sisa-sisa amarahnya. Di dalam dompetku, kondisi keuangan benar-benar berada di titik nadir, tak lebih dari selembar dua puluh ribu rupiah. Dengan raga yang basah dan gigil yang kian menjalar, aku menepikan motor, berlabuh di sebuah pom bensin swasta. Di sana, aku berniat melarikan diri sejenak, menunaikan salat sekaligus menyerahkan sisa hari pada reda yang entah kapan datang.
Di tengah keheningan tempat berteduh, perutku berkeroncong nyaring, abai pada rasa malu. Di balik tirai hujan dan dingin angin sore, langit perlahan bersiap menyambut gulita. Rasa lapar yang kian menghimpit memaksaku menentukan pilihan, mencari kudapan apa pun yang tak sampai merenggut lembar terakhir di dompetku.
Mataku tertuju pada sebuah plang di kaca minimarket yang berada di dalam area pom bensin tersebut.
“10 ribu dapet Pop Mie, air mineral, dan Beng-Beng.”
Promo paket hemat itu tentu tidak asing bagi orang-orang yang sering mengisi bahan bakar di tempat ini.
Setelah membayar, aku mengambil tempat di sudut minimarket. Dari balik dinding kaca bening, aku melamun, menatap lekat rintik hujan yang menghantam aspal sembari menyeruput kuah mi instan hangat secara perlahan. Ditemani sebotol air mineral dan sebatang cokelat kecil, aku mengganjal rasa lapar dan lelah sore itu. Berusaha bertahan di tengah kerasnya ibu kota, yang tak pernah peduli pada remah perjuangan seorang anak magang.
Tepat setelah tiga puluh purnama kecil terlampaui, merasakan pedihnya pulang-pergi melibas jarak seratus kilometer, fisikku akhirnya menyerah. Aku memutuskan untuk mencari kostan. Badan ini sudah tidak lagi kuat menahan gempuran lelah, apalagi saat itu musim hujan rasanya terjadi terus-menerus tanpa henti. Aku selalu mendapati diriku pulang malam dalam kondisi lepek, terbungkus mantel yang basah kuyup di atas motor.
Di tengah himpitan biaya hidup, jalan keluar perlahan terbuka. Alhamdulillah, aku sangat terbantu dengan adanya program pengabdian secara online yang diberikan oleh IDN. Dari sana, aku mendapatkan upah yang nilainya jauh lebih besar daripada tempat magangku. Uang hasil pengabdian itulah yang langsung aku putar untuk membayar biaya kost. Saat itu, harga sewa per bulannya berkisar di angka 700 ribu rupiah.
Jarak dari kantorku ke kostan baru ini sebenarnya sangat dekat, berkisar 1 km lebih dan tidak sampai 2 km.
“Alhamdulillah ya Allah, akhirnya aku bisa merebahkan badan dengan tenang setelah usai kerja,” ucapku lega saat pertama kali mengunci pintu kamar kost sederhana itu.
Namun, di balik dinding sepetak kamar kos dan padatnya jadwal baru ini, aku merasa ada bagian dari diriku yang hilang. Kenyataan pahit memaksaku menepikan hobi gym yang sudah mendarah daging. Bagi jiwa yang bertahun-tahun menganggap olahraga beban sebagai rumah kedua tempat membuang stres, absen dari ruang latihan terasa bagai siksaan tak kasat mata. Dinginnya piringan besi, sandaran bench press, dan peluh yang menguap di ruang gym yang biasanya menjadi aktivitas pengalih penat kini harus menyerah, digantikan sepenuhnya oleh aspal jalanan dan baris kode yang kaku.
Jadwalku benar-benar terkunci mati. Pagi hingga sore habis diperas di tempat magang, lalu sisa energi malam langsung tersedot untuk tugas pengabdian online demi membayar uang kost. Belum lagi kepalaku kembali dihantam oleh realitas lain: bagaimana caranya aku bisa mendapatkan 100 juta pertama yang menjadi challenge dari Pak Dedi kalau kondisiku terus-terusan terbatas seperti ini?
Lamunanku di suatu sore setelah pulang kerja tiba-tiba pecah. Layar ponselku menyala, menampilkan sebuah panggilan masuk dari Kak Lofy. Aku menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.
“Ilham, mau ngajar IT enggak di tempat Kak Lofy?” ujar Kak Lofy langsung dari seberang telepon.
Jujur saja, mendengar tawaran itu, aku langsung merinding. Begitu cepat doa-doaku dikabulkan oleh Allah saat itu. Baru seminggu yang lalu aku bersujud dan berdoa, meminta petunjuk bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan pekerjaan tambahan demi mengejar target angka tersebut. Tanpa berpikir panjang, tawaran itu langsung kuambil. Namun, ini sekaligus menjadi pekerjaan rumah (PR) baru yang sangat berat untuk fisikku. Jarak ekstrem kembali harus kuempuh, aku harus membelah jalanan dari titik kostanku di Jakarta Utara menuju ke Bogor demi mengajar.
Dengan bertambahnya jadwal mengajar lintas kota ini, pupus sudah harapanku untuk kembali menyentuh besi-besi gym. Tubuhku yang biasanya kekar dilatih beban, kini dipaksa layu oleh kelelahan aspal Jakarta-Bogor. Aku harus merelakan hobi terbesarku mati suri demi sebuah prioritas yang jauh lebih besar: bertahan hidup dan menyelesaikan tanggung jawab.
Meskipun hari-hariku di kantor magang ini terasa sangat padat dan melelahkan, ada warna lain yang membuatku tetap bertahan. Di kantor ini, aku ditemani oleh teman-teman baik yang selalu berhasil menghiasi ruang makan siangku dengan tawa. Dua di antaranya adalah Wilang dan Yuta. Aku dan Wilang berada di divisi yang sama, bertarung bersama sebagai Backend Developer, sementara Yuta berada di divisi QA (Quality Assurance) saat itu. Tidak jarang, mereka berdua sengaja datang dan menginap di kostan ku untuk sekadar bermain game atau menemaniku di kala aku mulai melamun memikirkan masalah besarku. Di depan mereka, aku tetap memilih menyimpan rapat-rapat rahasia badai finansial tersebut sendirian.
Selain Wilang dan Yuta, ada satu lagi sahabat akrabku di sana yang menjadi pengingat kebaikan di tengah gersangnya masalahku. Namanya Ucup, seorang anak dari divisi UI/UX Design.
“Eh Ham, kita kajian yuk hari Rabu,” ujar Ucup suatu hari sambil melipat sejadahnya setelah kami selesai salat berjamaah.
Kami pun selalu menghabiskan waktu bersama untuk mengikuti kajian di kawasan Blok M setiap hari Rabu setelah jam kantor usai. Tidak jarang, di waktu weekend pun kami sering janjian untuk pergi bersama berburu majelis ilmu. Ucup sendiri memiliki seorang senior perempuan di divisinya yang saat itu posisinya juga begitu akrab dengannya dan denganku, yaitu Mba Nifda. Setelah jam pulang kerja, aku, Mba Nifda, Wilang, dan Yuta sering kali menyempatkan diri untuk sekadar nongkrong bersama, melepas penat setelah seharian menatap monitor.
Dari lingkungan kantor magang yang baru inilah, aku mendapatkan banyak sekali pembelajaran berharga terkait flow (alur) kerja dunia tech yang baik dan benar. Jika di kantorku yang lama sistemnya masih serabutan karena kami dipaksa memegang semuanya sebagai Fullstack Developer, di kantor baru ini ekosistemnya jauh lebih matang. Semua divisi memiliki porsi tugasnya masing-masing secara spesifik dan profesional.
Di sini, aku belajar bagaimana cara berkolaborasi secara tim, menyelaraskan baris kode backend dengan divisi lain, serta bagaimana cara menyampaikan pendapat secara profesional di dalam forum. Tekanan industri yang nyata memang sangat terasa di tempat ini. Kejar-kejaran tenggat waktu dan kompleksitas sistem sering kali menguras energi. Namun, berkat mental baja yang sudah ditempa dan dilatih habis-habisan lewat didikan keras Pak Dedi selama ini, tekanan industri sebesar apa pun di kantor ini tidak lagi menjadi masalah besar untukku. Aku siap menghadapinya.
CHAPTER 10: Nakhoda Tanpa Peta di Atas Perahu Retak
“Pengalaman bekerja di sebuah perusahaan digital marketing. Naik jabatan menjadi Lead Developer menggantikan senior yang resign tanpa meninggalkan dokumentasi setelah 4 tahun.”
Ketika masa magang usai, pelabuhan berikutnya bukanlah sebuah menara teknologi yang mapan, melainkan sebuah ruang kerja konvensional di mana batasan antardivisi dilebur paksa. Di tempat ini, aku tidak hanya harus bertarung dengan warisan baris kode purba yang rentan runtuh, tetapi juga menyaksikan keangkuhan semu yang lebur hanya dalam waktu tiga puluh menit.
Setelah menyelesaikan masa-masa melelahkan antara magang seratus kilometer dan mengajar di Bogor, aku masih terikat kontrak pengabdian dengan IDN. Alhamdulillah, IDN masih menjadi keran rezeki yang terus mengalir untukku saat itu. Setelah masa magang usai, aku sempat menganggur selama satu bulan. Namun, masa tenang itu tidak bertahan lama sebelum aku kembali mendapatkan kesempatan untuk terjun sebagai Fullstack Developer.
Kali ini, aku mendarat di sebuah perusahaan digital marketing yang berfokus pada sektor pendidikan. Skema tim di kantor baru ini membawaku kembali ke memori lama: sebuah ekosistem kantor umum yang basis utamanya bukan perusahaan teknologi (non-tech). Di sini, tim tidak dibagi-bagi ke dalam divisi spesifik seperti tempat magangku sebelumnya. Hanya ada satu divisi tunggal yang memikul semua beban digital, yaitu Tim IT.
Tugas kami di sini luar biasa serabutan. Mulai dari menyelesaikan error pada komputer-komputer karyawan yang rusak, membetulkan mesin printer yang macet, hingga merancang website serta sistem Learning Management System (LMS) bagi kampus-kampus yang bekerja sama dengan perusahaan kami. Sebuah perahu yang tampak retak sejak awal, namun harus tetap berlayar.
Hari pertama masuk kerja langsung mempertemukanku dengan nakhoda utama di tim ini.
“Halo Bang, perkenalkan kembali namaku Muhamad Ilham Mubarrok,” ujarku membuka percakapan.
Sebenarnya, aku sudah memperkenalkan diri saat sesi interview meeting sebelumnya. Wajah Bang Ibda senior di tim ini tidak asing bagiku karena sebelumnya kami sudah bertatap muka lewat layar Zoom. Tepat di sampingku, programmer baru lainnya yang masuk bersamaku ikut bersuara, “Halo, saya Kobar.”
Di dalam perjalananku sebagai developer sejauh ini, aku baru pernah dibimbing oleh satu orang senior, yaitu Bang Kreshna di perusahaan Jakarta Utara sebelumnya. Bang Kreshna punya perawakan yang kaku dan agak sulit berinteraksi, namun dia adalah senior yang sangat baik dan tidak pernah membebankan pekerjaannya kepada junior, aku diajari framework yang bahkan belum pernah kudengar sebelumnya dengan cara bicaranya yang agak gagap saat itu. Namun, Bang Ibda adalah tipe yang sangat berbeda. Beliau adalah sosok senior yang lucu, baik, ramah, dan sama sekali tidak memperlihatkan adanya sekat atau gap antara senior dan junior.
Baru saja sesi perkenalan itu selesai, Kobar langsung menoleh ke arahku. Dengan nada bicara yang terkesan menguji, dia melemparkan pertanyaan, “Projek lu udah apa aja, Bang?”
Aku sempat tertegun. Aku yang awalnya hanya menanyakan nama, justru dibalas dengan pertanyaan interogatif seperti itu.
“Wah, sepertinya orang ini sangat berpengalaman,” gumamku dalam hati, sedikit merasa terintimidasi oleh pembawaannya.
“Enggak kok, Bang, saya masih sedikit projeknya,” jawabku merendah sambil mengelus kepala bagian belakang dan menyengir.
Seminggu pertama bekerja, tantangan riil langsung diberikan. Kami disuruh membaca dan mempelajari seluruh kodingan yang pernah dibuat oleh Bang Ibda. Di sinilah syok budaya itu terjadi. Di kantor ini tidak ada repositori Git, tidak ada GitHub, bahkan tidak menggunakan VS Code lokal. Kami disuruh membaca baris-baris kodingan langsung dari folder yang ada di dalam hostingan live tersebut.
“Waw, challenge sekali,” resahku dalam hati.
Secara teknis, metode ini sangatlah berbahaya dan berisiko tinggi. Jika jemari kami tidak sengaja mengubah atau menghapus satu karakter saja saat membaca, hal itu akan langsung berdampak fatal pada sistem yang sedang berjalan di tahap produksi (production).
Selama hari-hari awal, kami hanya diberikan tugas-tugas remeh seperti membetulkan tampilan website agar lebih responsif dan memberikan sentuhan visual baru. Namun, di sinilah keanehan mulai terendus. Kobar, rekan satu divisiku yang di awal terdengar sangat meyakinkan, ternyata kebingungan dan tidak mengerti bagaimana cara melakukan embed CSS.
“Hah? Katanya berpengalaman ngerjain banyak projek,” gumamku heran dalam hati.
Saat itu, aku memilih untuk menahan diri dan belum berani menunjukkan taringku. Aku masih melakukan screening internal untuk mengukur sejauh mana kemampuan nyata dari rekan satu divisiku ini. Namun, selama hari-hari itu, orang ini selalu memamerkan apa saja yang diklaim sudah pernah ia kerjakan, bahkan mulai membicarakan kekayaan pribadinya. Yap, instingku berkata orang ini mengidap NPD (Narcissistic Personality Disorder).
“Baik, sekarang Abang kasih tugas CRUD (Create, Read, Update, Delete) ya. Kalian bagi dua aja tugasnya,” instruksi Bang Ibda kepada kami di suatu hari.
Mendengar instruksi itu, aku yang memiliki dasar kuat di bahasa pemrograman JavaScript justru merasa tertantang untuk menguji kemampuanku pada bahasa PHP Native yang sedang kami pelajari. Tanpa ragu, aku langsung mengambil bagian Create dan Update. Mengapa? Karena bagian itulah yang paling susah dan kompleks. Aku sengaja memilihnya karena aku ingin menemukan error, berbenturan dengan masalah, dan belajar lebih banyak dari sana.
Hanya butuh waktu setengah hari bagiku untuk menaklukkan tantangan itu. Tepat pada hari Kamis, pekerjaanku selesai total dan langsung mendapatkan apresiasi dari Bang Ibda. “Cepat juga lu,” puji beliau singkat.
Hari Senin pun kembali tiba. Ditemani terik matahari dan kepungan macet kawasan Ciputat yang sangat khas, aku kembali memacu motor dari rumah menuju kantor. Pagi itu, atmosfer ruangan mendadak tegang.
“Kok belum selesai sih! Udah seminggu nih, lu kemana aja pas libur? Gua kasih waktu sampai siang ya, kalau belum selesai juga, kerjaan ini gua kasih ke Ilham!” ujar Bang Ibda dengan nada suara yang sedikit mengegas dan marah.
“Iya, Bang,” jawab Kobar dengan raut muka yang seketika berubah panik.
Aku yang duduk santai di kursiku karena seluruh sisa pekerjaanku sudah beres, hanya bisa tersenyum lebar di dalam hati. HAHAHAHAHA.
Jam istirahat siang pun tiba. Kobar sama sekali belum beranjak dari tempat duduknya, matanya masih menatap gundah ke arah layar laptop. Dengan sisa-sisa egonya, dia akhirnya menoleh ke arahku dengan muka yang campur aduk antara bingung dan malu.
“Ini gimana ya, Ham?” tanya Kobar lirih.
“LAH, KATANYA JAGO LU! NGERJAIN BANYAK PROJEK!” jawabku spontan sambil tertawa lepas.
Sengaja saat itu aku tidak mau langsung memberitahukan solusinya. Aku ingin momen ini menjadi pelajaran berharga bagi Kobar agar tidak tumbuh menjadi pribadi yang sombong, besar kepala, dan terlalu banyak bicara tanpa bukti.
“Gimana, Bar? Udah selesai?” tanya Bang Ibda kembali masuk ke ruangan setelah jam istirahat siang usai.
Kobar hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala pelan.
“Yaudah, gua kasih ke Ilham deh,” ujar Bang Ibda mengambil keputusan.
Aku menarik laptopku. Hanya butuh waktu 30 menit bagiku untuk membereskan seluruh pekerjaan yang gagal diselesaikan Kobar selama seminggu penuh. Setelah baris kode itu berjalan sempurna, aku tersenyum bangga. Egoku menang telak kali ini, membalas dengan elegan kesombongan Kobar yang di awal sempat menjadikanku bahan remehan, hahahah.
Namun, badai yang sesungguhnya di perusahaan digital marketing ini baru benar-benar datang di bulan keempat. Tepat ketika aku merasa alur kerja sudah mulai stabil, Bang Ibda tiba-tiba memutuskan untuk keluar dari perusahaan karena suatu alasan yang sebenarnya aku ketahui. Sialnya, keputusan mundurnya beliau teramat sangat dadakan. Dua hari sebelum keluar (H-2), beliau baru memberikan informasi itu kepadaku.
Sejak kabar mengejutkan itu turun, kami bahkan sudah tidak pernah bertemu lagi di kantor. Tidak ada momen tatap muka secara formal untuk membahas keperluan serah terima dokumen, transfer ilmu, ataupun penyusunan dokumentasi teknis sistem. Beliau benar-benar pergi begitu saja, meninggalkan sebuah bom waktu berupa sistem raksasa yang telah ia bangun selama empat tahun lamanya tanpa petunjuk.
Beban raksasa yang tak terbayangkan itu mendadak diletakkan seutuhnya di atas pundakku. Aku yang awalnya masuk sebagai Junior Developer, mendadak ditunjuk menjadi Lead Developer untuk menakhodai tim yang pincang ini.
Walaupun selama masih bekerja bersama beliau aku sempat melakukan maintenance dan membaca struktur kodingannya secara langsung, petunjuk strukturalnya benar-benar nihil. Dokumen ERD (Entity-Relationship Diagram) sama sekali tidak ada. Di dalam ruang gelap kepemimpinan baru ini, aku dipaksa memeras otak sendirian; membaca relasi antar-tabel secara manual, lalu merangkai dan menyusun kembali ERD-nya helai demi helai murni dari struktur database mentah yang tertinggal di server.
Di fase inilah, jam tidurku terkikis habis. Karena statusku yang pulang-pergi (PP) rumah-kantor setiap hari, kelelahan fisik akibat macetnya jalanan Ciputat berlipat ganda dengan beban mental pekerjaan. Aku harus membawa pulang beban itu ke rumah, merapikan benang kusut baris-baris kode purba hingga larut malam tanpa ada sepeser pun upah tambahan. Aku menjelma menjadi seorang nakhoda tanpa peta, mengemudikan perahu retak di atas samudra industri yang sedang mengamuk.
Hingga akhirnya, waktu membawaku pada titik keputusan untuk menyudahi babak perjalanan di perusahaan ini. Namun, sebelum surat pengunduran diriku resmi diserahkan, tepat pada H-14 sebelum keluar, aku mendapatkan sebuah challenge terakhir dari pihak HRD. Mereka menantangku untuk membangun sebuah fitur baru yang krusial sebuah sistem otomatisasi yang memudahkan HRD dalam melakukan perhitungan gaji seluruh karyawan perusahaan.
Tantangan dua minggu itu kuasah dengan sisa-sisa energi terbaik yang kupunya. Hasilnya? Aku berhasil menyelesaikan fitur perhitungan gaji tersebut dengan presisi dan tepat waktu sebelum hari terakhirku tiba.
Menariknya, aku tidak ingin meninggalkan tempat ini dengan cara yang sama seperti yang kualami dulu. Aku pernah merasakan betapa hancur dan bingungnya bekerja tanpa arah ketika ditinggalkan senior tanpa dokumen apa pun. Oleh karena itu, didorong oleh rasa tanggung jawab, aku mengambil inisiatif mandiri untuk membuatkan dokumentasi teknis yang lengkap dan rapi untuk seluruh sistem yang kupegang.
Aku menyusun alur kode, struktur database, hingga logika ERD yang dulu kurangkai dengan susah pbapak. Semua itu kulakukan demi satu tujuan mulia: memudahkan tim IT yang kutinggalkan agar mereka bisa melakukan maintenance dan mengembangkan next feature dengan mudah tanpa harus meraba-raba di dalam kegelapan seperti yang kulalui dulu. Aku datang sebagai junior yang diremehkan, bertransformasi menjadi pemimpin di tengah badai, dan pergi sebagai ksatria yang meninggalkan warisan terbaiknya.
CHAPTER 11: Menjemput Garis Takdir di Tanah Pengabdian
“Ada titik di mana kesabaran bukan lagi bentuk ketangguhan, melainkan tanda bahwa kita sedang membiarkan diri dieksploitasi. Ketika jemari yang biasa menari di atas papan ketik dipaksa memanggul beban di bawah terik matahari, sebuah keputusan besar harus diambil: mundur demi menyelamatkan mimpi yang sedang dibangun setengah mati, hingga takdir menuntun langkah kaki pulang ke garis darah keluarga.”
Keputusanku untuk menyudahi perjalanan di perusahaan digital marketing Ciputat itu akhirnya bulat. Alasan utamanya sudah tidak bisa dinegosiasikan lagi: jam kerja yang benar-benar tidak beraturan. Eksploitasi itu terasa kian keterlaluan ketika waktu libur akhir pekan yang seharusnya menjadi hakku untuk beristirahat, justru tetap dirampas untuk mengerjakan rentetan tugas dari perusahaan.
Kondisi tersebut kian diperparah ketika perusahaan tiba-tiba memutuskan untuk memindahkan lokasi kantornya ke daerah Depok. Keputusan pemindahan ini praktis menambah daftar panjang kilometer yang harus kutempuh setiap harinya dari rumah. Jarak yang semakin membentang jauh, kemacetan baru yang harus diarungi, serta kelelahan fisik yang berlipat ganda akhirnya memantapkan langkahku bahwa tempat ini sudah tidak lagi sehat untuk dipertahankan. Namun, di antara akumulasi alasan tersebut, ada satu pengalaman paling getir yang menjadi puncak dari segala ketidakadilan dan tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidupku.
Suatu hari, aku mendapatkan perintah tugas untuk berangkat ke Cirebon. Informasi awal yang kuterima sangat jelas dan sesuai dengan ranahku sebagai anak IT memasang perangkat router jaringan.
Namun, begitu kakiku menginjakkan kaki di lokasi, realitas di lapangan menghantamku tanpa ampun. Alih-alih memegang kabel LAN atau mengonfigurasi jaringan, aku justru diberikan tugas manual yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia teknologi. Aku dipaksa menjadi kuli bangunan untuk merenovasi gedung kampus baru yang baru saja dibeli oleh perusahaan kami!
Selama satu minggu penuh di Cirebon, tanganku yang biasa menulis baris kode beralih memegang sekop, memanggul bahan bangunan, dan bekerja kasar di bawah terik matahari. Itu adalah momen paling absurd. Di sana aku merenung di antara tumpukan bahan bangunan “untuk inikah aku belajar pemrograman setengah mati? “
Sepulang dari Cirebon, kalkulasi logis di kepalaku mulai berjalan. Aku sadar, aku tidak bisa terus-terusan bertahan di tempat ini. Jika fokus hidupku saat itu hanya untuk perusahaan ini saja, mungkin memikul beban seberat apa pun tidak akan menjadi masalah besar bagiku. Namun kenyatannya, fokusku sedang terbagi ke beberapa tanggung jawab besar yang jauh lebih krusial untuk masa depanku.
Saat itu, aku sedang berada di garda terdepan dalam menyusun tugas akhir atau skripsi demi mengejar kelulusanku di Poltek IDN. Di saat yang sama, aku juga masih terikat kontrak dan aktif bekerja secara remote untuk IDN. Dan yang paling penting, aku sedang meletakkan batu pertama untuk membangun mimpi besarku sendiri: mendirikan sebuah software house bernama Nekadev.
Kondisinya sudah sangat tidak sehat. Sejak Bang Ibda memutuskan resign, 60% waktu dan energiku habis terkuras hanya untuk mengurusi pekerjaan serabutan dari perusahaan Ciputat ini. Ironisnya, semua kerja keras, lembur di hari libur, hingga peluh keringat menjadi kuli di Cirebon itu harus kutelan mentah-mentah tanpa adanya kenaikan gaji.
“Cukup,” bisikku pada diri sendiri. Aku harus menyelamatkan waras dan impianku.
Surat pengunduran diri akhirnya kulayangkan setelah menyelesaikan challenge terakhir dari HRD. Keluar dari perusahaan itu rasanya seperti melepaskan batu rantai raksasa yang selama ini mengikat leherku. Aku kembali mendapatkan hak atas waktuku sendiri.
Namun, harapan terkadang berjalan lebih cepat daripada kenyataan. Setelah satu bulan resmi resign dari perusahaan Ciputat, Nekadev yang digadang-gadang menjadi rumah baru ternyata belum memberikan kemajuan apa pun. Nampaknya, kami para anggota tim sedang sibuk dan fokus dengan urusan masing-masing. Di dalam keheningan kamar, aku mulai merenung dan membatin; sepertinya aku terlalu berlebihan menaruh harapan pada Nekadev saat ini.
Roda hidup tidak boleh berhenti hanya karena satu pintu belum terbuka lebar. Jauh sebelum aku memutuskan mundur dari pelabuhan lama di Ciputat, aku sebenarnya sudah bergerak mencari pengaman dengan melamar di beberapa instansi. Salah satu lamaran yang kukirimkan adalah untuk posisi pengajar IT di sebuah pondok modern. Kebetulan, ada salah satu teman satu angkatanku di Poltek IDN yang sudah lebih dulu mengabdi dan menjadi guru di sana. Namanya Azhura.
“Halo, Assalamualaikum. Gimana zur, kabarnya?” ujarku membuka obrolan lewat sambungan telepon.
“Alhamdulillah sehat, Bro. Gimana, jadi masuk sini enggak?” jawab Azhura di seberang sana sekaligus melemparkan pertanyaan.
“Iya nih, kemarin sempat ditelepon dari pihak sana untuk negosiasi gaji. Kayaknya gua tertarik, Jar,” jawabku mantap.
Azhura adalah sahabat yang mengenakan almamater dan mengambil jurusan yang sama persis denganku di kampus. Melalui konfirmasinya, keraguanku perlahan menipis. Tidak lama setelah obrolan telepon hari itu, aku segera memacu motorku menuju pondok tersebut untuk menandatangani kontrak kerja resmi.
Jujur saja, menjadi seorang guru tidak pernah terlintas sedikit pun di dalam rencana masa depanku. Profesi ini mendadak menambah daftar panjang baru di dalam silsilah keluargaku, mengingat bapak dan Ibuku sejatinya adalah seorang guru. Darah pendidik yang mengalir di tubuh mereka, entah bagaimana caranya, kini menular tepat di nadiku.
Hari pertama mengajar menjadi momen yang tidak akan pernah kulupakan. Begitu aku melangkahkan kaki melewati pintu kelas, puluhan pasang mata santri langsung menatapku dengan takzim.
“Assalamualaikum, Ustadz,” sapa salah seorang santri dengan takzim sembari menundukkan kepala.
Mendengar kata itu keluar dari mulut mereka, jantungku sempat berdesir agak aneh. Jujur, dipanggil dengan sebutan “Ustadz” rasanya seperti memikul tanggung jawab yang teramat besar di pundakku. Ada rasa canggung yang luar biasa bergejolak di dalam dada. Namun, di pondok modern ini, semua guru memang dipanggil dengan sebutan ustadz, yang secara harfiah sebenarnya memiliki arti yang sama, yakni seorang guru.
Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa, sudah hampir satu tahun lamanya aku mendedikasikan diri menjadi guru di sekolah ini. Jika boleh jujur dari lubuk hati yang paling dalam, bekerja di tempat ini rasanya sangat enak dan menenangkan. Fasilitas yang diberikan pihak pondok benar-benar memanjakan fisik dan mentalku yang sempat remuk di industri luar. Aku mendapatkan jatah makan tiga kali sehari, fasilitas laundry gratis, hingga tempat tinggal yang sangat nyaman.
Berbeda terbalik dengan masa lalu di mana 60% waktuku habis diperas tanpa sisa, di sini aku justru menemukan banyak sekali waktu kosong. Waktu-waktu luang itulah yang akhirnya bisa kumanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan tugas-tugas akhirku, serta mengulik-ulik teknologi baru tanpa perlu dikejar deadline yang mencekik leher.
Menjadi guru benar-benar menjadi kanvas baru yang mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pengalaman baru yang tidak pernah kudapatkan di depan baris kode komputer. Hebatnya lagi, tidak hanya dipercaya memegang mata pelajaran IT, di tahun pertamaku bekerja, aku langsung ditunjuk untuk mengemban amanah sebagai seorang wali kelas!
Wah, Masya Allah sekali. Menatap ke belakang pada aspal jalanan yang basah, tugas kasar di Cirebon, dan kesombongan industri, aku hanya bisa mengucap syukur sedalam-dalamnya. Aku tidak pernah bekerja sesantai dan seenak ini sebelumnya. Tempat ini telah menjadi jeda terbaik yang dikirimkan Allah untuk menyembuhkan jiwaku yang sempat lelah.
CHAPTER 12: Toga, Air Mata, dan Akhir Sebuah Awal
“Pagi itu, ketika fajar belum sepenuhnya mengusir pekat malam, ada helai kain toga yang siap disampirkan di pundak. Di atas panggung megah yang merangkum empat tahun air mata, peluh, dan tawa, sebuah nama dipanggil lantang menandai runtuhnya segala keraguan dan lahirnya seorang pemenang yang berhasil berdiri tegak di akhir cerita.”
Pagi itu, kala burung-burung baru saja memulai kicauannya dan matahari bahkan belum sudi menampakkan sinarnya, aku sudah terbangun. Ada rasa haru yang mendesak di dalam dada. Hari yang selama ini terasa jauh dan penuh dengan plot twist ekstrem di sepanjang jalannya, akhirnya tiba. Hari ini, aku akan diwisuda.
Cetaasss! Cetaasss!
Tanpa belas kasihan, aku mengayunkan sajadah dan menyabet bokong Azhura yang masih terbungkus selimut.
“Sakittttttttt!!” protesnya spontan dengan muka yang masih sangat mengantuk dan mulut yang agak monyong.
Aku masih ingat betul bagaimana rupa paras Azhura pagi itu. Kami memang sudah seakrab itu semenjak dipertemukan kembali sebagai sesama pengajar di pondok modern. Awalnya, rencanaku adalah berangkat langsung dari rumah bersama kedua orang tuaku. Namun, karena adanya kewajiban untuk mengikuti gladi resik, aku akhirnya memutuskan untuk menginap di hotel tempat Azhura bermalam dan memilih berangkat bersama dirinya pagi itu.
Azhura sendiri saat itu tidak didampingi oleh orang tuanya, mengingat dia adalah seorang perantau jauh yang datang dari Medan. Namun, dia tidak sendiri. Teman terdekat Azhura yang juga berasal dari Medan dan sama-sama merantau di ibu kota sengaja datang ke lokasi wisuda untuk mendampinginya. Tidak ketinggalan, salah satu teman baik kami dari pondok modern, Away, juga ikut hadir di sana demi memberikan dukungan penuh untuk Azhura.
Pagi yang masih sangat buta itu, motor gantengku mulai membelah udara dingin ibu kota. Kawasan Cibubur yang biasanya terkenal dengan kemacetannya yang horor dan menguras emosi, pagi itu mendadak bersahabat. Jalanan lengang tanpa ada macet sedikit pun, seolah-olah aspal Jakarta ikut merestui langkah kaki kami menuju hari kemenangan.
Sesampainya di venue wisuda, atmosfer kebahagiaan langsung menyergap indra penciumanku. Kami disambut oleh teman-teman seperjuangan lain yang ternyata sudah tiba lebih dulu di lokasi.
“Eh Ham, kau berdua aja? Mana orang tuamu?” sahut Abad tiba-tiba, berjalan menghampiriku dari kerumunan.
“Udah di sini katanya,” jawabku singkat sembari mengedarkan pandangan mencari keberadaan keluargaku.
Tak lama setelah itu, langkah kaki beruntun terdengar mendekat. Teman-teman yang lain langsung menghampiriku. Feri dan Difky datang mendekat, kami saling menjabat tangan dengan erat, berpelukan, dan bertukar kabar untuk saling meluruhkan rasa rindu yang teramat sangat. Sudah hampir beberapa bulan lamanya kami tidak saling bertatap muka semenjak hari sidang skripsi yang menegangkan itu usai.
“Abangggg!”
Sebuah panggilan hangat yang sangat kukenal memecah keriuhan di sekitarku. Itu suara ibu. Jarak di antara kami hanya berkisar 100 meter. Tanpa menunggu lama, aku langsung melangkah lebar menghampiri mereka dan bersalaman takzim. Sedari aku kecil, sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, setiap kali hari kelulusan atau pembagian rapor tiba, orang tuaku hampir selalu tidak bisa hadir mendampingiku. Mereka adalah guru, dan di hari-hari seperti itu, mereka harus mengutamakan kewajiban untuk mengurus kelulusan anak-anak didik mereka di sekolah lain. Ada ruang sepi yang tersimpan lama di sudut hatiku sejak masa kanak-kanak. Namun pagi ini, di tempat ini, kehadiran mereka sudah sangat melegakan dadaku.
Setelah menyeka sudut mata dan menyerahkan tiket masuk venue kepada bapak dan ibu, telingaku langsung menangkap suara panggilan dari pengeras suara yang mencoba menertibkan barisan.
“Ayo guys kumpul! Kita udah mau mulai nih!” seru salah seorang petugas dari Poltek IDN yang ditunjuk untuk mengondisikan para calon wisudawan.
Tepat sebelum aku membalikkan badan untuk memenuhi panggilan barisan tersebut, adikku menarik ujung bajuku.
“Bang, Bang, minjem motor dulu dong,” panggil adikku.
Aku langsung merogoh saku dan memberikan kunci motorku kepadanya. Peraturan dari pihak venue memang cukup ketat; hanya dua orang pendamping saja yang diperbolehkan masuk ke dalam ruangan acara utama, yang mana porsi itu sudah mutlak menjadi milik bapak dan ibuku. Adikku memilih untuk menunggu di salah satu coffee shop terdekat dari lokasi, menunggu dengan sabar hingga seluruh prosesi acara selesai agar nanti kami bisa berkumpul kembali untuk sesi foto bersama.
Pintu aula besar diketuk, menandakan prosesi sakral dimulai. Acara dijalankan secara khidmat, dipenuhi oleh untaian doa, rasa haru, dan binar kebahagiaan yang tergambar jelas di wajah-wajah para mahasiswa yang duduk rapi di dalam ruangan. Di atas kursi-kursi itu, kami semua menunggu dengan dada yang berdegup kencang, menanti detik demi detik hingga nama kami masing-masing dipanggil ke atas panggung untuk melakukan prosesi pemindahan tali toga.
Hingga akhirnya, suara lantang dari pengeras suara bergema memenuhi seluruh sudut ruangan.
“Muhamad Ilham Mubarrok!!!”
Suara MC itu melanjutkan kalimatnya dengan menyebutkan seluruh deretan prestasi, kompetensi, dan kerja keras yang telah kutorehkan selama empat tahun masa pembelajaran di Poltek IDN. Mulai dari hafalan Al-Qur’an yang berhasil kujaga, total pendapatan finansial yang sukses kuraih, portofolio proyek-proyek aplikasi yang telah kubangun, hingga rentetan sertifikasi keahlian industri yang berhasil kukantongi. Semua pencapaian itu dibacakan tanpa ada yang terlewat.
Deru langkah kakiku terdengar berketuk di atas lantai. Tangga demi tangga panggung megah itu mulai kusisuri dengan perlahan. Pada detik itulah, seluruh perasaan di dalam dadaku campur aduk menjadi satu, meledak tanpa bisa ditahan lagi.
Memori masa lalu seketika berputar hebat layaknya sebuah film di dalam kepala: ingatan tentang anak pondok yang naif, hantaman masalah besar tanpa financial literacy, tangis dalam diam di sudut ruangan kantor Jakarta Barat karena gaji yang tertahan, tamparan angin malam saat melibas jarak 100 kilometer di bawah badai hujan, peluh keringat saat dipaksa menjadi kuli di Cirebon, hingga ketenangan yang kutemukan di bawah jubah ustadz… semuanya berputar di pelupuk mataku.
Begitu prosesi perpindahan tali pada toga selesai dilakukan, aku melangkah turun dari panggung utama menemui kedua orang tuaku. Di hadapan bapak dan ibu, seluruh pertahananku runtuh total tanpa sisa.
Aku langsung merengkuh tubuh mereka berdua, memeluk Ibu dan Bapakku dengan sangat erat. Detik itu rasanya begitu asing sekaligus mengharukan, karena sejujurnya, aku sudah tidak pernah lagi atau bahkan lupa kapan terakhir kali aku memeluk mereka sehangat ini. Di dalam dekapan itu, tangisku pecah sejadi-jadinya. Air mata haru, lelah, dan bersalah tumpah membasahi baju mereka.
“Pak, Bu… maafin Ilham belum bisa jadi yang terbaik… Maaf atas semuanya…” bisikku lirih di sela-sela tangis yang tertahan di dada.
Semua sesak, prahara batin yang kurawat sendiri selama bertahun-tahun, dan rasa bersalah yang mengangkasa, mendadak lebur bersama luruhnya air mata. Pelukan erat dari kedua orang tuaku pagi itu menjadi jawaban, sebuah penerimaan tulus yang membayar lunas semua ruang sepi di masa lalu. Anak muda yang sempat rapuh, hancur, dan hampir menyerah di tengah badai itu, ternyata mampu berjalan sampai ke garis akhir dan bersujud di kaki kedua orang tuanya sebagai seorang pemenang.
Empat tahun yang penuh air mata dan darah itu resmi ditutup dengan sebuah kemenangan yang manis. Namun, dari atas panggung wisuda dan pelukan hangat orang tua ini, aku tahu bahwa ini bukanlah akhir cerita, melainkan sebuah akhir dari babak awal kehidupan.
Pandanganku kini lurus menatap jauh ke depan. Targetku berikutnya sudah terkunci mati aku akan meraih panggung internasional. Aku berkomitmen untuk membawa karierku melangkah lebih jauh, menembus batas negara. Entah dari negara mana takdir akan memulainya nanti, aku tidak peduli, karena aku sudah bersiap. Sebagai langkah nyata, hampir enam bulan terakhir ini aku sudah konsisten mendisiplinkan diri untuk belajar bahasa Jepang.
TAMAT
메타데이터
- post_id
- 7b0984a6bfd7
- slug
- membiru-7b0984a6bfd7
- url
- https://medium.com/@milhammubarrok/membiru-7b0984a6bfd7
- canonical_url
- https://medium.com/@milhammubarrok/membiru-7b0984a6bfd7
- author_url
- https://medium.com/@milhammubarrok
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 21:39:52