← Back to list

Resensi Novel : Sang Alkemis

Sang Alkemis

Ziaulkautsar · 2024-03-23 01:58 · 0 claps · 3.9 min read
#resesi #review-buku
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Resensi Novel : Sang Alkemis

Sang Alkemis

Judul

Sang Alkemis

Penulis

Paulo Coelho

Penerbit

Gramedia Pustaka Utama

Cetakan

Ke-25, Juli 2019

Genre

Fiksi, Fantasi

Halaman

216

Harga

55.000

Terbitan awal

1988,Di Brazil

Sinopsis

Santiago merupakan seorang gembala dan dia adalah mantan calon pastur. Dia meninggalkan seminari karena keinginannya untuk mengelilingi dunia, dan untuk mengakomodasi keinginannya dia menjadi gembala. Sepanjang cerita Santiago dipanggil ‘Si Bocah’.

Suatu hari Santiago sedang dalam perjalanannya pergi ke suatu toko untuk menjual bulu dombanya dan bertemu dengan putri tukang kain yang ia sukai. Sewaktu Santiago dalam perjalanan dan beristirahat di reruntuhan gereja, ia mendapati bahwa ia memimpikan hal yang sama berulang-ulang: Ia sedang berada di Mesir dan mendapatkan harta yang berlimpah. Akhirnya ia pergi ke Tarifa dan menemui seorang wanita tua yang merupakan seorang gipsi. Dikatakan bahwa ia mampu menafsirkan mimpi. Sang gipsi memberikan syarat untuk memberinya 1/10 harta yang nanti ia dapat dan memberitahu bahwa hartanya ada di piramida di Mesir dan ia harus pergi ke sana. Santiago menerima hal ini dengan malas karena sang gipsi hanya memberi tahu apa yang sudah ia mimpikan, tanpa tafsiran.

Kemudian Santiago dipertemukan dengan seorang raja tua yang bernama Melkisedekh dan raja ini memberinya saran yang sama agar mengejar hartanya di Mesir. Hanya saja Melkisedekh meminta bayaran 1/10 dombanya sebab menurutnya, kita jangan menjanjikan sesuatu dengan apa yang belum kita miliki. Karena jika demikian kita tidak terpacu untuk mendapatkan sesuatu itu. Melkisedekh memberikan petuah yang lebih mumpuni daripada yang diberikan si gipsi di Tarifa dan akhirnya Santiago betul-betul terpacu untuk pergi ke Mesir. Melkisedekh memberikan batu Urim dan Thummim untuk menentukan pilihan Ya atau Tidak.

Sesampainya di Afrika, ia dirampok. Semua hartanya yang didapat dari menjual dombanya dirampok dan akhirnya membawa Santiago untuk bekerja mengumpulkan uang di sebuah toko kristal. Disana ia memajukan toko itu dan akhirnya mendapat cukup uang untuk pergi ke Mesir, menyeberangi gurun dengan rombongan karavan. Di rombongan itu ia bertemu dengan seorang Inggris yang telah bepergian kesana kemari untuk menjadi seorang alkemis, yang menurut gosip telah hidup selama 200 tahun di oasis di Mesir.

Melewati situasi perang suku yang terjadi di gurun, rombongan itu akhirnya sampai di oasis. Di luar dugaan Santiago justru bertemu cinta sejatinya disini, yang bernama fatima. Cinta yang berbicara padanya dalam Bahasa Buana. Ternyata jodohnya bukanlah putri tukang roti itu melainkan seorang gadis gurun yang tinggal di oasis. Di tempat ini Santiago akhirnya memutuskan untuk mengejar Legenda Pribadi-nya. Tetapi sebelum keberangkatannya ia membaca suatu pertanda yang memberitahunya bahwa serombongan pasukan akan datang menyerbu oasis. Ia memberitahukan kabar ini kepada kepala suku dan ternyata ramalannya benar. Ia diangkat menjadi penasihat oasis itu, persis seperti cerita Yusuf di Alkitab.

Kemudian karena tafsirannya, akhirnya ia dapat bertemu sang alkemis. Alkemis itu menetapkan hatinya untuk pergi melanjutkan perjalanan mengejar Legenda Pribadinya dan memberitahu masa depannya jika ia memutuskan tetap menjadi penasihat oasis. Santiago akhirnya pergi setelah ia ingat bahwa cinta tidak menghalanginya menuju Legenda Pribadinya, dan bahwa Fatima, nama gadis gurun itu, pun tidak menghalanginya untuk mengejar Legenda Pribadi-nya. Ia akhirnya bersama dengan sang alkemis pergi ke Mesir.

Sepanjang perjalanan, banyak hal baru yang dipelajari Santiago. Ia belajar mendengarkan hatinya yang berbicara dalam Bahasa Buana. Santiago dan sang alkemis sempat ditahan oleh sepasukan suku. Karena penahanan ini akhirnya Santiago mampu berbicara dengan gurun, angin, dan matahari. Sang alkemis senang karena ia telah menemukan murid yang sempuran.

Setelah dilepas dari penahanan, sang alkemis membawa Santiago untuk singgah ke sebuah rumah biarawan. Disini Santiago akhirnya melihat sang alkemis yang mampu merubah timah menjadi emas. Santiago minta agar diajarkan tapi sang alkemis hanya berkata, “Ini Legenda Pribadi-ku, bukan Legenda Pribadi-mu.” Sang alkemis membagi emas itu menjadi empat, satu untuknya, satu untuk Si Bocah, satu untuk si biarawan, dan satu untuk diberikan kepada si biarawan apabila Santiago kembali membutuhkannya. “Apa yang terjadi sekali mungkin hanya terjadi sekali, tapi apa yang terjadi dua kali pasti akan terjadi lagi.”

Santiago sampai di piramida di Mesir dan ia kembali membaca pertanda dengan melihat kumbang hitam, tanda kehadiran Tuhan di Mesir. Ia terus menggali sampai ditemukan oleh sekelompok pengungsi dari perang suku. Santiago tidak menjawab dan malah diperiksa oleh pengungsi-pengungsi tersebut yang menemukan emas di tasnya. Para pengungsi mengira bahwa Santiago menyembunyikan lebih banyak emas dan ia dipaksa terus menggali sambil dipukuli. Akhirnya Santiago berteriak bahwa ia mencari hartanya yang ada dalam mimpi (ia telah belajar bahwa ketika kau jujur malah orang akan tidak percaya dan menertawakan).

Seorang kepala rombongan akhirnya meninggalkannya dan menyuruhnya melupakan mimpi itu, ia berkata, “Kamu tidak akan mati. Kamu akan hidup, dan kamu akan belajar bahwa seorang lelaki tidak boleh bodoh. Dua tahun lalu, tepat di sini, aku juga mendapat mimpi yang berulang. Aku bermimpi bahwa aku harus berkelana ke ladang-ladang di Spanyol dan mencari sebuah gereja yang rusak tempat para gembala dan domba-domba tidur. Dalam mimpiku, ada pohon sikamor yang tumbuh di reruntuhan sakristi, dan aku diberitahu bahwa, jika aku menggali akar pohon sikamor itu, aku akan menemukan harta terpendam. Tapi aku tidak begitu bodoh sampai aku mau menyeberangi gurun yang luas hanya untuk mimpi yang datang berulang.”

Lalu Santiago ditertawakan, dan Santiago balik menertawakan. Karena dia tahu tempat itu adalah tempat dimana ia pertama kali memimpikan harta di Mesir.

Kekurangan dan kelebihan

Kelebihan novel ini adalah penulis menuliskan ceritanya dengan indah dan apik, juga maknanya yang mendalam dari setiap Bab Bab yang ada dinovel ini. Novel ini juga memiliki banyak manfaat manfaat juga banyak kata kata yang bisa kita ambil sebagai motivasi atau sekedar quotes penyemangat.

Kelemahan dari buku ini saya rasa adalah, bahasanya yang terlalu filosofis sehingga susah untuk dipahami para pembaca remaja, novel ini juga memiliki cover buku yang kurang menarik , sehingga citra buku ini menurun dan orang tidak tertarik membaca buku ini karena sampul buku kurang menarik.

Diluar banyaknya bahasa yang kurang bisa saya pahami (karena ini buku terjemahan dan saya masih kurang banyak dalam mendalami dan mengartikan bahasa2 yang saya tidak pahami), novel ini menjadi salah satu novel terindah dan terbagus yang pernah saya baca selama gabut saat berada di asrama, dari kelas 1 smp hingga kelas 11 sma sekarang ini. Overall novel ini sangat worth sekali untuk dibaca.

Peresensi: Muhammad Ziaul Kautsar


메타데이터
post_id
7b7906fd473a
slug
resensi-novel-sang-alkemis-7b7906fd473a
url
https://medium.com/@ziaulkautsrr/resensi-novel-sang-alkemis-7b7906fd473a
canonical_url
https://medium.com/@ziaulkautsrr/resensi-novel-sang-alkemis-7b7906fd473a
author_url
https://medium.com/@ziaulkautsrr
status
ok
fetched_at
2026-07-24 05:01:32