Tanya Mengapa
Perubahan angka jangan hanya dideskripsikan, tetapi juga dianalisis alasan terjadinya.
Tanya Mengapa
Perubahan angka jangan hanya dideskripsikan, tetapi juga dianalisis alasan terjadinya.

Saya dan Pak Andri Yusandra, Moderator Rapat
Kamis sore itu lalu lintas sangat padat. Dari berangkat setelah Magrib, saya baru tiba di Hotel Royal Padjajaran Bogor pada pukul 20.30. Saya bersin berkali-kali. Tampaknya, pilek yang menjamur seiring dengan tibanya musim hujan siap membekap saya. Saya tidak boleh sakit karena harus mengikuti diskusi seharian pada Jumat besok. Sebab itu, saya mencekoki diri dengan vitamin dan obat sebelum berangkat dan tidur sepanjang jalan.
Belum jadi anggota Medium? Baca versi gratis tulisan ini.
Pada pagi harinya, saya mencoba memulihkan kondisi dengan tidur lebih lama. Setelah salat Subuh, saya tidur lagi sampai sekitar pukul delapan. Upaya itu berhasil. Saya merasa lebih segar saat menuju ruang rapat di lantai enam hotel. Jumat itu, 8 Desember 2023, saya mengikuti Rapat Persiapan Penyusunan Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur (DJPI), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Ruang rapat masih lengang ketika saya tiba. Pak Andri Yusandra, Kepala Subdirektorat Kepatuhan Internal yang menjadi moderator rapat, menyambut saya. Tidak lama kemudian, Pak Agus Sulaeman, Direktur Pengembangan Sistem dan Strategi Penyelenggaraan Pembiayaan (PSSPP), menghampiri saya dan mengajak mengobrol. Ternyata, beliau alumni Teknik Lingkungan (TL) ITB 1989. Dahulu, gedung TL berhadapan dengan gedung Teknik Kimia, jurusan saya.
DJPI mengundang saya pada rapat itu sebagai narasumber untuk membantu menyempurnakan laporan kinerja mereka. Pekan sebelumnya, saya juga ikut dalam rapat penyusunan pedoman penyusunan laporan kinerja PUPR. Saat itu, DJPI mengirim perwakilan mereka. Pada rapat kali ini, mereka ingin membahas laporan mereka dengan lebih mendalam, termasuk dengan enam unit eselon II mereka: Setditjen, PSPP, PPISDA, PPIJJ, PPIP, dan PPP.
Banyak sekali singkatannya, ya? Sebagai rujukan, ini kepanjangan singkatan-singkatan tersebut:
- Setditjen = Sekretariat Direktorat Jenderal
- PSSPP = Pengembangan Sistem dan Strategi Penyelenggaraan Pembiayaan
- PPISDA = Pelaksanaan Pembiayaan Infrastruktur Sumber Daya Air
- PPIJJ = Pelaksanaan Pembiayaan Infrastruktur Jalan dan Jembatan
- PPIP = Pelaksanaan Pembiayaan Infrastruktur Permukiman
- PPP = Pelaksanaan Pembiayaan Perumahan

Peserta Rapat dan Pak Agus Sulaeman
Sama seperti rapat penyusunan pedoman pada pekan sebelumnya, rapat ini lebih mirip rapat konsultasi manajemen daripada rapat pembahasan bahasa laporan. Pengalaman sepuluh tahun sebagai konsultan manajemen sangat membantu saya. Saya tidak dapat membayangkan kalau narasumber yang diundang hanya pengajar bahasa Indonesia yang tidak punya pengalaman menjadi konsultan. Penyusunan laporan, dalam hal ini laporan kinerja, bukan hanya perkara bahasa. Ada format, mekanisme, dan substansi laporan yang juga harus diperhatikan.
Sebelumnya, saya sudah menganalisis laporan kinerja 2022 dari tiap unit eselon II. Saya memulai pembahasan dengan menyarankan penyeragaman struktur laporan sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) PUPR 9/2018. Peraturan itu menyebutkan lima bab yang perlu ada dalam laporan kinerja tahunan: Pendahuluan, Perencanaan Kinerja, Kapasitas Organisasi, Akuntabilitas Kinerja, dan Penutup. Subbab tiap bab pun sudah diatur di sana.
Tiap unit kerja menambahkan subbab sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Kebutuhan ini tidak dapat ditampik, tetapi dapat dimasukkan sebagai subsubbab (tingkat ketiga) di bawah subbab yang sudah ditetapkan Permen PUPR 9/2018. Setelah meninjau kebutuhan semua unit kerja, saya menyarankan untuk menambah tiga subbab di bawah Bab 4 Akuntabilitas Kinerja: Analisis Kinerja (4.4), Capaian dan Prestasi Lain (4.5), serta Evaluasi dan Peningkatan (4.6).
Hal berikutnya yang menjadi perhatian ialah analisis capaian. Realisasi capaian sudah dibandingkan dengan target tahun itu, realisasi tahun-tahun sebelumnya, target jangka menengah, dan standar nasional. Namun, pembandingan yang dilakukan baru deskriptif, misalnya naik atau turun sekian persen. Yang perlu ditambahkan adalah analisis penyebab hal itu. Pembuat laporan harus selalu bertanya, “Mengapa?”
Acara selesai menjelang pukul lima sore. Selama acara, pilek saya tahu diri dan bersembunyi. Begitu saya masuk kamar dan merebahkan diri di kasur, dia memberontak keluar. Untung sudah akhir pekan. Jadilah Sabtu dan Minggu saya diisi dengan tirah baring (bed rest).
Jaga kesehatan, ya. Sakit itu tidak enak.
Tingkatkan keterampilan bahasa Anda melalui kelas Narabahasa, baik yang diadakan secara langsung (sinkron) maupun melalui rekaman (asinkron). Kunjungi toko daring kami di Tokopedia untuk memperoleh buku-buku dan pernak-pernik kebahasaan yang menarik.
메타데이터
- post_id
- 7b684eb25cd2
- slug
- tanya-mengapa-7b684eb25cd2
- url
- https://medium.com/@ivanlanin/tanya-mengapa-7b684eb25cd2
- canonical_url
- https://medium.com/@ivanlanin/tanya-mengapa-7b684eb25cd2
- author_url
- https://medium.com/@ivanlanin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-24 19:02:38