Melancong ke Kuala Lumpur Malaysia
Perjalanan singkat ke rumah Opah, Opet dan kak Ros.
Melancong ke Kuala Lumpur Malaysia

Ilustrasi oleh: Dokumen Pribadi
Sedih rasanya meninggalkan negeri jiran yang mengesankan ini, dan tak terasa sudah 2 tahun yang lalu juga pengalaman ini terealisasi dan selalu diingat. Begitulah kesan singkatku mengenai pengalaman pendekku melancong ke negeri jiran Malaysia, lebih tepatnya di kota Kuala Lumpur.
Ketika aku memutuskan untuk pergi ke sana awalnya hanya iseng, karena pada saat itu, aku sedang jenuh dengan kerjaan yang masih mengandalkan kerjaan full remote work alias kerja di rumah aja, yang kurang lebih sudah dilakoni selama dua tahun akibat dari efek pandemi gak juga deng, emang lagi dapetnya remote job *aja hehe.
Pada saat itu aku iseng dan cerita ke beberapa temen deket masa kuliah. Secara spontan, salah satu diantaranya ingin ikut serta untuk melancong ke negeri sebrang, katanya sekalian nunggu resign dari kantornya.
Beberapa minggu pun berlalu, tapi temanku ini belum berkabar melalui Whatsapp seperti yang telah disepakati sebelumnya. Di samping itu, kebetulan aku sudah mempersiapkah paspor dan gambaran itinerary yang akan aku kunjungi nanti. Entah akan ikut atau enggak, aku akan tetap pergi traveling karena pada awalnya memang berencana untuk solo traveling juga.
Eh, tak berselang lama setelah pasporku rampung dari imigrasi, temanku pun berkabar dan ia mengiyakan untuk ikut serta. Meskipun kita menggunakan penerbangan yang berbeda pada saat keberangkatannya dikarenakan beda kota tinggal, pada akhirnya perjalanan pun dimulai!

Ilustrasi oleh: Dokumen Pribadi
Sebelum keberangkatan berlanjut, karena penerbangan dari Bandung sangat terbatas dan agak pricy, aku pun menggunakan penerbangan yang ada di Tangerang alias dari CGK to KL, dan bermalam di hotel kapsul bandara yang lumayan mahal tapi cukup worth it dari pada ketinggalam pesawat kan gak lucu juga yagesya.
Sehari sebelum keberangkatan itu, aku juga mencoba menelesurui beberapa sudut seputaran bandara, banyak sekali hal menarik untuk ditelusuri. Tapi aku selalu penasaran, kenapa setiap jajanan atau restoran di bandara memiliki harga yang cenderung berkali-kali lipat naik? Rasanya berat sekali walau sekedar menyantap sepiring nasi goreng dengan kondimen telur di atasnya.
Keesokan harinya, aku pun bersiap untuk mandi sekitar pukul 03.00 dini hari, karena penerbangan akan dilaksanakan pukul 06.30 pagi. Terlalu dini memang, tapi lebih baik in time dibanding ketinggalankan? Maklum ini kali pertamaku bertolak ke luar negeri juga, jadi maafkan agak norak ya hahaha.
Akhirnya setelah menunggu beberapa jam di dalam pesawat, tibalah di bandara negara tetangga ini. Cuaca dan udaranya cukup mirip dengan Jakarta, tapi lebih sedikit panas dari Bandung. Nuansanya cukup kentara dan sangat potret-able, karena aku rasa di sini punya sentuhan saturasi warna yang berbeda, tata kota multikultur dan energi yang unik.
Lalu dikarenakan perut ini sudah cukup berisik dan terusik, pemberhentian pertamaku jatuh pada Seven Eleven yang sayangnya di Indonesia sendiri sudah bubar sejak lama. Aku cukup penasaran dengan deretan kudapan dan minuman ringan yang tersaji di tiap raknya, seperti cemilan bernama Popo ini.

Ilustrasi oleh: Dokumen Pribadi
Setelah lapar dan dahaga sedikit terganjal, akhirnya aku dan temanku pun kembali melanjutkan perjalanan untuk bertolak ke AirBnB untuk menyimpan barang bawaan, mandi dan beristirahat sejenak sebelum menelusuri malam KL tepatnya di Bukit Bintang. Kebetulan temanku ini juga memiliki kenalan yang akan bertemu dan mengobrol di sana.
Ternyata KL ini cukup ramai dengan ribuan manusia dan juga gemerlap lampu dan kotanya yang terang benderang di malam hari. Jam shalatnya pun cukup ‘menjanjikan’, karena waktu shalat subuh di sana sekitar pukul 06.00 pagi, yang aku rasa agak siang dibandingkan di Indonesia, begitu pun dengan jam shalat lainnya yang sedikit lebih ngaret dan sedikit lebih ‘panjang’ rasanya.

Setiap masuk Sevel, aku merasa sedikit nostalgia di sini, beberapa minuman yang discontinued di Indonesia seperti Pepsi, 7Up, Calpis (Calpico) dan kawan-kawannya masih ada di sini! Mungkin karena produk tersebut jauh lebih banyak peminatnya di sini, dibandingkan dengan Indonesia. Pelancong yang datang ke KL pun aku rasa sangat banyak dan datang dari berbagai macam negara.
Jujur saja untuk makanan beratnya sendiri aku kurang banyak mencicipi lebih detail, karena di sekitar AirBnB saja lebih banyak makanan dengan bumbu kari atau bersantan yang mana aku sendiri kurang cocok. Akhirnya aku pun tumbang di hari ketiga di sana.
Hal ini dikarenakan makanan sekitar yang kurang cocok di lidahku dan telat makan, akhirnya aku mengabaikan jam isi perut yang semestinya aku paksakan untuk diisi dengan sesuatu, bukan cuman makan angin. Namun sebagai alternatif, aku membeli bubur ayam melalui aplikasi Grab :)
Meskipun dalam keadaan kurang fit, aku harus tetap melanjutkan rasa penasaranku, karena tersisa dua hari lagi sebelum pergi ke tempat lain di luar KL. Karena dirasa sudah membaik, aku pun mencoba untuk menjelajahi Petronas, Pasar Seni dan Petaling Street yang masih berdekatan dengan area Bukit Bintang. Tak lupa untuk mengambil beberapa potret city view di area tersebut yang tersaji dengan estetik dan tak terlupakan!

Ilustrasi oleh: Dokumen Pribadi

Ilustrasi oleh: Dokumen Pribadi

Ilustrasi oleh: Dokumen pribadi

Ilustrasi oleh: Dokumen pribadi
Foto di atas merupakan beberapa potret KL yang aku ambil menggunakan gawai pintarku. Kalian jadi pahamkan maksud ‘estetik’ yang kumaksud? nuansa dan saturasi warna yang tertangkap lensa kamera gawaiku, memperlihatkan gambaraan yang terkadang sulit dijelaskan oleh kata dan berbeda dari nuansa yang sering aku potret di Indonesia.
Untuk nuansa dan tata letak kotanya menurutku Malaysia merupakan gabungan dari beberapa negara Asia lain seperti Indonesia, Singapura, Thailand dan Hongkong *meskipun belum ke sana huhu. Dari segi kuliner justru lebih unik lagi, adanya keragaman beberapa etnis seperti Tiongkok, India dan Melayu menjadikan kekayaan dan keragaman cita rasa di dalamnya.
Adapun untuk orang lokalnya sendiri menurutku cukup ramah dan jauh dari image rusuh seperti gosip yang beredar di sosmed. Even ketika aku lagi jajan di Sevel, seorang kasir beretnis India menyapaku dan mengajak ngobrol santai dan sangat fasih berbahasa Melayu. Meskipun terkadang ada beberapa yang tidak fasih berbahasa Melayu atau Inggris, tapi sikap mereka cukup sopan dan ramah.
Begitulah perjalanan singkatku di negara lahirnya Upin dan Ipin ini. Aku harap suatu saat bisa mampir lebih lama dan dengan waktu yang lebih luang. Gak salah rasanya aku menyisihkan sebagian uang untuk membeli pengalaman ini, karena sampai sekarang ingatannya masih melekat kuat dan tak bisa dilupakan.
Se-fruit saran dari aku yaitu untuk lebih banyak memotret dan merekam momen ketika bepergian ke kota atau negara tujuan ya! Karena aku rasa, banyaknya distraksi dengan kegiatan lain yang aku alami, pada akhirnya aku lupa untuk memotret lebih banyak atau sekedar selfie dengan beberapa spot yang bagus selama di sana.
Next ke kota atau negara apa lagi ya? Ikutin terus keseruanku di Medium ya!
메타데이터
- post_id
- 7be8bca2dd4e
- slug
- melancong-ke-kuala-lumpur-malaysia-7be8bca2dd4e
- url
- https://medium.com/@dms.abee/melancong-ke-kuala-lumpur-malaysia-7be8bca2dd4e
- canonical_url
- https://medium.com/@dms.abee/melancong-ke-kuala-lumpur-malaysia-7be8bca2dd4e
- author_url
- https://medium.com/@dms.abee
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 06:14:08