Pelayanan Pendamaian adalah Panggilan Kita untuk Merangkul Sesama
Panggilan akan pelayanan ini terlupa dalam masyarakat yang suka melayani egonya
Pelayanan Pendamaian adalah Panggilan Kita untuk Merangkul Sesama
Panggilan akan pelayanan ini terlupa dalam masyarakat yang suka melayani egonya
Sejak awal 2025, Donald Trump semakin keras mewujudkan Kebijakan Imigrasi dengan kencang. Dia bahkan mengancam memukul pengunjuk rasa antideportasi. Dia “melayani” ego politiknya demi slogan demagog *Make America Great Again*. Ketika nilai-nilai iman Kristiani diselepekan, istilah kasih terdengar menjijikan untuk sosok egois tersebut.
Photo by Darren Halstead on Unsplash
Kasih adalah kunci dari topik pelayanan pendamaian yang ditekankan Paulus dalam 2 Kor. 5:18–19. Istilah pelayanan pendamaian menuntun saya pada tiga hal ini.
#1 Pemahaman Fundamental Iman Kita: Kasih Kristus Menguasai Kami (2 Kor. 5:14)
Kasih Allah bagi manusia nyata melalui kehadiran Yesus. Karena kasih bagi manusia, Yesus rela berkorban untuk penebusan dosa. Walau tiada kesalahan pada diri-Nya, Dia tidak lari dari tuduhan jahat. Level ungkapan kasih inilah yang menginspirasi Paulus sehingga ia berkata, “Kasih Kristus menguasai kami” (Caritas Christi Urget Nos).¹
#2 Kasih Mendorong Pelayanan Pendamaian (Diakonian tès Katallagès)
Karena kasih, Allah berinisiatif menjangkau kita yang selalu berdosa agar kita berdamai. Kita dimaaafkan walau sering menyakiti hati-Nya dengan kebobrokan kita. Dia selalu mengampuni, memulihkan, menyembuhkan, dan lalu menerima kita. Ia berlaku demikian karena Ia tidak memperhitungkan kesalahan kita (5:19, “dengan tidak memperhitungkan pelanggaran (‘paraptòmata’) mereka”),² seperti dalam doa Bapa Kami maupun ajaran tentang pengampunan pada Tahun Yubileum. Kerendahan hati Allah untuk lebih dulu berdamai dengan kita adalah tindakan Dia “melayani” kita.
Photo by Chermiti Mohamed on Unsplash
#3 Pelayanan Pendamaian terjadi melalui sikap persuasif, ajakan, dan belas kasihan
Ia tidak melakukan pemaksaan dan tekanan untuk menghadirkan damai. Dia berempati dan bermurah hati pada manusia melalui dan dalam diri Yesus Kristus. Sifat kasih terungkap melalui cara persuasi.³ Persuasi juga memberikan kesempatan orang lain untuk berpikir, menimbang dengan hati, lalu mengambil keputusan secara mandiri.
Pertanyaan Reflektif
Sebagai pengikut Kristus, bagaimana kita mau menjawab panggilan akan pelayanan pendamaian ini? Maukah kita berkorban dari kenyamanan karena kita mau benar-benar meneladani kasih Kristus? Maukah kita menguasakan damai dan bukannya kebencian dalam komunitas dan keluarga kita melalui pengampunan dan pendekatan persuasif? Kiranya kita sebagai “utusan-utusan Kristus” berani menjawab panggilan akan pelayanan pendamaian ini.
[1]: Bdk. Andrew J. Hussman, “The Ministry of Hope, Love, and Peace: An Exegetical Overview of 2 Corinthians 5,” Dakota-Montana District Pastors Conference, 10–11 April 2018, 20, https://www.academia.edu/37650180/The_Ministry_of_Hope_Love_and_Peace_An_Exegetical_Overview_of_2_Corinthians_5.
[2]: Teresa Okure, “‘The Ministry of Reconciliation’ (2 Cor 5:14–21): Paul’s Key to the Problem of ‘the Other’ in Corinth,” Mission Studies 23.1 (2006): 113.
[2]: Okure, “‘The Ministry of Reconciliation,’”114–15.
메타데이터
- post_id
- 7bc09b0d0fc4
- slug
- pelayanan-pendamaian-adalah-panggilan-kita-untuk-merangkul-sesama-7bc09b0d0fc4
- url
- https://medium.com/@bimalaiyanan/pelayanan-pendamaian-adalah-panggilan-kita-untuk-merangkul-sesama-7bc09b0d0fc4
- canonical_url
- https://medium.com/@bimalaiyanan/pelayanan-pendamaian-adalah-panggilan-kita-untuk-merangkul-sesama-7bc09b0d0fc4
- author_url
- https://medium.com/@bimalaiyanan
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-18 00:40:52